C. Keterbatasan dan Peluang
2. Keterbatasan dan Peluang Untuk Pengembangan
a. Untuk Kepentingan Aplikasi
Pada kenyataannya, hasil-hasil riset difusi tidak selamanya dapat teraplikasikan dengan baik di lapangan. Ada saja hambatan yang ditemui bagi upaya tindaklanjut. Dalam konteks Parepare, keterbatasan aplikasi lebih jauh hasil penelitian ini terletak pada persepsi pengambil kebijakan di pemerintahan yang belum melihat pentingnya pemahaman substansi permasalahan lapangan dalam penyusunan program kegiatan, melalui kajian-kajian penelitian yang komprehensif. Secara umum, hingga saat ini program pembangunan bidang kesehatan di Kota Parepare (khususnya penanggulangan bahaya HIV/AIDS) masih lebih didasarkan pada pertimbangan aspek politis semata, dan lebih merupakan bargaining position dengan pressure groups. Hasil-hasil penelitian akademik yang menawarkan fakta empiris bagi acuan pengambilan kebijakan terkait, masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah.
Selama tiga tahun terakhir, program-program penanggulangan HIV/AIDS yang dilaksanakan Pemerintah Kota Parepare misalnya, baik ditujukan untuk masyarakat umum maupun bagi komunitas PSK, lebih didominasi ‘orderan’ kelompok-kelompok penekan seperti pers dan LSM.
Andaipun ada program murni lahir dari pemerintah, hal tersebut juga tidak
memadai karena hanya didasarkan pada sebatas asumsi-asumsi. Akibatnya program tidak menyentuh substansi permasalahan dan kebutuhan lapangan.
Kendati demikian, hasil penelitian ini tetap memiliki relevansi bagi upaya penangulangan HIV/AIDS di Kota Parepare, mengingat sikap pemerintah kota sebagaimana digambarkan di atas, terjadi karena tidak adanya informasi dan data-data lapangan yang akurat yang dapat ditawarkan kepada pihak yang berencana melaksanakan program penanggulangan HIV/AIDS. Khusus pada kelompok pekerja seks, kurangnya data lapangan berkaitan dengan sikap pemerintah kota yang berusaha menghindari kesan upaya legalisasi praktek prostitusi bila terlalu jauh melakukan penanganan terhadap komunitas PSK. Implikasi lebih jauh dari hal ini adalah minimnya pemberian keterampilan hidup pada komunitas PSK untuk dapat menafkahi hidup dengan cara lebih ‘terhormat’.
Saat ini, sebagian dari tugas tersebut lebih dominan diperankan LSM.
Untuk itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan penyusunan program pencegahan HIV/AIDS pada komunitas PSK yang lebih efektif. Walaupun data sementara di VCT Rumah Sakit Umum Andi Makassau Kota Parepare memperlihatkan angka infeksi didominasi kalangan rumah tangga, namun profesi PSK yang harus berganti pasangan seks setiap saat merupakan faktor-faktor yang dapat mempercepat infeksi HIV/AIDS lebih jauh pada masyarakat Parepare, sehingga perlu ada program nyata dan visible bagi penanggulangan infeksi HIV/AIDS pada komunitas ini.
b. Untuk Pengembangan Studi
Dalam riset difusi inovasi sering didapati beberapa hambatan.
Pengalaman menunjukkan bahwa hampir setiap individu atau organisasi memiliki semacam mekanisme penerimaan dan penolakan terhadap perubahan. Segera setelah ada pihak yang berupaya mengadakan sebuah perubahan, penolakan atau hambata n akan sering ditemui. Orang -orang tertentu dari dalam ataupun dari luar sistem akan tidak menyukai, melakukan sesuatu yang berlawanan, melakukan sabotase atau mencoba mencegah upaya untuk mengubah praktek yang berlaku.
Penolakan ini mungkin ditunjukkan secara terbuka dan aktif atau secara tersembunyi dan pasif. Ada saja alasan orang menolak perubahan walaupun kenyataannya praktek yang ada sudah kurang relevan, membosankan, sehingga dibutuhkan sebuah inovasi. Fenomena ini sering disebut sebagai penolakan terhadap perubahan. Banyak upaya telah dilakukan untuk menggambarkan, mengkategorisasikan dan menjelaskan fenomena penolakan ini. Ada empat macam kategori hambatan dalam konteks inovasi. Keempat kategori tersebut adalah: (1) hambatan psikologis, (2) hambatan praktis, (3) hambatan nilai-nilai, serta (4) hambatan kekuasaan.
Selain itu, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang informasi komunikasi tidak saja telah meminimalisir jarak ruang dan waktu yang dibutuhkan manusia dalam memperoleh, mengolah dan mengirimkan
serta menerima informasi (pengetahuan), tetapi juga memperpendek waktu yang dibutuhkan sebuah pengetahuan (perilaku, ide, dan atau barang) untuk diadopsi sebuah kelompok atau masyarakat di belahan dunia lainnya, walaupun dalam beberapa kasus proses transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi tidak secepat yang diperkirakan banyak orang karena beberapa alasan seperti kultur dan ideologi atau faktor-faktor lainnya.
Harus diakui, kemajuan teknologi audio-visual menjadikan perilaku-perilaku tertentu yang disajikan di media-media televisi, radio atau internet dengan segera dicontoh dan ikut dipraktekkan yang sebelumnya kemungkinan orang -orang tidak mengenal perilaku-perilaku seperti itu.
