• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DATA

5.3 Keterlibatan Masyarakat Desa Batukarang Dalam Pembangunan

Partisipasi masyarakat merupakan keikutsertaan, peran serta tau keterlibatan yang berkaitan dengan keadaaan lahiriahnya mulai dari tahap sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian kegiatan dengan memberikan sumbangan tenaga, pikiran, atau dalam bentuk materil. Pembangunan Pertanian adalah serangkaian proses yang dengan sengaja di lakukan untuk mencapai tujuan tertentu ke arah yang lebih baik dalam mengembangkan & meningkatkan sektor pertanian. Paritisipasi dalam Sektor Pertanian merupakan suatu bentuk partisipasi yang di berikan oleh masyarakat dalam mengembangkan sektor pertanian mulai dari partisipasi tahap sosialisasi, perencanaan, sampai dengan pelaksanaan.

Dalam perencanaan pembangunan masyarakat bisa langsung berpartisipasi dengan mengeluarkan ide-ide, pikiran, atau saran dalam program kerja yang akan di lakukan ke depan sehingga dapat di ambil suatu kebijakan pertanian. Kebijakan pertanian yang di maksud di sini yaitu bagaimanan nantinya yang akan di lakukan dalam memajukan sektor pertanian.

Dalam pelaksanaan program masyarakat bisa berpartisipasi langsung sehingga dapat di wujudkan suatu tujuan program kerja yaitu terwujudnya sektor pertanian yang tangguh. Dalam evaluasi hasil pelaksanaan program, partisipasi masyarakat yaitu dengan menilai sendiri apakah program yang telah di laksanakan sebelumnya mengalami keberhasilan atau kegagalan. Artinya di sini masyarakat terjun langsung dalam mengamati hasil program kerja yang telah di laksanakan.

Dari hasil observasi yang dilihat peneliti di desa Batukarang sendiri keterlibatan masyarakatnya sudah cukup. Baik itu dalam pelaksanaan program maupun dalam pelestariaannya. Masyarakat sangat antusias apa yang menjadi pembangunan yang dibuat Badan Permusyawaratan Desa tersebut. Sehingga adanya hubungan timbal balik dalam dukungan masyarakat terhadap program BPD dan BPD juga bisa menjalankan program dengan baik.

Namun permasalahan yang didapatkan peneliti dilapangan. Dalam musyawarah yang dilakukan Badan Permusyawaratan Desa terhadap pembahasan pembangunan pertanian masih melibatkan masyarakat yang tertentu saja. Seharusnya dengan pekerjaan petani yang sangat utama dan terbesar di desa tersebut keterlibatan atau pemberian pengetahuan harus dilakukan secara keseluruhan.

Badan Permusyawaratan Desa dapat mengundang masyarakat bermusyawarah di jambur desa agar dapat menampung masyarakat yang banyak. Dengan menyebarkan poster pemberitahuan di warung-warung kopi dan bisa juga menggunakan michropon dibantu loudspeaker memberitahukan dengan cara keliling desa.

Sebagai objek pembangunan masyarakat sangat dibutuhkan dalam peran serta pembangunan pertanian di desa tersebut. Tidak akan mungkin suatu program yang baik yang dilaksanakan BPD tanpa dukungan dan keterlibatan dari masyarakat. Masyarakat bisa mengetahui apa yang mereka butuhkan dalam peningkatan hasil pertanian mereka. Dan BPD bisa sebagai penyedia apa yang

BABIV

PENUTUP

6.1Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan pada bab-bab sebelumnya, adapun yang menjadi kesimpulan dari skripsi ini adalah :

1. Peranan Badan Permusyawaratan Desa dalam pembangunan pertanian di desa Batukarang sangat besar pengaruhnya terhadap keberlangsungan pertanian masyarakat. BPD sebagai wakil dari masyarakat dan dipilih oleh masyarakat kemudian bekerja untuk masyarakat harus mampu menyerap aspirasi dari masyarakat tersebut. Bahkan boleh dibilang BPD lah yang menjadi pelaksana tunggal penyerapan aspirasi di desa tersebut.

2. Jika ada proyek desa tentang pelaksanaan pembangunan pertanian maka Badan Permusyawaratan Desa melibatkan kelompok tani dan P3A ( Pengurus, Penyalur, dan Pemakai Air ) dalam pembangunan tersebut. BPD juga sering mendatangkan PPL ( Penyuluhan Pertanian Lapangan ) untuk membantu masyarakat mengetahui masalah pertaniannya dan memberikan solusi.

