BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
5. Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan dalam penelitian pengembangan instrumen tes adalah:
a. Produk berupa instrumen tes yang dikembangkan hanya mampu mengukur kemampuan analisis pada topik pereaksi pembatas.
b. Produk berupa instrumen tes yang dikembangkan untuk mengukur kemampuan analisis peserta didik hanya dilakukan pada satu sekolah.
87 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan, maka dapat dapat disimpulkan bahwa:
1. Produk berupa instrumen tes untuk mengukur kemampuan analisis peserta didik SMA telah sesuai dengan model pengembangan instrumen tes Wilson, Oriondo dan Antonio yang meliputi tahap perancangan produk dan uji coba produk. Model ini dipilih karena lebih efektif dan sesuai dengan prosedur pengembangan instrumen tes.
2. Produk berupa instrumen tes untuk mengukur kemampuan analisis peserta didik telah memenuhi kriteria valid, efektif, dan praktis. Produk memenuhi kriteria valid dengan perolehan rata-rata persentase hasil validasi sebesar 88,38% yang termasuk kategori valid dan hasil analisis dengan Rasch menunjukan 4 butir soal telah memenuhi minimal 2 kriteria valid parameter MNSQ, ZSTD, Pt Measure Corr. Produk tergolong efektif berdasarkan rata-rata nilai tes peserta didik sebesar 56,10 dan memenuhi kriteria praktis dengan rata-rata persentase sebesar 81,75%. Selain itu, hasil analisis dengan Rasch menunjukan item reliability dikategorikan bagus dengan nilai sebesar 0,89 yang berarti bahwa kualitas butir soal yang dikembangkan sudah bagus. Tingkat kesukaran butir soal 1 dengan logit sebesar 0,70 yang termasuk kategori sulit sedangkan butir soal 2, 3, dan 4 dengan logit berturut adalah -0,04, -0,17, dan -0,49 yang termasuk kategori mudah. Daya pembeda butir soal 1, 2, dan 3 dengan dengan nilai 0,24, 0,33, dan 0,34 yang termasuk kategori cukup sedangkan butir soal 4 dengan nilai sebesar 0,6 yang termasuk kategori baik.
3. Kemampuan analisis peserta didik tergolong dalam kategori cukup bagus dengan nilai person reliability sebesar 0,74 yang dianalisis dengan model Rasch. Selain itu, rata-rata kemampuan analisis peserta didik pada indikator membedakan sebesar 76,94, indikator mengorganisasikan sebesar 55,27, dan indikator mengatribusikan sebesar 36,11. Secara keseluruhan, rata-rata
87
kemampuan analisis peserta didik pada topik pereaksi pembatas adalah 56,10 dengan kategori cukup tinggi.
B. Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
1. Peneliti berikutnya dapat mengembangkan instrumen tes pada topik kimia lainnya.
2. Guru dapat membiasakan peserta didik untuk menyelesaikan soal dengan level kemampuan analisis pada topik pereaksi pembatas.
3. Guru dapat mengembangkan instrumen tes kemampuan analisis pada topik kimia lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Amalia, N. &. (2014). Pengembangan Instrume Penilaian Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA pada Materi Asam Basa. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, 8(2), 1380-1389.
Aprilia., V. (2019). Deskripsi Kemampuan Berpikir Analitis Materi Bangun Datar Segiempat pada Siswa SMP. Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika, 2, p. 1120.
Arifin, Z. (2016). Evaluasi Pembelajaran (Prinsip, Teknik, dan Prosedur), Cetakan Kedelapan. Jakarta : Rosda Karya.
Arikunto, S. (2012). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan: Edisi 2. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Ariyana. (2018). Buku Pegangan Pembelajaran Berorientasi pada Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi. Jakarta: Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Aspubel, F. D. (2018). Pengembangan Instrumen Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Kimia . Repository , 3(1), 1-11.
Asrul, A. R. (2014). Evaluasi Pemebelajaran. Bandung: Citapustaka Media.
Barrat, C. (2014). Higher Order Thingking and Assessment. International Seminar on Current Issues in Primary Education.
Batubara, U. d. (2019). Teknik Penyusununan Instrumen Penilaian Higher Order Thinking Skill (HOTS) dalam Pembelajaran Sejarah. Lentera Pendidikan, 22(2).
