• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketidakpercayaan Diri

Dalam dokumen M01577 (Halaman 29-35)

Ketidakpercayaan diri adalah penghayatan hidup hampa dan tak bermakna yang berlarut-larut tidak teratasi, karena merasa tidak berharga dan tidak mempunya arti apa-apa lagi, sehingga menimbulkan ketidakyakinan diri spiritual.

30

Tyrrell (2011:1,2) melihat ketidakpercayaan diri dari cara individu memperlakukan dirinya secara buruk karena merasa jelek, bodoh dari kebanyakan orang lain.

Queensland University (2008:3,4) melihat kegelisahan untuk suatu kesimpulan negatif tentang dirinya, gelisah untuk reaksi buruk tentang dirinya, karena kehilangan perspektif (losing perspective) dan ketidakpercayaan dirinya. Pribadi setiap individu biasanya merasa kehilangan harga diri dan ketidakpercayaan dirinya, dengan mengganggap dirinya kotor, tidak layak, tidak berguna, dan tidak berharga.

Kasus ketidakpercayaan diri banyak dialami perempuan dan anak-anak korban perdagangan (trafficking). Menurut Rafferty (2008:14-15) para perempuan korban perdagangan khususnya anak-anak seringkali mengalami kondisi yang kejam yang mengakibatkan trauma fisik, seksual dan psikologis.Kecemasan, kegelisahan, insomnia, depresi dan penyakit pasca traumatis stress, menggambarkan ketidakpercayaan diri atau penilaian yang mengecewakan nilai diri dengan memandang rendah diri sendiri. Para perempuan korban perdagangan seringkali kehilangan kesempatan penting untuk mengalami pendidikan, perkembangan sosial, moral, dan spiritual. Ketidakpercayaan diri, hilang harapan tanpa tujuan hidup yang jelas, suram dan gelap masa depan, menyebabkan mereka kehilangan penghargaan terhadap dirinya dan mengalami harga diri spiritual yang rendah.

Ketidakpercayaan diri pada perempuan korban perdagangan (trafficking) meliputi tiga unsur masalah yaitu masalah psikologi dan kesehatan mental, masalah sosial, dan masalah kesehatan fisik, dideskripsikan sebagai berikut.

1. Masalah Psikologi dan Kesehatan Mental

Hasil penelitian yang dipaparkan Abdulraheem dan Oladipo (2010:37) tentang dampak ketidakpercayaan diri perempuan korban perdagangan terhadap psikologis dan kesehatan mental, menunjukkan bahwa perempuan korban perdagangan yang mengalami depresi 83,6%, trauma emosional 72,4% dan kurang tidur (67,4%). Menurut Williamson et al. (2010:2), perempuan korban perdagangan sering mengalami post traumatic stress disorder (PTSD), karena sejak awal direkrut, diangkut atau ditangkap oleh jaringan pelaku perdagangan mereka sudah disekap, diisolir agar tidak berhubungan dengan dunia luar atau siapapun sampai mereka tiba ditempat tujuan. Pengalaman traumatis dan ketakutan dialami perempuan korban perdagangan karena ditangkap secara paksa, mengalami penyekapan di daerah transit sebelum dikirim ke tempat tujuan untuk dijual dan di eksploitasi (American Association, 2005:467).

31

Setelah kedatangan ke tempat tujuan, banyak korban perdagangan perempuan telah terisolasi secara sosial, yang diselenggarakan dalam kurungan, dan kekurangan makanan. Semua milik pribadi dilucuti dari mereka, surat identitas, paspor, visa, dan dokumen lainnya (Course Instruction, 2011:1). Korban mengalami banyak gejala psikologis yang dihasilkan dari kekerasan mental sehari-hari dan penyiksaan. Ini termasuk depresi, stres yang berhubungan dengan gangguan, disorientasi, kebingungan, fobia, dan ketakutan. Korban shock, mengalami penolakan, ketidakpercayaan, tentang situasi mereka saat itu, perasaan tidak berdaya dan malu (Stotts & Ramey, 2011:10).

