• Tidak ada hasil yang ditemukan

Secara fisik bentuk pengajaran ini ialah berjumlah terbatas, yaitu berkisar antara 3 sampai

8 orang untuk kelompok kecil, dan seorang untuk perseorangan. Pengajaran kelompok

kecil dan perseorangan memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap siswa

serta terjadinya hubungan yang lebih akrab antara guru dan siswa dengan siswa. Format

antara guru dengan siswa, adanya kesempatan bagi siswa untuk belajar sesuai dengan

kemampuan, minat, cara, dan kecepatannya, adanya bantuan dari guru, adanya

keterlibatan siswa dalam merancang kegiatan belajarnya, serta adanya kesempatan bagi

guru untuk memainkan berbagai peran dalam kegiatan pembelajaran. Setiap guru dapat

menciptakan format pengorganisasian siswa untuk kegiatan pembelajaran kelompok kecil

dan perorangan sesuai dengan tujuan, topik (materi), kebutuhan siswa, serta waktu dan

fasilitas yang tersedia. Komponen-komponen dan prinsip-prinsip ketrampilan ini

adalah: Ketrampilan mengadakan pendekatan secara pribadi, Ketrampilan

mengorganisasi, ketrampilan membimbing dan memudahkan belajar, Ketrampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar, Keterampilan merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran.

C. FAKTOR PENENTU PEMBELAJARAN BERKUALITAS.

Kriteria pendidikan yang berkualitas tidak bisa lepas dari pengaruh faktor-faktor atau komponen-komponen antara lain adalah siswa, guru, kurikulum, sarana dan prasarana, pengelolaan sekolah, proses belajar mengajar, pengelolaan dana supervise dan monitoring, serta hubungan sekolah dan masyarakat.

Secara lebih rinci faktor-faktor itu dijelaskan oleh Djauzak Ahmad sebagai berikut :

1) Siswa meliputi :

Kemampuan disini artinya secara jasmani dan rohani mampu untuk mengikuti sistem pembelajaran. Siswa yang jasmaninya kurang sehat atau bahkan tidak normal maka hal itu akan menghambat jalannya proses pembelajaran kecuali jika dimasukkan ke sekolah-sekolah tertentu yang memang sesuai dengan keadaannya.

b. Lingkungan

Baik dan tidaknya lingkungan siswa sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangannya. Lingkungan tersebut meliputi lingkungan sosial ekonomi dna budaya seperti keluarga dan lebih luas lagi masyarakat, termasuk juga lingkungan alam atau keadaan geografis dimana dia tinggal.

2) Guru meliputi :

a. Kemampuan

Seperti halnya siswa, maka guru pun sama, ia harus memiliki kemampuan baik secara jasmani maupun rohani agar pengajaran dapat dilaksanakan dengan lancer, dan memiliki implikasi yang positif terhadap hasil pembelajaran.

b. Latar belakang pendidikan

Setiap jenjang pendidikan yang dilalui oleh seorang adalah sebuah pembekalan baik untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi maupun untuk diimplementasikan kedalam sebuah pekerjaan. Demikian pula ketika seseorang akan

menjadi seorang guru, selayaknya ia memang berkompeten dibidangnya dan telah mendapatkan semua Ijazah yang baik dan sesuai dengan bidangnya.

c. Pengalaman kerja

Menurut Ngalim Purwanto, “Pada umumnya setiap guru baru, apalagi yang baru menyelesaikan pendidikan di sekolah guru dan langsung bekerja, akan merasa banyak kekurangan, terutama dalam pengalaman, dibandingkan dengan guru-guru senior yang lebih banyak pengalaman. Akan tetapi, kita tidak boleh beranggapan bahwa setiap guru yang sudah lama mengajar, mungkin juga sebaliknya, guru baru itu memiliki pengetahuan yang lebih luas dan up to date dan sangat berguna bagi perkembangan dan kemajuan di sekolah”.

