• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sebentar, kita kasih penjelasan Pak.

Kalau untuk membuka rapat sepanjang kita tidak menyetujui atau pun tidak mengambil suatu keputusan itu bisa dilaksanakan. Namun, kalau kita akan ....

F- ( ... ):

Interupsi Pimpinan.

Itu aturan di mana Pimpinan?

KETUA RAPAT:

Boleh baca di Tata Tertib.

Kalau untuk memulai rapat dan kita belum mengambil keputusan itu tentunya bisa dilaksanakan.

F-P. HANURA (RUFINUS HOTMAULANA HUTAHURUK, S.H., M.M., M.H.):

Interupsi Pimpinan.

Rufinus, A-546, dari Partai Hanura.

Pembukaan Sidang Paripurna ini adalah pengambilan keputusan apakah kita memulai atau tidak. Jadi barangkali harus diskors.

Terima kasih Pimpinan.

KETUA RAPAT:

Pembukaan adalah merupakan mata rantai daripada itu, tapi pengambilan keputusan nanti disini kita akan bacakan. Pada saatnya kita akan mengambil keputusan itu tentunya harus dilengkapi dengan kuorumnya, baik Pimpinan maupun Anggota. Namun, kalau pembukaan tentunya ini masih bisa dilaksanakan.

Sekarang kami ingin juga kembalikan kepada seluruh Anggota Dewan. Apabila kita akan diteruskan, namun pad a saat nanti mengambil keputusan harus ada satu Pimpinan lagi, apakah dapat disetujui?

(RAPAT: SETUJU)

Baik, kalau begitu kami persilakan yang interupsi pertama tadi.

F-P. GERINDRA (Ir. H. A. R. SUTAN ADIL HENDRA, M.M.):

Izin Pimpinan. Terima kasih.

Rekan-rekan Anggota DPR RI yang saya hormati.

Tolong kita semua prihatin kondisi yang terjadi terutama di Provinsi Jambi, Pulau Sumatera dan Kalimantan. Ini berkaitan dengan asap, asap ini sudah merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat, termasuk aktifitas penerbangan, kesehatan, sosial, khususnya pendidikan di Provinsi Jambi tidak bisa berjalan normal lagi. Kami melihat Fraksi Partai Gerindra dengan jelas dan tegas setelah saya melakukan kunjungan langsung ke sekolah-sekolah ini memang sangat memprihatinkan. Akan tetapi, persoalan ini saudara-saudaraku sekalian belum ditangani Pemerintah secara baik, belum ditangani Pemerintah secara kompak. Oleh karena itu, melihat kondisi ini, ini akan merugikan semua kehidupan masyarakat. Saya tidak bisa membayangkan kalau masyarakat Jambi dan juga masyarakat yang ada di Sumatera, Kalimantan, saudara -saudara kita itu tidak bisa berprestasi pendidikannya. Saya sebagai Anggota Komisi X DPR RI mengharapkan ini harus kita tangani secara serius. Kalau perlu saya mengusulkan ini perlu dibuat Pansus terhadap pembiaran Pemerintah terhadap kabut asap Inl.

Untuk itu, saya sang at prihatin sekali, baru-baru ini bukan sedikit lagi yang meninggal. Catatan kami sudah 8 orang yang meninggal, tentu ini sudah menjadi sesuatu musibah yang sangat besar. Kami mengusulkan agar ini dijadikan bencana nasional, karena ada pembantuan dari pusat hanya person ii, sementara peralatan. anggaran untuk memadamkan api itu masih tetap tinggal di Jakarta. Ini terus terang, koordinasi yang ada di pemerintahan sungguh sangat lemah. Kami memohon kepada Pimpinan dan seluruh Anggota Dewan yang terhormat, mari kita perjuangkan saudara-saudara saya di Jambi, di Riau, di Palembang, di Kalimantan, karena ini sudah menyangkut masalah kemanusian. Mudah-mudahan kita menjadikan ini amal ibadah dan saudara-saudara kita itu merasa kita perlakukan sama.

Terima kasih Pimpinan.

Wassalamu 'alaikum Warrai1matu/lai1i Wabarakatuh.