Ketidakpercayaan diri perempuan korban perdagangan mengakibatkan para korban mengalami penghayatan hidup hampa dan tak bermakna yang berlarut-larut tidak teratasi, karena merasa tidak berharga dan tidak mempunyai arti apa-apa lagi. Pemikiran tersebut sejalan dengan yang diungkapkan Lukas (Marshall, 2011:55-59) tentang collective neurotic patterns" (pola neurotik kolektif), yang "radikal" telah menyebabkan penderitaan emosional, dan merasa terasing dari diri sendiri, dan masyarakat, dideskripsikan dalam empat masalah pokok sebagai berikut.

a) Wrong passivity (kepasifan yang salah).Wrong Passivity mengarah kepada penghindaran berlebihan. Hal ini merupakan lingkaran setan dalam kasus reaksi takut dan panik yang berlebihan. Suatu kecenderungan umum di antara reaksi-reaksi kecemasan adalah mencoba menghindari yang ditakuti.

b) Wrong Activity (aktivitas yang salah).Wrong Activity mengarah kepada perjuangan melawan sesuatu yang berlebihan. Hal ini nampak dalam kasus perenungan obsesif, dan obsesif-kompulsif neurosis. Obsesif mengacu pada "pikiran dan tindakan yang berulang-ulang, dorongan hati, dan gambaran menyedihkan yang berlebihan, dan tidak realistis dari perempuan korban perdagangan terhadap orang lain.

c) Excessive forcing (memaksa berlebihan). Excessive Forcing mengarah ke hyper-intensi. Sesuatu yang berlebihan hal tersebut dapat memaksa sikap

defensif(membela diri) yang berlebihan, untuk mempertahankan suatuide, yang sering dikaitkan dengan kepentingan diri, kekuasaan, sukses, yang berorientasi pada kesenangan.

d) Excessive attention (perhatian yang berlebihan). Excessive Attention mengarah kepada hyper-refleksi diri. Perhatian yang berlebihan (hiper-refleksi) adalah

32

proses meningkatkan pemantauan kinerja korban perdagangan perempuan, yang mungkin mulai dengan rasa cemas dari kegagalan, dan takut kinerja berkurang. Menurut Lukas (Marshall, 2011:58) bahwa hiper-refleksi menghasilkan lingkaran setan yang menyebabkan hiper-kewaspadaan dalam upaya untuk mengurangi kesalahan, dan memperkecil kegagalan.

Dampak psikologis dan kesehatan mental terhadap para perempuan korban perdagangan dapat dirumuskan berdasarkan hasil penelitian dan rasional teori yang telah dipaparkan sebagai ketidakpercayaan diri yang mengakibatkan rasa takut yang terus-menerus, rasa kehilangan dan tidak berdaya, depresi, kecemasan, dan post traumatic stress disorder (PTSD), yang memunculkan penghindaran yang berlebihan, obsesif yang berlebihan, memaksa yang berlebihan dan perhatian yang berlebihan.

2. Masalah Sosial

Hasil penelitian yang dipaparkan Jordan et al. (2013:356) perempuan yang menjadi korban perdagangan meningkat di Amerika Serikat, dengan perkiraan antara 15.000 dan 50.000 korban per tahun. Menurut Khowaja et al. (2012:1-3) perempuan korban perdagangan secara fisik dipukuli, diserang secara seksual, mengalami trauma psikologis, dan kehilangan ekonomi untuk menciptakan ketergantungan pada pelaku perdagangan. Selanjutnya dalam pemahaman Kowaja et al, intervensi untuk mengekang perdagangan perempuan dapat dilakukan pada tiga tingkatan yaitu, pencegahan perdagangan, perlindungan korban, dan penuntutan pelaku perdagangan. Kurangnya kesadaran masyarakat umum tentang ancaman perdagangan perempuan terus menjadi masalah. Pencegahan dapat dilakukan melalui kampanye kesadaran masyarakat, dengan memasukkan kesehatan dan informasi perdagangan manusia ke dalam program pendidikan.

