BAB IX. KEGIATAN SERTA KECENDERUNGAN DAN PROSPEK USAHA PERSEROAN DAN ENTITAS ANAK
J. KETERGANTUNGAN TERHADAP KONTRAK PEMERINTAH
Selain itu, kompetitor tidak memiliki nilai tambah unik yang dapat ditawarkan kepada pemilik hotel – distribusi kamar mereka terbatas pada penjualan kamar tersedia ke agen perjalanan. Sebaliknya Red Planet, memiliki IT sistem terbaik yang dapat mengatur harga secara dinamis setiap saat, tanpa bergantung kepada agen perjalanan online, dengan menggunakan aplikasi pemesanan dan program loyalitas yang dimiliki oleh Perusahaan. Sementara Perusahaan telah memiliki teknologi dengan merek baru yang kuat dan sarana yang unik, secara keseluruhan bisnis hotel ekonomis di Indonesia tetap menarik: 1. Tingkat hunian yang tinggi dan modal awal / investasi untuk mendirikan hotel bujet cukup rendah dibanding modal untuk mendirikan hotel berbintang. Biaya rata‐rata, pembangun hotel budget kisaran Rp80 ‐ 100 miliar sudah termasuk tanah. 2. Dengan biaya investasi yang rendah ini, maka perhitungan balik modal akan lebih cepat ketimbang berinvestasi di bisnis hotel berbintang. 3. Indonesia memiliki banyak lokasi, terutama di Jakarta dan daerah sekitar, yang sangat ideal bagi pengembangan hotel ekonomis.
Dengan pertimbangan ini, Perusahaan akan terus membangun hotel ekonomis di tahun‐tahun mendatang, dan memfokuskan pembangunan di Jakarta. Dengan kondisi sosial‐ekonomi yang mantap, industri yang dinamis, merek serta platform IT yang unik, Perusahaan akan megalami pertumbuhan yang kuat di tahun 2016.
Model bisnis Red Planet ideal untuk kelas menengah Indonesia, mulai dari pebisnis sampai dengan anak muda, tetapi, Perseroan tetap waspada terhadap pertumbuhan para pesaing. Mungkin para pesaing tidak memiliki standar tinggi dan tidak memiliki teknologi canggih, tetapi Perseroan sadar bahwa konsumen Indonesia masih sensitif terhadap harga. Di tahun 2016, pertumbuhan hotel ekonomis masih terus mengalami kenaikan. Di beberapa kota besar seperti Jakarta, segmen hotel ekonomis terus tumbuh seriring dengan maraknya kegiatan bisnis dan MICE (meeting, incentives, convention and exhibition). Data dari HVS, penyedia data perhotelan global, menunjukkan bahwa jumlah kamar hotel di Jakarta bertambah 11.224 kamar dari 50 hotel, di mana 5.774 kamar dari 26 hotel merupakan hotel skala ekonomis. Hal ini menunjukkan bahwa potensi pasar hotel ekonomis masih cerah namun kompetisinya makin ketat. Dewan Komisaris memandang, Perusahaan perlu melakukan serangkaian inovasi dan mengedepankan pelayanan prima untuk dapat memenangkan persaingan. Tingginya tingkat permintaan hotel ekonomis di Jakarta juga membuat Perusahaan memprioritaskan pembangunan hotel baru di Jakarta. Di tahun 2017, kinerja industri hotel akan lebih cerah dibandingkan dengan tahun 2016. Selain karena perekonomian yang diprediksi mulai membaik, perbaikan kinerja perhotelan juga disebabkan kunjungan wisatawan yang trennya selalu meningkat. Pemerintah juga menargetkan 20 juta wisatawan pada tahun 2020, di mana industri hotel diharapkan mampu menopang dan bersinergi dengan industri lainnya, seperti maskapai penerbangan untuk mewujudkan target Pemerintah tersebut. Sinergi hotel, khususnya hotel ekonomis dengan maskapai penerbangan murah dalam bentuk integrasi penjualan tiket pesawat dan hotel dalam program promosi bersama telah terbukti mampu menaikkan tingkat penjualan kamar hotel.
Terobosan‐terobosan seperti inilah yang harus jeli dilihat oleh Perusahaan untuk meningkatkan tingkat okupansi, selain terus memperhatikan nilai, lokasi, kebersihan dan teknologi untuk memikat hati konsumen hotel ekonomis.
Di tengah situasi pasar industri hotel ekonomis yang kian kompetitif, Perusahaan tetap optimis untuk memenangkan persaingan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia, meskipun sedikit lebih rendah dibanding APBNP, namun mengalami kenaikan menjadi 5% dibanding tahun lalu sebesar 4,7%. Kenaikan ini salah satunya didorong oleh konsumsi swasta. Perusahaan melihat bahwa tumbuhnya konsumsi swasta merupakan peluang yang harus diambil. Melalui peningkatan kinerja dengan mengintegrasikan pelayanan prima kepada konsumen serta mengandalkan inovasi dan teknologi, Perusahaan membuktikan terus bergerak ke depan melewati berbagai tantangan.
