BAB II IMPLIKASI KLAUSULA PILIHAN HUKUM (CHOICE
D. Kewenangan Dalam Melaksanakan Putusan Pengadilan dan
Kontrak dagang yang dilakukan oleh pengusaha Indonesia dengan pihak asing seringkali dicantumkan klausula yang mengatur pilihan hukum (choice of law) dan pilihan forum (choice of forum/jurisdiction) yang digunakan sebagai dasar untuk
311M. Yahya Harahap I, op.cit., h. 205.
312Ibid.
313Ibid.
111
menyelesaikan jika timbul sengketa di antara mereka sehubungan dengan kontrak tersebut.314
Pihak asing dalam penentuan klausula tersebut umumnya lebih menghendaki hukum dan forum peradilan atau hakim negara merekalah yang digunakan untuk pelaksanaan, penafsiran dan penyelesaian sengketa kontrak tersebut. 315
Pilihan forum berupa pengadilan asing, menimbulkan persoalan sehubungan dengan pelaksanaan putusan pengadilan tersebut di Indonesia. Sejauh mana daya kekuatan mengikat putusan pengadilan atau hakim asing, belum ditemukan format yang jelas. Dalam berbagai kejadian sampai sekarang masih dipegang dua landasan.316
Pertama, Bontmantel Arrest (HR, 4 November 1024, NJ1925, 19). Putusan kasus ini, menyingkirkan penerapan semula yang tertuang dalam putusan HR 31 Januari 1902 (7717) yang secara tegas dan bersifat umum menyatakan, bahwa putusan hakim asing atau luar negeri tidak mempunyai daya kekuatan pasti.317
Putusan Bontmantel Arrest, mengakui bahwa putusan asing (dalam kasus ini Pengadilan Inggris) sudah berkekuatan hukum tetap dan mengikat. Pada tingkat kasasi, HR membenarkan pendirian Pengadilan Tinggi yang menyatakan hakim atau peradilan Belanda harus meneliti secara kasuistik kekuatan mengikat setiap putusan
314Ridwan Khairandy, op.cit., h. 219.
315Ibid., h. 219-220.
316M. Yahya Harahap I, op.cit., h. 715.
317Ibid., h. 716.
hakim asing. Pendirian demikian, dianggap tidak bertentangan dengan Pasal 1954 BW (Pasal 1917 KUH Perdata).318
Terdapat perbedaan pendapat mengenai daya mengikat putusan hakim asing.
Putusan asing yang mengandung diktum condemnatoir atau menghukum, tidak diakui dan tidak mempunyai daya kekuatan mengikat. Sebaliknya putusan hakim asing yang mengandung diktum menolak, dapat diakui mempunyai daya kekuatan mengikat dengan syarat, berdasarkan perjanjian bilateral atau multilateral tetapi harus sesuai dengan asas resiprositas (reciprocity).319
Kedua, Pasal 436 Rv menegaskan kecuali undang-undang mengatur sendiri putusan hakim asing tidak dapat dilaksanakan di dalam negeri Indonesia. Pasal ini tidak membedakan apakah putusan hakim Asing itu mengabulkan gugatan yang berisi amar condemnatoir atau menolak gugatan. Secara generalisasi disamaratakan yaitu setiap putusan hakim asing tidak dapat dieksekusi oleh pengadilan Indonesia.320
Pendirian ini adalah sesuai dengan asas kedaulatan teritorial (principle of territorial sovereignty), berdasarkan mana keputusan hakim asing tidak dapat secara langsung dilaksanakan dalam wilayah negara lain atas kekuatannya sendiri.321
Meskipun Pasal 6 Undang-Undang Darurat No. 1 Tahun 1951, telah menyatakan Rv tidak berlaku lagi dan Hukum Acara yang berlaku HIR dan RBg,
318Setiawan, Aneka Masalah Hukum dan Hukum Acara Perdata, Alumni, Bandung, 1992, h.
716.
319M. Yahya Harahap I, op.cit., h. 717.
320Ibid.
321Sudargo Gautama IV, op.cit., h. 279.