Eksploitasi seksual yang di alami para perempuan korban perdagangan ditempat pekerjaan membatasi mereka untuk bertemu dengan orang lain, kecuali

harus elaya i afsu ejat para ta u lelaki hidu g ela g . Para kor a

semestinya memandang dunia dan masa depan dengan mata bersinar, hidup aman tentram bersama perlindungan dan kasih sayang keluarganya, tiba-tiba harus tercabut masuk ke dalam situasi yang eksploitatif dan kejam, menjadi

33

korban sindikat perdagangan. Konsekuensi sosial yang dihadapi para perempuan korban perdagangan menurut Manjoo dan McRaith (2011:17) 25% dari korban di Liberia diceraikan suaminya, sementara 15% dari korban hamil. Hal tersebut

sebagai salah satu faktor penyebab ketidakpercayaan diri, yang mengakibatkan konsep diri dan harapan buruk, kritik diri, kurang percaya diri, dan banyak lagi yang dialami oleh perempuan korban perdagangan. Korban mengalami isolasi sosial, yang berfungsi sebagai strategi untuk perbudakan dan eksploitasi seksual. Sementara diperbudak, para korban terutama anak-anak biasanya kehilangan kesempatan pendidikan dan sosialisasi dengan teman sebayanya (Stotts & Ramey, 2011:46). Karena perdagangan perempuan tampaknya mengorbankan seluruh masyarakat, anak dan wanita, isolasi sosial merupakan upaya untuk mencegah mereka mendapatkan pendidikan dan meningkatkan kerentanan masa depan mereka untuk diperdagangkan.

Menurut Chatterjee et al. (Wickham, 2009:12,13), persoalan sosial yang sangat tragis dan semakin meningkatkan harga diri spiritual yang rendah para perempuan korban perdagangan adalah ketika keluarga dan masyarakat menolak untuk menerima mereka kembali. Para pria sering melihat perempuan korban perdagangan sebagai orang yang kotor, telah ternodai dan karena itu menolak untuk menikahi mereka. Diskriminasi terhadap para perempuan korban perdagangan terjadi dalam berbagai sektor dan berbagai bentuk. Kenyataan ini telah menggugah rasa kemanusiaan dari berbagai pihak untuk terus berjuang agar nilai-nilai kemanusiaan seperti keadilan dan kesederajatan bisa diwujudkan.

Ketidakpercayaan diri perempuan korban perdagangan adalah membenci dan menyalahkan diri, selalu melihat diri jelek, buruk karena merasa tidak berharga, tidak berguna dan tidak bermakna. Hal tersebut mengakibatkan sikap apatis, skeptis seperti yang diungkapkan Frankl dalam buku "Der Mensch Leidende" (Marshall, 2011:55) menguraikan empat jenis sikap yang dapat menyebabkan perilaku tidak sehat yang mengakibatkan ketidakpercayaan diri dan gangguan pada orientasi makna hidup sebagai berikut.

a) Sikap bersyarat. Sikap bersyarat merupakan sikap semu, karena memiliki tujuan hidup hanya untuk mencapai kepuasan dan kesenangan hidup belaka. Ketika tujuan hidup tidak tercapai, individu mengalami kepahitan, keputusasaan hidup, cenderung menyalahkan diri dan menarik diri atas masalah yang menimpanya.

