Indikator Keberhasilan Merangkum pendaftaran NPWP Menerangkan penghapusan NPWP Menjelasakan pengukuhan PKP Menjelasakan pencabutan PKP
Menjelasakan perubahan data Wajib Pajak/PKP
Uraian dan Contoh
Pasal 1 angka 6 UndangUndang KUP memberi pengertian NPWP adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya. Saat mulai menjadi WP dalam literatur sering disebut dengan istilah taatbestand yaitu pada saat syarat subjektif bertemu dengan syarat objektif maka ia sudah memenuhi syarat sebagai Wajib Pajak. Wajib Pajak yang sudah terdaftar akan mendapatkan Kartu NPWP dan SKT. Kartu NPWP adalah kartu yang diterbitkan oleh KPP atau KP2KP yang berisikan NPWP dan identitas lainnya.1 SKT yang selanjutnya disingkat menjadi
SKT adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh KPP atau KP2KP sebagai pemberitahuan bahwa Wajib Pajak telah terdaftar pada KPP tertentu yang berisi
NPWP dan kewajiban perpajakan Wajib Pajak.2
Pendaftaran untuk memperoleh NPWP dan Pelaporan untuk dikukuhkan sebagai
PKP adalah tahap pertama dalam CircumNavigation UU KUP sebagaimana
dalam Gambar 21.
1Pasal 1 angka 9 PER-20/PJ/2013 2Pasal 1 angka 10 PER-20/PJ/2013
KEGIATAN BELAJAR 2
Gambar 21 Kedudukan NPWP dan PKP dalam CircumNavigation UU KUP
Pendaftaran NPWP dan pengukuhan PKP diatur dalam Pasal 2 UndangUndang KUP yang dapat dijelaskan sebagaimana Gambar 22.
KUP
Kewajiban Mendaftar dan Fungsi NPWP
Secara yuridis taatbestand diatur dalam Pasal 2 ayat (1) Undang Undang KUP yang mengatur bahwa bahwa setiap Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan
wajib mendaftarkan diri pada kantor DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak dan kepadanya diberikan NPWP. Sesuai dengan sistem self assessment setiap Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif tersebut wajib mendaftarkan diri pada kantor DJP untuk dicatat sebagai Wajib Pajak dan sekaligus untuk mendapatkan NPWP. Adapun apa itu persyaratan sbyektif dan obyektif disebutkan dalam penjelasan Pasal 2 ayat (1) UndangUndang KUP, sebagai berikut.
Persyaratan subjektif adalah persyaratan yang sesuai dengan ketentuan mengenai subjek pajak dalam UndangUndang Pajak Penghasilan 1984 dan perubahannya.
Persyaratan objektif adalah persyaratan bagi subjek pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan atau diwajibkan untuk melakukan pemotongan/pemungutan sesuai dengan ketentuan UndangUndang Pajak Penghasilan 1984 dan perubahannya.
Perlu dipahami bahwa meskipun penjelasan Pasal 2 ayat (1) UndangUndang KUP hanya menjelaskan tentang persyaratan subjektif dan persyaratan objektif sebagaimana diatur dalam UndangUndang PPh beserta perubahannya, tetapi
ketentuan taatbestand juga berlaku untuk Undangundang PPN 1984 dan
perubahannya. Alasannya adalah karena aturan yang berisi norma dalam undang undang adalah apa yang ada dalam batang tubuh, penjelasan bukanlah norma yang mengatur tetapi lebih bersifat penafsiran otentik dari batang tubuhnya. Wajib Pajak lazimnya dipakai untuk menyebut subyek Pajak Penghasilan, sedangkan untuk subyek pajak PPN disebut dengan istilah PKP. Pengukuhan PKP akan dibahas dalam subbab tersendiri.
