• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keterlibatan Tenaga Kerja Industri Rajutan Binong Jati

4.3 Peran Masyarakat Dalam Mengembangkan Industri Rajutan Binong Jati

4.3.3. Keterlibatan Tenaga Kerja Industri Rajutan Binong Jati

Dalam perkembangan suatu industri khususnya industri kecil menengah, selain upaya pemilik usaha untuk mengembangkan usaha yang dimilikinya, keterlibatan tenaga kerja pun cukup penting karena tenaga kerja dapat dijadikan sebagai ujung tombak kemajuan suatu industri. Yang dimaksud dengan tenaga kerja adalah orang yang mampu melakukan pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan barang atau jasa untuk kebutuhan masyarakat (Artoyo, dalam buku tenaga kerja perusahaan menurut pengertian dan peranannya 1986:12). Tenaga kerja erat kaitannya dengan potensi sumber daya manusia jika pekerja memiliki potensi yang baik dengan keterampilan kerja yang tinggi maka usaha yang dirintis akan berjalan dengan lancar dan semakin berkembang.

Perkembangan sebuah industri tidak lepas dari adanya pengaruh tenaga kerja. Industri - industri yang berkembang baik industri kecil maupun besar menyadari akan pentingnya menetapkan pekerjaan sesuai dengan orangnya, yang tidak hanya dalam melaksanakan pekerjaannya tetapi juga dapat menyesuaikan diri terhadap pekerjaannya. Penempatan dan pemilihan tenaga kerja dalam sebuah industri baik industri kecil maupun besar merupakan hal yang harus diperhatikan. Tenaga kerja tidak dapat lagi dipandang semata- mata sebagai salah satu faktor produksi, tetapi lebih luas dari itu yaitu sebagai mitra kerja dalam berusaha. Pada gilirannya hubungan industrial yang harmonis dan kemitraan akan memberikan dampak positif terhadap kebijaksanaan sistem pengupahan, sekaligus memberikan rasa ketenangan bagi pekerja.

Berkembangnya industri rajut Binong Jati menjadikan para pengusahanya ingin lebih meningkatkan lagi menjadi sebuah industri rajut yang lebih dikenal oleh masyarakat dan akhirnya dapat mendatangkan keuntungan tersendiri. Untuk tetap mempertahankan keberadaan industri tersebut maka hal yang diperlukan adalah selalu menciptakan design produk terbaru yang mengikuti perkembangan jaman serta disukai oleh konsumen. Ide – ide yang dimunculkan tidak harus selalu berasal dari para pengusahanya saja namun para pekerjanya pun dapat memberikan ide yang dimilikinya.

Dengan ide yang dimunculkan oleh pekerja maka menjadikan produk rajut semakin bervariasi dan tentunya pekerja tersebut akan mendapatkan reward dari pengusaha tempatnya bekerja. Reward di artikan sebagai penghargaan yang di berikan kepada seorang pekerja apabila pekerja tersebut telah menghasilkan ide

ataupun design terbaru pada produk rajutan. Biasanya Reward yang diberikan berupa bonus uang yang dapat menambah penghasilannya. Dengan adanya reward yang diberikan oleh pengusaha maka dapat memacu para pekerja untuk memunculkan ide – ide terbaru.

Hal tersebut terjadi pada usaha rajutan milik Suhaya Wondo, sejak tahun 2000 Wondo memberikan reward kepada pekerja yang dapat memberikan ide – ide kreatifnya. Dengan hal tersebut semakin memacu pekerja yang lain untuk memunculkan ide – ide produk terbaru, karena Wondo akan memberikan reward berupa bonus yang cukup besar sehingga produk rajutan milik Wondo semakin bervariatif. Dengan adanya hal tersebut menjadikan Wondo mendapatkan keuntungan yang besar karena produknya disukai oleh konsumen (Wawancara dengan Suhaya Wondo Tanggal 29 Januari 2010).

Upaya lain yang dilakukan oleh pengusaha rajut untuk lebih meningkatkan usahanya yakni dengan memberikan pelatihan keterampilan membuat rajutan. Walaupun rajutan yang diproduksi di industri rajut Binong Jati menggunakan tenaga mesin namun untuk menggerakan mesin – mesin tersebut diperlukan juga keahlian dan keterampilan para pekerjanya. Hal lainnya yang seharusnya dilakukan oleh seorang pengusaha adalah memberikan fasilitas dan kemudahan bagi pekerjanya misalnya fasilitas tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerja agar pekerja dapat menghemat ongkos, memberikan pinjaman ketika mereka ada kebutuhan mendesak, ketika mereka sakit mendapatkan ijin untuk istirahat, ketika pekerja wanita melahirkan memperoleh dispensasi untuk cuti serta diajak untuk

rekreasi bersama keluarganya sehingga mereka dapat memberikan kinerja terbaik yang mereka miliki.

