• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketahanan Pangan dan Model Perilaku Rumahtangga

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Ketahanan Pangan dan Model Perilaku Rumahtangga

Padastudi-studi terdahulu, analisis ketahanan pangan rumahtangga pertanian umumnya tidak dibangun dari teori atau model ekonomi rumahtangga sebagai kerangka pikirnya (lihat Jayaputra, 2001; Manesa, 2009; Amirian, 2009; Suhardianto, 2007; Omoteshoet al., 2006; Babatunde et al., 2007). Padahal, penggunaan teori rumahtangga pertanian memungkinkan peneliti menganalisis keterkaitan perilaku produksi dan konsumsi yang secara bersamaan mempengaruhi kinerja ketahanan pangan rumahtangga. Di tingkat rumahtangga ketahanan pangan merupakan resultante dari berbagai keputusan, di sisi produksi maupun konsumsi (lihat Hardono, 2002). Oleh sebab itu kinerja ketahanan pangan rumahtanggasangat ditentukan oleh respon terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada kedua sisi keputusan tersebut.

Menurut Ellis (1988), rumahtangga pertanian dianggap memiliki karakteristik berbeda dari rumahtangga biasa karena mereka bisa berperan sebagai produsen maupun konsumen sekaligus dalam perekonomian. Peran ganda tersebut menimbulkan keterkaitan antara keputusan-keputusan di sisi produksi dengan sisi konsumsi, yang kemudian menjadi ciri utama rumahtangga pertanian (Ellis, 1988; Singh et al., 1986).Ciri keterkaitan tersebut menjadikan model ekonomi rumahtangga berbeda dari model penawaran dan permintaan konvensional. Dalam model ekonomi rumahtangga kendala-kendala sisi penawaran maupun permintaan telah diintegrasikan dalam satu fungsi tujuan rumahtangga.

Singh et al. (1986) menjelaskan, pendekatan analisis model ekonomi rumahtangga pertanian dapat dilakukan dengan caraseparable(recursive) maupun

nonseparable(nonrecursive). Pembedaan pendekatan tersebut didasarkan pada bagaimana hubungan keterkaitan antara keputusan-keputusan konsumsi dengan keputusan produksi dalam rumahtangga.Lebih lanjut diungkapkan Singhet al. (1986), masing-masing pendekatan terikat pada syarat-syarat tertentu, tetapi pemilihan pendekatan merupakan isu sekunder yang perlu dilihat kasus per kasus. Disebutkan bahwa pada rumahtangga subsisten (identik tidak akses terhadap pasar), pengambilan keputusan produksi, konsumsi dan penawaran tenaga kerja dilakukan secara simultan karena rumahtangga hanya dapat mengkonsumsi apa yang dihasilkan (diproduksi) saja. Besarnya produksi tergantung pada kemampuan tenaga kerja dalam rumahtangga. Akan tetapi pada rumahtangga yang sudah semi komersial, pengambilan keputusan-keputusan tersebut tidak lagi harus dilakukan secara nonseparable.

Strauss (1986) menjelaskan, sepanjang rumahtangga petani dapat menjual atau membeli produk sebanyak yang mereka mau pada harga pasar yang berlaku (rumahtangga petani sebagai penerima harga) maka keputusan produksi dan konsumsi dapat diperlakukan secara sekuen (urutan). Keputusan produksi dapat dilaksanakan lebih dahulu (separable), meskipun pengambilan keputusan produksi dilakukan secara simultan dengan keputusan konsumsi. Akan tetapi, jika rumahtangga memilih untuk mengkonsumsi semua hasil produksinya (sebagai corner solution) maka akan berlaku syarat harga bayangan yang ditentukan secara internal dan merupakan fungsi dari preferensi dan teknologi. Pemberlakuan harga bayangan yang bersifat endogen mengindikasikan pengambilan keputusan rumahtangga tidak lagi separable. Harga bayangan (Singh et al.,1986;Skoufias, 1994),juga disebut sebagai harga implisit atau internal wage (Sonoda dan Mayurama, 1999).