F-P. GERINDRA (Dr. Ir. H. D. SODIK MUDJAHID, M.Sc.):

Pimpinan, saya tadi sudah daftar pertama, Sodik Mudjahid.

KETUA RAPAT:

Sebentar saya catat dulu.

F-P. GERINDRA (Dr. Ir. H. D. SODIK MUDJAHID, M.Sc.):

Saya daftar pertama Pimpinan. KETUA RAPAT:

Saya catat dulu ya.

Selanjutnya siapa tadi?

F-P. GERINDRA (Dr. Ir. H. D. SODIK MUDJAHID, M.Sc.):

Sodik Mudjahid, A-343.

KETUA RAPAT:

Pak Sodik ya, satu lagi siapa?

Cukup ya.

Oke, kalau gitu Bapak Sodik silakan.

F-P. GERINDRA (Dr. Ir. H. D. SODIK MUDJAHID, M.Sc.):

Terima kasih Pimpinan.

Assalamu 'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Pimpinan yang terhormat,

Rekan-rekan Anggota Dewan yang terhormat.

Bulan-bulan ini, bulan-bulan korban berjatuhan di Indonesia. Mulai korban Salim Kancil, korban PNF di Kali Deres, korban asap tadi sudah disampaikan, dan salah satu puncaknya adalah korban jamaah haji jumlahnya 127 orang. Dalam peperangan besar, kata orang militer itu adalah peperangan tingkat divisi kalau korbannya sampai 127 orang. Ini angka yang fantastik bagi sebuah negara yang menjunjung tinggi hak

hidup atau HAM dan fantastik bagi negara yang sudah 70 tahun menyelenggarakan ibadah haji. Setiap peristiwa musibah di tanah suci, jamaah kita selalu saja menjadi korban, itu berulang. Sejak peristiwa terowongan, musibah di tempat Jamarot dan terakhir musibah kemarin, belum lagi musibah tahunan, rutin, yakni hilangnya jamaah. Padahal Undang-undang Penyelenggaraan Haji Nomor 13 Tahun 1980 mengatakan bahwa Kementerian Agama wajib memberikan bimbingan ibadah yang tepat dan aman, wajib memberikan fasilitas yang memadai dan wajib memberikan perlindungan dan keamanan bagi jamaahnya.

Tapi 70 tahun kita menyelenggarakan ibadah haji, Kementerian Agama tidak pernah membekali jamaah haji dengan Oiklat keamanan dan perlindungan. Keamanaan dan perlindungan di Jamarot, di Musdalifah, di Mina, di Arofah, bahkan keamanan di Masjidil Haram. 70 tahun kita menyelenggarakan ibadah haji tetapi masih ada maktab-maktab jamaah haji Indonesia yang berada di daerah rawan bahaya di daerah Mina. 70 tahun kita menyelenggarakan ibadah haji tapi kita belum mampu seperti halnya negara Iran dan negara Turki membangun kekuatan pengamanan terdiri dari tentara dan polisi untuk melindungi jamaah-jamaah itu. Akhirnya apa? Akhirnya peristiwa itu berulang terjadi.

Dan apa yang terjadi ketika peristiwa itu terjadi, ini juga sangat memilukan dan memalukan. Jamaah-jamaah datang ke Komisi VIII OPR RI, mereka mengadu kenapa? Karena pusat pelayanan informasi berjalan sangat buruk, SMS tidak pernah dijawab, telepon tidak diangkat, Menteri Agama juga tidak maksimum menggunakan akses untuk menurunkan tim untuk verifikasi data jamaah dan tidak pernah ada inisiatif dari Menteri Agama untuk datang melalui kantor-kantor Kementerian Agama di Kota dan Kabupaten mengunjungi jamaah, mengunjungi keluarga korban, bahkan yang terjadi adalah sebaliknya. Mohon izin saya bercerita tentang nasib anak yatim di Kabupaten Bandung, seorang anak di Kabupaten Bandung kehilangan orang tuanya, Ibu dan Bapaknya dalam jamaah korban sekarang ini. Oia cerita kepada saya bahwa dia bolos dari sekolahnya dengan diantar oleh tetangganya, dia datang berkunjung kepada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bandung. Apa yang terjadi? Menurut anak itu bukan dia mendapatkan pelayanan yang layak, apalagi pelayanan yang membesarkan hati bagi seorang anak yatim, tetapi dia diperlakukan dengan ala kadarnya dan diujung pertemuan ada pertemuan yang memalukan. Apa itu? Kementerian Agama Kabupaten Bandung diujung acara mengatakan "Nak, kalau nanti pulang bertemu dengan Anggota OPR RI dan wartawan katakan kepada mereka, bahwa bukan kamu yang datang ke Kantor Kementerian Agama tetapi kami pejabat Kementerian Agama yang datang ke kamu, katakan itu". kata pejabat itu kepada anak-anak itu.