113
namun ketentuan Pasal 436 Rv tersebut masih dijadikan rujukan berdasarkan doktrin process doelmatigheid atau berdasarkan kebijaksanaan (deskresi), atas alasan HIR atau RBg tidak memiliki aturan tentang pengakuan dan pelaksanaan putusan pengadilan asing (recognition and enforcement of foreign judgement). Dan Pasal 436 Rv itulah yang dipedomani para praktisi dalam menilai kekuatan mengikat maupun pengakuan dan eksekusi putusan hakim Asing.322
Pengecualian terhadap Pasal 436 Rv terdapat dalam Pasal 724 KUHD yang menurut ayat terakhir pasal ini, dimungkinkan mengadakan perhitungan dan pembagian avarij di luar Indonesia. Apabila diadakan di luar Indonesia, dan kemudian dijatuhkan putusan meskipun itu putusan hakim asing atau berdasarkan wewenang kekuasaan asing, putusan itu mengikat untuk diakui dan dieksekusi oleh pengadilan Indonesia.323
Pasal 698 WvK dijelaskan apakah yang di maksud dengan "avarij grosse", ongkos-ongkos khusus yang telah dikeluarkan demi keselamatan kapal dan barang-barangnya, yang akan diperhitungkan atas kapal, serta biaya angkutan barang-barang yang diangkut.324
Jalan lain yang dapat menembus larangan Pasal 436 Rv maupun doktrin territorial sovereignty principle, yakni melalui perjanjian bilateral atau multilateral
322M. Yahya Harahap I, loc.cit.
323Ibid., h. 718.
324Sudargo Gautama IV, op.cit., h. 281.
antara Indonesia dengan suatu atau beberapa negara, sesuai dengan asas resiprositas.325
Ayat (2) Pasal 436 Rv mengatakan, satu-satunya cara untuk mengeksekusi putusan hakim asing oleh pengadilan Indonesia, putusan hakim asing tersebut dijadikan dasar hukum mengajukan gugatan baru di pengadilan Indonesia. Di mana putusan asing itu dapat dijadikan alat bukti tulisan dengan daya kekuatan mengikatnya kasuistik yakni bisa bernilai sebagai akta autentik yang memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna dan mengikat, atau hanya sebagai fakta hukum yang dinilai secara bebas sesuai dengan pertimbangan hakim.326
Putusan hakim asing yang kabur dan tidak jelas hanya dinilai sebagai fakta hukum yang memiliki nilai kekuatan pembuktian bebas. Atau putusan yang bertentangan dengan ketertiban umum di Indonesia, tidak layak menilainya memiliki daya mengikat sama sekali. Putusan hakim asing ini tidak patut dijadikan alat bukti tulisan atau alat bukti persangkaan undang-undang berdasarkan Pasal 1915 jo. Pasal 1917 KUHPerdata.327
Sebaliknya, putusan hakim asing yang jelas dan kuat, tidak ada cacat celanya dan tidak bertentangan dengan ketertiban umum, daya mengikat dan kekuatan pembuktiannya dapat disamakan dengan akta autentik yang mempunyai nilai kekuatan pembuktian yang sempurna dan mengikat atau alat bukti persangkan
325M. Yahya Harahap I, loc.cit.
326Ibid.
327Ibid.
115
undang-undang. Minimal persangkan undang-undang yang dapat dibantah (rebuttable presumptions of law) yang digariskan Pasal 1916 ayat (2) ke-3 KUHPerdata.328
Putusan Pengadilan Asing tidak dapat dilaksanakan, namun putusan arbitrase asing sudah dapat dilaksanakan di Indonesia sejak Indonesia meratifikasi Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Award 1958 melalui Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 1981. Para pihak yang bersengketa juga bebas memilih lembaga Arbitrase yang ada di negara manapun.329
Hal yang mendorong pemerintah untuk mengatur arbitrase asing bertitik tolak dari kenyataan pemerintah tidak mungkin menutup mata atas fakta bahwa setiap hubungan perjanjian internasional di bidang perdagangan dan penanaman modal asing atau joint venture, pihak luar selalu menuntut adanya klausula arbitrase yang bercorak internasional.330
Kecenderungan tersebut menurut Erman Rajagukguk, disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, pada umumnya pihak asing kurang mengenal sistem tata hukum negara lain. Kedua, adanya keraguan akan sikap objektivitas pengadilan setempat dalam memeriksa dan memutus perkara yang didalamnya terlibat unsur
328Ibid., h. 718-719.
329Munir fuady, Arbitrase Nasional, Alternatif Penyelesaian Sengketa Bisnis, Aditya Bakti, 2000, Bandung, h. 190.
330M. Yahya Harahap, Arbitrase, Ditinjau dari: Reglemen Acara Pedata (Rv), Peraturan Prosedur BANI, International Center for the Settlement of Investment Disputes (ICSID), UNCITRAL Arbitration Rules, Convention on the Recognition and Enforcement of Foreing Arbitral Award, PERMA No. 1 Tahun 1990, Edisi Kedua, Sinar Grafika, Jakarta, 2006, h. 3.
asing. Ketiga, pihak asing masih ragu akan kualitas dan kemampuan pengadilan negara berkembang memeriksa dan memutus perkara yang berskala perdagangan internasional dan alih teknologi. Keempat, timbulnya dugaan dan kesan, penyelesaian sengketa melalui jalur formal badan pengadilan, memakan waktu yang lama.331
Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1990 tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing, Pasal 2 menyebutkan:
"yang di maksud dengan putusan Arbitrase Asing adalah putusan yang dijatuhkan oleh Badan Arbitrase ataupun Arbiter perorangan di luar wilayah hukum Republik Indonesia, ataupun Arbiter perorangan yang menurut ketentuan hukum Republik Indonesia dianggap sebagai suatu putusan Arbitrase Asing, yang berkekuatan hukum tetap sesuai dengan Keppres Nomor 34 Tahun 1981 lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 40 Tanggal 5 Agustus 1981."
Putusan arbitrase internasional hanya dapat dieksekusi jika sebelumnya telah dideponir di kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, diatur dalam Pasal 67 sampai 69 UU No. 30 Tahun 1999 sebagai pembaharuan ketentuan yang sama yang diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 1990.332
Pendeponiran putusan Arbitrase internasional dilakukan di kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, setelah arbiter atau kuasanya menyerahkan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk itu. Adapun dokumen-dokumen yang akan dideponir tersebut, meliputi:
a. Asli atau salinan autentik putusan arbitrase internasional dengan disertai naskah terjemahan resminya dalam bahasa Indonesia;
b. Asli atau salinan autentik perjanjian yang menjadi dasar putusan arbitrase dengan disertai naskah terjemahan resminya dalam bahasa Indonesia;
c. Surat keterangan dari perwakilan diplomatik Republik Indonesia di negara tempat putusan arbitrase internasional ditetapkan, yang menyatakan bahwa negara
331Ibid., h. 4.
332Rachmadi Usman, op.cit., h. 152.
117
pemohonan terikat pada perjanjian, baik secara bilateral maupun multilateral dengan negara Republik Indonesia perihal pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional.333
Permohonan pelaksanaan eksekusi putusan arbitrase internasional disampaikan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat disertai dengan dokumen-dokumen yang telah dideponir. 334
Atas dasar pemohonan tersebut, Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengeluarkan putusan yang isinya menerima atau menolak untuk mengakui dan mengeksekusi suatu putusan arbitrase internasional. Apabila putusan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menerima mengakui dan melaksanakan putusan arbitrase internasional, maka putusannya bersifat final, sehingga tidak dapat diajukan upaya banding atau kasasi.335
Sebaliknya apabila putusan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menolak untuk mengakui dan melaksanakan suatu putusan arbitrase internasional, maka terhadapnya dapat diupayakan kasasi ke Mahkamah Agung. Selanjutnya, dalam jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari setelah permohonan kasasi tersebut diterima, Mahkamah Agung akan mempertimbangkan serta memutuskan untuk menerima atau menolak pengajuan kasasi di maksud. Putusan Mahkamah
333Ibid.
334Ibid., h. 153.
335Ibid.