Secara empiris kedua model pengambilan keputusan rumahtangga telah banyak diaplikasikan. Model separable telah digunakan antara lain oleh Barnum dan Squire(1979), Sawit (1993), dan Hardaker et al. (1985). Sementara itu, model analisis rumahtangga non separable telah digunakan antara lain oleh Bagi dan Singh (1974), Kusnadi (2005), Asmarantaka (2007), dan Fariyanti (2007). Pemilihan separable atau non separable dilakukan sesuai asumsi dan tujuan penelitian.

Diungkapkan oleh Skoufias (1994) bahwa pada kondisi: (1) ada kendala waktu yang bersifat mengikat (binding) pada kesempatan kerja non usahatani sehingga menghambat terjadinya penyesuaian sempurna dalam pasar tenaga kerja, (2) substitusi tenaga kerja dalam keluarga oleh tenaga kerja luar keluarga yang tidak sempurna, atau (3) petani mempunyai preferensi untuk bekerja dalam usahatani atau non usahatani, maka solusi keputusan produksi dan konsumsi dalam model rumahtangga pertanian harus diperlakukan secara nonseparable. Sementara, Singh et al. (1986) berpendapat bahwa nonseparable menjadi penting dalam pemodelan ketika menghadapi kondisi tertentu yakni: (1) jika harga jual dan harga beli dibedakan untuk komoditas yang sama, atau (2) ketika pasar tidak sempurna, karena menghadapi resiko dan masalah insentif. Pendapat kedua pakar tersebut tidak bertentangan, karena sama-sama mempersoalkan akibat dari ketidaksempurnaan pasar. Akan tetapi secara empiris pendekatan nonseparable dianggap lebih sulit (Sonoda dan Mayurama, 1999).

Varian baru penggunaan model ekonomi rumahtangga ditandai dengan berkembangnya penelitian-penelitian yang menggunakan persamaan simultan untuk spesifikasi model empiris (Kusnadi, 2005). Dikemukakan dalam Kusnadi (2005)bahwa model persamaan simultan dikembangkan untuk menangkap kompleksitas interaksi antar berbagai variabel ekonomi rumahtangga, tanpa menjadikan separabilitas (rekursifitas) sebagai isu utama yang harus ditonjolkan. Beberapa Selain Kusnadi (2005), penelitian rumahtangga yang menggunakan model persamaan simultan antara lain: Pakasi (1998) untuk melihat ekonomi rumahtangga petani nira aren di Sulawesi Utara; Hardono (2002) melihat dampak perubahan faktor ekonomi terhadap ketahanan pangan rumahtangga dengan data pasca crisis ekonomi 1997/1998, Asmarantaka (2007) melihat ekonomi rumahtangga petani pangan dan perkebunan di Provinsi Lampung, Purwanti (2008) yang meneliti kebijakan pengembangan ekonomi dan ketahanan pangan rumahtangga nelayan skala kecil di Jawa Timur, serta Fariyanti, (2007) yang mengamati perilaku rumahtangga petani sayur menghadapi resiko di Pengalengan, Jawa Barat.

Pada penelitian-penelitian yang menggunakan persamaan simultan di atas, variabel harga yang digunakan adalah harga yang berlaku di pasar. Oleh sebab itu

meski menggunakan model persamaan simultan, menurut Kusnadi (2005) model penelitian tersebut sebetulnya masih berciri rekursif. Penggunaan harga eksogen membuat asumsi atau syarat nonseparablesebetulnya tidak terpenuhi. Sebagaimana diungkapkan sebelumnya, untuk menjadi nonseparable maka variabel harga yang digunakan seharusnya bersifat endogen dan ditentukan oleh rumahtangga sebagai harga bayangan di dalam model.

