• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keterlibatan Orang Muda Katolik Dalam Hidup Menggereja

BAB II KERANGKA TEORITIS / KAJIAN TERKAIT

C. Keterlibatan Orang Muda Katolik Dalam Hidup Menggereja

Katekismus Gereja Katolik dalam (KGK 10) menjelaskan bahwa arti keterlibatan adalah sebuah pengabdian yang dilaksanakan secara sukarela oleh pribadi-pribadi yang sesuai dengan tempat dan peranan seseorang mengarah pada peningkatan kesejahteraan umum. Keterlibatan OMK dalam hidup menggereja adalah bentuk perwujudan iman. Keyakinan akan Yesus Kristus mendorong OMK terlibat menghayati dan menyadari imannya, sehingga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Gereja menaruh perhatian terhadap OMK dengan memberikan dukungan sekaligus ajakan agar membantu OMK dalam menghadapi berbagai persoalan di zaman saat ini. Saat ini banyak OMK yang terlibat baik di Gereja maupun di

lingkungan masyarakat menjadi lektor, koor, mazmur dan organis pada perayaan Ekaristi di Gereja merupakan bentuk penghayatan hidup menggereja mereka. OMK memberikan pelayanan pada saat perayaan Ekaristi, memberikan pewartaan sebagai wujud penghayatan dalam hidup menggereja dengan menjadi sukarelawan saat ada bencana (AA 12).

Keterlibatan OMK dalam hidup menggereja, berasal dari keinginan dan kesadaran diri sendiri, bukan karena kepentingan pribadi maupun kelompok. OMK menyadari akan perannya sebagai umat Kristiani, mereka senang dan merasa dapat menemukan bahwa Allah hadir dalam dirinya. Peran OMK terlibat aktif dalam hidup menggereja maupun masyarakat sangatlah penting. Keterlibatan itu adalah buah dari perwujudan imannya akan Kristus, yang dihayati dan dikembangkan melalui sikap dan tindakan konkret.

Orang Muda Katolik diharapkan terlibat aktif dalam kegiatan hidup menggereja dan masyarakat. Keterlibatan OMK dalam kehidupan menggereja menumbuhkan perkembangan iman bagi OMK. Tanpa keterlibatan OMK, ada bahaya bahwa Gereja masa depan tinggal menjadi gedung tanpa penghuni. Berangkat dari kesadaran tersebut, Gereja mengusahakan OMK mendapat perhatian, sehingga, perlu dibuat berbagai rancangan program dan kegiatan untuk menyiapkan Gereja, OMK adalah Gereja masa kini. Ide pembaharuan yang lekat dengan dirinya adalah modal penting untuk pengembangan Gereja. OMK diharapkan terlibat aktif dalam kegiatan menggereja (Nota Pastoral, 2009:3).

Paus mengajak OMK mencintai Gereja, menerima keterbatasannya, dan berpartisipasi aktif dalam misinya (Komisi Kepemudaan KWI, 2014:48). Paus

Yohanes Paulus II mengatakan: Orang Muda Katolik adalah harapan Gereja dunia dan harapanku. Harapan Paus ini hendak mendorong OMK untuk terlibat baik dalam komunitasnya maupun di luar komunitasnya. OMK perlu bermakna bagi orang lain sebagaimana Yesus pun telah wafat bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk manusia (Komisi Kepemudaan KWI, 2014: 69).

Pelayanan pastoral yang mampu memperbarui diri dalam memperhatikan relasi-relasi dan kualitas komunitas Kristiani, memiliki makna dan menarik bagi orang-orang muda. Dengan demikian, Gereja dapat menunjukkan dirinya kepada orang-orang muda sebagai sebuah rumah yang menerima, yang bercirikan suasana kekeluargaan, yang dibangun dari kepercayaan dan keyakinan. Kerinduan akan persaudaraan, yang seringkali dalam sinode orang muda muncul dalam sikap mendengarkan, meminta Gereja menjadi “Ibu bagi semua dan rumah bagi banyak orang” (EG 287).

Mendengarkan OMK berarti Gereja mendengarkan Tuhan berbicara di zaman sekarang, yang berarti mendengarkan karya Roh Kudus yang memperbaharui. Seperti zaman Samuel dan Yeremia, orang-orang muda mengetahui cara menimbang-nimbang tanda-tanda zaman kita, yang ditunjukkan oleh Roh Kudus. “Mendampingi OMK menuntut keluar dari rancangan yang telah dibuat sebelumnya. OMK berusaha mengartikan kenyataan tempat mereka hidup dan mengubah pesan mereka terima dalam kata dan perbuatan ke dalam mereka sehari-hari (Budi Purwantoro, 2019:8).

