TINJAUAN PUSTAKA
4 Keteraturan a. Kemudahan
Keterangan
2) Kapasitas angkut
Jumlah penumpang sesuai kapasitas angkut Jumlah penumpang Maksimal 100% sesuai kapasitas angkut 3) Fasilitas pengatur suhu ruangan
Fasilitas pengatur suhu di dalam bus menggunakan AC (air
conditioner)
a. Ketersediaan b. Suhu
a. Harus tersedia b. Suhu dalam kabin 25ο°C - 27ο°C
4) Fasilitas kebersihan
Fasilitas kebersihan berupa tempat sampah
Jumlah Minimal 2 (dua)
5) Luas lantai untuk berdiri perorang
Memberikan kenyamanan ruang gerak penumpang selama berada di dalam mobil bus
Ukuran luasan a. 5 orang/m2 (waktu puncak) b. 4 orang/m2 (waktu non puncak) 4 Keteraturan a. Kemudahan perpindahan penumpang antar koridor
Aksesibilitas pengguna jasa dalam melakukan perpindahan antar koridor dari tempat berangkat sampai dengan tujuan akhir
Jumlah Perpindahan Maksimal 2 (dua) kali Koridor adalah lintasan kendaraan untuk pelayanan jasa
27
NO Jenis Uraian Indikator Nilai/Ukuran/Juml
ah
Keterangan
dengan mobil bus
yang mempunyai
asal dan tujuan perjalanan, lintasan dan jadwal tetap b. Ketersedian
integrasi jaringan trayek pengumpan
Kemudahan akses pegguna jasa memperoleh
angkutan umum dengan trayek yang
berkelanjutan dengan trayek angkutan massal
Ketersediaan Harus tersedia Trayek pengumpan harus dengan trayek angkutan massal
c. Tarif Biaya yang dikenakan pada pengguna jasa untuk satu kali perjalanan
Harga tiket terjangkau
Sesuai SK penetapan tarif oleh pemerintah Daerah setempat Penentuan tarif berdasarkan SK Dirjen Perhubungan Darat No 687 tahun 2002 tentang pedoman teknis penyelenggaraan angkutan penumpang umum di
28
NO Jenis Uraian Indikator Nilai/Ukuran/Juml
ah
Keterangan
wilayah perkotaan dalam trayek tetap dan teratur
5 Kesetaraan
a. Kursi prioritas
Tempat duduk di mobil bus diperuntukan bagi penyandang cacat, manusia usia lanjut, anak-anak, dan wanita hamil
Jumlah kursi Minimal 4 (empat)
b. Ruang
khusus untuk kursi roda
Prasarana di halte dan mobil bus yang diperuntukkan bagi pengguna jasa yang menggunakan kursi roda
Ketersediaan Harus Tersedia
c. Kemiringan lantai dan tekstur
Fasilitas akses menuju halte yang memberikan kemudahan bagi pengguna jasa yang menggunakan kursi roda, penyandang cacat, manusia usia lanjut, dan wanita hamil
Ketersediaan Harus tersedia Kemiringan lantai dan tekstur khusus
yang digunakan
sesuai standar teknis yang ditetapkan 6 Keteraturan
a. Waktu tunggu
Waktu yang dibutuhkan pengguna jasa menunggu kedatangan bus
Waktu (menit) a. waktu puncak maksimal 7 menit
Penentuan waktu puncak dan non
29
NO Jenis Uraian Indikator Nilai/Ukuran/Juml
ah
Keterangan
b. waktu non puncak maksimal 15 menit puncak disesuaikan kondisi masing-masing daerah b. Kecepatan perjalanan
Kecepatan rata-rata perjalanan Jarak tempuh
per jam (km/jam) a. Waktu puncak maksimal 30 km/jam b. Waktu non puncak 50 km/jam Penentuan waktu puncak dan non puncak disesuaikan kondisi masing-masing daerah c. Waktu berhenti di halte
Waktu berhenti mobil bus di setiap halte Waktu (detik) a. Waktu puncak maksimal 45 detik b. Waktu non puncak maksimal 60 detik Penentuan waktu puncak dan non puncak disesuaikan kondisi masing-masing daerah
d. Informasi pelayanan
Informasi yang disampaikan di dalam halte kepada pengguna jasa, sekurang-kurangnya memuat : a) Bentuk b) Tempat c) Kondisi a. Berupa papan informasi, visual, audio, dan tulisan
30
NO Jenis Uraian Indikator Nilai/Ukuran/Juml
ah
Keterangan
a) Nama halte;
b) Jadwal kedatangan dan keberangkatan; c) Jurusan/rute dan koridor;
d) Perpindahan koridor dan terminal; e) Tarif
f) Peta jaringan koridor pelayanan
(brosur atau pemflet) b. Penempatan
mudah terbaca dan jelas terlihat c. Kondisi baik dan/atau berfungsi d. Dapat melalui media internet e. Informasi waktu kedatangan mobil bus
Informasi yang disampaikan di dalam halte kepada pengguna jasa mengenai perkiraan waktu menunggu kedatangan mobil bus