Brady, J. (1999). Kimia Universitas Asas dan Struktur, Jilid I, Edisi Kelima.
Jakarta: Binarupa Aksara.
Chang, R. (2005). Kimia Dasar Konsep-konsep Inti. Edisi Ketiga (Jilid 2). Jakarta : Erlangga .
Damayanti, I., Masykuri, M., & Yamtinah. (2019). Pengembangan Instrumen Penilaian Testlet untuk Mengukur Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi pada Materi Elektrokimia. Jurnal Pendidikan IPA, 8(1), 59-71.
Destiana, D. S. (2020). Pengembangan Instrumen Penilaian untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Produktif di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Guru Sekolah Dasar (JPPGuseda), 3(2), 119-123.
Edi, R. (2011). Statistika Penelitian (Analisis Manual dan IBM SPSS). Yogyakarta:
ANDI.
Fanani, M. (2011). Strategi Pengembangan Soal Higher Order Thingking Skilss (HOTS) dalam Kurikulum 2013. Edudena, 12(1).
Harjadi, W. (2018 ). Stoikiometri: Berhitung Kimia itu Mudah . Bogor : IPB Press.
Harta, J. (2017). Pengembangan Soal Esai berbasis HOTS untuk Menyelidiki Keterampilan Pemecahan Masalah Siswa SMA. Jurnal Penelitian, 21(1), 283.
Hayati, S., Sidauruk, S., & Abudarin. (2018). Kesulitan Siswa Memahami Pereaksi Pembatas di SMA Kabupaten Barito Utara dan Kota Palangka Raya Tahun Pelajaran 2015/2016. Jurnal Ilmia Kanderang Tingang, 9(2), 114-132.
Heru, H. (2019). Pengembangan Instrumen Tes Pilihan Ganda Beralasan pada Physics Mobile Learning Media (PMLM) Interaktif Materi Usaha dan Energi untuk Mengukur HOTS Siswa SMA. Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA, 9(2).
Huda, H. &. (2020). Research-Oriented Collaborative Inquiry Learning (REORCILEA) Model: Improvement of Students' Analytycal Thinking Ability in High School Chemistry Learning. Proceedings of the 6th International on Science Education (ISSE 2020). 541, pp. 248-252.
Yogyakarta: Atlantis Press .
Irsalina, A. d. (2018). Analisis Kepraktisan Pengembangan Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) Berorientasi Blended Learning pada Materi Asam Basa. Jurnal Kimia dan Pendidikan Kimia, 3(3), 171-182.
Irwanto, Rohaeti, E., Widjajanti, E., & Suyanta. (2017). Students' Science Process Skill and Analitycal Thinking Ability in Chemistry Learning. AIP Conference Proceedings (pp. 1-4). Yogyakarta: AIP Publishing .
Iskandar, A. d. (2018). Analisis Kualitas Butir Soal di Perguruan Tinggi Berbasis Aplikasi TAP. Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, 22(1), 14.
Istiyono, E., Mardapi, J., & Suparno. (2014). Pengembangan Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Fisika (PhyTHOTS) Peserta Didik SMA. Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, 8(1), 1-12.
Khaldun, I., Hanum, L., & Utami, S. (2019). Pengembanagn Soal Kimia Higher Order Thingking Skills berbasis Komputer dengan Wondershre Quiz Creator Materi Hidrolisis Garam dan Larutan Penyangga. Jurnal Pendidikan Sains Indonesia, 7(2), 132. Keterampilan Proses Sains Kimia. Jurnal Kependidikan: Penelitian dan Inovasi Pembelajaran, 1(1), 100-110.
Mardapi. (2008). Teknik Penyusunan Instrumen Tes dan Nontes. Yogyakarta: Mitra Cendikia Press.
Mardapi. (2012). Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta:
Nuha Medika.
Muttaqin, M. &. (2017). Pengembangan Instrumen Penilaian Tes Tertulis Bentuk Uraian untuk Pembelajaran PAI Berbasis Masalah Materi FIQH. Jurna Tatsqif, 15(1), 1-23.
Nikmatur, R. (2017). Proses Penelitian, Masalah, Variabel dan Paradigma Penelitian. Jurnal Hikmah, XIV(1), 66.