Tidak terdapat kecenderungan, ketidakpastian, permintaan, komitmen, atau peristiwa yang dapat diketahui yang dapat mempengaruhi secara signifikan penjualan bersih atau pendapatan usaha, pendapatan dari operasi berjalan, profitabilitas, likuiditas atau sumber modal, atau peristiwa yang akan menyebabkan informasi keuangan yang dilaporkan tidak dapat dijadikan indikasi atas hasil operasi atau kondisi keuangan masa datang. G. HAK PATEN, HAK MERK, LISENSI, WARALABA, DAN KONSESI Perseroan dan Entitas Anak tidak memiliki dan/atau menguasai hak paten, hak merk, lisensi, waralaba dan konsesi. H. KETERGANTUNGAN TERHADAP PEMASOK TERTENTU
Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, Perseroan tidak memiliki ketergantungan terhadap pemasok tertentu.
I. KETERGANTUNGAN TERHADAP PELANGGAN
Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, Perseroan tidak memiliki ketergantungan terhadap pelanggan.
J. KETERGANTUNGAN TERHADAP KONTRAK PEMERINTAH
Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, Perseroan tidak memiliki ketergantungan terhadap kontrak pemerintah.
BAB X. EKUITAS
Tabel ekuitas berikut diambil dari laporan keuangan konsolidasian Perseroan pada tanggal dan periode 9 bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2016, dengan angka perbandingan tanggal-tanggal dan tahun yang beakhir pada tanggal-tanggal-tanggal-tanggal 31 Desember 2015, 2014 dan 1 Januari 2014 yang telah diaudit berdasarkan standar audit yang ditetapkan IAPI oleh KAP Kanaka Puradiredja, Suhartono yang ditandatangani oleh Aris Suryanta, Ak, CA, CPA pada tanggal 27 Januari 2017 dengan opini wajar tanpa modifikasian (Wajar Tanpa Pengecualian), dengan paragraf Penekanan Suatu Hal mengenai Kelangsungan Usaha dan Akuisisi Terbalik.
PT RED PLANET INDONESIA Tbk DAN ENTITAS ANAK LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN
Per 30 September 2016 31 Desember 2015, 2014 dan 1 Januari 2014 (Disajikan dalam Rupiah kecuali dinyatakan lain)
30 September 2016 31 Desember 2015 31 Desember 2014 1 Januari 2014
EKUITAS Modal saham 676.546.400.000 676.546.400.000 676.520.750.000 41.000.000.000 Tambahan modal disetor (373.335.927.523) (373.335.927.523) (373.335.927.523) 6.000.000.000 Pendapatan komprehensif lainnya 636.544.407 774.168.685 791.436.519 - Defisit Ditentukan penggunaannya - - - - Belum ditentukan penggunaannya (186.887.365.740) (140.252.267.418) (59.801.958.023) (23.178.437.427) Jumlah Ekuitas yang
dapat diatribusikan kepada
Pemilik Entitas Induk 116.959.651.144 163.732.373.744 244.174.300.973 23.821.562.573 Kepentingan
Nonpengendali (22.296.865) (18.714.212) (9.890.205) -
JUMLAH EKUITAS 116.937.354.279 163.713.659.532 244.164.410.768 23.821.562.573
Tidak terdapat perubahan struktur permodalan yang terjadi setelah tanggal laporan keuangan terakhir sampai dengan tanggal efektifnya Pernyataan Pendaftaran.
Berikut ini merupakan struktur PUT II Perseroan:
- Jumlah Saham: sebanyak-banyaknya 4.089.330.201 (empat miliar delapan puluh sembilan juta tiga ratus tiga puluh ribu dua ratus satu) Saham Baru
- Total Dana Hasil PUT II: sebanyak-banyaknya Rp408.993.020.100 (empat ratus delapan miliar sembilan ratus sembilan puluh tiga juta dua puluh ribu seratus Rupiah)
- Nilai Nominal: Rp100 (seratus) Rupiah - Harga Pelaksanaan: Rp100 (seratus) Rupiah
- Rasio Konversi: 5 (lima) Saham Lama berhak atas 3 (tiga) HMETD
- Persentase Saham Dengan Modal Disetor Setelah PUT II: 37,50% (tiga puluh tujuh koma lima nol persen)
BAB X. EKUITAS
Tabel ekuitas berikut diambil dari laporan keuangan konsolidasian Perseroan pada tanggal dan periode 9 bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2016, dengan angka perbandingan tanggal-tanggal dan tahun yang beakhir pada tanggal-tanggal-tanggal-tanggal 31 Desember 2015, 2014 dan 1 Januari 2014 yang telah diaudit berdasarkan standar audit yang ditetapkan IAPI oleh KAP Kanaka Puradiredja, Suhartono yang ditandatangani oleh Aris Suryanta, Ak, CA, CPA pada tanggal 27 Januari 2017 dengan opini wajar tanpa modifikasian (Wajar Tanpa Pengecualian), dengan paragraf Penekanan Suatu Hal mengenai Kelangsungan Usaha dan Akuisisi Terbalik.
