• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketentuan Hadhanah dalam Hukum Keluarga Maladewa

BAB II HADHANAH MENURUT FIKIH MAZHAB SYAFI’I

B. Maladewa

2. Ketentuan Hadhanah dalam Hukum Keluarga Maladewa

negara Malaysia dan negara muslim lainnya di dunia.154

Pembentukan undang-undang di Maladewa dalam proses merancangnya, biasanya mengadopsi hukum yang telah digunakan oleh negara-negara di dunia untuk kemudian disesuaikan dengan karakteristik sosial budaya Maladewa.

Contohnya dalam hal pembentukan Undang-undang Keluarga Maladewa No. 4 Tahun 2000, Maladewa mengadopsi Undang-undang Keluarga Malaysia, karena Undang-Undang Keluarga Malaysia dianggap memiliki karakteristik yang sesuai dengan kondisi sosial budaya di Maladewa. Di samping itu, fikih mazhab mayoritas yang digunakan di Maladewa juga memiliki kesamaan dengan Malaysia, yaitu mazhab Syafi`i. Namun sebelum dibuatnya Undang-Undang Keluarga Maladewa No. 4 Tahun 2000 tersebut, Maladewa telah menggunakan Undang-Undang Perkawinan dan Perceraian No. 3 Tahun 1980 yang terbatas hanya pada urusan perkawinan dan perceraian, sehingga urusan keluarga selain perkawinan dan perceraian tidak diatur dalam hukum nasional dan ditangani berdasarkan hukum Islam, yang diatur dalam Al-Qur'an, sunnah, dan fatwa oleh berbagai ahli hukum. Bagaimanapun juga, Undang-Undang Keluarga No. 4 Tahun 2000 ini melengkapi undang-undang yang sebelumnya dan tergolong ke dalam model undang-undang dengan hampir semua urusannya sejalan dengan prinsip syariah.Maka dapat dikatakan, bahwa undang-undang ini mengganti praktik lama dan berfokus pada gagasan modern dengan ambisi prinsip-prinsip syariah.

Di dalam hal sistem pengadilan, ada tiga tingkatan pengadilan yang dimiliki oleh negara Maladewa. Yaitu Pengadilan rendah yang disebut dengan Pengadilan Magistrate (Pengadilan Tingkat Pertama). Kemudian pengadilan Tinggi sebagai pengadilan yang mengurusi perkara banding. Dan selanjutnya adalah pengadilan Mahkamah Agung sebagai pengadilan tertinggi di negeri tersebut.155

2. Ketentuan Hadhanah dalam Hukum Keluarga Maladewa

154 Marium Jabyn, “Transformation in Syari‟ah Family Law in the Republic of Maldives”, ,,, , h. 63.

155 Kamrul Hasan, dkk, “Renconciliation of Marriage: A Comparative Overview of the Law and Practice in Bangladesh and Maldives”, International Journal of Business Education and Management Studies, Vol. 1, No. 1, Januari 2020. h. 9.

Ketentuan hadhanah diatur dalam UU Keluarga Maladewa No. 4 Tahun 2000 yang tercantum dalam pasal 40-46. Adapun pasal-pasal tersebut mengandung isi sebagaimana berikut:

Pasal 40 Hak untuk mengasuh

a. Ibu dari anak memiliki hak prioritas menurut undang-undang ini untuk dipercayakan mengasuh anak.

b. Dimana Hakim berpendapat bahwa ibu dari anak yang tidak sesuai kualifikasi yang disebutkan di pasal 41 pada undang-undang ini untuk mempercayakan hak asuh anak, kepada siapa hak pengasuhan anak dapat dipercayakan akan ditentukan oleh pengadilan. Di antara orang-orang yang diatur dalam peraturan yang dibuat berdasarkan undang-undang ini dan sesuai urutan yang diatur dalam peraturan tersebut.

c. Jika pengasuhan anak perempuan dipercayakan kepada seorang laki-laki, maka dia haruslah seseorang yang dilarang untuk menikah (yang muhrimnya).

