BAB 5. PEMBAHASAN
5.1 Tindakan Penggunaan Kondom
5.2.3 Keterampilan Berperilaku
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa responden yang mempunyai keterampilan berperilaku tinggi 45,5%. Gambaran distribusi ketrerampilan berperilaku responden ini lebih baik dari hasil penelitian Widodo (2009) dimana hanya 35,7% responden yang mempunyai kemampuan diri untuk berperilaku yang tinggi dalam menggunakan kondom. Dari hasil uji statistik pada penelitian ini menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara keterampilan berperilaku dengan tindakan penggunaan kondom (P=0,042). Bila dilihat dari hasil tabulasi silang, responden yang memiliki keterampilan berperilaku tinggi akan menggunakan kondom baik (48,8%), lebih besar jika dibandingkan dengan responden yang memiliki keterampilan berperilaku rendah (23,6%).
Hal ini sesuai dengan penelitian Ford dkk (1992), Godin dkk (2005) dalam Yusi M.A. (2008) dan Widodo Edy (2009), yang menyatakan bahwa keyakinan seseorang untuk dapat berhasil dalam melakukan perilaku pencegahan (self efficacy) dan perasaan seseorang bahwa ia dapat mempengaruhi keadaan/situasi (perceived behavioural control) untuk melakukan perilaku pencegahan merupakan faktor yang dapat mempengaruhi seseorang untuk melakukan perilaku pencegahan tersebut.
Teori IMB yang menyatakan bahwa keterampilan berperilaku akan mempengaruhi tindakan seseorang dalam menggunakan kondom. Hal ini didasarkan pada keyakinannya untuk mampu melakukan upaya pencegahan tersebut, semakin
tinggi keyakinan diri untuk selalu menggunakan kondom maka tindakan penggunaan kondom akan semakin baik pula.
5.3. Analisis Multivariat
Berdasarkan analisis multivariat dengan menggunakan regresi logistik berganda metode Enter diperoleh dua variabel yang berhubungan dengan tindakan penggunaan kondom pada LSL di wilayah kerja klinik Veteran Medan tahun 2012 yaitu Informasi dan Motivasi. Namun variabel yang mempunyai nilai koefisien yang paling besar adalah variabel Informasi yaitu 2,902, CI (2,140-14,379) sehinggga variabel inilah yang paling dominan berhubungan dengan tindakan penggunaan kondom pada LSL di wilayah kerja klinik Veteran Medan tahun 2012.
Probabilitas LSL untuk menggunakan kondom dengan baik dapat diprediksi dengan menggunakan model persamaan regresi logistik berganda yang diperoleh dari analisis multivariat ini. Dari persamaan tersebut menunjukkan bahwa LSL dengan informasi dan motivasi tinggi, peluang untuk menggunakan kondom dengan baik tinggi juga yaitu 82%.
Berdasarkan STBP 2007, bahwa pengetahuan yang benar tentang kondom
mempengaruhi keputusan LSL untuk menggunakan kondom secara konsisten. Oleh
karena itu diperlukan penguatan kegiatan penjangkauan, dalam rangka memperluas
akses LSL terhadap informasi serta layanan HIV. banyak LSL di Indonesia yang
“tersembunyi” sehingga sulit dijangkau. Upaya untuk menjangkaunya dengan informasi dan layanan yang lebih dari pendekatan biasa yang menggunakan cara
kontak langsung, tatap muka di lokasi transaksi seks dan tempat-tempat LSL berkumpul. Jaringan LSL yang ada harus dimanfaatkan untuk menjangkau lebih dalam ke komunitas LSL, mungkin melalui pemakaian internet, hotline, SMS, dll. Sehingga informasi akan lebih efektif diterima, selanjutnya diharapkan persepsi mereka akan berubah dan timbullah motivasi untuk melakukan tindakan pencegahan.
Upaya Penanggulangan HIV/AIDS mengacu pada Peraturan Presiden No. 75/2006 Yaitu melalui Komisi Penanggulangan AIDS Nasional dimana Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) dibentuk untuk memimpin, mengelola dan mengkoordinasikan upaya penanggulangan AIDS secara multi-sektoral dan komprehensif dengan pendekatan yang dikenal sebagai “Total Football”.
Pendekatan “Total Football” adalah suatu pendekatan dimana semua yang terlibat didalam penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS saling berinteraksi dan berkoordinasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam pendekatan “Total Football” kemitraan merupakan salah satu kunci penting dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Sejak Perpres 75/2006, untuk pengembangan program, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi, dialog dan kerjasama dengan berbagai pihak: orang-orang/kelompok penduduk yang terdampak (populasi kunci), orang terinfeksi HIV, masyarakat sipil termasuk organisasi berbasis agama, sektor dan lembaga pemerintah, sektor swasta, media, mitra pembangunan internasional (“international development partners” – bi-lateral dan multi-lateral), merupakan cara kerja yang sangat penting untuk mengatasi tantangan dalam penanggulangan AIDS di Indonesia.
Masing-masing mitra dan kelompoknya telah memberi kontribusinya berupa pengalaman, sumberdaya, kebutuhan maupun potensi masing-masing. Mengacu pada Perpres 75/2006, tantangan bagi KPAN dan sekretariatnya adalah bagaimana menggalang kemitraan, agar masing-masing tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi bekerjasama menuju tercapainya tujuan Strategi dan Rencana Aksi Nasional Penanggulangan AIDS 2007-2010 dan kemudian tahun 2010-2014. Selama 5 tahun sejak Perpres 75/2006, keterampilan, saling percaya dan mekanisme kerjasama makin lama makin meningkat sehingga kontribusi masing-masing mitra makin memperkuat upaya penanggulangan AIDS di Indonesia.
Pada saat yang sama, penting sekali upaya peningkatan pengetahuan masyarakat secara umum tentang pengetahuan dasar HIV dan AIDS, cara-cara penularan serta cara-cara pencegahan penularannya, prinsip-prinsip non diskriminasi dan Hak Asasi Manusia dalam konteks epidemi maupun pesan-pesan praktis tentang abstinensia, saling setia dan peningkatan nilai-nilai keagamaan serta kegiatan yang berkaitan dengan perubahan pola hidup yang lebih sehat dan kegiatan yang bertujuan untuk melindungi diri sendiri dan orang lain dari berbagai infeksi.
Dalam kaitan dengan orang yang sudah terinfeksi HIV (ODHA) serta populasi kunci lainnya, sangat penting fokus pada peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan kegiatan yang mendukung kemandirian, tanggung jawab pribadi dan kelompok untuk mencegah penularan kepada orang lain dan ketaatan minum obat serta menjalani hidup yang penuh dan bermakna. Dalam pendekatan “total football”, setiap orang dan
kelompok yaitu yang terinfeksi dan terdampak umum maupun orang hidup dengan HIV mempunyai peran positif dalam upaya penanggulangan nasional.
Dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH sulangaelaku Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional menjelaskan upaya penanggulangan HIV & AIDS (Strategi Nasional 2010-2014) bertujuan untuk mencegah penularan HIV, Meningkatkan mutu hidup ODHA serta mengurangi dampak sosial ekonomi epidemi AIDS melalui pendekatan “ Total Football “. Beliau juga menjelaskan Program untuk usia muda 15 – 24 tahun untuk berperilaku sehat agar tetap tidak berisiko melalui Pendidikan, Agama, ketahanan mental dan pemanfaatan waktu luang dengan rekreasi sehat dan melakukan hal-hal berguna.