d. Beban belajar

Beban belajar disini maksudnya adalah bahwa setiap orang yang mengajar bukan berarti ia berhenti belajar tetapi justru ia harus belajar dan lebih banyak lagi mencari informasi pendidikan demi kemajuan dirinya dan yang dididiknya.

e. Kondisi sosial ekonomi

Kondisi sosial ekonoi seorang guru idealnya memang harus baik karena hal itu akan lebih meningkatkan konsentrasinya dalam mengajar, jika tidak maka akan berimplikasi negatif terhadap siswa. Walaupun ada saja guru yang tidak mementingkan ekonomi, tetapi itu hanya sebagian kecil.

Menurut Muhaimin; “Seorang guru agama itu perlu memiliki semangat jihad dalam menjalankan profesinya sebagai guru agama, dan memiliki kepribadian yang matang dan berkembang Profesionalim is predominantly an attitude, not a set of competencies, yakni seperangkat kompetensi professional yang dimiliki oleh guru agama adalah penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah sikap atau etos profesionalisme dari guru agama itu sendiri.”

g. Komitmen

Sikap malas, lemahnya kesadaran terhadap waktu dan kebiasaan atau jiwa hidup santai pada hidup seseorang akan berimplikasi pada sikap sembrono (acuh tak acuh) dalam bekerja, kurang peduli terhadap proses dan hasil kerja yang bermutu, suka memandang enteng bentuk-bentuk kerja yang dilaksanakannya, kurang sungguh-sungguh dan teliti, tidak efisien dan efektif, kurang memiliki dinamika dan komitmen yang tinggi terhadap pekerjaan. Jika sikap semacam itu sudah melekat pada diri seorang guru, maka pendidikan akan semakin kurang memberikan makna bagi pembangunan wawasan, sikap dan mental yang religius bagi para siswa.

h. Disiplin dan kreatifitas

Seorang guru yang disiplin maka ia komitmen dengan tugasnya, sehingga ia selalu siap mengembangkan profesi yang berkesinambungan, agar ilmu dan keahliannya tidak cepat tua. Seorang guru yang kreatif maka ia cenderung memiliki nilai nilai sendiri dalam hati setiap siswa.

Pendidikan agama Islam menurut muhamimin menghadapi trend yang menyangkut beberapa kekuatan global yang hendak membentuk dunia masa depan, yaitu :

a. Kemajuan IPTEK dalam bidang informasi serta inovasi-inovasi didalam teknologi yang mempermudah kehidupan manusia

b. Masyarakat yang serba kompetitif; dan

c. Meningkatkan kesadaran terhadap hak-hak asasi manusia dalam kehidupan bersama, dan semakin meningkatkannya kesadaran bersama dalam alam demokrasi.Atas dasar itu, maka wajar bilamana kurikulum Pendidikan Agama Islam pada semua jenjang pendidikan perlu ditinjau kembali dan ditelaah ulang guna mengantisipasi berbagai trend dan tantangan tersebut.

4) Sarana dan Prasarana

Untuk mendapatkan kelancaran dalam proses belajar mengajar yang telah direncanakan, maka sarana dan prasarana harus lengkap. Sarana dan prasarana tersebut meliputi :

a. Alat Peraga

Dengan adanya alat peraga maka setiap pelajaran akan lebih mudah dipahami oleh siswa karena materi dilengkapi dengan alat peraga yang ditampilkan secara visual.

b. Alat Praktek

Di dalam pembelajaran dikenal istilah pendekatan proses, ini artinya siswa akan lebih mengerti, jika sebuah teori tidak hanya dijelaskan secara lisan saja, tetapi dibarengi

dengan praktek. Dengan demikian maka tersedianya alat praktek adalah suatu kelaziman.

c. Laboratorium

Mata pelajaran seperti fisika, dan kimia, akan lebih mudah diserap jika langsung dipraktekkan disebuah laboratorium

d. Perpustakaan

Perpustakaan di samping sebagai pusat sumber informasi pendidikan, juga berfungsi sebagai alat motivator bagi minat dan semangat membaca siswa.