Bayangkan sudah diajari dusta, tidak ada kepedulian, bahkan dia ingin melindungi dirinya di tengah derita anak yatim yang kehilangan Ibu dan Bapaknya di tengah Mina itu. Apakah ada pejabat ini begini? Tidak aneh, kenapa tidak aneh? Karena bas tertingginya Menteri Agama pad a sa at yang sama dia tidak berada di tanah suci untuk memperjuangkan kepulangan jenazah, dia tidak berada di tanah air untuk bersilaturahmi dengan jamaah-jamaah karban, dia justru berada di Jerman, di Kota Frankfrut untuk diskusi kecil dalam sebuah pameran buku yang kecil. Inilah mental

Amirul Haj yang tidak menunjukkan kepedulian bahwa dia, bahkan dia mementingkan bertemu jalan-jalan di Jerman itu.

Hadirin yang berbahagia, Teman-temanku.

Bulan yang lalu kami mendapat informasi, ada pergantian Kepala BNPB.

Menurut cerita Kepala BNPB diganti karena gagal mematikan asap dan gagal memberikan perlindungan kepada korban.

Oleh karena itulah, maka saya Dr. Sodik Mudjahid, Fraksi Gerindra mengusulkan agar perlakuan kepada Kepala BNPB itu dilakukan juga kepada Menteri Agama, agar Presiden mencopotnya dan menggantinya dengan pejabat yang lebih baik.

Ini adalah simbul permohonan maaf kila kepada rakyat yang kila gagal melindunginya.

Ini adalah simbul agar kita bisa memperbaiki haji pada lahun-Iahun yang akan datang. Demikian Pimpinan, lerima kasih alas waktunya.

Teman-teman lerima kasih atas kesabarannya. Saya Sodik Mudjahid, Fraksi Gerindra, Dapil Kota Bandung-Kola Cimahi, A-343.

Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT:

Wa'alaikum Salam.

8apak dan Ibu sekalian yang saya hormati.

Terima kasih alas inlerupsinya Bapak Indra dan Bapak Sodik.

Kemudian selanjulnya akan dip roses sesuai dengan peraluran perundang-undangan yang berlaku di DPR RI ini.

8apak dan Ibu sekalian yang saya hormati.

Sesuai dengan hasil kepulusan Rapat Konsullasi pengganli Rapal Bamus DPR RI anlara Pimpinan DPR RI dan Pimpinan Fraksi-fraksi tanggal 5 Oklober 2015, acara Rapat Paripurna hari ini adalah:

1. Pendapal Fraksi-fraksi dan Pengambilan Kepulusan Rancangan Undang-undang Usul Inisialif Alai Kelengkapan Dewan menjadi Rancangan Undang-undang DPR RI, yailu:

a. RUU Usullnisialif Komisi V DPR RI lentang Jasa Konstruksi.

b. RUU Usul Inisialif Komisi IX DPR RI lenlang Perlindungan Pekerja Indonesia di Luar Negeri.

2. Penelapan susunan dan keanggolaan Panilia Angkel Pelindo II.

3. Penetapan susunan dan keanggotaan Pansus RUU tentang Larangan Minuman Beralkohol.

Sekarang kami akan menanyakan kepada Sidang Dewan yang terhormat, apakah acara rapat tersebut dapat disetujui?

(RAPAT SETUJU)

8apak, Ibu sekalian yang saya hormati,

Sebelum memulai Rapat Paripurna ini perlu kami beritahukan bahwa Pimpinan Dewan telah menerima 2 pucuk surat, yaitu:

1. Surat dari Presiden Republik Indonesia dengan nomor R59/Pres/X/2015, tanggal 7 Oktober 2015 tentang permohonan pertimbangan bagi pencalonan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh atau Dubes LBBP negara sahabat untuk Republik Indonesia.