d. Jika pengasuhan seorang anak dipercayakan kepada lebih dari satu orang yang ada hubungannya dengan si anak, dan mereka memiliki tingkat hubungan yang sama dengan anak tersebut, maka hak pengasuhan anak akan dipercayakan kepada orang yang paling sayang kepada anak tersebut dan pada siapa yang paling membentuk karakternya.

e. Dalam mempercayakan pengasuhan anak sesuai dengan bab ini, harus ada pertimbangan yang seksama demi kesejahteraan anak.156

Pasal 41

Kualifikasi untuk mempercayakan pengasuhan anak

Kepada siapa hak pengasuhan anak dapat dipercayakan akan memiliki kualifikasi sebagai berikut:

a. Orang itu harus Muslim;

b. Orang itu harus berakal sehat;

156 Maldives Family Act 4/2000, Pasal 40

c. Orang itu mesti mampu memberikan kasih sayang dan perawatan yang diperlukan dalam membesarkan anak;

d. Orang itu harus tidak terlibat dalam tindakan yang dilarang dalam syariah.

selain adanya kualifikasi yang disebutkan pada ayat a, b, c, dan d pada pasal ini, tempat tinggal orang tersebut tidak boleh menjadi tempat yang menyebabkan anak terkena pengaruh fisik atau pengaruh tidak bermoral.157

Pasal 42

Bagaimana hak asuk menjadi hilang

Hak untuk mengasuh akan hilang apabila terjadi salah satu peristiwa yang disebutkan di bawah ini:

a. Ketika hak asuk anak akan dipercayakan kepada ibu si anak tersebut, pernikahannya dengan seseorang yang tidak berada dalam tingkat pernikahan yang dilarang sehubungan dengan anak tersebut.

b. Ketika hak asuh anak dipercayakan kepada seseorang yang secara terbuka melakukan tindakan yang dilarang secara syariah.

c. Ketika hak asuh anak dipercayakan kepada ibunya si anak, sedangkan si ibu tempat tinggalnya pindah ke pulau yang berbeda kecuali ke pulau tempat dia tinggal tanpa persetujuan ayah atau wali yang resmi dari anak.

Atau pindah ke tempat tinggal ke tempat tinggal lain yang dapat menghambat mencederai hak berkunjung ayah dari anak.

d. Ketika orang yang diberi kepercayaan mengasuh anak tersebut murtad.

e. Ketika orang yang diberi kepercayaan mengasuh anak mengabaikan atau memperlakukan anak tersebut dengan kejam.158

Pasal 35 Biaya pemeliharaan

Pengadilan memiliki kekuasaan untuk memerintahkan suami atau suami yang telah bercerai untuk membayar nafkah berdasarkan prinsip syariah kepada istri, anak, atau istri yang telah dicerai.

157 Maldives Family Act 4/2000, Pasal 41

158 Maldives Family Act 4/2000, Pasal 42

Pasal 36

Jumlah pembayaran nafkah dan priode waktu yang dibayarkan kepada istri, anak dan istri yang telah dicerai ditentukan oleh pengadilan sesuai dengan aturan undang-undang ini.

Pasal 43

Hak mendapatkan kembali pengasuhan anak

Jika ditetapkan bahwa ketentuan dalam ayat a pasal 42 pada undang-undang ini, menjadi tidak berlaku sehubungan dengan ibunya anak, hak pengasuhan akan dikembalikan kepada dia.159

Pasal 44

Masa pengasuhan anak

a. Pengasuhan anak akan tetap dengan orang yang dipercayakan untuk mengasuh sampai anak berusia 7 tahun sesuai dengan kalender Islam.