e. Ruang ketrampilan

Dalam menggali kreatifitas siswa alangkah baiknya jika tersedia ruang khusus untuk praktek ketrampilan siswa sebagai sarana penunjang keberhasilan siswa.

f. Ruang UKS

Ruang ini menjadi sarana penunjang bagi kelancaran pengelolaan kesehatan dalam lembaga pendidikan.

g. Ruang Kantor

Ruang kantor ini menjadi sarana penunjang bagi kelancaran segala administrasi mulai dari administrasi guru sampai pada administrasi kepegawaian Ruang itu terdiri dari :

kantor kepala sekolah, kantor dewan guru, kantor OSIS, kantor pramuka, dan kantor BP.

h. Gedung dan perabot

Sebaiknya gedung tempat dimana terselenggaranya sebuah pendidikan walaupun tidak terlalu mewah, tetapi mampu menampung seluruh siswa sesuai dengan kapasitas dan kelayakannya sehingga sebuah pembelajaran dapat berjalan dengan kondusif.

5) Pengelolaan sekolah

a. Pengelolaan kelas

Situasi dan kondisi kelas juga ikut menentukan keberhasilan sebuah proses pengajaran, oleh karena itu kelas haruslah kondusif dan nyaman, maka diperlukan pengelolaan yang baik. Kelas yang tidak teratur dan tidak terurus membuat penghuninya tidak akan betah dan kurang nyaman dalam belajar.

b. Pengelolaan guru

Pengelolaan guru sangat penting sekali karena hal ini berkaitan dengan pengaturan jadual pengajaran secara tepat dalam setiap periode. Sehingga proses belajar mengajar bisa berjalan dengan lancar.

Pengelolaan siswa tidak dapat dianggap mudah, terutama bagi lembaga pendidikan yang memiliki siswa cukup banyak.

d. Pengelolaan sarana dan prasarana

Pengelolaan sarana dan prasarana bertujuan agar segala sarana dan prasarana yang sudah ada tetap terawatt dengan baik kondisinya, juga untuk meningkatkan sarana yang menjadi lebih baik lebih lengkap lagi.

e. Peningkatan tata tertib

Dalam sebuah lembaga pendidikan sebaiknya memiliki tata terti yang telah disepakati oleh semua pihak sebagai satu acuan kedisiplinan dalam belajar, bekerja, sehingga dapat berimplikasi baik terhadap peningkatan kualitas pendidikan.

6) Proses belajar mengajar meliputi :

a. Penguasaan materi

Akan sangat baik sekali jika seorang guru sebelum ia melaksanakan sebuah proses belajar mengajar ia sudah menguasai terlebih dahulu tentang materi yang akan dibahas, dan juga menguasai kurikulum secara keseluruhan. Dengan demikian pengajaran dapat dilaksanakan dengan mudah tanpa harus melihat buku terus-menerus.

b. Menggunakan metode pengajaran

Ketetapan dalam menggunakan setiap metode pengajaran sangatlah penting sekali karena berkaitan dengan pencapaian tujuan pada akhir proses pembelajaran

c. Penampilan guru

Dalam proses belajar mengajar guru menjadi pusat perhatian siswa, maka sebaiknya guru berpenampilan baik tetapi juga sederhana atau tidak berlebihan, karena jika berlebihan justru akan membuat konsentrasi siwa menjadi terbagi, atau justru kehilangan konsentrasi

d. Pendayagunaan alat/fasilitas

Setiap alat atau fasilitas yang tersedia sebaiknya dapat dimanfaatkan secara tepat dan sesuai dengan kebutuhan.Agar tidak enjadi kemubadziran yang berdampak negative dan menghambat kelancaran proses pembelajaran.

e. Penyelenggaraan proses belajar mengajar

1) Kurikululer, harus direncanakan dengan matang dalam persiapan harian (PH) harus direncanakan dengan Rencana Pengajaran/satuan pengajaran, sehignga dapat menggunakan waktu seefektif mungkin.