2. Surat dari Pimpinan Komisi VIII DPR RI dengan Nomor LG163/Kom-VIIi/X/2015, tertanggal 6 Oktober 2015 perihal permohonan agar Rancangan Undang-undang tentang Penyandang Disabilitas dapat diagendakan dalam Rapat Paripurna DPR RI.

Selanjutnya untuk kedua surat tersebut, sesuai dengan Peraturan DPR RI Nomor I Tahun 2014 tentang Tata Tertib akan ditindaklanjuti sesuai dengan mekanisme yang berlaku.

Sidang Dewan yang kami hormati,

Marilah memasuki acara pertama, yaitu Rapat Paripurna DPR RI pendapat Fraksi-fraksi dan pengambilan keputusan terhadap 2 RUU Usul Inisiatif Alat Kelangkapan Dewan menjadi RUU OPR RI, yaitu:

a. RUU Usul Inisiatif Komisi V DPR RI tentang Jasa Konstruksi.

b. RUU Usul Inisiatif Komisi IX DPR RI tentang Perlindungan Pekerja Indonesia di Luar Negeri.

Untuk keperluan tersebut, Fraksi-fraksi telah menyampaikan daftar nama-nama dengan urutan sebagai berikut:

1. Yang terhormat Saudara Michael Wattimena, S.E., M.M. Nomor Anggota A-457 sebagai juru bicara dari Fraksi Partai Demokrat.

2. Yang terhormat Saudara Ir. HA Taufan Tiro, S.T. Nomor Anggota A-502, sebagai juru bicara dari Fraksi Partai Amanat Nasional.

3. Yang terhormat Saudara Dra Hj. Siti Masrifah, MA Nomor Anggota A-77, sebagai juru bicara dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa.

4. Yang terhormat Saudara Ir. H. Yudi Widiana Adia, M.Si. Nomor Anggota A-1 01, sebagai juru bicara dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera.

5. Yang terhormat Saudara H. Muhammad Iqbal, S.E., M.Com. Anggota Nomor A-510, sebagai juru bicara dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan.

6. Yang terhormat Saudara Ahmad H.M. Ali, S.E. Nomor Anggota A-32, sebagai juru bicara dari Fraksi Partai Nasdem.

7. Yang terhormat Saudara Fauzih H. Amro, M.Si. Nomor Anggota A-548, sebagai juru bicara dari Fraksi Partai Hanura.

8. Yang terhormat Saudara Rieke Diah Pitaloka, M.Hum. Nomor Anggota A-160, sebagai juru bicara dari Fraksi POI Perjuangan.

9. Yang terhormat Saudara H. Daniel Mutaqien Syafiuddin, S.T. Nomor Anggota A-265, sebagai juru bicara dari Fraksi Partai Golkar.

10.Yang terhormat Saudara H. Moh Nizar Zahro, S.H. Anggota Nomor A-374, sebagai juru bicara dari Fraksi Partai Gerindra.

Sebelum saya mempersilakan juru bicara masing-masing Fraksi, kami meminta persetujuan Rapat Paripurna mengenai waktu yang akan dipergunakan oleh masing-masing juru bicara paling lama 3 menit atau untuk menyingkat waktu jika disepakati pandangan umum fraksi-fraksi tersebut disampaikan secara tertulis kepada Pimpinan Dewan.

Apakah yang terakhir disetujui?

(RAPAT: SETUJU)

Untuk itu, kami persilakan kepada masing-masing juru bicara Fraksi untuk maju ke depan menyampaikan pandangan umum fraksinya terhadap kedua RUU dimaksud kepada Pimpinan.

8apak, Ibu sekalian yang saya hormati,

Selanjutnya kita memasuki acara yang kedua yaitu Penepatan Susunan dan Anggota Panitia Angket Pel indo II.

Oh sebentar.

Mohon maaf ini.

