• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

F. Keterbatasan Pengembangan

Dalam pembuatan media pembelajaran berupa web pada materi klasifikasi makhluk hidup kelas X SMA, Penulis mengalami kendala seperti:

1. Kesulitan mendapatkan gambar-gambar pendukung sesuai materi pada header produk sehingga header terlalu polos.

2. Mind Map pada google sites kurang interaktif karena hanya bisa mengikuti layout yang tersedia pada google sites.

3. Lembar validasi kurang representatif untuk menilai produk. Lembar validasi kurang detail dan kurang mencakup keluasan dan kedalaman materi sehingga penilaian kurang lengkap. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yang melibatkan aspek-aspek tersebut dalam pertanyaan dalam lembar validasi agar penilaian menjadi lebih lengkap.

67 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Media pembelajaran Biologipedia.sites berisi Materi klasifikasi makhluk dibuat menggunakan Google Sites yang dapat diakses secara online melalui laptop, tablet, maupun handphone. Biologipedia.sites terdiri dari petunjuk penggunaan, mind map, penjabaran materi dalam bentuk ensiklopedia, dan latihan soal.

2. Berdasarkan perhitungan, skor total dari aspek materi dan media yang didapat sebesar 3.83 termasuk dalam kategori sangat baik sehingga Biologipedia.sites layak diuji cobakan.

B. Saran

1. Menambahkan gambar-gambar pendukung sesuai dengan materi di bagian header produk agar lebih menarik

2. Mind Map pada google sites kurang interaktif karena hanya bisa mengikuti layout yang tersedia pada google sites. Pada penelitian selanjutnya, dapat menggunakan aplikasi pembuatan web lain untuk mendapatkan tampilan layout yang bervariasi dan lebih interaktif.

3. Menambahkan beberapa aspek dalam lembar validasi agar hasil penilaian produk lebih detail dan representatif.

DAFTAR PUSTAKA

Aggarwal, A., Adlakha, V., & Ross, T. (2012). A Hybrid Approach for Selecting a Course Management System: A Case Study. Journal of Information Technology Education: Innovations in Practice.

https://doi.org/10.28945/1719

Arsyad, A. (2014). Media Pembelajaran dalam Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.

Aulia, Basir, M. D., & AR, R. (2014). Pengembangan Media Pembelajaran Berbentuk Mind Map Menggunakan Software Freemind pada Mata Pelajaran Ekonomi Pokok Bahasan Kebutuhan Manusia Kelas X di SMA Negeri 4 Palembang. Profit, 1(2), 111.

Azis, T. N. (2019). Strategi Pembelajaran Era Digital. In The Annual Conference on Islamic Education and Social Science (Vol. 1, No. 2, pp. 308-318).

Buzan, T. (2008). Buku Pintar Mind Map. Jakarta: Gramedia

Darmawan, D. (2014). Pengembangan E-LEARNING Teori dan Desain. In Remaja Rosdakarya.

Darmayanti, T., Setiani, M. Y., & Oetojo, B. (2007). E-Learning Pada Pendidikan Jarak Jauh: Konsep Yang Mengubah Metode Pembelajaran Di Perguruan Tinggi Di Indonesia. Jurnal Pendidikan Terbuka Dan Jarak Jauh.

Desplaces, D., Blair, C., & Salvaggio, T. (2015). Do E-Learning Tools Make a Difference? Results from a Case Study. Quarterly Review of Distance Education.

Edward, C. (2009). Mind Mapping untuk Anak Sehat dan Cerdas. Yogyakarta:

Sakti

Fadillah, N. (2019). Pengembangan Penuntun Praktikum Biologi Berbasis Lingkungan Pada Materi Klasifikasi Makhluk Hidup Peserta Didik Kelas X SMAN 7 Pinrang [Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar]. In Nanotechnology (Vol. 27, Issue 9).

Fakhri, M. N. (2019). Pengembangan hypermedia berbasis web online pada konsep sistem sirkulasi.

Gagne, R. M. & Briggs, L.J. (1979). Principles of Instructional Design. New York:

Holt Rinehart and Winston.