Meskipun demikian, Pengadilan berwenang atas permohonan dari orang yang dipercayakan mengasuh anak, memberikan hak asuh anak perempuan sampai anak tersebut mencapai usia 11 tahun sesuai dengan kalender Islam dan anak laki-laki sampai anak tersebut mencapai usia 9 tahun sesuai kalender Islam.

b. Kecuali Pengadilan memerintahkan sebaliknya, anak yang berakhir masa pengasuhannya atau telah menyelesaikan usia pengasuhan yang dipersyaratkan, mempunyai hak untuk hidup bersama salah satu orang tua yang dipilih.160

Pasal 45

Mempercayakan hak asuh bersyarat

Pengadilan akan memiliki keleluasaan kebijaksanaan untuk melampirkan sesuai dengan peraturan yang dibuat berdasarkan undang-undang ini mengatur persyaratan dalam memberikan hak asuh.

159 Maldives Family Act 4/2000, Pasal 43

160 Maldives Family Act 4/2000, Pasal 44

Pasal 46

Orang yang dipercayakan untuk mengasuh membawa anak ke luar negeri Ketika masalah pernikahan orang yang dipercayakan mengasuh anak tersebut sedang menunggu keputusan di pengadilan, pengadilan memiliki kekuatan untuk memerintahkan atas permohonan yang dibuat oleh ayah atau ibu dari anak tersebut, untuk melarang anak dibawa ke luar negeri oleh orang yang dipercayakan mengasuh anak.161

161 Maldives Family Act 4/2000, Pasal 46.

67

MALADEWA

A. Perbandingan Secara Vertikal Mengenai Ketentuan Hadhanah di Indonesia dan Maladewa dengan Fikih Syafi`i

Terlebih dahulu akan menjelaskan analisis secara vertikal antara aturan kedua negara tersebut dengan Fikih Syafi`i yang merupakan mazhab mayoritas di masing-masing negara. Adapun analisis dilakukan dari beberapa segi, antara lain:

Yang berhak melakukan hadhanah, Pihak yang paling utama dalam mengasuh anak setelah ibu, Syarat seorang pengasuh, Biaya Pemeliharaan, Batas usia anak boleh memilih wali asuh, Hak anak dan wali asuh apabila sudah memilih.

Kemudian analisis diarahkan kepada sejauh manakah keberanjakan aturan kedua negara tersebut dari ketentuan Fikih Syafi`i.

1. Yang berhak mendapatkan Hadhanah

Ibu berhak untuk mengasuh anak dibanding bapaknya. Ketika seorang suami berpisah dengan istrinya, dan mereka itu mempunyai satu anak, baik anaknya laki-laki ataupun perempuan, yang belum mencapai usia tamyiz. Ada beberapa sebab kenapa ibu lebih utama dibanding bapak, yaitu yang pertama, seorang ibu sabar dalam menghadapi seorang anak dalam mendidik. Yang kedua ibu sangat lembut dalam mendidik anak, menjaga anak, yang paling mengetahui kebutuhan anak-anak.162

Kemudian dalam Hukum Keluarga Indonesia tepatnya pada Kompilasi Hukum Islam mengatur tentang siapa yang berhak mendapatkan hadhanah. Pasal 105 dalam hal terjadinya perceraian, Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya. dalam hal anak, Indonesia

162 Mustafa al Khin, Mustafa al Bugha, Ali asy Syarbaji, al Fiqh al Manhaji „ala Madzhab al Imam al Syafi‟i (Damaskus: Darul Qalam, 1992) jilid 4 h. 192

mengambil dua macam kecakapan anak dalam bertindak. Pertama anak yang belum mumayyiz artinya adalah anak yang belum bisa membedakan hal yang baik dan buruk. Di sini difahami bahwa meskipun anak itu berusia lebih dari 12 tahun tapi anak belum mumayyiz maka pemeliharaan anak masih diasuh oleh ibu.

Kedua, dilihat dari usia anak, artinya apabila anak itu sudah berusia 12 tahun dan mumayyiz maka berakhirlah hak ibu.

Dalam Hukum Keluarga Maladewa, Ibu memiliki hak prioritas untuk mengasuh anak sesuai dengan kualifikasi yang telah ditetapkan oleh pengadilan.

Apabila ibu tidak memiliki kualifikasi yang telah ditetapkan, maka akan dipindahkan kepada orang yang sesuai dengan kualifikasi. Hanya untuk anak perempuan, apabila anak perempuan ternyata diasuh oleh seorang laki-laki, maka pengasuhannya harus kepada seorang laki-laki yang mahram. Dan juga harus dilihat apakah seorang pengasuh itu sangat sayang terhadap anak atau tidak.

Karena itu semua demi terjaganya karakter dan kesejahteraan anak.163

Dalam hal hak hadhanah Imam Syafi‟i, Hukum Keluarga Indonesia, dan Hukum Keluarga Maladewa memiliki konsep yang sama yaitu hak tersebut diberikan kepada ibu, hanya saja dalam pelaksanaannya Indonesia dan Maladwa memiliki keberanjakan. Keberanjakan tersebut dapat dilihat dari konsep penetapan hak hadhanah melaui pengadilan. Sebenarnya bisa saja dalam pelaksanaanya mengambil ketentuan fikih Imam Syafi‟i tanpa melibatkan pengadilan. Tetapi yang dikhawatirkan adalah perebutan anak yang tidak bisa dihindarkan, keamanaan anak atas konflik pengakuan hak hadhanah, dan lain-lain.

Karena zaman sudah maju, Indonesia dan Maladewa menginisiasi agar penetapan hak hadhanah melibatkan pihak pengadilan. Hal itu dilakukan demi menjamin terlaksananya pelaksanaan hadhanah dan menghindari konflik perebutan anak.

2. Pihak yang paling utama dalam mengasuh anak setelah ibu

Wanita memiliki hak prioritas untuk mengasuh anak dibanding bapak karena wanita mempunyai naluri keibuan. Naluri itu secara otomatis dilakukan

163 Maldives Family Act 4/2000, Pasal 40.

kepada anak untuk dirawat, disusui, dididik, dan selalu sabar dalam mengurusi kehidupan anak.

Urusan pengasuhan anak bisa saja berpindah kepada orang yang dianggap pantas untuk mengasuk anak. Ibu yang sudah meninggal, ibu yang tidak berakal, atau yang lainnya bisa menjadi sebab berpindahnya hak asuh anak dari ibu ke orang lain. Para ulama fiqih dari kalangan mazhab Imam Syafi‟i sudah membagikan atau mengurutkan siapa saja orang-orang yang berhak mendapatkan hadhanah setelah ibu.

Dalam kitab Syafi‟iyyah diurutkan apabila pihak perempuan selain ibu berebut mendapatkan hak hadhanah maka yang paling diutamakan terlebih dahulu adalah bapak, kemudian selanjutnya pihak perempuan. Berikut urutannya adalah:

Pihak Perempuan

Klasik Kontemporer

1. Ibu

2. Nenek Jalur ibu dan seterusnya ke atas

3. Nenek Jalur ayah dan seterusnya ke atas

4. Kakak Kandung perempuan 5. Kakak Perempuan Sebapak 6. Kakak Perempuan Seibu 7. Bibi atau paman jalur ayah164

Tetapi bila ada bapak, maka anak lebih berhak padanya.165

1. Ibu

2. Nenek dari ibu dan seterusnya ke atas 3. Nenek dari ayah dan seterusnya ke

atas

4. Kakak Kandung perempuan 5. Bibi (saudara ibu)

6. Keponakan perempuan (anak saudari kandung) kemudian Keponakan

Muhammad Az-Zuhaili, al-Mu'tamad fi al-Fiqh al-Syafi'i (Damaskus: Darul Qalam, 2011) jilid 4 h. 307-308.

167 Mustafa al Khin, Mustafa al Bugha, Ali asy Syarbaji, al Fiqh al Manhaji „ala Madzhab al Imam al Syafi‟i (Damaskus: Darul Qalam, 1992) jilid 4 h. 192-193.