Fasilitas dan kemudahan tentunya akan diberikan oleh setiap pemilik usaha jika para pekerja dapat menunjukan tanggung jawabnya ketika bekerja. Salah satunya dengan menunjukan etos kerja yang dimilikinya. Etos kerja adalah ukuran serta cara diri seseorang dalam mempersepsi pekerjaannya serta pandangan hidup yang dimilikinya (Saripudin, dalam buku Mobilitas dan Perubahan Sosial 2005: 45). Pada dasarnya para pekerja rajutan Binong Jati memiliki etos kerja yang tinggi dalam menekuni pekerjaan mereka sebagai pekerja rajut. Mereka selalu berusaha untuk lebih meningkatkan lagi kualitas kerjanya, misalnya dengan mengikuti pelatihan yang diadakan oleh pemerintah Kota Bandung karena pekerjaan sebagai pekerja rajutan memerlukan ketelitian dalam bekerja.

Sebenarnya etos kerja para pegawai rajut Binong jati cukup tinggi karena alasan mereka cenderung tidak memiliki keterampilan lain selain membuat rajutan. Mereka menekuni pekerjaan ini karena hanya ini jenis pekerjaan yang bisa mereka kerjakan. Namun sayangnya, etos kerja tenaga kerja rajut Binong Jati mempunyai posisi tawar rendah maksudnya adalah bagaimana para pekerja tersebut dapat memberikan hasil kerja yang signifikan pada pekerjaan yang ditekuninya apabila tidak disertai dengan peningkatan jumlah upah yang diterimanya. Upah mingguan yang diterima pekerja rajut Binong jati hanya cukup untuk kebutuhan hidup sehari – hari saja bahkan ada yang kurang tercukupi kebutuhan hidupnya. Berdasarkan tabel 4.8 yang menunjukan jumlah upah yang

diterima para pekerja rajut sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan laba yang diperoleh pengusahanya.

Seharusnya para pengusaha tersebut bila telah merasa cukup untuk memberikan upah dengan jumlah tersebut karena telah di atas UMR (Upah Minium Regional) sebesar Rp. 660.0000 dan di tahun 2004 upah untuk pekerjaan merajut dan linking sebesar Rp.1000.000 (terbesar) dan Rp. 600.000 (terkecil) namun jumlah tersebut hanya untuk pekerjaan packing saja karena hanya dikerjakan oleh perempuan yang bekerja untuk membantu pendapatan suaminya maka akan lebih baik apabila para pengusaha tersebut memberikan fasilitas serta kemudahan bagi pekerjanya agar mereka semakin meningkatkan kinerjanya untuk kemajuan industri rajut Binong Jati Bandung.

Sebagai seorang pekerja, faktor lain yang mendorong mereka untuk memiliki etos kerja yang tinggi walaupun dengan posisi tawar rendah dalam menekuni pekerjaannya karena tuntutan ekonomi. Pekerjaan sebagai pekerja rajutan memang tidak lantas cukup untuk memenuhi semua kebutuhan rumah tangga yang semakin mahal namun pekerjaan ini cukup mampu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga walaupun tidak berlebihan. Para pekerja selalu berusaha bekerja semaksimal mungkin agar memperoleh upah yang lebih besar setiap minggunya karena pembayaran upah dilakukan secara borongan/sesuai dengan hasil pekerjaan yang dicapai. Kesadaran untuk bekerja lebih rajin dalam pekerjaan ini diperlukan karena siapa yang bekerja lebih tekun maka akan memperoleh upah yang lebih banyak.

Selain etos kerja yang tinggi, sikap yang seharusnya dimiliki oleh para pengrajin agar dapat meningkatkan usaha industri rajutan Binong Jati ini yakni dengan bersikap loyal terhadap majikan. Sikap seperti ini sangat diperlukan bagi kemajuan suatu usaha. Dengan bersikap loyal kepada majikan maka para pekerja akan melakukan pekerjaan dengan lebih giat sehingga industri rajutan Binong jati dapat semakin berkembang. Para pekerja rajutan Binong jati dapat dikatakan memiliki sikap loyal terhadap majikan, hal tersebut terbukti dari wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada Bapak Dede salah satu pekerja yang telah bertahun – tahun bekerja sebagai pengrajin disalah satu usaha rajutan yang ada di Binong jati. Dia telah bekerja sebagai pengrajin selama hampir 15 tahun dan salah seorang anaknya sama – sama menjadi pengrajin rajutan di tempat ia bekerja (wawancara dengan Bapak Dede tanggal 23 Oktober 2009).

4.4 Konstribusi Industri Rajutan terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi