• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUJUAN PEMBELAJARAN

C. Ketatalaksanaan Kurikulum

Pelaksanaan kurikulum, didasari pada permen 22 tahun 2006.

Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan di setiap satuan pendidikan sebagai berikut:

1. Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan ukntuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan.

2. Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar pelajar, yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna pada orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

3. Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral.

4. Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat, dengan prinsisp tut wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang

memberikan daya dan kekutan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberi contoh dan teladan).

5. Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan alam sekitar sebagai sumber belajar, dengan prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi, tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan).

6. Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan serta muatan seluruh bahan kajian secara optimal.

7. Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan memadai antar kelas dan jenis jenjang pendidikan.

Kurikulum yang telah tersusun harus diimplementasikan di lapangan. Para peneliti atau para ahli dalam menyusun program implementasi kurikulum secara umum bertujuan untuk; 1) mengukur derajat keberhasilan suatu inovasi kurikulum setelah suatu rencana diterapkan dan 2) mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat implementasi kurikulum.

Jackson (1991: 406) mengidentifikasi ada lima faktor yang menjadi penghambat implementasi kurikulum, yaitu: 1) guru yang tidak inovatif, 2) guru tidak mempunyai keterampilan dan pengetahuan terhadap hal-hal baru, 3) tidak tersedia sarana, 4) ketidakcocokan kebijakan dengan inovasi, dan 5) tidak adanya motivasi bagi pelaksana inovasi.

Jackson (1991: 404) menjelaskan tiga pendekatan dalam implementasi kurikulum yaitu: (1) fidelity perspective, (2) mutual adaptation, dan (3) enactment curriculum, yang akan diuraikan sebagai berikut:

1. Fidelity Perspective

Jackson (1991: 428-429) menyebutkan bahwa dalam Fidelity Perspective kurikulum dipandang sebagai rancangan (program) yang dibuat di luar ruang kelas, kurikulum menurut perspective ini juga dipandang sebagai sesuatu yang riil (rencana program) yang diajarkan oleh guru, para pengembang kurikulum pada umumnya mempunyai spesialisasi kurikulum di luar sistem sekolah seperti konsultan, akademis, atau para guru. Namun demikian ahli kurikulum tersebut dapat dipegang oleh administrator pendidikan atau komite kurikulum.

2. Mutual Adaptation

Pendekatan ini memiliki ciri pokok dalam implementasinya, pelaksana kurikulum mengadakan penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi riil, kebutuhan dan tuntutan perkembangan secara kontekstual. Pendekatan berangkat dari asumsi bahwa berdasarkan temuan empirik, pada kenyataannya kurikulum tidak pernah benar-benar dapat diimplementasikan sesuai rencana, tetapi perlu diadaptasi sesuai kebutuhan setempat (Jackson, 1991: 428).

3. Enactment Curriculum

Perspektif enactment curriculum memandang bahwa rencana kurikulum bukan merupakan produk atau peristiwa, melainkan sebagai proses yang berkembang dalam interaksi antara guru dan siswa, terutama dalam membentuk kemampuan berpikir dan bertindak (Jackson 1991: 429).

Para guru menggunakan rencana kurikulum eksternal sebagai acuan agar kurikulum dapat ditetapkan lebih baik dan bermakna, baik

untuk dirinya maupun untuk siswa, mereka (para guru) adalah creator dalam implementasi kurikulum.

Berkenaan dengan model-model implementasi kurikulum, Miller dan Seller (1985: 249-250) menggolongkan model dalam implementasi menjadi tiga, yaitu The concerns-based adaption model, model Leithwood, dan model TORI.

a. The Concerns-Based Adaption Model (CBAM)

Model CBAM ini adalah sebuah model deskriptif yang dikembangkan melalui pengidentifikasian tingkat kepedulian guru terhadap sebuah inovasi. Perubahan dalam inovasi ini ada dua dimensi, yakni tingkatan-tingkatan kepedulian terhadap inovasi serta tingkatan-tingkatan penggunaan inovasi. Perubahan yang terjadi merupakan suatu proses bukan peristiwa yang sering terjadi ketika program baru diberikan kepada guru, merupakan pengalaman pribadi, dan individu yang melakukan perubahan.

b. Model Leithwood

Model ini memfokuskan pada guru. Asumsi yang mendasari model ini adalah 1) setiap guru mempunyai kesiapan yang berbeda; 2) implementasi merupakan proses timbal balik;

serta 3) pertumbuhan dan perkembangan memungkinkan adanya tahap-tahap individu untuk identifikasi. Intinya membolehkan para guru dan pengembang kurikulum mengembangkan profil yang merupakan hambatan untuk perubahan dan bagaimana para guru dapat mengatasi hambatan tersebut. Model ini tidak hanya menggambarkan hambatan dalam implementasi, tetapi juga menawarkan cara dan strategi para guru dalam mengatasi hambatan yang dihadapinya tersebut.

c. Model TORI

Model ini dimaksudkan untuk menggugah masyarakat dalam mengadakan perubahan. Dengan model ini diharapkan adanya minat (interest) dalam diri guru untuk memanfaatkan perubahan. Esensi dari model TORI adalah: 1) Trusting:

menumbuhkan kepercayaan diri; 2) Opening: menumbuhkan dan membuka keinginan; 3) Realizing: mewujudkan, dalam arti setiap orang bebas berbuat dan mewujudkan keinginannya untuk perbaikan; 4) Interdepending: saling ketergantungan dengan lingkungan. Inti dari model ini memfokuskan pada perubahan personal dan perubahan sosial. Model ini menyediakan suatu skala yang membantu guru mengidentifikasi, bagaimana lingkungan akan menerima ide-ide baru sebagai harapan untuk mengimplementasikan inovasi dalam praktik serta menyediakan beberapa petunjuk untuk menyediakan perubahan.