Berikut adalah pihak laki-laki yang berhak mengasuh anak. Yaitu

3. Ashobah (Paman dan lain-lain)

1. Bapak

6. Anak kakak laki-laki se bapak.

7. Paman,

8. Pamannya ayah,

9. Anak paman (Sepupu laki-laki), 10. Anak Pamannya ayah.168

2. Nenek dari ibu dan seterusnya ke atas170

3. Bibi (saudara ibu) 171 4. Ayah

168 Muhammad Az-Zuhaili, al-Mu'tamad fi al-Fiqh al-Syafi'i (Damaskus: Darul Qalam, 2011) jilid 4 h. 309

169 Abi Ishaq Al-Syirazi, al-Muhadzab fi Fiqh al-Imam al-Syafi‟i (Damaskus: Darul Qalam, 1996). Jilid 4 h. 646.

170 Muhammad Az-Zuhaili, al-Mu'tamad fi al-Fiqh al-Syafi'i (Damaskus: Darul Qalam, 2011) jilid 4 h. 309-310

171 Mustafa al Khin, Mustafa al Bugha, Ali asy Syarbaji, al Fiqh al Manhaji „ala Madzhab al Imam al Syafi‟i (Damaskus: Darul Qalam, 1992) jilid 4 h. 193-194

5. Nenek jalur bapak 6. Kakek jalur bapak

7. Kakak Perempuan Kandung 8. Kakak laki-laki Kandung 9. Paman/bibi172

Dilihat dari tabel di atas bahwasannya urutan yang ada di ketentuan fiqih mazhab imam Syafi‟i tidak sama. Bukan maksud tidak sama berati beda semua tetapi dalam Kitab Manhaj urutan yang berhaknya lebih banyak dibanding dengan kitab Al-Mu‟tamad. Tetapi hal itu tidak menjadi fokus penulis dalam hal terjadi perbedaannya.

Kemudian dalam Hukum Keluarga Indonesia pada Kompilasi Hukum Islam dijelaskan di pasal 156 ketika anak belum mumayyiz dan ibunya telah meninggal maka kedudukannya digantikan oleh:

1. Wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ibu;

2. Bapak;

3. Wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari bapak;

4. Saudara perempuan dari anak yang bersangkutan;

5. Wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari bapak.

Bilamana terjadi perselisihan akan ada yang menjamin kepastiannya karena penetapan hak hadhanah ini dilakukan oleh pengadilan. Sekiranya dari pihak lain merasa pemegang hadhanah ternyata tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani si anak, maka pihak yang mengkhawatirkan keamanan si anak tersebut dapat memindahkan hak hadhanah ke pihak lain atas penetapan pengadilan. Ini sejalan dengan KHI pasal 156.

Selanjutnya adalah dalam Hukum Keluarga Maladewa tidak menyebutkan secara berurut siapa saja orang yang berhak mendapatkan hadhanah. Hanya pihak yang bisa dipercaya dan juga yang ada hubungannya dengan si anak. Artinya anak

172 Muhammad Az-Zuhaili, al-Mu'tamad fi al-Fiqh al-Syafi'i (Damaskus: Darul Qalam, 2011) jilid 4 h. 309-310

dapat diasuh oleh pihak laki-laki maupun perempuan sesuai dengan penetapan pengadilan di Maladewa.

Dalam pasal 40 c dijelaskan jika pengasuhan anak perempuan dipercayakan kepada seorang laki-laki, maka dia haruslah seseorang yang dilarang untuk menikah (yang muhrimnya). Berarti secara otomatis meskipun tidak diurutkan dalam aturan hukum keluarga Maladewa, hak hadhanah untuk anak laki-laki maupun perempuan dari pihak laki-laki adalah:

1. Bapak

2. Kakek dari bapak dan seterusnya ke atas 3. Kakek dari ibu dan seterusnya ke atas 4. Saudara laki-laki si anak

5. Paman dari bapak 6. Paman dari ibu

Dalam lain hal, dijelaskan pula jika pengasuhan seorang anak dipercayakan kepada lebih dari satu orang yang ada hubungannya dengan si anak, dan mereka memiliki tingkat hubungan yang sama dengan anak tersebut, maka hak pengasuhan anak akan dipercayakan kepada orang yang paling sayang kepada anak tersebut dan pada siapa yang paling membentuk karakternya.

