• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEWAJIBAN MENDAFTARKAN DIRI DAN MELAPORKAN USAHA

Dalam dokumen PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK (Halaman 53-97)

Indikator Keberhasilan  Merangkum pendaftaran NPWP  Menerangkan penghapusan NPWP  Menjelasakan pengukuhan PKP  Menjelasakan pencabutan PKP

 Menjelasakan perubahan data Wajib Pajak/PKP

Uraian dan Contoh

Pasal 1 angka 6 Undang­Undang KUP memberi pengertian NPWP adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya. Saat mulai menjadi WP dalam literatur sering disebut dengan istilah taatbestand yaitu pada saat syarat subjektif bertemu dengan syarat objektif maka ia sudah memenuhi syarat sebagai Wajib Pajak. Wajib Pajak yang sudah terdaftar akan mendapatkan Kartu NPWP dan SKT. Kartu NPWP adalah kartu yang diterbitkan oleh KPP atau KP2KP yang berisikan NPWP dan identitas lainnya.1 SKT yang selanjutnya disingkat menjadi

SKT adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh KPP atau KP2KP sebagai pemberitahuan bahwa Wajib Pajak telah terdaftar pada KPP tertentu yang berisi

NPWP dan kewajiban perpajakan Wajib Pajak.2

Pendaftaran untuk memperoleh NPWP dan Pelaporan untuk dikukuhkan sebagai

PKP adalah tahap pertama dalam CircumNavigation UU KUP sebagaimana

dalam Gambar 2­1.

1Pasal 1 angka 9 PER-20/PJ/2013 2Pasal 1 angka 10 PER-20/PJ/2013

KEGIATAN BELAJAR 2

Gambar 2­1 Kedudukan NPWP dan PKP dalam CircumNavigation UU KUP

Pendaftaran NPWP dan pengukuhan PKP diatur dalam Pasal 2 Undang­Undang KUP yang dapat dijelaskan sebagaimana Gambar 2­2.

KUP

Kewajiban Mendaftar dan Fungsi NPWP

Secara yuridis taatbestand diatur dalam Pasal 2 ayat (1) Undang­ Undang KUP yang mengatur bahwa bahwa setiap Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang­undangan perpajakan

wajib mendaftarkan diri pada kantor DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak dan kepadanya diberikan NPWP. Sesuai dengan sistem self assessment setiap Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif tersebut wajib mendaftarkan diri pada kantor DJP untuk dicatat sebagai Wajib Pajak dan sekaligus untuk mendapatkan NPWP. Adapun apa itu persyaratan sbyektif dan obyektif disebutkan dalam penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang­Undang KUP, sebagai berikut.

 Persyaratan subjektif adalah persyaratan yang sesuai dengan ketentuan mengenai subjek pajak dalam Undang­Undang Pajak Penghasilan 1984 dan perubahannya.

 Persyaratan objektif adalah persyaratan bagi subjek pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan atau diwajibkan untuk melakukan pemotongan/pemungutan sesuai dengan ketentuan Undang­Undang Pajak Penghasilan 1984 dan perubahannya.

Perlu dipahami bahwa meskipun penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang­Undang KUP hanya menjelaskan tentang persyaratan subjektif dan persyaratan objektif sebagaimana diatur dalam Undang­Undang PPh beserta perubahannya, tetapi

ketentuan taatbestand juga berlaku untuk Undang­undang PPN 1984 dan

perubahannya. Alasannya adalah karena aturan yang berisi norma dalam undang­ undang adalah apa yang ada dalam batang tubuh, penjelasan bukanlah norma yang mengatur tetapi lebih bersifat penafsiran otentik dari batang tubuhnya. Wajib Pajak lazimnya dipakai untuk menyebut subyek Pajak Penghasilan, sedangkan untuk subyek pajak PPN disebut dengan istilah PKP. Pengukuhan PKP akan dibahas dalam subbab tersendiri.