2) Ekstra kurikuler, yang diselenggarakan sebagai penunjang keberhasilan siswa dalam meningkatkan prestasi belajar dan pelaksanaannya dibimbing oleh guru supaya teratur dan terarah.

3) Evaluasi, sebagai alat untuk mengukur sampai dimana kemampuan siswa dalam memahami seluruh materi yang telah disampaikan.

7. Pengelolaan dana

a. Perencanaan anggaran

Tidak dapat dipungkiri, bahwa dana merupakan bagian yang menentukan maju mundurnya sebuah lembaga pendidikan, pengelola sekolah harus mampu mengelola dana dengan baik, diantaranya dalam merencanakan anggaran mulai dari anggaran pemasukan sampai pada pengeluaran.

b. Penggunaan dana

Sebaiknya dana yang telah dianggarkan untuk setiap periode, digunakan secara professional dan pada tempatnya. Disamping itu harus ada transfrasi dana

c. Laporan

Agar ada transfarasi keuangan maka setiap pemasukan dan pengeluaran harus dilaporkan dan diinformasikan dalam laporan pertanggungjawaban

d. Pengawasan

Agar proses pengaturan atau manajemen tetap berjalan dengan baik maka harus diadakan pengawasan dalam pelaksanaannya.

8. Supervisi dan Monitoring

a. Kepala Sekolah sebagai supervisor

Kepala sekolah, di samping sebagai administrator yang pandai mengatur dan bertanggung jawab tentang kelancaran jalannya sekolah sehari-hari, juga adalah seorang supervisor. Kepala sekolah bukanlah kepala kantor yang selalu duduk dibelakang meja memandangi surat-surat dan mengurus soal-soal administrasi belaka. Jika kepa seklah dapat melaksanakan tugasnya sebagai supervisor agaknya setiap sekolah akan berangsur-angsur maju dan berkembang.

b. Pembina lainnya

Sekolah bukan hanya menjadi tanggung jawab kepala sekolah saja, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama. Maju mundurnya sebuah lembaga adalah juga ditentukan semua pihak yang terlibat dalam sebuah lembaga pendidikan. Kekompakan setiap individu akan berpengaruh terhadap peningkatan kualitas pendidik.

9. Hubungan sekolah dengan masyarakat

a. Hubungan sekolah dengan orang tua

Antara sekolah dengan Orang tua perlu terjalin sebuah kerja sama agar proses pendidikan anak tidak berjalan di sekolah saja, atau sebaliknya. Kerja sama ini bisa

berupa kerja sama dalam pengembangan dan pembinaan kurikulum, kerja sama dalam pembiayaan pendidikan seperti penyediaan tenaga kependidikan, maupun sarana dan prasarana

b. Hubungan sekolah dengan Instansi Pemerintah

Hubungan sekolah dengan Instansi pemerintah sangat penting untuk dijalin, seperti kerja sama educatif. Hal tersebut menjadi penunjang keberhasilan siswa dalam belajar.

c. Hubungan sekolah dengan dunia usaha

Salah satu tujuan dari sebuah pendidikan adalah memenuhi tuntunan dunia usaha. Untuk mengetahui perkembangan maka harus ada kerja sama antara lembaga pendidikan dengan dunia usaha.

d. Hubungan sekolah dengan pendidikan lainnya

Salah satu tujuan menjalin hubungan dengan lembaga pendidikan lain adalah sebagai bahan perbandingan dalam mengevaluasi kualitas pendidikan, dengan demikian kita bisa mengetahui dimana letak kekurangan dan kelebihan proses pendidikan di lembaga kita.

D. KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH

Dalam satuan pendidikan, kepala sekolah menduduki dua jabatan penting untuk bisa

perundang-undangan. Pertama, kepala sekolah ada-lah pengelola pendidikan di sekolah

secara keseluruhan. Kedua, kepala sekolah adalah pemimpin formal pendidikan di

sekolahnya.

Sebagai pengelola pendidikan, berarti kepala sekolah bertanggungjawab terhadap

keberhasilan penyelenggaraan kegiatan pendidikan dengan cara melaksanakan administrasi

sekolah dengan seluruh substansinya. Disamping itu kepala sekolah bertanggung jawab

terhadap kualitas sumber daya manusia yang ada agar mereka mampu menjalankan

tugas-tugas pendidikan. Oleh karena itu, sebagai pengelola, kepala sekolah memiliki tugas-tugas untuk

mengembangkan kinerja para personal (terutama para guru) ke arah profesionalisme yang

diharapkan.

R. Soekarto Indrafachrudi (2006:2) mengartikan “Kepemimpinan adalah suatu kegiatan dalam

membimbing suatu kelompok sedemikian rupa sehingga tercapailah tujuan itu”. Kemudian

menurut Maman Ukas (2004:268) “Kepemimpinan adalah kemampuan yang dimiliki oleh

seseorang untuk dapat mempengaruhi orang lain, agar ia mau berbuat sesuatu yang dapat

membantu pencapaian suatu maksud dan tujuan”. Sedangkan George R. Terry dalam Miftah

Thoha (2003:5) mengartikan bahwa “Kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi

orang-orang supaya diarahkan mencapai tujuan organisasi”.

Miftah Thoha (2003:5) mengartikan bahwa “Kepemimpinan adalah aktivitas untuk

mempengaruhi orang-orang supaya diarahkan mencapai tujuan organisasi”.

Sebagai pemimpin formal, kepala sekolah bertanggung jawab atas tercapainya tujuan

yang telah ditetapkan. Dalam hal ini kepala sekolah bertugas melaksanakan fungsi-fungsi

kepemimpinan, baik fungsi yang berhubungan dengan pencapaian tujuan pendidikan maupun

penciptaan iklim sekolah yang kondusif bagi terlaksananya proses belajar mengajar secara

efektif dan efisien.

Model kepemimpinan yang diterapkan oleh Kepala sekolah sebagai pemimpin di sekolah,

memegang peranan sangat penting dan menentukan dalam meningkatkan kualitas pengelolaan

pembelajaran, mengingat kepala sekolah sebagai penentu dan pengambil kebijakan tertinggi

di sekolah. Dalam kaitan ini, kepala sekolah diharapkan memiliki kemampuan menerapkan

model kepemimpinan yang tepat, sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah yang dipimpin.

Kepala sekolah diharapkan mampu mempengaruhi guru – guru yang menjadi bawahannya.

Hal tersebut sejalan dengan pengertian kepemimpinan, yaitu ”cara seorang pemimpin untuk

mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan dan menggerakkan bawahan untuk

mencapai tujuan yang telah ditetapkan” (Depdikbud,1999).

Tiong (dalam Usman, 2011: 290) menemukan dalam penelitiannya tentang karakteristik

perilaku kepala sekolah yang efektif antara lain sebagai berikut.

1. Kepala sekolah yang adil dan tegas dalam mengambil keputusan

2. Kepala sekolah yang membagi tugas secara adil kepada guru

3. Kepala sekolah yang menghargai partisipasi staf

4. Kepala sekolah yang memahami perasaan guru

5. Kepala sekolah yang memiliki visi dan berupaya melakukan perubahan

6. Kepala sekolah yang terampil dan tertib

8. Kepala sekolah yang memiliki dedikasi dan rajin

9. Kepala sekolah yang tulus

10. Kepala sekolah yang percaya diri

E. SUPERVISI AKADEMIK

1. Pengertian Supervisi Akademik.

Ketrampilan utama dari seorang pengawas adalah melakukan penilaian dan pembinaan

kepada guru untuk secara terus menerus meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang

dilaksanakan di kelas agar berdampak pada kualitas hasil belajar siswa. Untuk dapat

mencapai kompetensi tersebut pengawas diharapkan dapat melakukan pengawasan

akademik yang didasarkan pada metode dan teknik supervisi yang tepat sesuai dengan

kebutuhan guru.