Dampak teknologi informasi seperti ini juga terjadi pada persepsi dan perilaku PSK dalam hubungan adopsi informasi HIV/AIDS. Hasil-hasil penelitian memperlihatkan, nyaris tidak ada yang berbeda dan spesial dalam hal alasan keengganan PSK dan pelanggan PSK untuk mempraktekkan seks aman infeksi (menggunakan kondom), walaupun dari segi tingkat perolehan informasi antara kelompok yang satu dan lain berbeda secara signifikan.
Memang ada faktor berpengaruh seperti posisi tawar yang rendah dan tingkat pendidikan yang tidak memadai, namun keengganan menggunakan kondom ole h PSK dan pelanggan mereka sedikit banyaknya juga dipengaruhi terpaan informasi yang diterima terkait buruknya citra serta adanya mitos di seputar kondom. Situasi ini membawa konsekuensi betapa tidak menantangnya riset-riset difusi informasi HIV/AIDS. Tidak ada hal baru.
Kendati demikian, riset difusi inovasi khususnya difusi informasi HIV/AIDS masih memiliki prospek yang bagus di masa mendatang , sehubungan peran dan aplikasi ilmu komunikasi bagi kegiatan perubahan-perubahan sosial ke arah yang diinginkan. Diharapkan melalui studi lebih lanjut dapat ditemukan penjelasan yang detil faktor-faktor dominan yang memengaruhi tingkatan adopsi informasi HIV/AIDS yang rendah pada komunitas pekerja seks, khususnya di Kota Parepare.
Ada banyak faktor pendukung bagi pelaksanaan studi penyebaran informasi HIV/AIDS pada komunitas PSK di Kota Parepare lebih jauh. Di luar komunitas PSK bordil Pelanduk, sikap terbuka para mucikari PSK part time, hotel dan ABG serta keberadaan penjangkau lapangan LP2EM yang memiliki komunikasi yang baik dengan para mucikari dan PSK, merupakan faktor-faktor pendukung yang memungkinkan diadakannya studi yang komprehensif.
Pada komunitas PSK bordil Pelanduk, dapat didekati melalui pelibatan para PSK dan orang -orang kunci yang berada di sekeliling prostitusi Pelanduk dalam riset. Belajar dari kegiatan selama pengumpulan data dalam penelitian ini, pada dasarnya PSK bordil Pelanduk tetap berkenaan dengan pihak luar sepanjang kegiatan yang dilaksanakan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang mereka pahami, serta ada pemberian pemahaman bahwa apa yang sementara dilaksanakan pada dasarnya untuk kepentingan mereka yang selama ini mungkin ‘diabaikan’ oleh pemerintah.
Kota Parepare terletak pada bagian timur laut Provinsi Sulawesi Selatan antara 030 5739’ – 040 0449’ lintang selatan dan 119036’24’’ – 1190 43’40’ bujur timur dengan batas-batas;
- Sebelah Utara : Kabupaten Pinrang.
- Sebelah Timur : Kabupaten Sidrap . - Sebelah Selatan : Kabupaten Barru.
- Sebelah Barat : Selat Makassar.
Secara administratif, sejak tanggal 28 Mei 2008 Kota Parepare terbagi atas 4 wilayah kecamatan dan 22 kelurahan, dengan luas wilayah 99,33 km2. Sebelumnya hanya terdiri dari tiga kecamatan, yakni Kecamatan Bacukiki, Kecamatan Ujung dan Kecamatan Soreang. Kecamatan yang terluas adalah Kecamatan Bacukiki dengan luas wilayah 79.70 Ha atau 80.24% dari luas wilayah Kota Parepare, dan yang terkecil adalah Kecamatan Soreang seluas 8.33 Ha atau 8.38% dari luas wilayah Kota Parepare. Rincian luas wilayah masing-masing kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.1 : Luas Wilayah Kota Parepare Dirinci per Kecamatan.
No Kecamatan Luas Wilayah (Ha) %
1. Bacukiki 79.70 80.24
2. Ujung 11.30 11.38
3. Soerang 8.33 8.38
Jumlah/Total 99.33 100,00
Sumber : Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Walikota Parepare, 2007
Grafik 4.1: Luas Wilayah Kota Parepare per Kecamatan
Topografi Kota Parepare pada umumnya berbukit dan terdiri dari pegunungan yang memanjang dari utara ke selatan dan timur ke barat yang luasnya mencapai 85% dari seluruh luas wilayah. Pengembangan pada wilayah ini bersifat terbatas karena kondisi topografi pada umumnya terdiri dari lereng -lereng curam. Umumnya wilayah ini dikenal sebagai Kota Atas.
Bentuk lahan dataran terletak di wilayah pesisir pantai, dan secara umum merupakan daerah cukup padat penduduk serta pusat aktifitas kota.
Umumnya wilayah ini disebut sebagai Kota Bawah yang luasnya mencapai 15% dari seluruh luas Kota Parepare.
Alat transportasi darat yang digunakan di Kota Parepare terdiri dari bus (panter), mikrolet (pete-pete), ojek dan becak. Dengan angkutan bus hampir semua ibukota kabupaten dapat dicapai dengan alat trasportasi ini.
Angkutan lain adalah Bus Damri yang melayani trayek Makassar-Parepare.
Bacukiki 79.70%