8apak dan Ibu sekalian yang saya hormati,

Sekarang kami ingin menanyakan kepada Bapak Ibu Sidang Paripurna dengan telah diserahkan seluruh pandangan umum dari fraksi-fraksi apakah kedua RULJ ini dapat disetujui menjadi RLJU usulan DPR RI?

(RAPAT SETLJJLJ)

Baik terima kasih.

Berikutnya kami memasuki acara yang kedua.

8apak dan Ibu sekalian yang saya hormati,

Kami ingin memasuki acara yang kedua yaitu Penetapan Susunan dan Keanggotaan Panitia Angket Pelindo II. Selanjutnya untuk mengetahui secara lengkap susunan dan keanggotaan Panitia Angket Pelindo II dari tiap-tiap fraksi berdasarkan usulan fraksi-fraksi, maka kami akan mempersilakan kepada Sekretariat Jenderal DPR RI untuk menayangkan susunan nama Anggota tersebut.

Kami persilakan. Terima kasih.

Demikian susunan nama-nama Anggota Panitia Angket Pelindo II sebagai catatan khusus untuk Fraksi PPP masih ada perbedaan satu nama usulan, untuk itu kami akan kembalikan kepada Fraksi PPP untuk diselesaikan.

INTERUPSI ANGGOTA DPR RI F .... ( ... ):

Mohon dibaca Pimpinan. KETUA RAPAT:

Oke yang dobel ya.

Kalau tidak ditayangkan dulu ditayangkan.

INTERUPSI ANGGOTA DPR RI F .... ( ... ):

Pimpinan dibaca saja Pimpinan. KETUA RAPAT:

Baik, saya baca dari masing-masing usulan yang usulan pertama yaitu Bapak H. Epyardi Asda, M.Mar. Yang kedua adalah Bapak H. Asrul Sani, SH., M.Si.

INTERUPSI ANGGOTA DPR RI F .... ( ... ):

Pimpinan interupsi Pimpinan. KETUA RAPAT:

Ya sebentar lagi saya bacakan dulu.

INTERUPSI ANGGOTA DPR RI F .... { ... j:

Itu semua tolong dibacakan bukan hanya dari PPP saja, dibacakan semua per fraksi Pimpinan biar masyarakat.

KETUA RAPAT:

Oh yang ditayangkan masih kurang Pak?

INTERUPSI ANGGOTA DPR RI F .... { ... j:

Tidak terbaca Pak.

KETUA RAPAT:

Oh tidak terbaca.

INTERUPSI ANGGOTA DPR RI F .... ( ... j:

Dibacakan saja tidak apa-apa Pak biar publik tahu, biar media juga bisa langsung memberikan laporan Pimpinan.

KETUA RAPAT:

Oke baik, karena memang ada kesalahan teknis di situ tidak terbaca, saya akan bacakan susunan Anggota Panitia Angket Pelindo II DPR RI Tahun Sidang 2015-2016.

1. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan: 1) Saudara Sukur H. Nababan, S.T.

2) Saudari Rieke Diah Pitaloka. 3) Saudara Herman Hery.

4) Saudara Masinton Pasaribu, S.H.

5) Saudara Dr. Junimart Girsang, S.H., M.B.A., M.H.

6) Saudara Ir. Andreas Eddy Susetyo, M.M.

2. Partai Golongan Karya:

1) Saudara Bambang Soesatyo, S.E., M.B.A.

2) Saudara Ir. H. Adies Kadir, S.H., M.Hum. 3) Saudara H. Budi Supriyanto, S.H., M.H. 4) Saudara Drs. H. Kahar Muzakir.

5) Saudara Edison Betaubun, S.H., M.H.

3. Partai Gerindra:

1) Saudara H. Desmond Junaidi Mahesa, S.H., M.H.

2) Saudara H. Moh Nizar Jahro, S.H.

3) Saudara Dr.H. Suir Syam, M.Kes., MMR.

4) Saudara Mohamad Hekal, M.BA

4. Partai Demokrat:

1) Saudara Wahyu Sanjaya, S.E.

2) Saudara I Putu Sudiartana.

3) Saudara Anton Sukartono Suratto.

5. Partai Amanat Nasional:

1) Saudara Daeng Muhammad, S.E., M.Si.

2) Saudara Ir. H. Teguh Juwarno, M.Si.