Perlu ditekankan bahwa fungsi NPWP merupakan sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak, bukan untuk menentukan saat terutangnya pajak atau saat mulai harus

melaporkan pajaknya. Masing­masing orang mempunyai tanda pengenal diri atau identitas berupa nama, tetapi nama banyak yang sama atau mirip sehingga menyulitkan dalam administrasi dan pengawasan perpajkannya. Agar masing­ masing identitas Wajib Pajak unik untuk memudahkan administrasi perpajakannya maka selain nama, juga diberikan NPWP sebagai identitas.

Setiap Wajib Pajak, baik orang pribadi maupun badan hanya diberikan satu NPWP, sepanjang hidupnya, walaupun domisilinya berpindah­pindah. NPWP juga dipergunakan untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan dalam pengawasan administrasi perpajakan. Dalam hal berhubungan dengan dokumen perpajakan, Wajib Pajak diwajibkan mencantumkan NPWP yang dimilikinya. Wajib Pajak yang sudah mendaftarkan diri akan memperoleh NPWP yang secara fisik berupa kartu NPWP dan SKT. SKT adalah surat keterangan yang diterbitkan oleh KPP atau KP2KP sebagai pemberitahuan bahwa Wajib Pajak telah terdaftar

pada KPP tertentu yang berisi NPWP dan kewajiban perpajakan Wajib Pajak.3

Terhadap Wajib Pajak yang tidak mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang­undangan perpajakan.4

Subyek Yang Wajib Mendaftarkan Diri untuk Memperoleh NPWP

Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang­Undang KUP menyebutkan bahwa kewajiban mendaftarkan diri tersebut berlaku pula terhadap wanita kawin yang dikenai pajak secara terpisah karena hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim atau dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta.Wanita kawin selain tersebut di atas dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP atas namanya sendiri agar wanita kawin tersebut dapat melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya terpisah dari hak dan kewajiban perpajakan suaminya.

Kewajiban mendaftarkan diri bagi wanita kawin dengan dua kondisi tersebut dalam Undang­Undang KUP tahun 1983 belum diatur secara khusus. Mulai 1 Januari

KUP

19955 diatur bahwa kewajiban mendaftarkan diri tersebut berlaku pula terhadap

wanita kawin yang dikenakan pajak secara terpisah karena hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim atau dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta.6 Ketentuan ini juga masih ada dalam

perubahan Undang­Undang KUP tahun 2000. Undang­Undang KUP perubahan tahun 2007 menambah ketentuan baru bahwa bagi wanita kawin selain dua kondisi tersebut di atas dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP atas namanya sendiri agar wanita kawin tersebut dapat melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya terpisah dari hak dan kewajiban perpajakan suaminya.7

Jadi yang harus mendaftarkan diri adalah Wajib Pajak yang telah memenuhi syarat subjektif dan syarat objektif, termasuk wanita kawin,8 meliputi:9

a) Wajib Pajak orang pribadi, termasuk wanita kawin yang dikenai pajak secara terpisah (yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dan memperoleh penghasilan di atas PTKP) karena:

a. hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim;

b. menghendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta; atau

c. memilih melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya terpisah dari suaminya meskipun tidak terdapat keputusan hakim atau tidak terdapat perjanjian pemisahan penghasilan dan harta, yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dan memperoleh penghasilan di atas Penghasilan Tidak Kena Pajak;

b) Wajib Pajak orang pribadi, termasuk wanita kawin yang dikenai pajak secara

5 mulai berlakunya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan

6 Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1994 tentang Perubahan

Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, ketentuan ini diatur dalam (batang tubuh) Pasal 2 ayat (2) PP Nomor 74 Tahun 2011

7 Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan

Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan

8 Ketentuan ini dijabarkan lebih lanjut dalam Pasal 2 PP No. 74 Tahun 2011 dan Pasal 2 PMK Nomor

73/PMK.03/2012 dan Pasal 2 Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-20/PJ/2013

terpisah (yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas) karena: a. hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim;

b. menghendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta; atau

c. memilih melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan terpisah dari suaminya meskipun tidak terdapat keputusan hakim atau tidak terdapat perjanjian pemisahan penghasilan dan harta, yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;

Catatan 1: Wanita kawin yang ingin melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan terpisah dari hak dan kewajiban perpajakan suami

harus mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP.10Contoh: Bapak Bagus

yang telah memiliki NPWP 12.345.678.9­XXX.000 menikah dengan Ibu Ayu yang belum memiliki NPWP. Ibu Ayu memperoleh penghasilan dan ingin melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan secara terpisah dari suaminya. Oleh karena itu, Ibu Ayu harus mendaftarkan diri ke Kantor DJP untuk memperoleh NPWP dan diberi NPWP baru dengan nomor 98.765.432.1­XXX.000.

Catatan 2: Dalam hal wanita kawin yang ingin melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan terpisah dari hak dan kewajiban perpajakan suami telah memiliki NPWP sebelum kawin, tidak perlu mendaftarkan diri

untuk memperoleh NPWP.11Contoh: Lisa memperoleh penghasilan dan telah

memiliki NPWP dengan nomor 56.789.012.3­XYZ.000. Lisa kemudian menikah dengan Hengki yang telah memiliki NPWP 78.901.234.5­XYZ.000. Apabila Lisa setelah menikah memilih untuk melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan secara terpisah dari suaminya, maka Lisa tidak perlu mendaftarkan diri lagi untuk memperoleh NPWP dan tetap menggunakan NPWP 56.789.012.3­XYZ.000 dalam melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya.

c) Wajib Pajak badan yang memiliki kewajiban perpajakan sebagai pembayar

KUP

pajak, pemotong dan/atau pemungut pajak sesuai ketentuan peraturan perundang­undangan perpajakan, termasuk bentuk usaha tetap dan kontraktor dan/atau operator di bidang usaha hulu minyak dan gas bumi; d) Wajib Pajak badan yang hanya memiliki kewajiban perpajakan sebagai

pemotong dan/atau pemungut pajak sesuai ketentuan peraturan perundang­ undangan perpajakan, termasuk bentuk kerja sama operasi (Joint Operation);

dan

e) Bendahara yang ditunjuk sebagai pemotong dan/atau pemungut pajak sesuai ketentuan peraturan perundang­undangan perpajakan.

Wajib Pajak orang pribadi selain Wajib Pajak tersebut di atas dapat memilih untuk

mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP.12

Pengecualian:

 Wanita kawin yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang­undangan di bidang perpajakan dan tidak hidup terpisah atau tidak melakukan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta secara tertulis, hak dan kewajiban perpajakannya digabungkan

dengan pelaksanaan hak dan pemenuhan kewajiban perpajakan suaminya.13

Contoh: Suami istri berdomisili di Salatiga, karena suami bekerja di Pekanbaru, yang bersangkutan bertempat tinggal di Pekanbaru sedangkan istri bertempat tinggal di Salatiga.14

Kewajiban Mendaftar NPWP bagi Wanita Kawin dan Anak Yang Belum Dewasa

Pada prinsipnya sistem administrasi perpajakan di Indonesia menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis, sehingga dalam satu keluarga hanya

terdapat satu NPWP. Dengan demikian, wanita kawin yang tidak menghendaki

untuk melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan terpisah dari

12Pasal 2 ayat (7) PMK No. 73/PMK.03/2012 jo. Pasal 2 ayat (6) PER - 20/PJ/2013 13Pasal 2 ayat (3) PP 74 Tahun 2011

suaminya dan anak yang belum dewasa, harus melaksanakan hak dan memenuhi

kewajiban perpajakannya menggunakan NPWP suami atau kepala keluarga.15

Wanita kawin yang telah memiliki NPWP sebelum kawin, wanita kawin tersebut harus mengajukan permohonan penghapusan NPWP dengan alasan bahwa pelaksanaan hak dan pemenuhan kewajiban perpajakannya digabungkan dengan pelaksanaan hak dan pemenuhan kewajiban perpajakan suaminya. Demikian halnya terhadap "anak yang belum dewasa" sebagaimana diatur dalam Undang­ Undang Pajak Penghasilan 1984 dan perubahannya, yaitu yang belum berumur 18 tahun dan belum pernah menikah, kewajiban perpajakan anak yang belum

dewasa tersebut digabung dengan orang tuanya.16

Dalam Hukum Perdata dikenal dua keadaan yang berhubungan dengan lembaga perkawinan, pertama perkawinan yang hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim, kedua perkawinan yang dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta. Perkawinan yang hidup terpisah berdasarkan putusan hakim juga dikenal dengan istilah perceraian, sedangkan perkawinan dengan perjanjian pisah penghasilan dan harta status perkawinan masih utuh seperti perkawinan pada umumnya hanya penghasilan dan hartanya secara yuridis dipisahkan. Tidak termasuk dalam pengertian hidup terpisah adalah suami istri yang hidup terpisah antara lain karena tugas, pekerjaan, atau usaha.

Terdapat perbedaan istilah untuk anak yang belum dewasa, penjelasan Pasal 2 ayat (3) PP Nomor 74 Tahun 2011 untuk anak yang belum dewasa digabung dengan orang tuanya, sedangkan Pasal 2 ayat (5) PER­20/PJ/2013 disebut dengan istilah kepala keluarga. Penulis setuju menggunakan istilah orang tua bukan kepala keluarga. Makna kepala keluarga di Indonesia identik dengan suami atau laki­laki sedangkan orang tua bisa bapak atau ibu. Anak yang belum dewasa dalam kasus hidup terpisah atau perceraian dapat ikut bapak atau ibunya, sedangkan kewajiban perpajakannya mengikuti kepada siapa ia secara nyata yang ditunjuk menjadi wali, bisa bapak atau ibu.

KUP

Kewajiban NPWP Warisan Yang Belum Terbagi

Undang­Undang KUP tidak mengatur ketentuan NPWP bagi warisan yang belum terbagi, namun karena Undang­Undang PPh mengakui sebagai sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak dalam kedudukannya sebagai subyek pajak maka perlu aturan sebagai dasar hukumnya. PP 74 Tahun 2011 mengatur bahwa warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak dalam kedudukannya sebagai subjek pajak menggunakan NPWP dari orang pribadi yang meninggalkan warisan tersebut dan diwakili oleh salah seorang ahli waris, pelaksana wasiat, atau pihak yang mengurus harta peninggalan.17 Wakil

dari Wajib Pajak orang pribadi yang meninggalkan warisan wajib melaporkan perubahan data ke KPP tempat Wajib Pajak terdaftar.18 Maksud melaporkan

perubahan data ke KPP tempat Wajib Pajak terdaftar adalah melaporkan bahwa Wajib Pajak sudah meninggal dunia sehingga nantinya subyek pajak berubah namanya menjadi warisan yang belum terbagi tetapi NPWP­nya masih menggunakan NPWP almahum/almahumah, tetapi dalam menghitung PPh­nya tidak mendapat penguang PTKP.

Cara Pendaftaran NPWP dan Pelaporan PKP

Cara pendaftaran NPWP dan pengukuhan PKP dapat dilakukan secara manual

maupun e-Registration. Pendaftaran NPWP dan Pelaporan PKP secara manual

(termasuk jika tidak bisa e-Registration) adalah sebagai berikut.

 Wajib Pajak yang mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP dan/atau melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP dilakukan melalui permohonan tertulis,19 dengan mengisi dan menandatangani Formulir

Pendaftaran Wajib Pajak dan harus melengkapi formulir pendaftaran tersebut dengan dokumen yang disyaratkan ke KPP atau KP2KP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan atau tempat kegiatan usaha Wajib Pajak secara langsung, melalui pos, atau melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir. KPP atau KP2KP memberikan Bukti

17 Pasal 3 PP No. 74 Tahun 2011

18 Pasal 5 ayat (3) PMK No. 73/PMK.03/2012

Penerimaan Surat apabila permohonan dinyatakan telah diterima secara lengkap.

