ANGGOTA F-PDIP (H. IRMADI LUBIS) :
Jadi bukan 104 itu tidak ada tetapi seharusnya menjadi satu dengan 105.
KETUA RAPAT :
104 kosong, menjadi 105 ya?
ANGGOTA F-PDIP(H. IRMADI LUBIS) :
Diturunkan menjadi bagian menjadi Dim 105 Pak. Jadi Dim 104 itu ditambahkan langsung ke Dim 105 karena tadinya tidak ada Dim 104 itu. Jadi, Dim 105 itu pertamanya itu adalah yang Dim 104 itu, asas itu.
KETUA RAPAT :
Ya maksudnya yang usulan PDIP di Dim 104 yaitu tentang a itu masuk ke Dim 105?
Saik, kalau begitu kita masuk ke Dim 105 dengan tambahan a dari PDIP.
Segitu? Dim 104 tidak ada, Dim 104 di ketok tidak ada ya?
(RAPAT : SETUJU) Saik, sekarang Dim 105. didalam naskah RUU :
ARSIP
DAN
DOKUMENTASI
a. Membuka kesempatan yang sama bagi penanam modal asing dan penanam modal dalam negeri titik dua (:) dan
Fraksi Partai Golkar setelah perubahan :
a. Membuka kesempatan yang sama dan atau adil bagi penanam modal asing dan penanam modal dalam negeri. Ditambah kata adil ya.
Fraksi PDIP ya a dan b. a mengambil dari atas.
a. Menerapkan prinsip tidak membedakan asal negara penanam modal asing.
b. Memberikan pelayanan yang sama bagi penanam modal asing dan penanam modal dalam negeri.
Alternatifnya, kalau masuk Panja, memberikan kesempatan yang sama bagi penanam modal asing dan penanam modal dalam negeri dengan tetap memperhatikan perbedaan tingkat daya saing perekonomian dalam negeri dengan perekonomian negara penanam modal asing berasal.
Fraksi PPP, setelah perubahan :
a. membuka kesempatan yang sama dan adil bagi penanam modal asing dan penanam modal dalam negeri ya.
Menambah kata adil ya. Ini nampaknya bersaing.
Fraksi Partai Demokrat setelah perubahan, sama dengan Pemerintah.
Fraksi PAN, dihapus. Kebangkitan Bangsa setelah perubahan saya baca, membuka kesempatan yang sama bagi penanam modal asing dan penanam modal dalam negeri kecuali untuk sektor dan daerah tertentu yang ditetapkan lain menurut Undang-undang ini.
Fraksi PKS, setelah perubahan :
a. membuka kesempatan yang adil bagi penanam modal asing dan penanam modal dalam negeri : dan
Fraksi BPD setelah perubahan saya baca :
a. membuka kesempatan bagi penanam modal asing dan penanam modal dalam negeri ; berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Fraksi PDS, huruf a ditambahkan termasuk dalam hal fasilitas bidang usaha yang boleh dimasuki persyaratan yang harus dipenuhi dalam proses perijinan.
Kami beri kesempatan Fraksi Partai Golkar, silakan.
ANGGOTA F-PG (RAMBE KAMARULZAMAN, MSc):
Saya kira singkatnya disini adalah penekanan dalam hal kesempatan yang sama itu ditambah dengan kata adil dan atau. Jadi, memang kesempatan yang sama dan atau adil harus kita berikan kesempatan dalam rangka penanaman modal, asing dan dalam negeri itu tetapi jika kita artikan pengertian ini memang bisa berbeda-beda. Oleh karena itu, beberapa hal disini hanya dua pendapat saja, saya kira tinggal perumusan saja kalau menurut kami, dengan penambahan dan atau adil ini adalah sudan jalan tengah dari pendapat-pendapat yang sudah diajukan oleh Fraksi-fraksi lain.
Terima kasih.
KETUA RAPAT : Baik, terima kasih.
Fraksi PDIP silakan.
ARSIP
DAN
DOKUMENTASI
ANGGOTA F-PDIP (IR. HASTO KRISTIYANTO, MM) : Terima kasih Pimpinan.
Ini yang memang Pasal menurut kami sangat substansial dan cukup penting untuk kita bahas bersama, kami memahami ide-ide dari Fraksi-fraksi yang Jain. Sebelumnya kami ingin memberikan penjelasan usulan dari PDI Perjuangan terlebih dahulu bahwa ini merupakan suatu aspirasi yang juga kami tangkap dari dinamika yang ada di masyarakat misalnya dari F-PKS itu mengharapkan tidak adanya pembedaan antara Palestina dan Amerika seperti itu dengan Iran dan sebagainya. Dari Bang Fahmi Menteri Perindustrian, kami mendengar juga ada peraturan dari keputusan Menteri Perindustrian yang tidak efektif berkaitan dengan penentuan evaluasi tender-tender yang terkait dengan perbedaan daya saing perekonomian nasional kita dengan daya saing perekonomian luar negeri. Misalnya juga terkait dengan costofmoneysehingga PAL akan sangat sulit bersaing dengan yang lain. Kalau itu cost ofmoneyyang merupakan salah satu tolak ukur daya saing perekonomian suatu Negara itu juga dijadikan sebagai parameter didalam evaluasi.