Agung ini juga bersifat final, karenanya tidak dapat diajukan perlawanan hukum apa pun. 336
Putusan arbitrse internasional agar dapat diakui dan dilaksanakan eksekusinya di Indonesia, harus memenuhi persyaratan Pasal 66 UU No. 30 Tahun 1999, yakni:
a. Putusan dijatuhkan oleh arbiter atau majelis arbitrase di suatu negara yang dengan negara Indonesia terikat pada perjanjian, baik secara bilateral maupun multilateral, mengenai pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional;
b. Putusan di maksud terbatas pada putusan yang menurut ketentuan hukum Indonesia termasuk dalam ruang lingkup hukum perdagangan;
c. Putusan di maksud hanya dapat dilaksanakan di Indonesia terbatas pada putusan yang tidak bertentangan dengan ketertiban umum;
d. Putusan arbitrase internasional dapat dilaksanakan di Indonesia setelah memperoleh eksekuator dari Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat; dan
e. Putusan arbitrase internasional di maksud yang menyangkut negara Republik Indonesia sebagai salah satu pihak dalam sengketa, hanya dapat dilaksanakan setelah memperoleh eksekuator dari Mahkamah Agung yang selanjutnya dilimpahkan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Terhadap putusan Mahkamah Agung yang menerima atau menolak mengakui dan mengeksekusi putusan arbitrase internasional, tidak dapat diajukan upaya perlawanan apapun.
336Ibid.
119
Suatu putusan arbitrase internasional baru dapat dilaksanakan eksekusinya dengan putusan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam bentuk perintah pelaksanaan (eksekuator). Pada dasarnya yang berwenang melaksanakan eksekusi putusan arbitrase internasional tersebut adalah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Akan tetapi, Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dapat melimpahkan pelaksanaan eksekusi putusan arbitrase internasional tersebut kepada Ketua Pengadilan Negeri lainnya sesuai dengan kewenangan relatifnya untuk melaksanakannya.337
Pelaksanaan eksekusi terhadap putusan arbitrase internasional dapat dilakukan dengan melakukan sita eksekusi atas harta kekayaan serta barang milik termohon eksekusi, yang tata caranya mengikuti tata cara sebagaimana ditentukan dalam hukum acara perdata. Demikian pula, dengan tata cara pelaksanaan eksekusi putusan arbitrase internasional mengikuti cara sebagaimana ditentukan dalam hukum acara perdata.338
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagai lembaga yang berwenang yang ditunjuk undang-undang melaksanakan putusan arbitrase asing pada dasarnya memiliki dua kewenangan, yaitu menolak pelaksanaan putusan arbitrase internasional di Indonesia atau mengaku dan melaksanakannya. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
337Ibid., h. 154.
338Ibid.
tidak berwenang membatalkan putusan arbitrase internasional, Pasal 70 UU No. 30 Tahun 1999 hanya berlaku terhadap putusan arbitrase dalam negeri.339
Interpretasi competent authority dari Pasal V (1) (e) Konvensi New York 1958 hanya merujuk pada satu otoritas yang berwenang (one competent authority).
Hanya ada satu pengadilan yang berwenang dalam membatalkan putusan arbitrase internasional, yaitu pengadilan di mana putusan arbitrase dibuat. 340
339Candra Irawan, op.cit., h. 100.
340Hikmahanto Juwana, "Pembatalan Putusan Arbitrase Internasional oleh Pengadilan Nasional", Jurnal Hukum Bisnis, Vol.21, Jakarta, 2002, h. 71.
BAB IV
PENERAPAN HUKUM OLEH MAJELIS HAKIM TERKAIT KEWENANGAN MENGADILI SENGKETA KONTRAK BISNIS INTERNASIONAL DALAM PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR
1935 K/PDT/2012
A. Duduk Perkara 1. Kronologis
PT. Asuransi Harta Aman Pratama, Tbk., berkedudukan di Jalan Balikpapan Raya Nomor 6 Jakarta 10130, selaku Pemohon Kasasi dahulu Tergugat/Pembanding dan PT. Pelayaran Manalagi, berkedudukan di Surabaya, di Jalan Karet Nomor 104 Surabaya selaku Termohon Kasasi dahulu Penggugat/Terbanding; telah menyepakati dan oleh karenanya terikat atas Perjanjian Asuransi Marine Hull and Machinery Policy Nomor 03.08.05.10.827.00025, dengan objek pertanggungan kapal kargo KM.