34

b) Sikap fatalistik. Sikap fatalistik diwujudkan dalam asumsi bahwa segala sesuatu ditentukan oleh kehendak dan kemampuan manusia. Sikap ini dimanifestasikan dengan pandangan sinis dan pesimis terhadap kehidupan, sulit berempati dengan orang lain, tidak bertanggung jawab, tidak aktif, sulit kontrol diri, bahkan cendrung melakukan hal-hal yang menghancurkan hidupnya secara fatal, seperti bunuh diri. Sikap ini justru, hampir mewarnai perilaku korban perdagangan perempuan.

c) Sikap fanatik. Sikap fanatic cenderung meningkatkan nilai relatif terhadap tingkat absolut.Dalam pemikiran orang fanatik, nilai relatif meningkat menjadi ideal, maksudnya ketika orang mengalami situasi beresiko tinggi yang hanya segelintir atau sebagian tubuh yang cidera, dianggapnya telah menghancurkan hidupnya dan tidak dapat utuh seperti semula lagi (pemikiran ideal). Menurut Lukas (Marshall, 2009:55) fanatisme pertanda krisis emosional setiap kali nilai yang dipilih hilang dan dianggapnya tidak dapat diraih lagi.Sikap ini justru banyak terjadi dalam kehidupan para korban perdaganganperempuan.

d) Sikap kolektif. Sikap kolektif mengakui pendapat mayoritas sejauh hal itu membatalkan individualitas sendiri dan tanggung jawab pribadi. Sikap kolektifitas para perempuan korban perdagangan sebagai suatu reaksi buruk bagi dirinya menjadikan sosok para korban kehilangan makna dan tujuan hidup, harkat dan martabat bahkan harga dirinya direndahkan, dan karena itu cenderung menarik diri, menjauhkan diri, mengisolasikan diri dalam hubungan dengan orang lain.

Dampak sosial terhadap para perempuan korban perdagangan dapat dirumuskan berdasarkan hasil penelitian dan rasional teori yang telah dipaparkan sebagai perampasan hak kerja dan ekonomi, diskriminasi gender dan ketidaksetaraan dalam pendidikan,isolasi sosial dan penolakan oleh keluarga serta masyarakat mengakibatkan, ketidakpercayaan diri, kehilangan penghargaan terhadap dirinya memunculkan sikap bersyarat, sikap fatalistik, sikap fanatik dan sikap kolektif sebagai ancaman terhadap kompetensi diri para korban yang mengalami kekerasan fisik, psikis dan seksual.

3. Masalah Kesehatan Fisik

Menurut Stotts & Ramey (2011:47) secara fisik, cedra aktual para perempuan korban perdagangan karena sering mengalami kekerasan fisik dan seksual. Para perempuan korban perdagangan dirugikan dengan berbagai metode

35

ya g digu aka pelaku perdaga ga u tuk ko disi ereka, ter asuk edera

aktual, pemerkosaan, pemerkosaan geng, ancaman untuk menyakiti korban atau keluarga korban, kronis pada pendengaran, dan kardiovaskular atau masalah pernapasan yang disebabkan oleh penyiksaan, trans-seksual dan memaksa penggunaan narkoba.

Beyrer et al (2003:106) mengungkapkan bahwa eksploitasi seksual terhadap para perempuan korban perdagangan berdampak pada kehamilan korban, infertility sebagai akibat infeksi kronis menular seksual yang tidak diobati atau gagal atau melakukan aborsi tradisional bukan oleh para medis dan tanpa perawatan medis. Belum lagi penyakit yang tidak terdeteksi atau tidak diobati, seperti diabetes atau kanker, sebagai ancaman masa depan para korban. Penyalahgunaan zat (obat-obatan terlarang) sebagai sarana untuk mengatasi situasi depresi korban sekaligus sebagai strategi pelaku perdagangan menundukkan korban untuk melakukan eksploitasi seksual.

Dampak kesehatan fisik terhadap para perempuan korban perdagangan dapat dirumuskan berdasarkan hasil penelitian dan rasional teori yang telah dipaparkan sebagai kesehatan reproduksi, penyalahgunaan zat, cedera actual, sebagai ancaman terhadap ketidakpercayaan diri dan integritas diri para korban yang mengalami kekerasan fisik, psikis dan seksual.

DAFTAR PUSTAKA

Dalam dokumen M01577 (Halaman 29-35)

Dokumen terkait