Supervisi akademik yang baik harus mampu membuat guru semakin kompeten, yaitu guru

semakin menguasai kompetensi, baik kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik,

kompetensi profesional, dan kompetensi sosial.

Glickman (1981), mendefinisikan supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan untuk

membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi

pencapaian tujuan pembelajaran. Supervisi akademik merupakan upaya membantu

guru-guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pembelajaran. Dengan demikian,

berarti, esensi supervisi akademik itu sama sekali bukan menilai unjuk kerja guru dalam

mengelola proses pembelajaran, melainkan membantu guru mengem- bangkan

2. Prinsip-prinsip Supervisi Akademik.

Prinsip-prinsip supervisi akademik modern yang harus direalisasikan pada setiap proses

supervisi akademik di sekolah-sekolah, yaitu sebagai berikut.

a. Supervisi akademik harus mampu menciptakan hubungan kemanusiaan yang

harmonis, bersifat terbuka, kesetiakawanan, dan informal. Hubungan demikian ini

bukan saja antara supervisor dengan guru, melainkan juga antara supervisor dengan

pihak lain yang terkait dengan program supervisi akademik.

b. Supervisi akademik harus dilakukan secara berkesinambungan. Supervisi akademik

bukan tugas bersifat sambilan yang hanya dilakukan sewaktu-waktu jika ada

kesempatan. Apabila guru telah berhasil mengembangkan dirinya tidaklah berarti

selesailah tugas supervisor, melainkan harus tetap dibina secara berkesinambungan.

Hal ini logis, mengingat problema proses pembelajaran selalu muncul dan

berkembang.

c. Supervisi akademik harus demokratis. Supervisor tidak boleh mendominasi

pelaksanaan supervisi akademiknya. Titik tekan supervisi akademik yang demokratis,

aktif dan kooperatif. Supervisor harus melibatkan secara aktif guru yang dibinanya.

Tanggung jawab perbaikan program akademik bukan hanya pada supervisor

melainkan juga pada guru. Karena itu, program supervisi akademik sebaiknya

direncana- kan, dikembangkan dan dilaksanakan bersama secara kooperatif dengan

d. Program supervisi akademik harus integral dengan program pendidikan secara

keseluruhan. Dalam upaya perwujudan prinsip ini diperlukan hubungan yang baik dan

harmonis antara supervisor dengan semua pihak pelaksana program pendidikan.

e. Supervisi akademik harus komprehensif. Program supervisi akademik harus mencakup

keseluruhan aspek pengembangan akademik, walaupun mungkin saja ada penekanan

pada aspek-aspek tertentu berdasarkan hasil analisis kebutuhan pengembangan

akademik sebelumnya.

f. Supervisi akademik harus konstruktif. Supervisi akademik bukanlah untuk mencari

kesalahan-kesalahan guru, melainkan untuk mengembangkan pertumbuhan dan

kreativitas guru dalam memahami dan memecahkan problem-problem akademik yang

dihadapi.

g. Dalam menyusun, melaksanakan, dan mengevaluasi, keberhasilan program supervisi

akademik harus obyektif berdasarkan kebutuhan nyata pengembangan profesional

guru

3. Pendekatan Supervisi akademik.

Menurut Sahertian (Sahertian, 2000:44-52). pendekatan yang digunakan dalam

melaksanakan supervisi akademik, ada 3, yaitu:

a. Pendekatan Langsung (Direktif)

Pendekatan direktif adalah cara pendekatan terhadap masalah yang bersifat langsung.