a) Bentuk b) Tempat c) Kondisi a. Informasi dalam bentuk visual, harus ditempatkan di tempat yang strategis dan mudah dibaca
31
NO Jenis Uraian Indikator Nilai/Ukuran/Juml
ah
Keterangan
b. Kondisi baik dan berfungsi
f. Akses keluar masuk halte
Akses keluar masuk yang dapat mendorong terciptanya keteraturan pengguna jasa dan kelancaran lalu lintas
Terdapat ruang yang cukup untuk akses Sesuai dengan standar teknis g. Informasi halte yang akan dilewati
Informasi yang disampaikan di dalam mobil bus untuk mempermudah pengguna jasa yang akan turun di suatu halte (sedang dan akan dilewati)
a) Bentuk b) Tempat c) Kondisi a. Informasi dalam bentuk visual, harus ditempatkan di tempat strategis dan mudah dibaca b. Informasi dalam
bentuk audio harus dapat di dengar jelas;
c. Kondisi baik dan berfungsi
h. Ketepatan dan kepastian
Memberikan kepastian waktu keberangkatan dan kedatangan mobil bus
32
NO Jenis Uraian Indikator Nilai/Ukuran/Juml
ah Keterangan jadwal kedatangan dan keberangkata n mobil bus Keterlambatan 5 menit dari jadwal yang ditetapkan b. Sistem transit :
Keterlambatan 10 menit dari jadwal yang ditetapkan
i. Informasi gangguan perjalanan mobil bus
Fasilitas didalam halte yang memberikan informasi penyebab keterlambatan jadwal perjalanan mobil bus seperti gangguan keamanan, operasional, dan keselamatan
Waktu dan bentuk Informasi disampaikan segera melalui informasi di papan pengumuman atau display j. Sistem pemabayaran
Metode pemebelian tiket yang memeberikan kemudahan dalam melakukan transaksi dengan cepat dan transparan
Bukti
pembelian tiket untuk petugas dan penumpang
a. Smart card (Full
BRT)
b. Manual dan/atau
Smart card
33
NO Jenis Uraian Indikator Nilai/Ukuran/Juml
ah
Keterangan
c. Perangkat atau mesin pengecekan
smart card (tap)
jika menggunakan
smart card
33 2.9 Jenis Penentuan Sample
Teknik Sampling adalah Teknik pengambilan sampel menurut Sugiyono (2001: 56), sedangkan menurut Margono (2004), teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran pupulasi agar diperoleh sampel yang representative.
Tujuan pengambilan sampel yaitu memepersempit pupulasi yang terlalu banyak atau jangkauan yang terlalu luas, sehingga tidak memungkinkan dilakukan pengambilan data pada seluruh populasi. Selain itu, menekan terbatasnya waktu, tenang dan biaya peneliti untuk segera menghasilkan produk penelitiannya serta adanya asumsi bahwa seluruh populasi seragam sehingga bisadiwakilkan oleh sampel. Tahapan pengambilan sampel diantaranya :
- Mengidentifikasi populasi yang akan diamati
- Menentukan kerangka sampel dan kumpulan semua peristiwa yang mungkin - Menentukan Teknik atau metode sampling yang tepat
- Melakukan pengambilan sampel
- Melakukan pemeriksaan ulang pada proses sampling
Cara pengambilan sampel bermacam-macam tergantung jenis penilian yang akan dilakukan. Secara garis besar, metode pengambilan sampel terdiri dari 2 kelas besar yaitu:
a Probability Sampling
Probability Sampling adalah metode pengambilan sampel secara random atau acak. Dengan cara pengambilan sampel ini, seluruh anggota pupulasi diasumsikan memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi sampel penelitian. Metode ini terbagi menjadi beberapa jenis spesifik antara lain: 1) Pengambilan sampel acak sederhana (simple random sampling)
Tekinik penarikan sampel menggunakan cara ini memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anggota populasi untuk menjadi sampel penelitian. Terdapat 2 pendapat mengenai metode pengambilan sampel acak sederhana. Pendapat pertama menyatakan bahwa setiap nomor yang terpilih harus dikembalikan lagi sehingga setiap sampel memiliki prosentase kesempatan yang sama. Pendapat yang kedua menyatakan
34
bahwa tidak diperlukannya pengembalian pada pengambilan sampel menggunakan metide ini. Namun metode yang paling sering digunakan adalah simple random sampling dengan pengembalian.