Dalam hal pengasuhan anak setelah pihak ibu, Mazhab Imam Syafi‟i, Hukum Keluarga Indonesia, dan Hukum Keluarga Maladewa ditemukan banyak perbedaan. Bahkan ketentuan di Mazhab Imam Syafi‟i sendiri terdapat banyak perbedaan urutan siapa yang berhak mendapatkan hadhanah setelah ibu. Tetapi rata-rata pihak setelah ibu urutan kedua sampai urutan ketiga hampir sama, yang lainnya dilengkapi dengan pihak lain. Contohnya bisa dilihat kembali ke atas urutan dari pihak perempuan, urutan pihak laki-laki, dan urutan pihak dalam perselisihan.

Dalam ketentuan Hukum Keluarga di Indonesia dan Maladewa selalu melibatkan pihak Peradilan untuk memberikan kepastian yang jelas tentang siapa yang berhak mengasuh anak setelah ibu.

Dalam Hukum Keluarga Indonesia, ditetapkan dengan tegas bahwa urutannya adalah seperti di atas, ketentuan ini memberikan titik terang dan kepastian hukum tentang siapa yang berhak mendapatkan hadhanah setelah ibu.

Urutan ini mirip dengan ketentuan yang ada di dalam kitab Fiqih Manhaj dan Fiqih Al-Mu‟tamad dalam urutan siapa yang berhak mengasuh anak setelah ibu apabila pihak perempuan dan pihak laki-laki berselisih dan memperebutkan hadhanah.

Hanya saja dalam Hukum Keluarga Maladewa tidak mengurutkan siapa saja pihak yang berhak mendapatkan hadhanah. Penetapan pengadilan sangat kental dalam urusan hadhanah ini. Hakim akan menelusuri orang-orang yang paling dekat, yang paling sayang, yang melindungi si anak dari lingkungan yang tidak baik, dan yang dapat membentuk karakter baik untuk menetapkan siapa yang paling pantas mengasuh anak. Hal ini berarti keluar dari jalur ketentuan yang ada di Mazhab Syafi‟i. Itu terjadi bisa saja karena tidak semua masalah penetapan hak hadhanah harus sesuai dengan ketentuan fiqih Mazhab Syafi‟i, tapi di sesuaikan dengan kondisi dan sosialnya si anak. bisa jadi si anak dekat dengan bibi, paman, keponakan, sepupu, atau saudara se bapak.

Penulis melihat, Hakim benar-benar sangat hati-hati dalam memutuskan kepada siapa anak itu akan diasuh. Karena semuanya demi kemaslahatan si anak tersebut.

Syarat Seorang Pengasuh

Ada beberapa persyaratan yang harus dimiliki oleh seorang pengasuh anak. Ini sangat penting untuk kelangsungan hidup anak yang belum mumayyiz.

hal itu sudah ditetapkan oleh fiqih mazhab Imam Syafi‟i. Diantaranya adalah:

1. Berakal

Sangat penting seorang pengasuh sehat akalnya, orang gila tidak berhak untuk mengasuh anak karena kelemahan akal dikhawatirkan anak akan ditelantarkan dan tidak diperhatikan.

2. Islam

Fiqih mazhab imam Syafi‟i mengatur agar anak yang diasuh ikut bersama pemegang hak hadhanah yang beragama Islam. yang Orang kafir tidak berhak untuk mengasuh anak, karena dikhawatirkan si anak akan ikut agama si pengasuhnya.

3. Lembut dan Amanah

Sangat penting yang mengasuh anak kecil dengan lembut dan amanah, apabila tidak lembut maka dikhawatirkan anak akan tertekan dan terganggu psikologisnya. Dan juga apabila tidak amanah dalam mengasuh anak atau mempergunakan biaya untuk kebutuhan si anak maka itu harus dihindari.

4. Mukim tempat tinggalnya

Seorang yang tidak mukim tempat tinggalnya, maka orang itu tidak berhak untuk mengasuh anak.