Bayu Prima.
Pada tanggal 26 April 2006, KM. Bayu Prima membawa muatan (cargo) dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menuju Pelabuhan Batu Ampar Batam kemudian pada tanggal 4 Mei 2006, pada saat KM. Bayu Prima berlabuh untuk menunggu sandar di Pelabuhan Batu Ampar, seorang crew yang sedang bertugas melakukan pemeriksaan kapal melihat kepulan asap dari palka Nomor 1, yang selanjutnya Nahkoda memerintahkan Mualim 1 melaporkan kebakaran tersebut kepada tim tanggap darurat pusat.
Tindakan-tindakan sesuai prosedur penanggulangan kebakaran telah dilakukan dalam upaya untuk memadamkan kebakaran. Selain itu, KM. Bayu Prima juga mendapat bantuan dari kapal-kapal lain, namun upaya pemadaman tersebut hanya berhasil sementara karena titik api tidak dapat dipadamkan dengan tuntas.
Pada tanggal 5 Mei 2006, KM. Bayu Prima black out, namun hingga tanggal 6 Mei 2006 crew masih terus berusaha memadamkan api, tetapi kebakaran masih terus terjadi, bahkan api sudah menjalar ke palka Nomor 11. Selanjutnya untuk alasan keselamatan dan keamanan Syahbandar memerintahkan crew untuk meninggalkan kapal dan memerintahkan agar KM. Bayu Prima dikandaskan (beached).
Akibat dikandaskannya KM, Bayu Prima, Tertanggung mengalami kerugian total (total loss), sehingga sesuai dengan Polis Marine Hull and Machinery Policy Nomor 03.08.05.10.827.00025, Tertanggung berhak mengajukan klaim secara penuh.
Atas klaim tersebut, Penanggung menyatakan menolak klaim yang diajukan oleh Tertanggung dengan alasan penempatan barang yang tidak sesuai dengan rekomendasi yang diijinkan, jumlah cargo yang diangkut melebihi jumlah yang diijinkan, dan informasi tahun pembuatan kapal yang tidak sesuai antara polis dengan Registered Owner yang tercatat.
Tanggal 12 Juli 2006 PT. Abadi Cemerlang selaku Surveyor telah mengeluarkan laporan yang pada pokoknya menyatakan bahwa pada saat berlayar mesin dan lambung KM. Bayu Prima dalam kondisi bagus dan penyimpanan barang berbahaya (cargo stowage) telah mendapat ijin Syahbandar dengan surat Nomor GM
123
763854/IV/ADPL, SBA-2006 tertanggal 25 April 2006 dan KM. Bayu Prima dilengkapi dengan dokumen-dokumen kapal yang sah dan masih berlaku.
Alasan penolakan klaim yakni dengan menyatakan bahwa jumlah cargo atau barang berbahaya yang diangkut pada KM. Bayu Prima sangat melebihi jumlah ijin yang telah diberikan oleh pihak Syahbandar, serta juga atas alasan bahwa penempatan (stowage plan) barang berbahaya tidak sesuai dengan rekomendasi yang diijinkan, merupakan wilayah kerja dan keputusan yang dilakukan oleh kru termasuk Nahkoda dalam melakukan langkah pemuatan pada kapal. Nahkoda berhak untuk menolak menjalankan kapal bila menurut perhitungan dan pemeriksaannya kapal tersebut berada dalam kondisi yang tidak aman. Sehingga jikapun terjadi fakta tindakan pemuatan barang berbahaya secara
berlebihan maka tindakan tersebut merupakan tindakan yang harus dikualifisir sebagai suatu tindakan kelalaian yang dilakukan oleh crew(crew negligent), di mana resiko kerugian akibat kelalaian Nahkoda maupun crew secara tegas dinyatakan tetap dicover dalam Polis sebagai suatu Perjanjian Asuransi yang mengikat Penggugat dan Tergugat untuk menjalankannya.