Perlu ditekankan bahwa fungsi NPWP merupakan sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak, bukan untuk menentukan saat terutangnya pajak atau saat mulai harus
melaporkan pajaknya. Masingmasing orang mempunyai tanda pengenal diri atau identitas berupa nama, tetapi nama banyak yang sama atau mirip sehingga menyulitkan dalam administrasi dan pengawasan perpajkannya. Agar masing masing identitas Wajib Pajak unik untuk memudahkan administrasi perpajakannya maka selain nama, juga diberikan NPWP sebagai identitas.
Setiap Wajib Pajak, baik orang pribadi maupun badan hanya diberikan satu NPWP, sepanjang hidupnya, walaupun domisilinya berpindahpindah. NPWP juga dipergunakan untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan dalam pengawasan administrasi perpajakan. Dalam hal berhubungan dengan dokumen perpajakan, Wajib Pajak diwajibkan mencantumkan NPWP yang dimilikinya. Wajib Pajak yang sudah mendaftarkan diri akan memperoleh NPWP yang secara fisik berupa kartu NPWP dan SKT. SKT adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh KPP atau KP2KP sebagai pemberitahuan bahwa Wajib Pajak telah terdaftar
pada KPP tertentu yang berisi NPWP dan kewajiban perpajakan Wajib Pajak.3
Terhadap Wajib Pajak yang tidak mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan.4
Subyek Yang Wajib Mendaftarkan Diri untuk Memperoleh NPWP
Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UndangUndang KUP menyebutkan bahwa kewajiban mendaftarkan diri tersebut berlaku pula terhadap wanita kawin yang dikenai pajak secara terpisah karena hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim atau dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta.Wanita kawin selain tersebut di atas dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP atas namanya sendiri agar wanita kawin tersebut dapat melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya terpisah dari hak dan kewajiban perpajakan suaminya.
Kewajiban mendaftarkan diri bagi wanita kawin dengan dua kondisi tersebut dalam UndangUndang KUP tahun 1983 belum diatur secara khusus. Mulai 1 Januari
KUP
19955 diatur bahwa kewajiban mendaftarkan diri tersebut berlaku pula terhadap
wanita kawin yang dikenakan pajak secara terpisah karena hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim atau dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta.6 Ketentuan ini juga masih ada dalam
perubahan UndangUndang KUP tahun 2000. UndangUndang KUP perubahan tahun 2007 menambah ketentuan baru bahwa bagi wanita kawin selain dua kondisi tersebut di atas dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP atas namanya sendiri agar wanita kawin tersebut dapat melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya terpisah dari hak dan kewajiban perpajakan suaminya.7
Jadi yang harus mendaftarkan diri adalah Wajib Pajak yang telah memenuhi syarat subjektif dan syarat objektif, termasuk wanita kawin,8 meliputi:9
a) Wajib Pajak orang pribadi, termasuk wanita kawin yang dikenai pajak secara terpisah (yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dan memperoleh penghasilan di atas PTKP) karena:
a. hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim;
b. menghendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta; atau
c. memilih melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya terpisah dari suaminya meskipun tidak terdapat keputusan hakim atau tidak terdapat perjanjian pemisahan penghasilan dan harta, yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dan memperoleh penghasilan di atas Penghasilan Tidak Kena Pajak;
b) Wajib Pajak orang pribadi, termasuk wanita kawin yang dikenai pajak secara
5 mulai berlakunya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan
6 Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1994 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, ketentuan ini diatur dalam (batang tubuh) Pasal 2 ayat (2) PP Nomor 74 Tahun 2011
7 Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan
Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan
8 Ketentuan ini dijabarkan lebih lanjut dalam Pasal 2 PP No. 74 Tahun 2011 dan Pasal 2 PMK Nomor
73/PMK.03/2012 dan Pasal 2 Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-20/PJ/2013
terpisah (yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas) karena: a. hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim;
b. menghendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta; atau
c. memilih melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan terpisah dari suaminya meskipun tidak terdapat keputusan hakim atau tidak terdapat perjanjian pemisahan penghasilan dan harta, yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;
Catatan 1: Wanita kawin yang ingin melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan terpisah dari hak dan kewajiban perpajakan suami
harus mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP.10Contoh: Bapak Bagus
yang telah memiliki NPWP 12.345.678.9XXX.000 menikah dengan Ibu Ayu yang belum memiliki NPWP. Ibu Ayu memperoleh penghasilan dan ingin melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan secara terpisah dari suaminya. Oleh karena itu, Ibu Ayu harus mendaftarkan diri ke Kantor DJP untuk memperoleh NPWP dan diberi NPWP baru dengan nomor 98.765.432.1XXX.000.
Catatan 2: Dalam hal wanita kawin yang ingin melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan terpisah dari hak dan kewajiban perpajakan suami telah memiliki NPWP sebelum kawin, tidak perlu mendaftarkan diri
untuk memperoleh NPWP.11Contoh: Lisa memperoleh penghasilan dan telah
memiliki NPWP dengan nomor 56.789.012.3XYZ.000. Lisa kemudian menikah dengan Hengki yang telah memiliki NPWP 78.901.234.5XYZ.000. Apabila Lisa setelah menikah memilih untuk melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan secara terpisah dari suaminya, maka Lisa tidak perlu mendaftarkan diri lagi untuk memperoleh NPWP dan tetap menggunakan NPWP 56.789.012.3XYZ.000 dalam melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya.
c) Wajib Pajak badan yang memiliki kewajiban perpajakan sebagai pembayar
KUP
pajak, pemotong dan/atau pemungut pajak sesuai ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan, termasuk bentuk usaha tetap dan kontraktor dan/atau operator di bidang usaha hulu minyak dan gas bumi; d) Wajib Pajak badan yang hanya memiliki kewajiban perpajakan sebagai
pemotong dan/atau pemungut pajak sesuai ketentuan peraturan perundang undangan perpajakan, termasuk bentuk kerja sama operasi (Joint Operation);
dan
e) Bendahara yang ditunjuk sebagai pemotong dan/atau pemungut pajak sesuai ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan.
Wajib Pajak orang pribadi selain Wajib Pajak tersebut di atas dapat memilih untuk
mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP.12
Pengecualian:
Wanita kawin yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan di bidang perpajakan dan tidak hidup terpisah atau tidak melakukan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta secara tertulis, hak dan kewajiban perpajakannya digabungkan
dengan pelaksanaan hak dan pemenuhan kewajiban perpajakan suaminya.13
Contoh: Suami istri berdomisili di Salatiga, karena suami bekerja di Pekanbaru, yang bersangkutan bertempat tinggal di Pekanbaru sedangkan istri bertempat tinggal di Salatiga.14
Kewajiban Mendaftar NPWP bagi Wanita Kawin dan Anak Yang Belum Dewasa
Pada prinsipnya sistem administrasi perpajakan di Indonesia menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis, sehingga dalam satu keluarga hanya
terdapat satu NPWP. Dengan demikian, wanita kawin yang tidak menghendaki
untuk melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan terpisah dari
12Pasal 2 ayat (7) PMK No. 73/PMK.03/2012 jo. Pasal 2 ayat (6) PER - 20/PJ/2013 13Pasal 2 ayat (3) PP 74 Tahun 2011
suaminya dan anak yang belum dewasa, harus melaksanakan hak dan memenuhi
kewajiban perpajakannya menggunakan NPWP suami atau kepala keluarga.15
Wanita kawin yang telah memiliki NPWP sebelum kawin, wanita kawin tersebut harus mengajukan permohonan penghapusan NPWP dengan alasan bahwa pelaksanaan hak dan pemenuhan kewajiban perpajakannya digabungkan dengan pelaksanaan hak dan pemenuhan kewajiban perpajakan suaminya. Demikian halnya terhadap "anak yang belum dewasa" sebagaimana diatur dalam Undang Undang Pajak Penghasilan 1984 dan perubahannya, yaitu yang belum berumur 18 tahun dan belum pernah menikah, kewajiban perpajakan anak yang belum
dewasa tersebut digabung dengan orang tuanya.16
Dalam Hukum Perdata dikenal dua keadaan yang berhubungan dengan lembaga perkawinan, pertama perkawinan yang hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim, kedua perkawinan yang dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta. Perkawinan yang hidup terpisah berdasarkan putusan hakim juga dikenal dengan istilah perceraian, sedangkan perkawinan dengan perjanjian pisah penghasilan dan harta status perkawinan masih utuh seperti perkawinan pada umumnya hanya penghasilan dan hartanya secara yuridis dipisahkan. Tidak termasuk dalam pengertian hidup terpisah adalah suami istri yang hidup terpisah antara lain karena tugas, pekerjaan, atau usaha.
Terdapat perbedaan istilah untuk anak yang belum dewasa, penjelasan Pasal 2 ayat (3) PP Nomor 74 Tahun 2011 untuk anak yang belum dewasa digabung dengan orang tuanya, sedangkan Pasal 2 ayat (5) PER20/PJ/2013 disebut dengan istilah kepala keluarga. Penulis setuju menggunakan istilah orang tua bukan kepala keluarga. Makna kepala keluarga di Indonesia identik dengan suami atau lakilaki sedangkan orang tua bisa bapak atau ibu. Anak yang belum dewasa dalam kasus hidup terpisah atau perceraian dapat ikut bapak atau ibunya, sedangkan kewajiban perpajakannya mengikuti kepada siapa ia secara nyata yang ditunjuk menjadi wali, bisa bapak atau ibu.
KUP
Kewajiban NPWP Warisan Yang Belum Terbagi
UndangUndang KUP tidak mengatur ketentuan NPWP bagi warisan yang belum terbagi, namun karena UndangUndang PPh mengakui sebagai sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak dalam kedudukannya sebagai subyek pajak maka perlu aturan sebagai dasar hukumnya. PP 74 Tahun 2011 mengatur bahwa warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak dalam kedudukannya sebagai subjek pajak menggunakan NPWP dari orang pribadi yang meninggalkan warisan tersebut dan diwakili oleh salah seorang ahli waris, pelaksana wasiat, atau pihak yang mengurus harta peninggalan.17 Wakil
dari Wajib Pajak orang pribadi yang meninggalkan warisan wajib melaporkan perubahan data ke KPP tempat Wajib Pajak terdaftar.18 Maksud melaporkan
perubahan data ke KPP tempat Wajib Pajak terdaftar adalah melaporkan bahwa Wajib Pajak sudah meninggal dunia sehingga nantinya subyek pajak berubah namanya menjadi warisan yang belum terbagi tetapi NPWPnya masih menggunakan NPWP almahum/almahumah, tetapi dalam menghitung PPhnya tidak mendapat penguang PTKP.
Cara Pendaftaran NPWP dan Pelaporan PKP
Cara pendaftaran NPWP dan pengukuhan PKP dapat dilakukan secara manual
maupun e-Registration. Pendaftaran NPWP dan Pelaporan PKP secara manual
(termasuk jika tidak bisa e-Registration) adalah sebagai berikut.
Wajib Pajak yang mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP dan/atau melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP dilakukan melalui permohonan tertulis,19 dengan mengisi dan menandatangani Formulir
Pendaftaran Wajib Pajak dan harus melengkapi formulir pendaftaran tersebut dengan dokumen yang disyaratkan ke KPP atau KP2KP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan atau tempat kegiatan usaha Wajib Pajak secara langsung, melalui pos, atau melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir. KPP atau KP2KP memberikan Bukti
17 Pasal 3 PP No. 74 Tahun 2011
18 Pasal 5 ayat (3) PMK No. 73/PMK.03/2012
Penerimaan Surat apabila permohonan dinyatakan telah diterima secara lengkap.