Kelebihan metode ini yaitu dapat mengurangi bias dan dapat mengetahui standard error penelitian. Sementara kekurangannya yaitu tidak adanya jaminan bahwa sampel yang terpilih benar-benar dapat merepresentasikan populasi yang dimkasud.
2) Pengambilan sampel acak sistematis
Metode pengmabilan sampel acak sistematis menggunakan interval dalam memilih sampel penelitian. Misalnya sebuah penelitian membutuhkan 10 sampel dari 100 orang, maka jumlah kelompok intervalnya 100/10=10. Selanjutnya responden dibagi ke dalam masing-masing kelompok lalu diambil acak tiap kelompok.
3) Pengambilan sampek acak berstrata\
Metode pengambilan sampel acak berstrata mengambil sampel berdasarkan tingkat tertentu. Misalnya penelitian megenai motivasi kerja pada manajer tingkat atas, manajer tingkat menengah dan manajer tingkat bawah. Proses pengacakan diambil dari masing-masing kelompok tersebut.
4) Pengambilan sampel acak berdasar area
Clister sampling adalah Teknik sampling secara berkelompok. Pengambilan sampel jenis ini dilakukan berdasar kelompok/area tertentu. Tujuan metode ini antara lain untuk meneliti tentang suatu hal pada bagian-bagian yang berbeda di dalam suatu instansi.
5) Teknik pengambilan sampel acak bertingkat
Proses pengambilan sampel jenis ini dilakukan secara tingkat. Baik itu bertinfkat dua, tiga atau lebih.
Misalnya, Kecamatan -> Gugus -> Desa -> RW-RT b Nonprobability Sampling atau Non Random Sample
Nonprobability sampling adalah salah satu Teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Jenis teknik sampling ini antara lain:
35
1) Sampling sistematis
Sampling sistematis adalah Teknik penentuan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut.
2) Sampling kouta
Sampling kouta adalah Teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah atau kouta yang diinginkan. Teknik ini jumlah populasi tidak diperhitungkan akan tetapi diklasifikasi dalam beberapa kelompok. Sampel diambil dengan memeberikan jatah atau quorum tertentu terhadap kelompok. Pengumpulan adata dilakukan langsung pada unit sampling. Setalah jatah terpenuhi, maka pengumpulan data dihentikan.
Teknik ini biasanya digunakan dan didesain untuk penelitian yang menginginkan sedikit sampel dimana setiap kasus dipelajari secara mendalam. Dan bahayanya, jika sampel terlalu sedikit, maka tidak akan dapat mewakili populasi.
3) Sampling Aksidental
Sampling aksidental adalah Teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu sesuai sebagai sumber data.
Dalam Teknik sampling aksidental, pengambilan sampel tidak ditetapkan lebih dahulu. Peneliti langsung saja mengumpulkan data dari unit sampling yang ditemui.
4) Sampling Purposive
Sampling purposive adalah Teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Pemilihan sekelompok subjek dalam purposive sampling, didasarkan atas ciri-ciri tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Maka dengan kata lain, unit sampel yang dihubungi disesuaikan dengan kriteria-kriteria tertentu yang diterapkan berdasarkan tujuan penelitian atau permasalahan penelitian.
36
Sampling jenuh adalah Teknik penetuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasinya relative kecil, kurang dari 30 orang. Sampel jenuh disebut juga dengan istilah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.
6) Snowball sampling
Snowball sampling adalah Teknik pengambilan sampel yang awal mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel. Dan begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel makin lama makin banyak. Ibaratkan sebuah bola salju yang menggelinding, makin lama semakin besar. Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan sampel purposive dan snowball.