Harsanto, B. (2014). Inovasi Pembelajaran Di Era Digital: Menggunakan Google Sites dan Media Sosial - Budi Harsanto - Google Buku. UNPAD PRESS.

Irawati, I. (2015). Pengembangan Ensiklopedi Keanekaragaman Tumbuhan Angiospermae Berbasis Potensi Lokal di MTs Negri Seyegan Dengan Muatan Keislaman. Skripsi. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.

Kozma, R. B. (1991). Learning with Media Robert B. Kozma University of Michigan. Review of Educational Research.

Maryono, Ishartati, Bektiningsih. P (2017). Ensiklopedi. Koleksi Rujukan dengan Informasi Mendasar dan Lengkap Soal Ilmu Pengetahuan.

Miarso, Y. (2007). Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. In Computer.

Noveandini, R., & Wulandri, M. S. (2010). Pemanfaatan Media Pembelajaran Secara Online ( E-Learning ) Bagi Wanita Karir Dalam Upaya Meningkatkan Efektivitas Dan Fleksibilitas Pemantauan Kegiatan Belajar Anak Siswa / I Sekolah Dasar. Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi.

Nunung, N & Wijayanti, R. (2016). Biologi untuk Siswa SMA/MA Kelas X.

Bandung: Yrama Widya.

Prastowo, A. (2014). Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta:

Diva Press.

Pratiwi. (2019). Pengembangan media pembelajaran biologi berbasis web pada materi evolusi kelas xii di sma negeri 1 meulaboh.

Pratiwi, R. D. (2014). Pengembangan Ensiklopedia Keanekaragaman Capung Sungai Oyo Sebagai Sumber Belajar Biologi untuk Siswa Kelas X SMA/MA.

Skripsi. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.

Rahardjo, Budi. (2001). Pergolakan Informasi di Indonesia akan Sia-sia?. Artikel Majalah Tempo. Jakarta: November 2001.

Rahman, M. R. (2019). Pengembangan web-based assessment untuk pembelajaran pendidikan agama islam di smp al-hikmah surabaya. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

Republik Indonesia. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sekretariat Negara. Jakarta.

Rusman. (2008). Manajemen Kurikulum, Bandung. Program Studi Pengembangan Kurikulum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia.

Schunk, D. H. (2012). Learning theories: An educational perspective. In Reading.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:

Alfabeta.

Zain, S. B. D. dan A. (2006). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

LAMPIRAN

Tabel 1 Panduan pertanyaan wawancaa analisis kebutuhan

No. Aspek Indikator

1 Metode dan Model Pembelajaran

1. Apakah Bapak/Ibu sudah menggunakan metode/model pembelajaran yang bervariasi dalam pembelajaran daring?

2. Metode/model pembelajaran apa saja yang Bapak/Ibu gunakan saat mengajar selama pembelajaran daring?

3. Apakah model/metode pembelajaran yang Bapak/Ibu gunakan sudah efektif dalam menunjang pembelajaran daring? Jelaskan!

4. Kesulitan apa saja yang Bapak/Ibu temui selama proses penyusunan dan penerapan metode/model pembelajaran daring tersebut?

5. Bagaimana respon siswa terhadap penggunanan metode/model pembelajaran yang digunakan?

2 Penggunaan proses pembelajaran daring? (WAG, google classroom, video conference, edmodo dll)

7. Platform apa yang disepakati sekolah?

8. Menjelaskan ketersediaan sarana dan prasaran yang mendukung penggunakan TIK pada pembelajaran luring dan daring.

9. Kesulitan apa saja yang dialami siswa dan guru selama penggunaan IT pada pembelajaran daring?

3 Media

Pembelajaran

10. Apakah Bapak/Ibu sudah menggunakan media pembelajaran yang bervariasi dalam pembelajaran daring?

11. Media pembelajaran apa saja yang Bapak/Ibu gunakan saat mengajar selama pembelajaran daring?

No. Aspek Indikator

12. Apakah media pembelajaran yang Bapak/Ibu gunakan sudah efektif dalam menunjang pembelajaran daring?

Jelaskan!