Berdasarkan permohonan tersebut, KPP atau KP2KP menerbitkan NPWP
paling lambat 1 hari kerja terhitung sejak permohonan diterima secara lengkap dan pengukuhan PKP paling lambat 5 hari kerja terhitung sejak permohonan diterima secara lengkap.20
Pengukuhan PKP diberikan setelah dilakukan verifikasi.21
Kartu NPWP dan SKT disampaikan kepada Wajib Pajak melalui pos tercatat.22
Pendaftaran NPWP melalui e-Registration yang dilakukan secara online via internet sehingga memungkinkan pendaftran melalui dunia maya yang bisa dilakukan dimana saja.23 Cara pendaftaran NPWP pada Aplikasi e-Registration
sebagai berikut.24
Wajib Pajak yang diwajibkan untuk mendaftarkan diri karena diwajibkan atau Wajib Pajak memilih untuk mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP, wajib mengajukan permohonan pendaftaran NPWP dengan menggunakan Formulir Pendaftaran Wajib Pajak. Permohonan pendaftaran dilakukan secara elektronik pada Aplikasi e-Registration yang tersedia pada laman DJP di www.pajak.go.id dan dianggap telah ditandatangani secara elektronik atau digital dan mempunyai kekuatan hukum.
Wajib Pajak yang telah menyampaikan Formulir Pendaftaran Wajib Pajak melalui Aplikasi e-Registration harus mengirimkan dokumen yang disyaratkan ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan
atau tempat kegiatan usaha Wajib Pajak dengan cara mengunggah (upload)
salinan digital (softcopy) dokumen melalui Aplikasi e-Registration atau mengirimkan dengan menggunakan Surat Pengiriman Dokumen yang telah ditandatangani. Apabila dokumen yang disyaratkan belum diterima KPP
20 Pasal 4 ayat (2) PMK No. 73/PMK.03/2012 dan Pasal 7 ayat (1) PER - 20/PJ/2013 21 Pasal 4 ayat (3) PMK No. 73/PMK.03/2012
22Pasal 7 ayat (2) PER - 20/PJ/2013 23 Pasal 4 PER-20/PJ/2013
KUP
dalam jangka waktu 14 hari kerja setelah penyampaian permohonan pendaftaran secara elektronik, permohonan tersebut dianggap tidak diajukan.
Apabila dokumen yang disyaratkan telah diterima secara lengkap, KPP menerbitkan Bukti Penerimaan Surat secara elektronik.KPP atau KP2KP menerbitkan Kartu NPWP dan SKT paling lambat 1 hari kerja setelah Bukti Penerimaan Surat diterbitkan.25
Tempat Pendaftaran NPWP
Pasal 2 ayat (1) UndangUndang KUP mengatur bahwa setiap Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan wajib mendaftarkan diri pada kantor DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak dan kepadanya diberikan NPWP. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa selain itu, bagi Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu, yaitu Wajib Pajak orang pribadi yang mempunyai tempat usaha tersebar di beberapa tempat, misalnya pedagang elektronik yang mempunyai toko di beberapa pusat perbelanjaan, di samping wajib mendaftarkan diri pada kantor DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal Wajib Pajak, juga diwajibkan mendaftarkan diri pada kantor DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha Wajib Pajak dilakukan. Maksud kantor DJP adalah,26 KPP atau KP2KP yang wilayah
kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak; KPP tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan di bidang perpajakan; atau tempat lain yang ditunjuk oleh Dirjen Pajak.
Pasal 2 ayat (3) UndangUndang KUP mengatur bahwa Dirjen Pajak dapat menetapkan:
a. tempat pendaftaran dan/atau tempat pelaporan usaha selain yang ditetapkan pada ayat (1) dan ayat (2); dan/atau
b. tempat pendaftaran pada kantor DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal dan kantor DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha dilakukan, bagi Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu.