Dalam banyak studi yang menggunakan model ekonomi rumahtangga, analisis kebijakan dirumuskan dengan menganggap bahwa rumahtangga dapat mewakili preferensi seluruh individu anggota rumahtangga. Oleh sebab itu diasumsikan bahwa setiap rumahtangga hanya memiliki satu fungsi utilitas. Model ekonomi rumahtangga seperti itu disebut sebagai unitary household model (Haddad, et al., 1994), yang dicirikan oleh adanya penggabungan pendapatan (pooled income) diantara anggota rumahtangga. Pada kenyataannya, diantara anggota rumahtangga bisa terjadi perbedaan preferensi dan tidak harus selalu terjadi penggabungan pendapatan sehingga kesejahteraan antar individu dalam rumahtangga bisaberbeda-beda. Pandangan seperti ini kemudian melahirkan konsep model ekonomi rumahtangga baru yang disebut collective household model(Haddad et al.,1994). Model kolektif ini masih terpecah lagi menjadi model kooperatif dan model non kooperatif.

Meskipun model ekonomi rumahtangga klasik (unitary model) dianggap mengandung kelemahan karena tidak mampu menjelaskan kemungkinan perbedaan preferensi antar anggota rumahtangga, tetapi hal itu tidak berarti bahwa model ekonomi rumahtangga baru (collective model) menjadi model yang paling benar. Model rumahtangga baru tersebut hanya dianggap memiliki kelebihan dalam hal kemampuannya menjelaskan konsekuensi logis dari adanya perbedaaan preferensi dan ketidakmerataan alokasi sumberdaya dalam rumahtangga terhadap individu anggota rumahtangga. Penggunaan model kolektif juga mungkin lebih tepat pada lingkungan sosial dimana sikap indivialis dalam rumahtangga sudah menonjol. Implikasi hal tersebut, kedua model masih tetap dapat digunakan, tergantung pada tujuan analisis. Jika fokus yang dikehendaki mengarah pada masalah-masalah berkaitan dengan intra rumahtangga maka model rumahtangga kolektif lebih tepat digunakan. Akan tetapi jika fokus analisis tidak berkaitan

dengan masalah-masalah intra rumahtangga maka model rumahtangga unitary masih dapat digunakan.

Telah diungkapkan sebelumnya bahwa di tingkat rumahtangga ketahanan pangan merupakan resultante dari berbagai keputusan internal rumahtangga. Oleh sebab itu kinerja ketahanan pangan ditentukan oleh respon rumahtangga terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada masing-masing sisi keputusan (produksi dan konsumsi). Perubahan-perubahan pada harga input, harga output, tingkat upah, kesempatan kerja dan berusaha serta luas garapan dapat mempengaruhi pencapaian produksi dan pendapatan rumahtangga. Pendek kata, perubahan berbagai faktor ekonomi dapat mempengaruhi kinerja ketersediaan,akses pangan,dan pemanfaatan pangan yang menjadi pilar ketahanan pangan rumahtangga. Seiring dinamika pendapatan, kinerja konsumsi rumahtangga juga akan mengalami perubahan, termasuk perubahan dalam pengeluaran pangan yang menentukan konsumsi energi dan status gizi.

Studi Hardono (2002) terdahulu menunjukan, kenaikan harga pupuk dan upah tenaga kerja akan menurunankan ketahanan pangan rumahtangga pertanian. Akan tetapi jika kenaikan harga input tersebut diikuti kenaikan harga padi secara proporsional, kinerja ketahanan pangan rumahtangga masih dapat ditingkatkan karena pendapatan rumahtangga masih meningkat. Studi tersebut juga menyebutkan upaya peningkatan produksi, terkendala oleh tidak responsifnya perubahan luas lahan garapan dalam jangka pendek terhadap perubahan harga output (harga padi), sehingga saran yang diberikan adalah melakukan penataan kelembagaan penguasaan lahan dan peningkatan kapasitas sumberdaya tersebut untuk peningkatan ketahanan pangan.

Dokumen terkait