3) Saudara H. Nasril Bahar, S.E.

6. Partai Kebangkitan Bangsa:

1) Saudara Ir. M. Nasim Khan.

2) Saudara Daniel Johan, S.E.

7. Partai Keadilan Sejahtera:

1) Saudara H. Aboe Bakar Alhabsyi, S.E.

2) Saudara H. Refrizal.

8. Partai Persatuan Pembangunan:

1) Saudara H. Epyardi Asda, M.,Mar

2) Ini memang ada dua, untuk itu kita bikin strip yang ini yang kita kembalikan kepada PPP dan kami selanjutnya minta usulan dari salah satu dari dua ini yaitu:

H. Asrul Sani, SH, M.Si.

H. Muhammad iqbal, S.E., M.Com.

9. Partai Nasdem:

1) Saudara Drs. T. Taufiqulhadi, M.Si.

2) Saudari Erma Suryani.

10. Partai Hanura:

1) Saudara Ir. Nurdin Tampubolon.

Cukup?

Baik Bapak dan Ibu sekalian apakah seluruhnya tadi dapat disetujui?

(RAPAT SETUJU)

Terima kasih.

Oengan telah masuknya nama-nama Anggota tersebut, maka Panitia Angket Pelindo II dapat memulai melakukan kegiatannya.

Sidang Dewan yang kami hormati,

Selanjutnya marilah kita memasuki acara ketiga yaitu Penetapan Susunan dan Keanggotaan Pansus RUU tentang Larangan Minuman Beralkohol.

Selanjutnya untuk mengetahui secara lengkap susunan dan keanggotaan Pans us RUU tentang Larangan Minuman Beralkohol dari tiap-tiap fraksi berdasarkan usulan fraksi, maka kami akan mempersilakan kepada Sekretariat Jenderal OPR RI untuk menayangkan susunan nama-nama Anggota tersebut.

Kami persilakan.

Terima kasih.

Oemikian susunan nama Anggota Pansus RUU tentang Larangan Minuman Beralkohol. Kini tiba saatnya kami menanyakan kepada Sidang Dewan Yang Terhormat apakah susunan dan keanggotaan Pansus RUU tentang Larangan Minuman Beralkohol tersebut dapat disetujui?

(RAPAT SETUJU) Terima kasih.

Oengan telah selesai dan telah masuknya nama-nama Anggota tersebut, maka Pans us RUU.

F-PDIP (Drs. YOSEPH UMAR HADI, M.Si.):

Interupsi Pimpinan, Pimpinan interupsi sebentar.

KETUA RAPAT:

Sebentar saya teruskan dulu.

Oengan telah masuknya nama-nama Anggota' tersebut, Pansus RUU tentang Larangan Minuman Beralkohol dapat memulai melakukan kegiatannya.

Silakan tadi yang interupsi.

F-PDIP (Drs. YOSEPH UMAR HADI, M.Si.):

Terima kasih Pimpinan.

Nama Yoseph Umar Hadi, dari Fraksi POI Perjuangan, Nomor Anggota A-162.

Terkait dengan pembentukkan Pansus-pansus Ketua, saya menyampaikan saran dan pendapat seyogyanya Pimpinan segera menjadwalkan dan segera memastikan terbentuknya Pansus supaya begitu RUU inisiatif itu diketok di Paripurna sampai dengan Bamus dan kemudian sampai pada pembentukkan Pansus, itu tidak memakan waktu terlalu lama. Pengalaman beberapa undang-undang yang lalu saya menengarainya demikian agak lama. Jadi tenggang waktu ini tidak efektif. Oleh karena itu kami mohon Pimpinan untuk begitu inisiatif ini ditetapkan, seyogyanya segera dijadwalkan untuk pembentukkan nama-nama Pansus, Anggota Pansus atau bagaimana nanti Bamus akan menetapkan pad a Komisi atau pada Pansus. Ada beberapa unda ng-undang yang saya saya lihat demikian Pak, sehingga Pimpinan sehingga membutuhkan waktu agak lama sayang nanti waktunya kita terbuang.