25Pasal 7 ayat (1) PER - 20/PJ/2013 26Pasal 3 ayat (1) PMK-73/PMK.03/2012
Bagi Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu selain mendaftarkan diri ke KPP atau tempat lain juga mendaftarkan diri ke KPP yang wilayah kerjanya
meliputi tempat-tempat kegiatan usaha Wajib Pajak.27 Wajib Pajak Orang
Pribadi Pengusaha Tertentu adalah Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha sebagai pedagang pengecer yang mempunyai satu atau lebih tempat usaha sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundangundangan di bidang perpajakan yang mengatur mengenai Orang Pribadi Pengusaha Tertentu.28 Dalam hal tempat tinggal atau tempat kedudukan, dan/atau tempat
kegiatan usaha Wajib Pajak berada dalam dua atau lebih wilayah kerja KPP, Dirjen Pajak dapat menetapkan KPP tempat Wajib Pajak terdaftar.29 Tempat
tinggal atau tempat kedudukan tersebut merupakan tempat tinggal atau tempat
kedudukan menurut keadaan yang sebenarnya.30 Tempat pendaftaran masing
masing Wajib Pajak berbeda, sebagai berikut.31
Pendaftaran diri untuk memperoleh NPWP bagi Wajib Pajak orang pribadi dilakukan pada:32
a. KPP atau KP2KP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak;
b. KPP tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan di bidang perpajakan; atau
c. tempat lain yang ditunjuk oleh Dirjen Pajak.
Bagi Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu selain mendaftarkan diri ke KPP atau tempat lain juga mendaftarkan diri ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempattempat kegiatan usaha Wajib Pajak.33
Wajib Pajak orang pribadi yang memenuhi syarat sebagai PKP melaporkan
usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP pada KPP atau KP2KP
27Pasal 3 ayat (2) PMK-73/PMK.03/2012 juga diatur lebih lanjut dalam PER - 20/PJ/2013 sebenarnya ketentuan
ini awalnya ada pada penjelasan Pasal 2 ayat (3) Undang-Undang KUP
28Pasal 1 ayat (1) PER - 20/PJ/2013 sebenarnya ketentuan ini awalnya ada pada penjelasan Pasal 2 ayat (3)
Undang-Undang KUP
29Pasal 3 ayat (4) PMK-73/PMK.03/2012 30Pasal 2 ayat (2) PER - 20/PJ/2013 31 Pasal 3 PMK-73/PMK.03/2012
KUP
yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan, dan/atau tempat kegiatan usaha Wajib Pajak, atau KPP tertentu (LTO, PMA, Badora) sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan di bidang perpajakan.34
Dalam hal tempat tinggal atau tempat kedudukan, dan/atau tempat kegiatan usaha Wajib Pajak berada dalam dua atau lebih wilayah kerja KPP, Dirjen Pajak dapat menetapkan KPP tempat Wajib Pajak terdaftar.35
Penerbitan NPWP Secara Jabatan
Pasal 2 ayat (4) UndangUndang KUP mengatur bahwa Dirjen Pajak menerbitkan NPWP dan/atau mengukuhkan PKP secara jabatan apabila Wajib Pajak atau PKP tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud pada Pasal ayat (1) dan/atau ayat (2) UndangUndang KUP.36 Hal ini dapat dilakukan apabila
berdasarkan data yang diperoleh atau dimiliki oleh DJP ternyata orang pribadi atau badan atau Pengusaha tersebut telah memenuhi syarat untuk memperoleh NPWP dan/atau dikukuhkan sebagai PKP.37 Penerbitan NPWP dan/atau pengukuhan
PKP oleh Dirjen Pajak secara jabatan dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan atau hasil verifikasi,38 sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan di
bidang perpajakan yang mengatur mengenai tata cara Pemeriksaan atau tata cara Verifikasi.39 Tanggal terdaftar yang tercantum dalam Kartu NPWP dan SKT yang
diterbitkan secara jabatan sesuai dengan tanggal penerbitan Kartu NPWP dan SKT.40
Pasal 2 ayat (4a) UndangUndang KUP mengatur bahwa kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak yang diterbitkan NPWP dan/atau yang dikukuhkan sebagai PKP