Pihak-pihak yang terlibat atau terkait dengan implementasi kurikulum adalah sebagai berikut:

1. Pakar Ilmu Pendidikan

Dalam praktik pengembangan kurikulum dan implementasi kurikulum pakar ilmu pendidikan ini sering kali berada dalam posisi sebagai konsultan kurikulum dengan tugas yang sesuai dengan kepakarannya.

2. Ahli Kurikulum

Yaitu orang-orang yang terlibat dalam membuat konsep, model ataupun persiapan pengelolaan kurikulum yang dijadikan sebagai dokumen terdiri dari pakar pendidikan dan pakar kurikulum dan administrator pendidikan.

3. Supervisor

Dalam proses pengembangan kurikulum dan implementasi kurikulum haruslah ada supervisor dalam kerangka tugas sebagai pemimpin pendidikan, sehingga setiap supervisor berkewajiban melaksanakan tugasnya mengawasi sebuah kegiatan untuk mendatangi dan membimbing yang disupervisi, yaitu guru ke arah pencapaian tujuan pendidikan sekolah.

4. Sekolah

Pihak sekolah mempunyai peran dan tanggung jawab yang terkait dengan peran dan tanggung jawab pihak lainnya dalam pendidikan di daerah yang bersangkutan.

5. Kepala sekolah

Tugas dari kepala sekolah dalam implementasi kurikulum adalah menjamin tersedianya dokumen kurikulum, membantu dan memberikan nasihat kepada guru, mengatur jadwal pertemuan guru dan menyusun laporan evaluasi. Adapun kegiatan yang dilakukan kepala sekolah adalah menciptakan kondisi bagi pengembangan kurikulum di sekolahnya dan menyusun rencana anggaran tahunan yang berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan kepemimpinannya, baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek.

6. Guru

Dalam implementasi kurikulum guru, dapat dikatakan sebagai ujung tombak keberhasilan implementasi kurikulum. Mengingat pentingnya kepentingan keterampilan guru dalam pembelajaran terhadap keberhasilan implementasi kurikulum, wajar apabila pendidikan guru haruslah diperhatikan dengan pertimbangan berbagai aspek yang dibutuhkan atau perlu dikuasai oleh seorang guru.

7. Siswa

Siswa sampai berperan dalam keberhasilan implementasi kurikulum karena semua kegiatan pengembangan kurikulum sampai dengan implementasi kurikulum yang sangat nyata adalah dalam bentuk pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang sewajarnya. Minat yang penuh, usaha yang sungguh penyesuaian tugas-tugas serta partisipasi dalam setiap kegiatan sekolah.

8. Orang Tua dan Masyarakat

Dalam kaitannya dengan implementasi kurikulum peran orang tua siswa melalui kerja sama sekolah dengan orang tua siswa. Hal ini disebabkan tidak semua kegiatan belajar yang dituntut oleh kurikulum dapat dilaksanakan oleh sekolah sehingga sebagian dilakukan di rumah.

Secara berkala orang tua siswa menerima laporan kemajuan anaknya dari sekolah berupa rapor yang merupakan komunikasi tentang program atau kegiatan yang dilaksanakan di sekolah.

Pelaksanaan kurikulum dibagi menjadi dua tingkatan, yaitu pelaksanaan kurikulum tingkat sekolah dan tingkat kelas. Dalam tingkat sekolah yang berperan adalah kepala sekolah dan pada tingkat kelas yang berperan adalah guru. Walaupun dibedakan antara tugas kepala sekolah dan tugas guru dalam pelaksanaan kurikulum serta diadakan perbedaan tingkat dalam pelaksanaan administrasi, yaitu tingkat kelas dan tingkat sekolah, tetapi antara kedua tingkat dalam pelaksanaan administrasi kurikulum tersebut senantiasa bergandengan dan bersama-sama bertanggung jawab melaksanakan proses administrasi kurikulum.

1. Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Sekolah

Pada tingkat sekolah, kepala sekolah bertanggung jawab untuk melaksanakan kurikulum di lingkungan sekolah yang dipimpinnya.

Tanggung jawab kepala sekolah adalah kepala sekolah sebagai

pemimpin, sebagai administrator, penyusunan rencana tahunan, pembinaan organisasi sekolah, koordinator dalam pelaksanaan kurikulum, kegiatan memimpin rapat kurikuler, sistem komunikasi dan pembinaan kurikuler.

2. Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Kelas

Pembagian tugas guru harus diatur secara administrasi untuk menjamin kelancaran pelaksanaan kurikulum lingkungan kelas.

Pembagian tugas-tugas tersebut meliputi tiga jenis kegiatan administrasi, yaitu pembagian tugas mengajar, pembagian tugas-tugas pembinaan ekstrakurikuler, pembagian tugas bimbingan belajar.