Mgr. Pius Riana Prapdi Ketua Komisi Kepemudaan KWI dalam suratnya menyatakan OMK perlu mengambil peran sebagai murid Yesus di bumi

Indonesia, tidak menutup mata dan telinga terhadap penderitaan orang lain, tetapi melakukan sesuatu dengan segala talenta, potensi dan kreativitasnya untuk membawa kesegaran baru bagi Gereja Katolik Indonesia. Gereja berharap OMK dapat berbagi kisah-kisah hidupnya supaya terjadi Pentekosta yakni kelahiran Gereja Katolik masa kini (Budi Purwantoro, 2019:10).

Mendengarkan OMK berarti Gereja mendengarkan Tuhan berbicara di zaman sekarang, yang berarti mendengarkan karya Roh Kudus yang memperbaharui. Seperti zaman Samuel dan Yeremia, orang-orang muda tau cara menimbang-nimbang tanda-tanda zaman kita, yang ditunjukkan oleh Roh Kudus. “Mendampingi OMK menuntut keluar dari rancangan yang telah dibuat sebelumnya. OMK berusaha mengartikan kenyataan tempat mereka hidup dan mengubah pesan telah mereka terima dalam kata dan perbuatan ke dalam mereka sehari-hari (Budi Purwantoro, 2019:8).

Orang Muda Katolik menyadari perannya dalam hidup menggereja, dengan sepenuh hati mengikuti dan melaksanakan kewajiban sesuai dengan peranannya. “Kerinduan persaudaraan sikap mendengarkan, meminta Gereja menjadi “Ibu bagi semua dan rumah bagi banyak orang” pelayanan pastoral memiliki tugas untuk mewujudkan keibuan universal Gereja dalam sejarah saat ini, menjadikan dirinya rumah bagi orang muda” (OMIPP 138).

Perwujudan berupa keterlibatan aktif OMK dalam hidup menggereja. Keterlibatan itu hendaknya berasal dari keinginan dan kesadaran diri sendiri. Himpunan umat Allah ini diwujudkan dalam hidup berparoki. Keterlibatan OMK di wujudkan dengan ambil bagian dan terlibat dalam mengembangkan pewartaan

kabar gembira (kerygma), menghidupkan peribadatan (liturgia), membangun persekutuan (koinonia), memajukan karya pelayanan (diakonia) sebagai murid-murid Tuhan di jaman sekarang.

Empat Bidang Pelayanan Gereja a. Bidang Pewartaan (kerygma)

Keryma berarti pewartaan, mengatakan tentang kabar gembira bahwa

dalam diri Yesus Kristus, Allah menyelamatkan manusia. Pewartaan akan Yesus Kristus harus dilaksanakan tanpa henti agar umat beriman dapat senantiasa berjumpa dengan Yesus Kristus dan mengenal-Nya. Melalui bidang karya ini, umat beriman Kristiani diberi kepercayaan, dipanggil dan diutus Yesus untuk mengambil bagian dalam tugas pewartaan kabar gembira (LG 35).

Orang Muda Katolik dapat terlibat dalam karya tugas pewartaan (kerygma) melalui penginjilan (evangelisasi) dengan membawa kabar baik kepada segala tingkat kemanusiaan agar dapat merubah umat manusia dari dalam dan membuatnya menjadi baru (EN 18). Paus Paulus II menekankan kepada Orang Muda Katolik bahwa hidup mereka perlu memiliki makna dan menjadi anugerah cuma-cuma bagi sesama yang lebih luas (Komisi Kepemudaan KWI, 2014:87). yang telah menjalin relasi dengan Kristus dan komunitasnya mau tidak mau bergerak keluar untuk bermisi. Tanda relasi iman kepada Kristus adalah bersedia menerima perutusan untuk menyampaikan kabar gembira pada sesama.

Dokumen Orang Muda, Iman dan Penegasan Panggilan art.133 (2018:75) menyatakan, pewartaan itu juga menjadi dasar katekese OMK, yang terus dihidupkan dan memberikan kualitas pewartaan. Katekese OMK sangatlah

mendesak pembaharuan komitmen dari bahasa dan metodologi, yaitu perjumpaan dengan Kristus yang menjadi inti katekese. OMK dalam pewartaan itu adalah ajakan kepada OMK mengenali tanda-tanda cinta kasih Allah dalam hidup mereka serta menemukan komunitas sebagai tempat perjumpaan dengan Kristus.

b. Bidang Liturgi (liturgia)

Melalui liturgi Gereja mengenang karya penyelamatan Yesus kepada manusia. Lewat liturgi, Gereja melaksanakan dan menyatakan Gereja sebagai tanda persekutuan antara Allah dan manusia melalui Kristus. Persekutuan hidup baru orang yang ikut dalam perayaan iman mengambil bagian dalam misteri yang dirayakan dengan sadar, aktif, dan penuh makna (SC 11). Keterlibatan OMK di bidang liturgi diwujudkan di Paroki seperti mengikuti Ekaristi. OMK sudah terlibat merancang kegiatan liturgi. Kegiatan liturgi merupakan wujud keterlibatan OMK untuk berinovasi membuat perayaan liturgi lebih baik. OMK dengan daya kreativitasnya dapat membuat liturgi dirayakan lebih bersemangat dan menarik.