Ningsih, D. R. (2018). Pengembangan Tes Keterampilan Berpikir Kritis Berdasarkan Analisis Teori Respon Butir. Jurnal Wahana Pendidikan Fisika, 3(2).
Nurliawaty, L. M. (2017). Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Problem Solving Polya. Jurnal Pendidikan Indonesia, 6(1), 72-81.
Nuswowati, M. B. (2010). Pengaruh Validitas dan Reliabilitas Butir Soal Ulangan Akhir Semester Bidang Studi Kimia terhadap Pencapaian Kompetensi.
Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, 4(1), 566-573.
Petrucci, R. (2008). Kimia Dasar: Prinsip dan Terapan Modern Jilid 1. Jakarta:
Erlangga.
Pradnyantika. (2018). Pengelolaan Pembelajaran Kimia di SMA Negeri 2 Negara.
Jurnal Pendidikan Kimia Indonesia, 2(1).
Purbaningrum, K. (2017). Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa SMP dalam Pemecahan Masalah Matematika Ditinjau dari Gaya Belajar. Jurnal Penelitian dan Pembelajaran Matematika, 10(2), 1-10.
Purnomo, B. (2011). Metode dan Teknik Pengumpulan Data dalam Penelitian Tindakan Kelas. Jurnal Pengembangan Pendidikan, 8(1), 251-256.
Puspitaningtyas, Z. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif . Bandung : Pustaka Setia.
Rahmawati, R. N. (2019). Pengembangan Instrumen Tes Keterampulan Pemecahan Masalah pada Materi Kelistrikan dan Kemagentan. Seminar Konstribusi Kimia , (pp. 94-103).
Riduwan. (2011). Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian. Bandung:
Alfabeta.
Rochaman, S., & Hartoyo, Z. (2018). Analisis High Order Thingking Skilss (HOTS) Taksonomi Menganalisis Permasalahan Fisika. Science and Physics Education Journal (SPES), 1(2).
Rochman, S. d. (2020). Analisis High Order Thinking Skills (HOTS) Taksonomi Berpikir Kritis pada Permasalahan Fisika. PENDIPA Journal of Science Education, 4(2), 40-44.
Satori, D., & Komariyah, A. (2010). Metodoli Penelitian Kualitatif. Bandung:
Alfabeta.
Sayekti, A. d. (2021). Instrumen Tes Berbasis Web Menggunakan Framework Codeigniter untuk Menilai Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMA.
Journal of Science Education, 5(2).
Setiawan, H. S. (2017). Pengembangan Instrumen Asesmen Autenitk Kompetensi pada Ranah Keterampilan untuk Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar.
Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian dan Pengembangan, 2(7), 874-882.
Setiawati, R. (2018). Peningkatan Kemampuan Analisis Transaksi dalam Menyusun Jurnal dengan Model Problem Based Learning melalui Pengamatan BT/BK. Inopendas Jurnal Imiah Kependidikan, 1(1), 2.
Solekhah, F. M. (2018). Pengembangan Instrumen Tes Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi pada Materi Hukum Newton tentang Gerak. Journal of Physics and Science Learning, 2(1).
Sudjana, N. (2009). Metode Penelitian . Bandung : Sinar Baru Algesindo.
Sudjiono, A. (2005). Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sudjiono, A. (2016). Pengantar Evaluasi Pendidikan . Jakarta : Rajawali Press.
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R D. Bandung : Alfabeta .
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitaif, dan R&D. Badung: Alfabeta.
Sumaryanta. (2015). Pedoman Penskoran. Indonesia Digital Journal of Mathematics and Education, 2(3), 182.
Sumintono, B., & Widhiarso, W. (2015). Aplikasi Pemodelan Rasch pada Assessment Pendidikan. Cimahi: Trim Komunikata.
Sunarya, Y. (2010). Kimia Dasar I: Berdasarkan Prinsip-prinsip Kimia Terkini . Bandung: Yrama Widya .
Valentie, I. (2019). Pemahaman Konsep Pereaksi Pembatas Hasil Pembelajaran Kimia Menggunakan LKS-Induktif pada Siswa Kelas X. Jurnal Ilmiah Kanderang Tingang, 10(1), 12-26.