Tanggal 14 Agustus 2006 Poisedon Average Adjusters Singapore Pte. Ltd juga telah mengeluarkan laporannya, di mana dalam laporannya tersebut adjuster menerangkan KM. Bayu Prima mengalami kerusakan menyeluruh akibat dari terbakarnya kapal tersebut.
Laporan surveyor dan adjuster menyatakan bahwa KM. Bayu Prima berada dalam keadaan yang sangat baik pada saat peristiwa kebakaran tersebut terjadi dan
tidak ditemukan alasan apapun dari surveyor ataupun average adjuster yang menyimpulkan atau paling tidak mengindikasikan bahwa peristiwa kebakaran tersebut berhubungan dengan umur KM. Bayu Prima.
Bahwa kebakaran dan kelalain dari Nahkoda merupakan salah satu resiko (peril) yang dilindungi oleh polis. Selain itu juga telah ditunjuk PT. Abadi Cemerlang sebagai Surveyor dan Poisedon Adjusters (Singapore) Pte. Ltd sebagai Average Adjuster yang ditugaskan melakukan evaluasi ataupun analisa terhadap kecelakaan kebakaran tersebut, yang memberikan kesimpulan bahwa klaim asuransi adalah claimable.
2. Fakta-fakta Hukum
Pemohon Kasasi dahulu Tergugat/Pembanding; PT. Asuransi Harta Aman Pratama, Tbk., merupakan perusahaan yang didirikan dan berkedudukan di Indonesia tepatnya di Jalan Balikpapan Raya Nomor 6 Jakarta 1013.
Termohon Kasasi dahulu Penggugat/Terbanding; PT. Pelayaran Manalagi merupakan perusahaan yang didirikan dan berkedudukan di Indonesia tepatnya di Jalan Karet Nomor 104 Surabaya.
Keduanya terikat perjanjian asuransi Marine Hull and Machinery Policy Nomor 03.08.05.10.827.00025 yang ditandatangani dan dilaksanakan di Indonesia.
Objek pertanggungan merupakan kapal cargo KM. Bayu Prima, berbendera Indonesia dengan pemilik kapal dan operator adalah PT. Pelayaran Manalagi.
125
Gugatan diajukan atas penolakan klaim asuransi terhadap peristiwa kebakaran yang dialami kapal cargo KM. Bayu Prima yang terjadi di Pelabuhan Batu Ampar Batam, Indonesia.
Asuransi Marine Hull and Machinery Policy Nomor 03.08.05.10.827.00025 memuat ketentuan pilihan hukum, yakni "This insurance is subject to english law and practic.".
B. Pertimbangan Hukum (Ratio Decidendi) Dan Putusan Majelis Hakim
Ketentuan "This insurance is subject to english law and practice" yang tercantum dalam polis asuransi memberikan dasar bagi Tergugat untuk mengajukan eksepsi tentang kompetensi absolut atau kewenangan mengadili Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam perkara a quo.
Atas eksepsi tersebut Majelis Hakim memberikan pertimbangan hukum dalam Putusan Sela yang pada pokoknya menyatakan bahwa dalam hal suatu kontrak mempunyai unsur internasional yang memungkinkan diberlakukannya hukum lain selain hukum Indonesia, maka para pihak dapat menyatakan ketegasan maksudnya untuk memilih hukum yang berlaku sebagai hukum yang mengatur kontrak (governing law atau applicable law), akan tetapi dalam hal tidak dipilihnya kewenangan Pengadilan (choice of jurisdiction), maka perjanjian yang dilakukan oleh pihak-pihak Warga Negara Indonesia, dan juga terhadap objek asuransi yang berada di Indonesia, dan resiko yang terjadi di Indonesia memberikan alasan yang kuat untuk
menyatakan bahwa Pengadilan Indonesia yang berwenang untuk memeriksa dan mengadili sengketa perjanjian/kontrak tersebut.