Menurut Sugiyono (2008) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat umum yang akan menggunakan Bus Rapid Trans Mamminasata koridor 2.
Menurut Wibisono dalam ridwan dan akdon (2013), rumus dalam menghitung sampel populasi yang tidak diketahui adalah sebagai berikut :
π = {(( ππ
2 ) . π)
π }
2
Sumber: Rumus dan Data dalam Analisis Statistika by Rduwan, Akdon
Keterangan:
N = Jumlah sampel
Za/2 = Nilai dari tabel distribusi normal atas tingkat keyakinan Ο = Standar deviasi 25%
37 2.10 Penelitian Terdahulu
Dalam penelitian ini tidak lepas dari penelitian sebelumnya. Mengacu pada penelitian sebelumnya, penelitian ini ditujukan untuk meningkatkan kinerja operasional transportasi angkutan umum BRT koridor II Trans Mamminasata. Sehingga dapat mengoptimalkan kinerja operasinalnya berdasarkan penelitian terdahulu, dalam penelitian sebelumnya oleh Elisabet (2006), Margareth Evelyn Bolla (2013), dan Desti Mayyanti (2008) menggunakan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat No.SK.687/AJ.206/DRJD/2002. Kemudian ditentukan berdasarkan hasil skor terhadapat parameter waktu tunggu, faktor muat, waktu sirkulasi, waktu perjalanan, kecepatan perjalanan, waktu pelayanan, waktu antar kendaraan, dan frekuensi pelayanan. Semuanya mengahsilkan evaluasi kinerja di tiap-tiap hasil studi masing-masing. Metode yang digunakan adalah analisis deskripsi kuantitatif dan analisis kualitatif. Kemudian dapat diuraikan dalam tebel 2.2 sebagai berikut.
37 Tabel 2.2 Penelitian Sebelumnya
Nama Judul Tujuan Faktor Teknik Analisis Persamaan Perbedaan Hasil Elisabet,
2006.
Analisis Indikator Kinerja Jasa Transportasi Angkutan Kota di Surakarta. Mengukur kinerja operasional angkutan kota di Surakarta Waktu tunggu, waktu tempuh, Kecepatan, Load Factor, Frekuensi, kemudahan Deskrptif kualitatif, Deskriptif kualitatif Evaluasi kinerja jasa transportasi angkutan kota Margareth Evelyn Bolla, 2013.
Analisis Kinerja Angkutan Umum Pada Rute Rencana Terminal β Kampus Universitas Timor Kota Kefamenanu Propinsi NTT.
Mengetahui kinerja pelananan angkutan umum yang ada ssat ini, dan jumlah kebutuhan kendaraan Waktu perjalanan, kesepatan perjalanan, Faktor muat, Waktu pelayanan, waktu sirkulasi, frekuensi pelayanan, waktu antar kendaraan, waktu tunggu Deskrptif kualitatif, Deskriptif kualitatif Evaluasi kinerja angkutan umum dan jumlah kebutuhan kendaraan angkutan umum Desti Mayyanti, 2008.
Evaluasi Kinerja Angkutan Umum Di Kota Bogor (Studi Kasus: Trayek Angkutan Kota Nomor 03,08, dan 09) Deskrptif kualitatif, Deskriptif kualitatif Qadriathi Dg Bau, Reza Muhajir, Batara Surya, 2019
Kinerja Pelayanan BUS TRANS Mamminasata di Koridor 3 Kawasan Mamminasata Menganalisis efektifitas kinerja pelayanan dan pengaruh terhadap system pergerakan di koridor 3 Load Factor, Headway, Waktu henti kendaraan, waktu tempuh, waktu perjalanan, kecepatan Analisis Statistik Deskriptif. Meningkatkan kinerja efektifitas pelayanan BRT
38 kawasan Mamminasata perjalanan, waktu sirkulasi, frekuensi, jarak antar halte, availability, waktu pelayanan, umur kendaraan, operation ratio, dan kapasitas.