Widrianto, R. d. (2017). Efektifitas Lembar Kerja Siswa dengan Model Problem Based Learning pada Materi Bangun Ruang Sisi Data Kelas VIII SMP.
Jurnal Penelitian Pembelajaran Matematika Sekolah, 1(2), 137-142.
Winarno, M. E. (2011). Metodologi Penelitian dalam Pendidikan Jasmani. Malang:
Media Cakrawala Utama Press.
Yandriani, R. R. (2020). Validity and Reliability of Assessment Instruments for Analytical Thinking Ability and Chemical Literacy in the Analytical Thinking Ability and Chemical Literacy in the Analytical Thinking Ability and Chemical Literacy in the Colligative Properties. Journal of Physics:
Conference Series (pp. 1-6). Pekanbaru : IOP Publishing .
Zahriah, H. &. (2016). Penerapan Pemecahan masalah model Polya untuk Meningkatkan Kemampuan Analisis dan Hasil Belajar pada Materi Vektor di SMAN 1 Darul Imarah. Jurnal Pendidikan Sains Indonesia, 4(1), 166-177.
LAMPIRAN
94 Lampiran 1. Silabus Kimia Kelas XI SMA Semester Genap Kurikulum 2013
Satuan Pendidikan : SMA / MA / SMK
Kelas : X (Sepuluh)
Alokasi waktu : 3 jam pelajaran/minggu Kompetensi Inti :
KI-1 dan KI-2:Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, santun, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), bertanggung jawab, responsif, dan pro-aktif dalam berinteraksi secara efektif sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan kawasan internasional”.
KI 3: Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
KI4: Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan
Kompetensi Dasar Materi Pokok Kegiatan Pembelajaran
3.1 Menjelaskan metode ilmiah, hakikat ilmu Kimia,
Mengamati produk-produk dalam kehidupan sehari-hari, misalnya: sabun,
detergen, pasta gigi, shampo, kosmetik, obat, susu, keju, mentega, minyak goreng, garam dapur, asam cuka, dan lain lain yang mengandung bahan kimia.
Mengunjungi laboratorium untuk mengenal alat-alat laboratorium kimia dan fungsinyaserta mengenal beberapa bahan kimia dan sifatnya (mudah meledak, mudah terbakar, beracun, penyebab iritasi, korosif, dan lain-lain).
Membahas cara kerja ilmuwan kimia dalam melakukan penelitian dengan menggunakan metode ilmiah (membuat hipotesis, melakukan percobaan, dan menyimpulkan)
4.1 Menyajikan hasil rancangan dan hasilpercobaan ilmiah
95
Kompetensi Dasar Materi Pokok Kegiatan Pembelajaran
laboratorium
Peran Kimia dalam kehidupan
Merancang dan melakukan percobaan ilmiah, misalnya menentukan variabel yang mempengaruhi kelarutan gula dalam air dan mempresentasikan hasil percobaan.
Membahas dan menyajikan hakikat ilmu Kimia
Mengamati dan membahas gambar atau videoorang yang sedang bekerja di laboratorium untuk memahami prosedur standar tentang keselamatan dan keamanan kimia di laboratorium.
Membahas dan menyajikan peran Kimia dalam penguasaan ilmu lainnya baik ilmu dasar, seperti biologi, astronomi, geologi, maupun ilmu terapan seperti pertambangan, kesehatan, pertanian, perikanan dan teknologi.
3.2 Menganalisis perkembangan model atom dari model atom Dalton, Thomson, Rutherford, Bohr, dan Mekanika Gelombang
Struktur Atom dan Tabel
Menyimak penjelasan bahwa atom tersusun daripartikel dasar, yaitu elektron, proton, dan neutron serta proses penemuannya.
Menganalisis dan menyimpulkan bahwa nomor atom, nomor massa, dan isotop berkaitan dengan jumlah partikel dasar penyusun atom.
Menyimak penjelasan dan menggambarkan model-model atom menurut Dalton, Thomson, Rutherford, Bohr, dan mekanika kuantum.
Membahas penyebab benda memiliki warna yang berbeda-beda berdasarkan model atom Bohr.
Membahas prinsip dan aturan penulisan konfigurasi elektron dan menuliskan konfigurasi elektron dalam bentuk diagram orbital serta menentukan bilangan kuantum dari setiap elektron.
Mengamati Tabel Periodik Unsur untuk menunjukkan bahwa unsur-unsur dapat disusun dalam suatu tabel berdasarkan kesamaan sifat unsur.
Membahas perkembangan sistem periodik unsur dikaitkan dengan letak unsur dalam Tabel Periodik Unsur berdasarkan konfigurasi elektron.
4.2 Menjelaskan fenomena alam atau hasil percobaan
menggunakan model atom 3.3 Menjelaskan konfigurasi
elektron dan pola konfigurasi elektron terluar untuk setiap golongan dalam tabel periodik 4.3 Menentukan letak suatu unsur
dalam tabel periodik
berdasarkan konfigurasi elektron 3.4 Menganalisis kemiripan sifat
unsur dalam golongan dan keperiodikannya
96
Kompetensi Dasar Materi Pokok Kegiatan Pembelajaran
4.4 Menyajikan hasil analisis data-data unsur dalam kaitannya dengan kemiripan dan sifat keperiodikan unsur
Tabel periodik dan sifat keperiodikan unsur
Menganalisis dan mempresentasikan hubungan antara nomor atom dengan sifat keperiodikan unsur (jari-jari atom, energi ionisasi, afinitas elekton, dan
keelektronegatifan) berdasarkan data sifat keperiodikan unsur.
Menyimpulkan letak unsur dalam tabel periodik berdasarkan konfigurasi elektron dan memperkirakan sifat fisik dan sifat kimia unsur tersebut.
Membuat dan menyajikan karya yang berkaitan dengan model atom, Tabel Periodik Unsur, atau grafik keperiodikan sifat unsur.
3.5 Membandingkan ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinasi, dan ikatan logam serta kaitannya dengan sifat zat
Ikatan Kimia, Bentuk
Mengamati sifat beberapa bahan, seperti: plastik, keramik, dan urea.
Mengamati proses perubahan garam dan gula akibat pemanasan serta membandingkan hasil.
Menyimak teori Lewis tentang ikatan dan menuliskan struktur Lewis
Menyimak penjelasan tentang perbedaan sifat senyawa ion dan senyawa kovalen.
Membandingkan proses pembentukan ikatan ion dan ikatan kovalen.
Membahas dan membandingkan proses pembentukan ikatan kovalen tunggal dan ikatan kovalen rangkap.
Membahas adanya molekul yang tidak memenuhi aturan oktet.
Membahas proses pembentukan ikatan kovalen koordinasi.
Membahas ikatan kovalen polar dan ikatan kovalen nonpolar sertasenyawa polar dan senyawa nonpolar.
Merancang dan melakukan percobaan kepolaran beberapa senyawa dikaitkan dengan perbedaan keelektronegatifanunsur-unsur yang membentuk ikatan.
Membahas dan memperkirakan bentuk molekul berdasarkan teori jumlah pasangan elektron di sekitar inti atom dan hubungannya dengan kepolaran senyawa.
Membuat dan memaparkan model bentuk molekul dari bahan-bahan bekas, misalnya gabus dan karton, atau perangkat lunak kimia.
4.5 Merancang dan melakukan percobaan untuk menunjukkan karakteristik senyawa ion atau senyawa kovalen berdasarkan beberapa sifat fisika
3.6 Menerapkan Teori Pasangan Elektron Kulit Valensi (VSEPR) dan Teori Domain elektron dalam menentukan bentuk molekul
4.6 Membuat model bentuk molekul dengan menggunakan bahan-bahan yang ada di lingkungan sekitar atau perangkat lunak komputer
97
Kompetensi Dasar Materi Pokok Kegiatan Pembelajaran
3.7 Menghubungkan interaksi antar ion, atom dan molekul dengan sifat fisika zat
Mengamati kekuatan relatif paku dan tembaga dengan diameter yang sama dengan cara membenturkan kedua logam tersebut.
Mengamati dan menganalisis sifat-sifat logam dikaitkan dengan proses pembentukan ikatan logam.
Menyimpulkan bahwa jenis ikatan kimia berpengaruh kepada sifat fisik materi.
Mengamati dan menjelaskan perbedaan bentuk tetesan air di atas kaca dan di atas kaca yang dilapisi lilin.