lebih dominan. Oleh karena guru ini mengalami kekurangan, maka perlu diberikan

rangsangan agar ia bisa bereaksi. Supervisor dapat menggunakan penguatan

(reinforcement) atau hukuman (punishment). Pendekatan seperti ini dapat dilakukan

dengan perilaku supervisor adalah: menjelaskan, menyajikan, mengarahkan, memberi

contoh, menetapkan tolak ukur, dan menguatkan.

b. Pendekatan Tidak Langsung (Non-direktif)

Pendekatan tidak langsung (non-direktif) adalah cara pendekatan terhadap

permasalahan yang sifatnya tidak langsung. Perilaku supervisor tidak secara langsung

menunjukkan permasalahan, tapi ia terlebih dulu mendengarkan secara aktif apa yang

dikemukakan guru-guru. Ia memberi kesempatan sebanyak mungkin kepada guru

untuk mengemukakan permasalahan yang mereka alami. Guru mengemukakan

masalahnya supervisor mencoba mendengarkan, memahami, apa yang dialami

guru-guru. Perilaku supervisor dalam pendekatan non-direktif adalah: mendengarkan,

memberi penguatan, menjelaskan, menyajikan, dan memecahkan masalah

c. Pendekatan Kolaboratif

Yang dimaksud dengan pendekata koplaboratif adalah cara pendekatan yang

memadukan cara pendekatan direktif dan non–direktif menjadi pendekatan baru. Pada

pendekatan ini baik supervisor maupun guru bersama-sama, bersepakat untuk

menetapkan struktur, proses dan kriteria dalam melaksanakan proses percakapan

terhadap masalah yang dihadapi guru. Dengan demikian pendekatan dalam supervisi

supervisor adalah sebagai berikut: menyajikan, menjelaskan, mendengarkan,

memecahkan masalah, dan negosiasi.

4. Metode Supervisi Akademik.

Terdapat dua metode supervisi akademik yang dapat dilakukan pengawas. Metode-metode

tersebut dibedakan antara yang bersifat individual dan kelompok. Pada setiap metode

supervisi tentunya terdapat kekuatan dan kelemahan.

Metode supervisi individual adalah pelaksanaan supervisi yang diberikan kepada guru

tertentu yang mempunyai masalah khusus dan bersifat perorangan. Supervisor di sini

hanya berhadapan dengan seorang guru yang dipandang memiliki persoalan tertentu.

Metode supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang

ditujukan pada dua orang atau lebih. Guru-guru yang diduga, sesuai dengan analisis

kebutuhan, memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan-kelemahan yang sama

dikelompokkan atau dikumpulkan menjadi satu/bersama-sama. Kemudian kepada mereka

diberikan layanan supervisi sesuai dengan permasalahan atau kebutuhan yang mereka

hadapi.

5. Teknik Supervisi Akademik.

Ada bermacam-macam teknik supervisi akademik dalam upaya pembinaan kemampuan

guru. Dalam hal ini meliputi pertemuan staf, kunjungan supervisi, buletin profesional,

perpustakaan profesional, laboratorium kuriku- lum, penilaian guru, demonstrasi

pembelajaran, pengembangan kurikulum, pengambangan petunjuk pembelajaran,

masyarakat-sekolah. Sedangkan menurut Gwyn, teknik-teknik supervisi itu bisa dikelompokkan

menjadi dua kelompok, yaitu. teknik supervisi individual dan teknik supervisi kelompok.

a. Teknik Supervisi Individual

Teknik-teknik supervisi yang dikelompokkan sebagai teknik individual meliputi:

kunjungan kelas, observasi kelas, pertemuan individual, kunjungan antarkelas, dan

menilai diri sendiri. Berikut ini dijelaskan pengertian-pengertian dasarnya secara

singkat satu persatu.

1) Kunjungan Kelas

Kunjungan kelas adalah teknik pembinaan guru oleh kepala sekolah, pengawas,

Dokumen terkait