13. Kesulitan apa saja yang Bapak/Ibu temui selama proses penyusunan dan penerapan media pembelajaran daring tersebut?

14. Bagaimana respon siswa terhadap penggunanan media pembelajaran yang digunakan?

4 Evaluasi Pembelajaran

15. Bentuk evaluasi apa saja yang Bapak/Ibu gunakan selama pembelajaran daring?

16. Apakah alat evaluasi pembelajaran yang Bapak/Ibu gunakan sudah memenuhi pencapaian kompetensi yang diharapkan?

17. Kesulitan apa saja yang Bapak/Ibu temui selama proses penyusunan dan penerapan alat evaluasi pembelajaran daring tersebut?

5 Motivasi Belajar

18. Bagaimana motivasi belajar siswa selama pembelajaran luring dan daring?

6 Materi Pembelajaran

19. Materi pembelajaran apa yang dirasa sulit untuk diajarkan selama pembelajaran daring?

Kelas X , Kelas XI , Kelas XII?

20. Mengapa materi pembelajaran tersebut dirasa sulit?

Kelas X : Kelas XI : Kelas XII :

21. Bagaimana cara Ibu mengatasi kesulitan tersebut?

7 Pertanyaan Terkait Pengembangan

22. Menurut Bapak/Ibu perangkat pembelajaran apa yang perlu dikembangkan untuk menunjang pembelajaran daring?

Tabel 2 Hasil Wawancara

Aspek Sekolah

SMAN 1 Kroya SMA Tarsisius Vireta

SMA Xaverius

Pringsewu SMAN 1 Bunyu SMAN 1 Depok

Metode dan Model Pembelajaran Penggunaan

Sudah cukup bervariasi. Kurang bervariasi.

Sudah cukup bervariasi Belum Ya, sudah cukup bervariasi

Metode/model pembelajaran

yang digunakan

Luring: Discovery learning, Project based learning, dan Cooperative learning, Diskusi

Daring: Sole, Project based learning, Diskusi

Saat luring biasa menggunakan model jigsaw dan saat luring menggunakan metode diskusi

Selama pembelajaran daring menggunakan metode pembelajaran interaktif

Biasanya hanya mengunakan model pembelajaran

discovery learning dan scientific approach.

Selama luring menggunakan

Sudah cukup efektif. Model-model yang digunakan saat pembelajaran luring cukup meningkatkan antusias siswa dalam belajar. Siswa merasa senang ketika diberi sebuah proyek karena mereka bebas

berekspresi dan

bereksperimen. Selain itu, pembelajaran cooperative learning juga memudahkan

Cukup efektif, ketuntasan belajar 60%

keatas setiap angkatan dan setiap materi

Sudah cukup efektif.

Siswa akan lebih leluasa belajar mandiri dan sesuai kemampuannya dengan bantuan guru. Guru berperan membimbing siswa agar sampai pada tujuan pembelajaran

Iya, karena dengan model discovery learning siswa akan memperoleh

pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui

pemberitahuan melainkan dengan

Sudah cukup efektif

Aspek Sekolah SMAN 1 Kroya SMA Tarsisius

Vireta

SMA Xaverius

Pringsewu SMAN 1 Bunyu SMAN 1 Depok

siswa dalam belajar, karena mereka bisa belajar dengan temanya. Mereka saling bekerjasama untuk memahami materi yang harus dipelajari.

Daring: siswa lebih suka melakukan diskusi secara tatap muka melalui video conference karena mereka bisa lebih memahami materi, dan lebih mudah dalam bertanya kepada guru.

Mereka juga merasa senang ketika diberikan tugas untuk membuat sesuatu atau melakukan praktikum sederhana di rumah.

cara ditemukan sendiri.

Sulit untuk mempertahan mood belajar siswa. Selama pembelajaran daring terkendala sinyal jaringan dan kuota yang terkadang mengakibatkan siswa telat hadir atau tidak bisa hadir mengikuti pembelajaran di dalam kelas.