Terima kasih Pimpinan. KETUA RAP AT:

Baik, tentunya kami mohon juga dengan kerja sam a dengan Sekretariat Jenderal mohon diagendakan secepatnya kegiatan dan jadwal dari pada Pansus yang sudah harus memulai pekerjaan tersebut.

Baik Bapak dan Ibu sekalian yang saya hormati, dengan demikian selesailah acara Rapat Paripurna Dewan hari ini selaku Pimpinan Rapat.

F-PD (WILLEM WANDIK, S.Sos.):

Interupsi. KETUA RAPAT:

Ya, silakan Pak Willem.

F-PD (WILLEM WANDIK. S.Sos.):

Baik, akhir dari Sidang Paripurna ini, saya Willem Wandik dari Fraksi Partai Demokrat mau menyampaikan persoalan berbangsa yang ada di depan mata kita ya, di mana sampai sa at ini tentunya tidak harus ditutup-tutupi oleh seluruh warga bangsa nusantara, termasuk saya. Oleh sebab itu, izinkan untuk saya menyampaikan itu pada kesempatan ini.

Baik, ketidakberdayaan persoalan pengelolaan dan pelaksanaan otonomi daerah di tanah Papua lebih disebabkan oleh monopoli penguasaan aset-aset strategis yang dikendalikan sepenuhnya oleh pemerintah pusat, selama kesenjangan pembangunan masih ditemukan di tanah Papua dan ketidakberdayaan pemerintah daerah secara terus menerus, maka ketergantungan fiskal secara terus-menerus terhadap pemerintah pusat, maka negara ini justru terlihat hanya memanfaatkan pengelolaan sumber daya alam di tanah Papua untuk memperkaya daerah lain. Padahal

di tanah Papua Majelis Rakyat Papua dan Papua Barat, Gubernur, Bupati, Walikota, Kepala Oistrik dan Kepala Kampung Papua dan Papua Barat, para Anggota OPR provinsi, kabupaten, kota Papua dan Papua Barat mereka adalah sesungguhnya simbul penyelenggara negara yang ada di tanah Papua Mereka adalah penyelenggara negara yang ada di tanah Papua dalam rangka menjalankan fungsi pemerintahan untuk mencapai tujuan berbangsa dan bernegara.

Jika mereka adalah prioritas negara yang telah diakui oleh sistem ketatanegaraan nasional mengapa negosiasi-negosiasi dengan PT. Freeport Indonesia hanya melibatkan segelintir elit di Jakarta sebagai penentu kebijakan pengambilalihan saham milik PT. Freeport Indonesia? Padahal melalui pemerintah daerah sebagai representasi dan juga simbul negara kesatuan kami di tanah Papua telah berulang kali menyampaikan kepada pemerintah pusat terkait kepentingan rakyat di tanah Papua untuk memiliki sebagian saham yang ada di PT. Freeport Indonesia.

Oleh sebab itu, pada kesempatan ini saya mempertegaskan bahwa bila kita bicara NKRI harga mati, harus dapat didefinisikan sebagai sikap melaksanakan konstitusi negara secara konsisten, termasuk mengembalikan hak pengelolaan sumber daya alam di tanah Papua kepada rakyat di tanah Papua melalui simbul negara kesatuan dan persatuan negara yang ada di tanah Papua. Ketika pelaksanaan sumber daya alam di tanah Papua dikuasai oleh Jakarta sangat sentralistik justru bertentangan dengan konstitusi negara amanah Undang-undang Oesentralisasi.

Oengan demikian cara pandang atau ... harga mati, tidak membenarkan rezim sentralistik dipaksakan di rezim yang telah berubah atau sistem desentralisasi seperti saat ini, karena kita ini negara ... negara yang didasarkan pad a konstitusi negara, bukan negara yang... yang didasarkan pada kekuasaan. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini saya mau menyampaikan kepada para penyelenggara negara, berikut

Oengan demikian cara pandang atau ... harga mati, tidak membenarkan rezim sentralistik dipaksakan di rezim yang telah berubah atau sistem desentralisasi seperti saat ini, karena kita ini negara ... negara yang didasarkan pad a konstitusi negara, bukan negara yang... yang didasarkan pada kekuasaan. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini saya mau menyampaikan kepada para penyelenggara negara, berikut

Dokumen terkait