Membahas penyebab air di atas daun talas berbentuk butiran.
Membahas interaksi antar molekul dan konsekuensinya terhadap sifat fisik senyawa.
Membahas jenis-jenis interaksi antar molekul(gaya London, interaksi dipol-dipol, dan ikatan hidrogen) serta kaitannya dengan sifat fisik senyawa.
4.7 Menerapkan prinsip interaksi antar ion, atom dan molekul dalam menjelaskan sifat-sifat fisik zat di sekitarnya
3.8 Menganalisis sifat larutan berdasarkan daya hantar
Mengamati gambar binatang yang tersengat aliran listrik ketika banjir
Merancang dan melakukan percobaan untuk menyelidiki sifat elektrolit beberapa larutan yang ada di lingkungan dan larutan yang ada di laboratorium serta melaporkan hasil percobaan.
Mengelompokkan larutan ke dalam elektrolit kuat, elektrolit lemah, dan nonelektrolit berdasarkan daya hantar listriknya.
Menganalisis jenis ikatan kimia dan sifat elektrolit suatu zat serta menyimpulkan bahwa larutan elektrolit dapat berupa senyawa ion atau senyawa kovalen polar.
Membahas dan menyimpulkan fungsi larutan elektrolit dalam tubuh manusia serta cara mengatasi kekurangan elektrolit dalam tubuh.
4.8 Membedakan daya hantar listrik berbagai larutan melalui
perancangan dan pelaksanaan percobaan
3.9 Mengidentifikasi reaksi reduksi dan oksidasi menggunakan konsep bilangan oksidasi unsur
Reaksi Reduksi dan Oksidasi serta Tata nama Senyawa
Mengamati reaksi oksidasi melalui perubahan warna pada irisan buah (apel, kentang, pisang) dan karat besi.
98
Kompetensi Dasar Materi Pokok Kegiatan Pembelajaran
4.9 Menganalisis beberapa reaksi berdasarkan perubahan bilangan oksidasi yang diperoleh dari data hasil percobaan dan/ atau
Menyimak penjelasan mengenai penentuan bilangan oksidasi unsur dalam senyawa atau ion.
Membahas perbedaan reaksi reduksi dan reaksi oksidasi
Mengidentifikasi reaksi reduksi dan reaksi oksidasi.
Mereaksikan logam magnesium dengan larutan asam klorida encer di dalam tabung reaksi yang ditutup dengan balon.
Mereaksikan padatan natrium hidroksida dengan larutan asam klorida encer di dalam tabung reaksi yang ditutup dengan balon.
Membandingkan dan menyimpulkan kedua reaksi tersebut.
Membahas penerapan aturan tata nama senyawa anorganik dan organik sederhana menurut aturan IUPAC.
Menentukan nama beberapa senyawa sesuai aturan IUPAC.
3.10 Menerapkan hukum-hukum
Mengamati demonstrasi reaksi larutan kalium iodida dan larutan timbal(II) nitrat yang ditimbang massanya sebelum dan sesudah reaksi.
Menyimak penjelasan tentang hukum-hukum dasar Kimia (hukum Lavoisier, hukum Proust , hukum Dalton, hukum Gay Lussac dan hukum Avogadro).
Menganalisis data untuk menyimpulkan hukum Lavoisier, hukum Proust , hukum Dalton, hukum Gay Lussac dan hukum Avogadro.
Menentukan massa atom relatif dan massa molekul relatif.
Menentukan hubungan antara mol,jumlah partikel, massa molar,dan volume molar gas.
Menghitung banyaknya zat dalam campuran (persen massa, persen volume, bagian per juta, kemolaran, kemolalan, dan fraksi mol).
Menghubungkan rumus empiris dengan rumus molekul.
Menyetarakan persamaan kimia.
4.10 Menganalisis data hasil percobaan menggunakan hukum-hukum dasar kimia kuantitatif
99
Kompetensi Dasar Materi Pokok Kegiatan Pembelajaran
Rumus empiris dan rumus molekul.
Persamaan kimia
Perhitungan kimia dalam suatu persamaan reaksi.
Pereaksi pembatas dan pereaksi berlebih.
Kadar dan perhitungan kimia untuk senyawa hidrat.