Dengan demikian, jujur saja kami khawatir apabila kata-kata kesempatan yang sama ini dipadukan dengan penanam modal asing dan penanam modal dalam negeri lebih-Iebih dengan memasukkan kata adil ini bisa bersayap dan bisa di persepsikan berbeda di tingkat pelaksanaannya. Sementara kondisi-kondisi yang ada jauh adanya efisiensi yang berkeadilan dalam konteks demokrasi ekonomi itu ada suatu hal yang secara fundamental sebenarnya berbeda, karena itulah kami mengusulkan modifikasi dari usulan Pemerintah ini dengan:
a. Menerapkan prinsip tidak membedakan asal negara penanam modal asing, ini untuk membedakan bahwa antara RRC, antara Amerika Serikat, PaJestina dan sebagainya kita tidak bedakan, maka kita jelaskan menggunakan prinsip tidak membedakan asal negara penanam modal asing.
b. Kompensasinya juga kita ingin tegaskan bahwa kita ingin memberikan pelayanan yang sama bagi penanam modal asing dan bagi penanam modal dalam negeri. Jadi, yang datang itu nanti mau bule, mau orang Afrika dan sebagainya itu pelayanannya sama.
Disitulah yang sebenarnya kami usulkan atau suatu alternatif memberi kesempatan yang sama bagi penanam modal asing dan bagi penanam modal dalam negeri dengan tetap memperhatikan perbedaan daya saing perekonomian dalam negeri dengan perekonomian negara penanam modal asing berasal, Mungkin ini bisa kita benturkan dalam suatu realitas yang sederhana misalnya investasi terhadap carrefour misalnya atau misalnya jalur kereta api dari Bukit Asam yang menuju ke Pelabuhan-pelabuhan disitu, marketnya ada, off teckernya juga ada disitu perlu suatu infrastruktur. Dalam konteks seperti ini maka kalau ada suatu kesempatan dan kemudian aspek-aspek keadilan diterapkan, suatu niat baik dari Menteri BUMN yang ingin mensinergikan BUMN nanti bisa kalah dalam konteks seperti itu. Dengan demikian, usulan ini sebenarnya sekali lagi adalah mencoba menampung dari pihak-pihak lain namun pada prinsipnya rasanya kita ada suatu nafas untuk bersama-sama mencermati agar Pasal ini jangan dijadikan sebagai suatu dasar legalitas bagi yang lain terhadap kesempatan atas suatu peluang-peluang yang sebenarnya dalam negeri bisa tetapi karena berbagai rekayasa-rekayasa memungkinkan harus diambil oleh yang lain dengan alasan modal kita tidak ada, teknologi kita kurang dan sebagainya.
Itu sebagai suatu usulan dan penjelasan dari kami.
KETUA RAPAT:
Baik, saya kira fundamental tadi, silakan.
ARSIP
DAN
DOKUMENTASI
ANGGOTA F-PDIP (H. IRMADI LUBIS) : Pimpinan, tambahan.
Jadi, menurut pendapat kami dari Fraksi PDIP membuka kesempatan yang sarna bagi penanaman modal asing dan penanaman modal dalam negeri itu ada beberapa substansi yang saya kira perlu dijelaskan. Secara realitas dan kenyataan bahwa antara pelaku penanaman modal dalam negeri dengan pelaku penanaman modal asing itu jelas tidak sarna posisinya. Baik mengenai posisi mengenai bunga pinjaman saja, bunga modalnya, baik mengenai teknologinya.
Oleh karena itu dengan membuka kesempatan yang sarna bagi penanaman modal asing dan penanaman modal dalam negeri, kami beranggapan itu secara langsung menabrak ketentuan yang diatur oleh Pasal 33 Ayat (4). Asas efisiensi berkeadilannya dan berkelanjutannya itu akan tidak terpenuhi. Kalau dalam asas kita tidak boleh pelaku yang tidak sarna efisiennya diadu secara langsung seperti berkali-kali kita tidak akan mungkin mengadu juara kita Chris John itu dengan Petinju kelas berat Juara Amerika, itu sudah pasti, kita tidak akan mungkin mengadu itu.
Oleh karena itu, secara bijaksana, Pak Rambe dan Kawan-kawan itu sudah menginikan asas efisiensi berkeadilan dan berkelanjutan dari tujuh prinsip itu kalau kita buka perlakuan yang sarna itu akan tertabrak dan kemudian karena ini merupakan kebijakan dasar, kalau kita sudah mengatakan membukakan kesempatan yang sarna berarti kebijakan lanjutannya harus mengikuti, bagaimana dengan negatif list, kita masih mengenal negatif list, ada yang terbuka, ada yang tertutup bagi penanaman modal, ada yang tertutup bagi penanaman modal asing, terbuka bagi swasta kecil, ini berarti sudah, asas ini secara langsung akan dilanggar oleh kebijakan lanjutan yaitu kebijakan mengenai negatif list.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Saya kira ini mendasar ya, prinsip equality tidak harus membuka pintu semua ya. Kamar kita dan segala macam. Ini prinsip equality dan kemudian diusulkan Golkar adil dan kemudian disini adalah pelayanan. Prinsip equality tidak harus opportunity dibuka semua tetapi kita juga bertanya kepada Pemerintah dari PDIP tentang kesempatan yang sarna. Ini sangat mendasar.
Silakan Fraksi PPP.
ANGGOTA F-PPP (DRS. H. ZAINUT TAUHID SA'ADI) : Va, PPP siap untuk membahas lebih lanjut didalam Panja.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Baik, ada kata adil ya. Anda memborong kata adil dari tadi.
Fraksi Demokrat? Sarna ya, lewat. Fraksi PAN sarna tetapi silakan.