 Berdasarkan permohonan tersebut, KPP atau KP2KP menerbitkan NPWP

paling lambat 1 hari kerja terhitung sejak permohonan diterima secara lengkap dan pengukuhan PKP paling lambat 5 hari kerja terhitung sejak permohonan diterima secara lengkap.20

 Pengukuhan PKP diberikan setelah dilakukan verifikasi.21

 Kartu NPWP dan SKT disampaikan kepada Wajib Pajak melalui pos tercatat.22

Pendaftaran NPWP melalui e-Registration yang dilakukan secara online via internet sehingga memungkinkan pendaftran melalui dunia maya yang bisa dilakukan dimana saja.23 Cara pendaftaran NPWP pada Aplikasi e-Registration

sebagai berikut.24

 Wajib Pajak yang diwajibkan untuk mendaftarkan diri karena diwajibkan atau Wajib Pajak memilih untuk mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP, wajib mengajukan permohonan pendaftaran NPWP dengan menggunakan Formulir Pendaftaran Wajib Pajak. Permohonan pendaftaran dilakukan secara elektronik pada Aplikasi e-Registration yang tersedia pada laman DJP di www.pajak.go.id dan dianggap telah ditandatangani secara elektronik atau digital dan mempunyai kekuatan hukum.

 Wajib Pajak yang telah menyampaikan Formulir Pendaftaran Wajib Pajak melalui Aplikasi e-Registration harus mengirimkan dokumen yang disyaratkan ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan

atau tempat kegiatan usaha Wajib Pajak dengan cara mengunggah (upload)

salinan digital (softcopy) dokumen melalui Aplikasi e-Registration atau mengirimkan dengan menggunakan Surat Pengiriman Dokumen yang telah ditandatangani. Apabila dokumen yang disyaratkan belum diterima KPP

20 Pasal 4 ayat (2) PMK No. 73/PMK.03/2012 dan Pasal 7 ayat (1) PER - 20/PJ/2013 21 Pasal 4 ayat (3) PMK No. 73/PMK.03/2012

22Pasal 7 ayat (2) PER - 20/PJ/2013 23 Pasal 4 PER-20/PJ/2013

KUP

dalam jangka waktu 14 hari kerja setelah penyampaian permohonan pendaftaran secara elektronik, permohonan tersebut dianggap tidak diajukan.

 Apabila dokumen yang disyaratkan telah diterima secara lengkap, KPP menerbitkan Bukti Penerimaan Surat secara elektronik.KPP atau KP2KP menerbitkan Kartu NPWP dan SKT paling lambat 1 hari kerja setelah Bukti Penerimaan Surat diterbitkan.25

Tempat Pendaftaran NPWP

Pasal 2 ayat (1) Undang­Undang KUP mengatur bahwa setiap Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang­undangan perpajakan wajib mendaftarkan diri pada kantor DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak dan kepadanya diberikan NPWP. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa selain itu, bagi Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu, yaitu Wajib Pajak orang pribadi yang mempunyai tempat usaha tersebar di beberapa tempat, misalnya pedagang elektronik yang mempunyai toko di beberapa pusat perbelanjaan, di samping wajib mendaftarkan diri pada kantor DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal Wajib Pajak, juga diwajibkan mendaftarkan diri pada kantor DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha Wajib Pajak dilakukan. Maksud kantor DJP adalah,26 KPP atau KP2KP yang wilayah

kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak; KPP tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang­undangan di bidang perpajakan; atau tempat lain yang ditunjuk oleh Dirjen Pajak.

Pasal 2 ayat (3) Undang­Undang KUP mengatur bahwa Dirjen Pajak dapat menetapkan:

a. tempat pendaftaran dan/atau tempat pelaporan usaha selain yang ditetapkan pada ayat (1) dan ayat (2); dan/atau

b. tempat pendaftaran pada kantor DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal dan kantor DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha dilakukan, bagi Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu.