PT RED PLANET INDONESIA Tbk DAN ENTITAS ANAK LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN
Per 30 September 2016 31 Desember 2015, 2014 dan 1 Januari 2014 (Disajikan dalam Rupiah kecuali dinyatakan lain)
30 September 2016 31 Desember 2015 31 Desember 2014 1 Januari 2014
EKUITAS Modal saham 676.546.400.000 676.546.400.000 676.520.750.000 41.000.000.000 Tambahan modal disetor (373.335.927.523) (373.335.927.523) (373.335.927.523) 6.000.000.000 Pendapatan komprehensif lainnya 636.544.407 774.168.685 791.436.519 - Defisit Ditentukan penggunaannya - - - - Belum ditentukan penggunaannya (186.887.365.740) (140.252.267.418) (59.801.958.023) (23.178.437.427) Jumlah Ekuitas yang
dapat diatribusikan kepada
Pemilik Entitas Induk 116.959.651.144 163.732.373.744 244.174.300.973 23.821.562.573 Kepentingan
Nonpengendali (22.296.865) (18.714.212) (9.890.205) -
JUMLAH EKUITAS 116.937.354.279 163.713.659.532 244.164.410.768 23.821.562.573
Tidak terdapat perubahan struktur permodalan yang terjadi setelah tanggal laporan keuangan terakhir sampai dengan tanggal efektifnya Pernyataan Pendaftaran.
Berikut ini merupakan struktur PUT II Perseroan:
- Jumlah Saham: sebanyak-banyaknya 4.089.330.201 (empat miliar delapan puluh sembilan juta tiga ratus tiga puluh ribu dua ratus satu) Saham Baru
- Total Dana Hasil PUT II: sebanyak-banyaknya Rp408.993.020.100 (empat ratus delapan miliar sembilan ratus sembilan puluh tiga juta dua puluh ribu seratus Rupiah)
- Nilai Nominal: Rp100 (seratus) Rupiah - Harga Pelaksanaan: Rp100 (seratus) Rupiah
- Rasio Konversi: 5 (lima) Saham Lama berhak atas 3 (tiga) HMETD
- Persentase Saham Dengan Modal Disetor Setelah PUT II: 37,50% (tiga puluh tujuh koma lima nol persen)
Posisi proforma ekuitas konsolidasian Perseroan per 30 September 2016 sebelum dan sesudah dilaksanakannya PUT II adalah sebagai berikut:
Sebelum PUT II Penyesuaian Setelah PUT II
EKUITAS
Modal saham 676.546.400.000 410.000.000.000 1.086.546.400.000
Tambahan modal disetor (373.335.927.523) - (373.335.927.523)
Pendapatan komprehensif lainnya 636.544.407 - 636.544.407 Defisit Ditentukan penggunaannya - - - Belum ditentukan penggunaannya (186.887.365.740) - (186.887.365.740)
Jumlah Ekuitas yang dapat diatribusikan
Kepada Pemilik Entitas
Induk 116.959.651.144 410.000.000.000 526.959.651.144
Kepentingan
Nonpengendali (22.296.865) - (22.296.865)
BAB XI. KEBIJAKAN DIVIDEN
Seluruh Saham Perseroan yang telah diambil bagian dan disetor penuh dalam Perseroan, termasuk Saham Baru yang akan ditawarkan dalam rangka PUT II kepada para Pemegang Saham, mempunyai hak yang sama dan sederajat dalam segala hal, termasuk hak untuk mendapatkan dividen.
Perseroan memiliki kebijakan untuk membayarkan dividen dengan rasio sebanyak-banyaknya 30% dari laba tahun berjalan dalam bentuk uang tunai kepada seluruh pemegang saham Perseroan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun, namun dengan tetap memperhatikan posisi keuangan atau tingkat kesehatan Perseroan dan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham.
Berikut adalah riwayat pembayaran dividen Perseroan: 2015
Dividen tunai: Rp0
Laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk: Rp(80.450.309.395) Rasio pembayaran dividen: 0%
2014
Dividen tunai: Rp0
Laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk: Rp(36.623.520.596) Rasio pembayaran dividen: 0%
2013
Dividen tunai: Rp0
Laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk: Rp855.457.283 Rasio pembayaran dividen: 0%
TIDAK TERDAPAT NEGATIVE COVENANTS YANG MEMBATASI HAK-HAK PEMEGANG SAHAM UNTUK