3. Peranan dari Badan Permusyawaratan Desa di desa Batukarang tersebut sudah baik. Hanya saja masih kurang hasil yang ditimbulkan dari kinerja BPD. Masyarakat juga sudah diikutsertakan dalam

melakukan musyawarah tentang pembangunan pertanian tersebut tetapi keikutsertaan masih masyarakat yang tertentu saja.

6.2Saran

Adapun saran yang akan diajukan kepada Badan Permusyawaratan Desa di Desa Batukarang adalah sebagai berikut :

1. Seharusnya koordinasi antar anggota BPD harus sering dilaksankan. Baik ada masalah ataupun tidak ada masalah BPD harus sering mengadakan rapat dalam kelancaran pembangunan pertanian di desa Batukarang. Karena BPD lah yang menjadi penyedia dari aspirasi masyarakat tersebut.

2. Seperti Badan Legislatif Pusat seperti DPR atau DPRD, BPD sebagai Badan Legislatif desa harus membuat suatu format anggota yang di fokuskan pada bidang-bidang khusus misalkan bagian perencanaan, bagian teknis lapangan dan sebagainya. Agar kinerja BPD tersebut dapat dipertanggungjawabkannya dalam bidangnya yang khusus tersebut.

3. Dalam pelaksanaan pembangunan Badan Permusyawaratan Desa harus sering bekerjasama baik itu dengan pemerintah desa, kelompok tani, dan juga masyarakat desa. Agar suatu perencanaan pembangunan yang tujuannya baik dapat tercapai dan terlaksana dengan baik.

DAFTARPUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, 2002. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta

Arifin, Muhammad & Araman Wijanarko, 2000. Kondisi dan tantangan ke depan subsector tanaman pangan di Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Widianegara Indonesia.

HAW. Widjaja, 2008. Otonomi Desa Merupakan Otonomi yang Asli dan Utuh. Jakarta : Rajawali Pers.

Moleong, Lexy, 2006. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Nawawi, Hadari, 1999. Metode Penelitian Bidang Sosial, Jakarta : Gajah Mada University Press.

Ndraha. Taliziduhu. 2000. Peranan Administrasi Pemerintahan Desa dalam Pembangunan Desa, Jakarta : Yayasan Karya Dharma IIP.

Singarimbun, Masri, 1995, Metode Penelitian Survey. Jakarta : LP3ES

Siagian. Sondang. P. 1996. Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta : Bumi Aksara.

Soewignjo, 1985. Administrasi Pembangunan Desa dan Sumber-sumber Pendapatan Desa, Jakarta : Ghalia Indonesia

Sugiyono, 2005. Metode Penelitian Administrasi. Bandung : Alfabeta

Soekanto, Soerjono. 2009. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Rajawali Pers

Sutopo, H.B. 2002. Metode Penelitian Kualitatif: Dasar teori dan terapannya dalam penelitian. Surakarta: Sebelas Maret University Press

Suyanto, Bagong dan Sutina, 2005. Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan. Jakarta : Prenada Media.

SumberBacaanTambahan:

Proposal Penelitian Kurnia Putra Bangun, 2008. Pengaruh Tingkat Pendidikan Terhadap Partisipasi Politik Masyarakat di Dalam Pemilihan Kepala Daerah Tahun 2005 di Kabupaten Karo. Medan : Universitas Sumatera Utara

Sudibya, Bagus. 2002. “Pengembangan Ecotourism di Bali: Kasus Bagus Discovery Group”. Makalah disampaikan pada Ceramah Ecotourism di Kampus STIM-PPLP Dhyana Pura, Dalung, Kuta pada tanggal 14 Agustus 2002

SumberUndang-Undang:

Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

Sumber Internet :

http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/253 (diakses pada tanggal 28 Oktober 2013 pukul 14:48 WIB)

(diakses pada tanggal 28 Oktober 2013 pukul 14:51 WIB)

http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2013/09/26/survei-pendapatan-rumah- tangga usaha-pertanian-2013-596021.html (diakses pada tanggal 20 November 2013 pukul 20:05 WIB)

(diakses pada

tanggal 20 November 2013 pukul 20:32 WIB)

Dokumen terkait