5. Tidak menikah dengan laki-laki lain

Apabila menikah dengan laki-laki lain meskipun belum dukhul, maka ia tidak berhak untuk mengasuh anak. Karena si ibu akan disibukkan dengan anak dari laki-laki lain, disibukkan dengan mengurus suami, dan lain-lain. Kecuali ada izin dari suami bahwa anak boleh diurus oleh ibunya. Pengasuhan anak akan dipindahkan kepada urutan setelah ibu.

Apabila si ibu itu bercerai dengan laki-laki yang dinikahinya, maka hak mengasuh anak kembali lagi kepada ibu.

6. Tidak mempunyai penyakit yang permanen

Bagi orang sakit tidak ada hak pengasuhan anak, untuk dirinya sendiri juga masih perlu bantuan apalagi mengurus anak kecil. Intinya, apabila seorang yang mengasuh terkena penyakit permanen seperti struk, kusta, dll. Maka tidak ada hak pengasuhan anak.173

7. Pintar

173 Mustafa al Khin, Mustafa al Bugha, Ali asy Syarbaji, al Fiqh al Manhaji „ala Madzhab al Imam al Syafi‟i (Damaskus: Darul Qalam, 1992) jilid 4 h. 196-197

Disyaratkan seorang pengasuh itu pintar, jangan orang bodoh karena dikhawatirkan mengasuh anak dengan kebodohan yang dapat membahayakan kehidupan si anak.

8. Baligh

Baligh juga syarat seorang pengasuh untuk mengasuh anak, belum baligh tidak dapat mengasuh anak.

9. Disusui

Diharuskan seorang ibu menyusui terlebih dahulu apabila anak masih kecil. Dan jika bapak tirinya baik, lembut, dan mengizinkan anak tersebut utuk disusui maka boleh.174

Syarat-syarat di atas merupakan gabungan dari kitab Al-Majmu‟ dan kitab Al-Mu‟tamad. Kenapa dalam ketentuan fiqih mazhab syafi‟i syaratnya begitu banyak dan terperinci karena bisa saja para ulama tidak ingin anak diasuh dengan sembarangan dan asal-asalan.

Dalam ketentuan hukum keluarga Indonesia disebutkan pada Undang-undang No. 1 Tahun 1974 bahwa apabila yang mengasuh sangat melalaikan kewajibannya terhadap anaknya dan berkelakuan buruk sekali, maka hak hadhanahnya dicabut oleh pengadilan atas permintaan kerabat lain.

Dan dalam kompilasi hukum Islam disebutkan juga bahwa apabila salah seorang orang tua sangat melalaikan kewajiban terhadap anaknya, berkelakuan buruk, tidak menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak maka hak hadhanah akan dipindahkan ke pihak lain yang berhak mengasuh anak.

Syarat yang mengasuh anak dalam ketentuan hukum keluarga Indonesia tidak merincikan seperti apa yang disebutkan pada ketentuan fiqih mazhab imam Syafi‟i, yaitu hanya menyebutkan tiga peryaratan agar bisa mengasuh anak, yaitu tidak lalai dalam melaksanakan kewajiban hadhanah, berkelakuan baik, dan menjamin keselamatan jasmani rohani.

Dalam ketentuan hukum keluarga Maladewa disyaratkan sebagai berikut, 1. Orang itu harus Muslim;

174 Muhammad Az-Zuhaili, al-Mu'tamad fi al-Fiqh al-Syafi'i (Damaskus: Darul Qalam, 2011) jilid 4 h. 310-311

2. Orang itu harus berakal sehat;

3. Orang itu mesti mampu memberikan kasih sayang dan perawatan yang diperlukan dalam membesarkan anak;

4. Orang itu harus tidak terlibat dalam tindakan yang dilarang dalam syariah.

5. tempat tinggal orang tersebut tidak boleh menjadi tempat yang

5. tempat tinggal orang tersebut tidak boleh menjadi tempat yang