25Pasal 7 ayat (1) PER - 20/PJ/2013 26Pasal 3 ayat (1) PMK-73/PMK.03/2012

Bagi Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu selain mendaftarkan diri ke KPP atau tempat lain juga mendaftarkan diri ke KPP yang wilayah kerjanya

meliputi tempat-tempat kegiatan usaha Wajib Pajak.27 Wajib Pajak Orang

Pribadi Pengusaha Tertentu adalah Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha sebagai pedagang pengecer yang mempunyai satu atau lebih tempat usaha sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang­undangan di bidang perpajakan yang mengatur mengenai Orang Pribadi Pengusaha Tertentu.28 Dalam hal tempat tinggal atau tempat kedudukan, dan/atau tempat

kegiatan usaha Wajib Pajak berada dalam dua atau lebih wilayah kerja KPP, Dirjen Pajak dapat menetapkan KPP tempat Wajib Pajak terdaftar.29 Tempat

tinggal atau tempat kedudukan tersebut merupakan tempat tinggal atau tempat

kedudukan menurut keadaan yang sebenarnya.30 Tempat pendaftaran masing­

masing Wajib Pajak berbeda, sebagai berikut.31

 Pendaftaran diri untuk memperoleh NPWP bagi Wajib Pajak orang pribadi dilakukan pada:32

a. KPP atau KP2KP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak;

b. KPP tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang­undangan di bidang perpajakan; atau

c. tempat lain yang ditunjuk oleh Dirjen Pajak.

 Bagi Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu selain mendaftarkan diri ke KPP atau tempat lain juga mendaftarkan diri ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat­tempat kegiatan usaha Wajib Pajak.33

 Wajib Pajak orang pribadi yang memenuhi syarat sebagai PKP melaporkan

usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP pada KPP atau KP2KP

27Pasal 3 ayat (2) PMK-73/PMK.03/2012 juga diatur lebih lanjut dalam PER - 20/PJ/2013 sebenarnya ketentuan

ini awalnya ada pada penjelasan Pasal 2 ayat (3) Undang-Undang KUP

28Pasal 1 ayat (1) PER - 20/PJ/2013 sebenarnya ketentuan ini awalnya ada pada penjelasan Pasal 2 ayat (3)

Undang-Undang KUP

29Pasal 3 ayat (4) PMK-73/PMK.03/2012 30Pasal 2 ayat (2) PER - 20/PJ/2013 31 Pasal 3 PMK-73/PMK.03/2012

KUP

yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan, dan/atau tempat kegiatan usaha Wajib Pajak, atau KPP tertentu (LTO, PMA, Badora) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang­undangan di bidang perpajakan.34

 Dalam hal tempat tinggal atau tempat kedudukan, dan/atau tempat kegiatan usaha Wajib Pajak berada dalam dua atau lebih wilayah kerja KPP, Dirjen Pajak dapat menetapkan KPP tempat Wajib Pajak terdaftar.35

Penerbitan NPWP Secara Jabatan

Pasal 2 ayat (4) Undang­Undang KUP mengatur bahwa Dirjen Pajak menerbitkan NPWP dan/atau mengukuhkan PKP secara jabatan apabila Wajib Pajak atau PKP tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud pada Pasal ayat (1) dan/atau ayat (2) Undang­Undang KUP.36 Hal ini dapat dilakukan apabila

berdasarkan data yang diperoleh atau dimiliki oleh DJP ternyata orang pribadi atau badan atau Pengusaha tersebut telah memenuhi syarat untuk memperoleh NPWP dan/atau dikukuhkan sebagai PKP.37 Penerbitan NPWP dan/atau pengukuhan

PKP oleh Dirjen Pajak secara jabatan dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan atau hasil verifikasi,38 sesuai dengan ketentuan peraturan perundang­undangan di

bidang perpajakan yang mengatur mengenai tata cara Pemeriksaan atau tata cara Verifikasi.39 Tanggal terdaftar yang tercantum dalam Kartu NPWP dan SKT yang

diterbitkan secara jabatan sesuai dengan tanggal penerbitan Kartu NPWP dan SKT.40

Pasal 2 ayat (4a) Undang­Undang KUP mengatur bahwa kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak yang diterbitkan NPWP dan/atau yang dikukuhkan sebagai PKP

Dalam dokumen PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK (Halaman 53-97)