Kesulitan sinyal karena tidak semua siswa tinggal di daerah yang sinyalnya baik dan tidak menggunakan wifi sehingga kuota lebih boros. Siswa juga kurang pengawasan orangtua

Menentukan model/metode pembelajaran yang cocok digunakan untuk pembelajaran daring agar menarik

Aspek Sekolah SMAN 1 Kroya SMA Tarsisius

Vireta cenderung lebih antusias untuk melakukan berbasis proyek atau kooperatif dibandingkan diskusi.

Siswa merespon dengan baik.

Setiap ada tugas siswa

Baik, siswa mengikuti pelajaran dari awal sampai akhir dan rajin mengumpulkan tugas

Saat disuruh untuk melakukan eksplorasi sendiri siswa terasa antusias. Guru juga memberikan batas

waktu untuk

melakukan elsplorasi sehingga

pembelajaran dapat dilakukan sesuai dengan jadwalnya.

Respon siswa cukup baik dan antusias selama proses

pembelajaran berlangsung

Penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Platform yang Google Classroom, WAG

Pakai google classroom untuk pengumpulan penugasan dan pemberian

WhatsApp Group, Google Classroom dan zoom.

WAG, google

classroom, google meet.

Edmodo, baldicom

dan google

classroom

Aspek Sekolah SMAN 1 Kroya SMA Tarsisius

Vireta

LMS Sekolah dan Zoom Google classroom

WhatsApp Group, Google Classroom dan zoom.

Google classroom Edmodo

sarana dan

memadai. Sekolah

menyediakan komputer dan akses wifi yang baik. Fasilitas ini dapat diakses dan digunakan oleh seluruh warga sekolah. Akan tetapi, kalau dilihat dari sisi siswa, masih ada siswa yang belum memiliki kelengkapan IT seperti

komputer/laptop/smartphone.

Akses internet anak-anak kadang juga tidak sebagus akses internet di sekolah.

Sudah, setiap kelas sudah ada wifi dan rata-rata siswa dirumah sudah menggunakan wifi. Siswa juga mendapatkan kuota dari pemerintah

Sudah mendukung dengan baik, namun terkadang tetap terkendala sinyal/jaringan (jika ada gangguan central) sebagai pendukung utama.

Mendukung Sudah cukup

bagus. Sekolah menyediakan computer dan akses wifi yang baik.

Fasilitas dapat digunakan oleh seluruh warga sekolah. Siswa bisa mengakses

pelajaran dan mengikuti

pelajaran dengan baik hanya ada beberapa siswa yang terkena pembelajaran digital yang menarik, mudah dipahami, serta mudah digunakan dan mengatakan kendala letak rumah yang terlalu terpencil, sehingga tidak dapat melakukan

- Keterbatasan kuota, karena siswa belajar bukan hanya 1 mata pelajaran saja.

Beberapa siswa terkendala sinyal karena mengakses dari rumah yang sinyal nya lemah.

Aspek Sekolah SMAN 1 Kroya SMA Tarsisius

Vireta

Terkadang beberapa platform atau aplikasi belajar menarik perlu di download dan disimpan di dalam ponsel.

Siswa sering mengeluhkan kuota untuk mendownload sumber dan ruang penyimpanan yang tidak cukup. Beberapa platform juga ada yang berbayar, jadi harus benar-benar memilih yang baik dan yang paling mengoperasikan media pembelajaran digital. Sekolah

sebenarnya sudah

menggunakan LMS sejak lama, namun tidak sepenuhnya digunakan untuk belajar, jadi siswa harus beradaptasi lagi. Pada awal pengalihan pembelajaran dari

pengumpulan maka siswa mengumpulkan tugas tepat waktu.

pembelajaran daring dengan lancar.

-banyak siswa yang mengatakan mahalnya harga kuota internet terutama untuk beberapa aplikasi (video, zoom dll) -kesulitan tetap pada siswa siswi, karena pembelajaran daring tetap membutuhkan

kedisiplinan,

kesadaran/niat dari hati untuk tetap mengikuti pembelajaran dengan setia, butuh dukungan dari orang tua.

- Minat belajar yang kurang.

- Minat pembelajaran siswa yang kurang, sehingga guru harus mencari alternatif agar siswa tidak bosan dalam pembelajaran seperti mengganti platfrom

pembelajaran ex:

minggu ini pake

Aspek Sekolah SMAN 1 Kroya SMA Tarsisius

Vireta

SMA Xaverius

Pringsewu SMAN 1 Bunyu SMAN 1 Depok

tatap muka di kelas menjadi pembelajaran online menggunakan LMS, banyak siswa yang tidak hadir dalam kelas online. Mereka mengeluh kesulitan mengakses LMS dan belum paham bagaimana belajar melalui LMS. Siswa harus dibimbing satu persatu.

Media Pembelajaran

Luring: video interaktif, buku paket, PPT, virtual lab.

Daring: video interaktif, buku paket, PPT interaktif, virtual lab, video presentasi, games.

Media-media tersebut dipilih karena menarik, mudah

Video dari youtube, lagu, PPT audio, dan zoom. Karena media ini mudah digunakan dan mudah diakses siswa

 Buku acuan (Buku elektronik) yang mendukung, bisa dalam bentuk foto buku, atau file ringkasan materi.

 Power point untuk ringkasan materi

PPT, membikin animasi sendiri, video game, kuis dengan aplikasi quizizz, video game.

Menggunakan power point dan video dari youtube atau quipper.

Alasannya agar siswa mudah

Aspek Sekolah SMAN 1 Kroya SMA Tarsisius

Vireta

SMA Xaverius

Pringsewu SMAN 1 Bunyu SMAN 1 Depok

digunakan dan mudah diakses.

penting, menampilkan:

gambar, bagan, uraian singkat.

 Video pembelajaran/

gambar animasi bergerak yang mendukung penjelasan sebuah proses.

 Benda - benda di sekitar siswa yang dapat digunakan.

mengakses dan tidak bosan

Rata-rata hasil belajarnya juga cukup bagus.

Siswa merasa nyaman belajar dengan media tersebut. Guru sudah berusaha kreatif seperti menyediakan video dan menggunakan lagu

Sudah cukup efektif. Iya sudah Sudah cukup efektif karena

siswa bisa menentukan medianya. Guru harus memilih media yang mudah diakses oleh Guru dan oleh siswa, agar pembelajaran lebih nyaman.

Belum ada. Guru harus menentukan media yang mudah diakses oleh siswa agar pembelajaran berjalan baik.

Kesulitannya saat menentukan media

yang akan

digunakan karena Guru

menyesuaikan dengan siswa agar

Aspek Sekolah SMAN 1 Kroya SMA Tarsisius

Vireta

Antusias dan senang. Siswa tetap konsisten mengikuti pembelajaran dari awal hingga akhir. Hanya ada beberapa siswa saja yang jarang hadir dan guru memaklumi

Baik, antusias. Antusias, karena

siswa dapat

melakukan praktikum sendiri.

Baik, siswa terlihat antusias dan memahami materi dengan baik

Evaluasinya berupa penilaian harian (pre-test /post-test/tugas) dan penilaian akhir (UTS dan UAS). Ketika pembelajaran luring, bentuk soal bisa bermacam-macam mulai dari pilihan ganda, sebab-akibat, isian singkat, maupun essay. Tetapi ketika pembelajaran daring, soal-soal ujian diberikan dalam bentuk pilihan ganda saja

Soal-soal pilihan ganda dan essay melalui google form, tes lisan menggunakan whatsapp call

mengambil nilai dari uji lisan/ saat pembelajaran interaktif

-memberikan tugas berkelompok, untuk didiskusikan dengan metode tutor sebaya.

-memberikan tugas pribadi dari materi terkait yang dapat dikerjakan di luar kelas ataupun di rumah.