Menentukan jumlah mol,massa molar, volume molar gas dan jumlah partikel yang terlibat dalam persamaan kimia.
Menentukan pereaksi pembatas pada sebuah reaksi kimia.
Menghitung banyaknya molekul air dalam senyawa hidrat.
Melakukan percobaan pemanasan senyawa hidrat dan menentukan jumlah molekul air dalam sebuah senyawa hidrat.
Membahas penggunaan konsep mol untuk menyelesaikan perhitungan kimia.
Lampiran 2. Kisi-Kisi Lembar Wawancara Bagaimana keaktifan peserta didik
dalam mempelajari materi reaksi pembatas ?
2 Apakah ada kesulitan belajar pada
peserta didik ketika mempelajari materi reaksi pembatas ? peserta didik setelah mempelajari materi reaksi pembatas ? Secara kuantitatif dan kualitatif
4
Instrumen tes Bagaiman bentuk soal yang digunakan ketika menguji materi reaksi pembatas ?
5 Bagaiman karakteristik dari
soal-soal tersebut ? 6
Apakah soal-soal tersebut dibuat sendiri oleh guru atau diadopsi dari
Apakah pernah menyusun soal dengan level C4 ?
9 Kemampuan Analisis Bagaimana kemampuan peserta
didik ketika mengerjakan soal dengan level C4?
10
Lampiran 3. Lembar Wawancara dengan Guru Kimia kelas X SMA PL
Bagaimana keaktifan peserta didik dalam mempelajari materi reaksi pembatas ?
3
Bagaimana rata-rata hasil
belajar/nilai (UH/PTS/PAS) peserta didik setelah mempelajari materi reaksi pembatas ? Secara kuantitatif dan kualitatif
4
Apakah ada kesulitan belajar pada peserta didik ketika mempelajari materi reaksi pembatas ? 5
Bagaiman bentuk soal yang digunakan ketika menguji materi reaksi pembatas ?
6 Bagaiman karakteristik dari soal-soal tersebut ?
7
Apakah soal-soal tersebut dibuat sendiri oleh guru atau diadopsi dari
Bagaimana kemampuan peserta didik ketika mengerjakan soal dengan level C4?
Lampiran 4. Hasil Wawancara dengan Guru Kimia kelas X SMA PL Sedayu
Proses pembelajaran yang dilakukan adalah menjelaskan materi yang bersangkutan dengan menggunakan PPT dan memberikan tugas. Materi pereaksi pembatas tidak diajarkan secara mendalam karena cakupan materinya yang sedikit bila
dibandingkan dengan materi konsep mol dan keterbatasan waktu. Namun, guru menyadari bahwa materi rekasi pembatas merupakan materi prasyarat ketika peserta didik mempelajari materi hidrolisis dan penyangga.
Sebagian besar peserta didik berpartisipasi dalam proses pembelajaran dan turut aktif untuk
menyelesaikan soal-soal yang diberikan guru di papan tulis rentang nilai yang berbeda-beda yaitu adanya sebagain peserta didik yang telah mencapai KKM yang ditentukan, namun ada juga yang masih belum mencapai KKM . Hal ini karena banyaknya materi yang harus dipelajari peserta didik pada topik konsep mol sehingga mempengaruhi nilai peserta didik pada topik reaksi pembatas karena merupakan materi prasyarat. Selain itu juga kurangnya persiapan dari
Kesulitan yang dialami peserta didik adalah ketika mulai mempelajari topik hukum dasar dan konsep mol. Pada topik hukum dasar, peserta didik sulit untuk memahami konsep hukum dasar sehingga guru perlu menjelaskan berulang kali. Pada topik konsep
mol, peserta perlu diingatkan lagi mengenai
perhitungan Mr, dan adanya konsep matematika yang digunakan dalam perhitungan atau menyelesaikan konsep mol. Pada topik reaksi pembatas, peserta didik sering mengalami kesulitan karena
penyelesaian soal yang terdiri dari beberapa tahap dan melibatkan beberapa konsep mol. Peserta didik juga mengalami kesulitan ketika diberikan soal-soal pereaksi pembatas.
Bentuk soal yang digunakan untuk menguji pereaksi
Bentuk soal yang digunakan untuk menguji pereaksi