Para pihak telah memilih hukum Inggris sebagai hukum yang berlaku dalam perjanjian/kontrak, akan tetapi para pihak tidak melakukan pilihan tentang jurisdiksi (choice of jurisdiction) pengadilan mana yang berwenang untuk memeriksa dan memutus perkara a quo, sehingga Majelis berpendapat suatu perjanjian asuransi yang dibuat dan disepakati di Indonesia, Penanggung (Tergugat) adalah suatu perusahaan asuransi yang didirikan dan diberikan ijin berusaha berdasarkan Undang-undang Usaha Perasuransian Nomor 2 tahun 1992 dan seluruh peraturan pelaksanaannya.
Objek pertanggungan (KM. Bayu Prima) adalah kapal berbendera Indonesia, dan mengalami resiko kerugian tersebut di Indonesia, yang pada intinya suatu perjanjian/kontrak yang dibuat di luar negeri atau berdasarkan hukum luar negeri akan tetapi dilaksanakan di Indonesia, maka akan tetap tunduk dengan hukum Indonesia sehingga sangat beralasan apabila perkara a quo diperiksa dan diputuskan oleh Pengadilan Indonesia.
Amar Putusan Sela menyatakan eksepsi tentang kewenangan mengadili/kompetensi absolut dari Tergugat tidak dapat diterima, menyatakan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (Majelis Hakim) berwenang secara absolut untuk memeriksa dan mengadili perkara perdata tersebut, memerintahkan kepada kedua belah pihak dalam perkara ini untuk meneruskan proses-proses perkara, dan menangguhkan biaya perkara sampai perkara akhir.
127
Pertimbangan Majelis Hakim dalam putusan a quo terhadap kewenangan mengadili Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, bahwa menurut Majelis Hakim Tergugat tidak dapat membedakan mana yang merupakan pilihan hukum (choice of law) dengan pilihan yurisdiksi (choice of yurisdiction) atau pilihan kewenangan mengadili karena antara pilihan hukum dan pilihan yurisdiksi merupakan dua hal yang berbeda, khusus dalam perkara a quo meskipun dalam perjanjian polis asuransi Nomor 03.08.05.10.827.00025 telah disepakati ketentuan hukum Inggris yang mengaturnya, akan tetapi dalam polis tersebut tidak diatur tentang yurisdiksi Pengadilan mana yang berwenang mengadili apabila terjadi permasalahan hukum sehubungan dengan perjanjian polis tersebut, maka pilihan Penggugat yang memilih Pengadilan mana yang akan memeriksa dan mengadili perkara tersebut didasarkan pada fakta yang melakukan perjanjian tersebut adalah orang Indonesia sedangkan perjanjian dibuat dan dilaksanakan di Indonesia, objek pertanggungannya terhadap kapal berbendera Indonesia, kecelakaan atau kebakaran terjadi di Indonesia, maka Pengadilan yang berwenang untuk memeriksa dan mengadili sengketa tersebut adalah Pengadilan Indonesia, dalam hal ini Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang mendasarkan pada Hukum Acara Perdata yang terdapat dalam HIR karena Penggugat memilih domisili Tergugat yang berada di Wilayah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (Pasal 118 HIR).
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat kemudian menjatuhkan putusan Nomor 52/Pdt.G/2010/PN.Jkt.Pst yang amarnya sebagai berikut:
Dalam Eksepsi
Menyatakan Eksepsi Tergugat tidak dapat diterima seluruhnya;
Dalam Pokok Perkara
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;
2. Menyatakan perjanjian Marine Hull and Machinery Policy Nomor 03.08.05.10.827.00025 dengan Tertanggung PT. Pelayaran Manalagi atas kapal KM. Bayu Prima periode 31 Oktober 2005 sampai dengan 31 Oktober 2006 dengan nilai pertanggungan USD 1,200,000.,00 (satu juta dua ratus ribu Dollar Amerika Serikat) dinyatakan sah dan mempunyai kekuatan hukum;
3. Menyatakan Tergugat telah ingkar janji (wanprestasi) dengan segala akibat hukumnya;
4. Menghukum Tergugat untuk membayar klaim asuransi berupa ganti rugi
4. Menghukum Tergugat untuk membayar klaim asuransi berupa ganti rugi