Liturgi tanpa keterlibatan OMK merupakan tanda nyata kematian Gereja. Liturgi adalah puncak yang dituju oleh kegiatan Gereja dan sumber segala daya kekuatannya. Melalui liturgi terutama Ekaristi mengalir rahmat Allah dengan demikian memperoleh pengudusan. Pada umumnya OMK terlibat di bidang liturgi karena kemauannya sendiri. Keterlibatan yang dapat dilakukan di bidang liturgi sebagai ungkapan persekutuan yakni menjadi petugas liturgi seperti lektor, pemazmur, koor atau petugas lainnya (SC 10).

Dokumen Orang Muda, Iman dan Penegasan Panggilan art. 51(2018:31), Liturgi yang hidup dalam berbagai konteks, Orang Muda Katolik menghendaki

kesempatan-kesempatan doa dan saat-saat sakramentali yang dapat menyentuh kehidupan sehari-sehari mereka dengan liturgi yang segar, otentik dan penuh sukacita. Di berbagai belahan dunia, pengalaman liturgis adalah sumber utama bagi identitas Kristiani dan membuka partisipasi luas. Orang Muda Katolik perantau melihatnya sebagai sebuah momen istimewa pengalaman akan Allah dan akan komunitas Kristiani.

c. Bidang Persekutuan (Koinonia)

Persekutuan didasarkan pada firman Allah, baptisan dan perjamuan kudus. persekutuan Jemaat di dalam Kristus, walaupun banyak anggota namun membentuk satu tubuh Kristus. Di dalam koinonia kita tidak hanya sekedar bersekutu, tetapi juga mewartakan Injil Kerajaan Allah melalui kesaksian dan pelayanan di mana saja. Konsili Vatikan II menyebut Gereja sebagai persekutuan iman, harapan, dan cinta, Kesatuan Gereja bukan hanya karya Roh Kudus, komunikasi antar manusia, khususnya perwujudan komunikasi iman para anggota Gereja (LG 8).

Keterlibatan yang diharapkan dari orang muda yakni melibatkan diri dalam keluarga manusia, bersama bumi dan semua ciptaan yang membentuk lingkungan hidup yang saling terkait (Komisi Kepemudaan KWI, 2014:72). Gereja tempat untuk semua orang muda, bahkan jika orang muda mau memberikan kritik-kritik karena tetap merupakan kritik yang konstruktif. Paus mengajak orang muda mencintai Gereja, menerima keterbatasannya, dan berpartisipasi aktif dalam misinya (Komisi Kepemudaan KWI, 2014: 48).

Orang Muda Katolik terlibat dalam komunitasnya maupun di luar komunitasnya. OMK bermakna bagi orang lain sebagaimana Yesus telah wafat bukan untuk diri-Nya sendiri melainkan untuk manusia (Komisi Kepemudaan KWI, 2014:69). Gereja menghendaki agar OMK membangun persekutuan dengan sesamanya, hidup dalam persekutuan dan persaudaraan sesuai dengan imannya akan Yesus Kristus. Sebagai koinonia, OMK dapat melakukan kegiatan-kegiatan seperti kegiatan rohani maupun profan. Keikutsertaan OMK dengan berperan aktif bersama bumi dan semua ciptaan yang membentuk lingkungan hidup yang saling terkait (Komisi Kepemudaan KWI, 2014:72).

d. Bidang Pelayanan (diakonia)

Gereja ada tempat untuk semua OMK, bahkan jika orang muda mau memberikan kritik-kritik karena tetap merupakan kritik yang konstruktif. Paus mengajak OMK mencintai Gereja, menerima keterbatasannya, dan berpartisipasi aktif dalam misinya (Komisi Kepemudaan KWI, 2014: 48). Paus Yohanes Paulus II mengatakan: Orang muda, adalah harapan Gereja, dunia dan harapanku. Harapan Paus ini hendak mendorong orang muda untuk terlibat baik dalam komunitasnya maupun di luar komunitasnya. OMK harus bermakna bagi orang lain sebagaimana Yesus pun telah wafat bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk manusia ( Komisi Kepemudaan KWI, 2014: 69).

Pelayanan berarti memberi pertolongan atau pelayanan, Gereja dipanggil menjadi pelopor pelayanan dan hadir pada orang lain sebagai sesamanya. OMK dapat melakukan pelayanan dengan kemurahan hati dan ikut dalam pembaharuan paroki. OMK dapat membangun komunitas persaudaraan, terlibat aktif dan

menjadi relawan. Paroki adalah kehadiran Gereja dalam wilayah tertentu, lingkungan yang mendengar Sabda Allah, untuk bertumbuh dalam hidup Kristiani, berdialog, ibadat dan perayaan (EG 20).

Dokumen terkait