-mengadakan Tagihan Harian untuk materi terkait, biasanya berupa

- Kognitif: dengan saat pembelajaran daring maupun menjawab

pertanyaan saat ditunjuk.

Daring: Google classroom/edmodo (kuis, assessment, tugas).

Luring: penilaian harian dan ujian semester

Aspek Sekolah SMAN 1 Kroya SMA Tarsisius

Vireta

SMA Xaverius

Pringsewu SMAN 1 Bunyu SMAN 1 Depok

Pada materi tertentu, siswa diberikan tugas untuk membuat proyek. Saat pembelajaran luring, proyek yang diberikan lebih bervariatif dan level kesulitannya juga lebih tinggi, namun saat pembelajaran daring, proyek yang diberikan adalah proyek-proyek sederhana.

Produk tersebut diharapkan juga tidak hanya digunakan sebagai bahan penilaian, tetapi bisa dimanfaatkan siswa di kehidupan sehari-hari.

soal pilihan ganda supaya jumlah soal bisa banyak dan sebarannya merata.

-mengadakan praktikum

sederhana yang

mendukung.

Alat evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran luring sudah cukup memenuhi capaian kompetensi yang diharapkan. evaluasi baru menilai sbatas level kognitif

Capaian Kognitif:

Hasil belajar siswa biasanya dibagi menjadi 2 kelompok cara, yaitu lisan dan tertulis. Saat dilakukan penilaian lisan interaktif, hanya sekitar 25% siswa yang mencapai pemahaman yang baik.

Saat penilaian tertulis (data dari sekitar 5

- Saat mengunakan GM prestasi belajar rendah karena saat pembelajaran banyak siswa yang pasif

- Saat mengunakan wag prestasi belajar naik banyak siswa yang

Belum memenuhi target jumlah soal HOTS. Bentuk soal PG (25% HOTS, 57% LOT)

Aspek Sekolah SMAN 1 Kroya SMA Tarsisius

Vireta

SMA Xaverius

Pringsewu SMAN 1 Bunyu SMAN 1 Depok

c1-c3. Soal-soal ujian masih pada level LOT.

Siswa rentan untuk

mencontek dan melakukan copy paste dari google.

tahunan) hanya sekitar 25% siswa yang mencapai nilai sama dengan atau diatas KKM (dengan metode yang dibuat berbeda atau bervariasi, hasilnya tetap belum menunjukkan

peningkatan yang signifikan).

-Capaian Afektif: Melihat dari pengalaman selama beberapa tahun: 25% dari jumlah siswa mendapat nilai tinggi 50% dari jumlah siswa mendapat nilai harus membuat soal-soal dengan level kognitif tinggi agar bisa mengasah ketrampilan berpikir siswa dan terhindar dari kecurangan.

2) Guru belum terbiasa membuat soal-soal HOTS dan siswa juga

Sulit membuat perangkat evaluasi HOTS karena yang diajarkan hanya diberikan secara terbatas karena

keterbatasan waktu, kemudian materi yang diberikan hanya yang dasar saja.

Membuat soal evaluasi

-Mencegah

kecurangan saat evaluasi

-Sulit dalam mengoreksi

Aspek Sekolah SMAN 1 Kroya SMA Tarsisius

Vireta

SMA Xaverius

Pringsewu SMAN 1 Bunyu SMAN 1 Depok

belum terbiasa untuk mengerjakan soal dengan tipe tersebut.

3) Contoh-contoh soal HOTS masih sedikit.

Motivasi Belajar siswa

motivasi pembelajaran luring dibandingkan daring. Saat pembelajaran luring, ada interaksi langsung secara tatap muka antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa lainnya.

Selama pembelajaran daring, motivasi belajar siswa terlihat menurun, karena banyak yang mengeluhkan kalau mereka sulit memahami materi jika tidak melihat gurunya menjelaskan materi.

Capaian hasil belajar siswa selama pembelajaran daring maupun luring menunjukkan hasil yang cukup baik.