38 2.11 Indikator Penelitian
Berdasarkan pertanyaan penelitian pertama dapat disimpulkan bahwa kondisi koridor II menggunakan jalan utama yang dilalui oleh seluruh jenis kendaraan. Sehingga, indikator yang digunakan untuk menghitung kinerja efektifitas dan efisiensi Bus Rapid Trans koridor II menggunakan standar Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat No.SK.687/AJ.206/DRJD/2002 dengan sub variable sebagai berikut:
- Waktu Perjalanan - Kecepatan Perjalan
- Faktor Muat (Load Factor) Jam Sibuk - Faktor Muat (Load Factor) diluar jam sibuk - Waktu Pelayanan atau Jam Operasi
- Frekuensi - Waktu Tunggu - Headway
Dengan sub variabel tersebut, memiliki parameter yang masing-masing, sehingga terdapat pembobotan atau penilaian berdasarkan Tabel 2.2
Tabel 2.3 Standar Kinerja BRT
Sumber : Dirjen Perhubungan Darat 2002 dalam Marsudi
Pada pertanyaan penelitian kedua, berdasarkan tinjauan Pustaka dapat disimpulkan untuk menjawab pertanyaan penelitian dapat menggunakan sampling penelitian,
No Parameter Penilaian Satuan Standar Penilaian Kurang (1) Baik (2)
1 Load factor, jam sibuk % >90 <90
2 Load factor, di luar
jam sibuk
% >85 <85 3 Kecepatan perjalanan Km/jam <7 >7
4 Headway Menit >13 <13
5 Waktu perjalanan Menit/km >9 <9
6 Waktu pelayanan Jam <14 >14 7 Frekuensi Kend./jam <5 >5 8 Waktu tunggu Menit >25 <25
39
kemudian menggunakan Impotrance Performance Analisys. Dengan indikator sebagai berikut:
- Jangkauan Pelayanan BRT - Kondisi Sarana
- Harga atau Tarif - Lokasi dan Distribusi - Informasi
- Staf atau pegawai - Kondisi Prasarana
- Pertimbangan naik Bus Rapid Trans Mamminasata
Hasil observasi menunjukan populasi pada kawasan wilayah yang diteliti tidak dapat ditentukan populasi tetap sehingga menggunakan Non-Probability Sampling dengan kriteria Purpose Sampling dengan menggunakan rumus Wibisono.
Selanjutnya akan dideskripsikan berdasarkan standar Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 10 tahun 2012 tentang pelayanan minimal angkutan massal berbasis jalan berupa rekomendasi peningkatan pelayanan jasa transportasi angkutan umum BRT Mamminasata pada koridor II.
2.12 Kerangka Pikir
Kerangka pikir pada penelitian ini, berdasarkan isu yang ada seperti menurunnya daya tarik menggunakan BRT Trans Mamminasata. Kemudian menghasilkan judul EVALUASI ANGKUTAN UMUM BUS RAPID TRANS DI KOTA MAKASSAR (STUDI KASUS: KORIDOR II BRT MAMMINASATA). Mengikuti pedoman Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat No.SK.687/AJ.206/DRJD/2002 dengan parameter yaitu:
- Faktor muat jam sibuk - Faktor muat diluar jam sibuk - Kecepatan perjalanan
- Headway
- Waktu perjalanan - Waktu pelayanan - Frekuensi
40
- Waktu tunggu
Untuk mengetahui tingkat kebutuhan pelayanan, menggunakan metode analisis kuadran dengan menggunakan indikator, yaitu:
- Jangkauan Pelayanan BRT - Kondisi sarana
- Kondisi Prasarana - Harga atau tarif - Lokasi atau distribusi - Informasi
- Staf yang tersedia
- Pertimbangan menggunakan BRT
Hasilnya merupakan rekomendasi peningkatan potensi pelayanan BRT beradasarkan hasil analisis kuadran dengan dipadukan menggunakan standar Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 10 tahun 2012 tentang pelayanan minimal angkutan massal berbasis jalan.SElanjutnya dapat dilihat pada gambar 2.1
41
Gambar 2.1 Kerangka Pikir Sumber: Penelitian thn. 2020
ISU
Menurunnya daya Tarik masyarakat menggunakan jasa transportasi umum Bus Rapid Trans Mamminasata pada koriodor II di Kota Makassar menyebabkan tidak ada jadwal tetap pengoperasian koridor II serta jumlah armada yang beroprasi dikoridor tersebut berkurang.
Pedoman
β’ Keputusan Direktur Jenderal
Perhubungan Darat
No.SK.687/AJ.206/DRJD/2002
β’ Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 10 tahun 2012 tentang pelayanan minimal angkutan massal berbasis jalan
βEVALUASI ANGKUTAN UMUM BUS RAPID TRANS DI KOTA