Ketuntasan Ulangan Harian

Cukup antusias Sebagian siswa tetap semangat (motivasi tinggi), namun sebagian lagi seakan merasa kesulitan bahkan seolah pasrah dan menyerah, ketika ditanya mengerti atau belum mereka mengatakan setengah mengerti dan biasanya hanya sekitar 25% dari jumlah siswa yang dapat menjawab benar saat guru interaktif melemparkan pertanyaan sekitar proses pembelajaran dari materi tersebut.

Mengikuti dengan antusias

Motivasi siswa saat daring lebih rendah daripada saat luring karena tidak berinteraksi

langsung dengan guru dan teman sebaya

Aspek Sekolah SMAN 1 Kroya SMA Tarsisius

Vireta

SMA Xaverius

Pringsewu SMAN 1 Bunyu SMAN 1 Depok

mencapai 70%, Tugas 80%, Ujian Semester 65%.

Materi Pelajaran

Kelas XI : Sistem Kekebalan Tubuh

Kelas XII : Hereditas, Metabolisme Sel

X: Klasifikasi makhluk hidup, virus, bakteri

XI: sistem saraf, sistem

reproduksi, sistem imun XII: genetika

Kelas X;

-Materi Klasifikasi Makhluk Hidup

Kelas XI;

-Materi Sistem

Koordinasi

X: Klasifikasi makhluk hidup XI: sistem imun XII: sintesis dibayangkan dan objek bahasannya adalah objek renik yang tidak kasat mata.

Materi klasifikasi makhluk hidup bersifat konseptual dan banyak materi yang harus dihafal sedangkan waktu penjelasan kurang. Bahasa-bahasa yang digunakan cukup sulit dipahami oleh banyak hafalan, banyak bahasa kedokteran XII: banyak konsep dan perhitungan

Materinya sangat X:

materinya sangat banyak

dan banyak

menggunakan bahasa latin

XI: menggunakan banyak bahasa latin dan asing, guru juga kesulitan membuat siswa paham alur jalannya sistem syaraf karena alurnya cepat

XII: harus

membayangkan sebuah

Kelas X : karena sehingga butuh waktu untuk menjelaskan sedangkan saat daring sulit untuk dilakukan.

Karena materi bersifat konseptual

dan banyak

mekanisme yang harus dihafal sedangkan waktu penjelasan kurang.

Bahasa-bahasa yang digunakan cukup sulit dipahami oleh siswa.

Aspek Sekolah SMAN 1 Kroya SMA Tarsisius

Vireta

SMA Xaverius

Pringsewu SMAN 1 Bunyu SMAN 1 Depok

Kelas XI : Materi Sistem Kekebalan tubuh melibatkan proses, istilah-istilah sulit (banyak bahasa biologi dalam dunia kedokteran), abstrak dan hafalan, materi sulit namun waktu terbatas.

Kelas XII : Materi hereditas terlalu abstrak, banyak hitungan, sulit dihafalkan, dan banyak hafalan. Materi metabolisme juga sulit karena melibatkan proses-proses yang abstrak, banyak hafalan dan konsep, serta banyak istilah-istilah biologi yang sulit dipahami.

proses yang terjadi di dalam organel sel, tidak terlihat dan sulit dirasakan dan juga belum dipelajari di SMP

Kelas XII : karena materi yang dianggap sulit seperti Enzim, respirasi dan fotosintesis. Selain itu, pada materi ini

juga banyak

mempelajari proses, jalur, siklus dan reaksi- reaksi dalam metabolisme

sehingga dibutuhkan media pembelajaran yang baik untuk dapat menjelaskan materi.

cara mengatasi kesulitan tersebut?

Untuk materi-materi yang mempelajari objek renik atau kasat mata, biasanya guru menggunakan tambahan video atau virual lab. Materi-materi yang banyak menghafal biasanya guru membuat games. Guru juga biasanya membuat jembatan keledai untuk menghafal proses. Guru selalu

X: Menggunakan metode praktik langsung, pemberian contoh.

Kemudian menyamakan dan membandingkan dengan aslinya

Kemudian menyamakan dan membandingkan dengan aslinya

Dokumen terkait