BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
7. Kinerja
a. Pengertian Kinerja
Handoko (2012: 138) menyatakan bahwa kinerja sama dengan prestasi kerja yaitu proses yang digunakan oleh organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja karyawan dengan pertimbangan hal tertentu. Efendi (2014) berpendapat bahwa kinerja merupakan hasil kerja yang dihasilkan oleh pegawai atau perilaku nyata yang ditampilkan sesuai peranannya dalam organisasi. Dalam hal ini kinerja merupakan hasil yang dicapai seseorang baik kualitas maupun kuantitas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
42
Henry Simamora (2014: 231) menyatakan bahwa hasil kerja dari seorang karyawan merupakan implementasi dari beberapa hal yang dimiliki oleh karyawan diantaranya adalah tingkat pendidikan, inisiatif, pengalaman kerja, kompensasi dan kepuasan dalam bekerja. Kinerja karyawan adalah tingkat hasil kerja karyawan dalam pencapaian persyaratan pekerjaan yang diberikan.
b. Penilaian Kinerja
Handoko (2012: 140) menyatakan bahwa pengukuran kinerja adalah usaha untuk merencanakan dan mengontrol proses pengelolaan pekerjaan, sehingga dapat dilaksanakan sesuai tujuan yang telah ditetapkan. Penilaian prestasi kerja juga merupakan proses mengevaluasi dan menilai prestasi kerja karyawan di waktu yang lalu atau untuk memprediksi prestasi kerja di waktu yang akan datang dalam suatu organisasi.
Desseler (2016: 212) menyatakan bahwa ada lima faktor dalam penilaian kinerja yang populer, yaitu :
1. Prestasi pekerjaan, meliputi :
Akurasi, ketelitian, keterampilan dan penerimaan keluaran.
2. Kuantitas pekerjaan, meliputi : Volume keluaran dan kontribusi.
3. Kepemimpinan yang diperlukan, meliputi:
43
Membutuhkan saran, arahan atau perbaikan.
4. Kedisiplinan, meliputi :
Kehadiran, sanksi, warkat, regulasi, dapat dipercaya/diandalkan dan ketepatan waktu.
5. Komunikasi, meliputi : hubungan antar karyawan maupun dengan pimpinan, media komunikasi.
Handoko (2014: 145) menyatakan bahwa terdapat penilaian kinerja yang terdiri dari 3 kriteria, yaitu :
1. Penilaian berdasarkan hasil, yaitu penilaian yang didasarkan adanya target-target dan ukuruannya spesifik serta dapat diukur.
2. Penilaian berdasarkan perilaku, yaitu penilaian perilaku-perilaku yang berkaitan dengan apa saja yang harus dilakukan dalam suatu pekerjaan.
3. Penilaian berdasarkan judgement,yaitu penilaian yang berdasarkan kualitas pekerjaan, kuantitas pekerjaan, koordinasi, pengetahuan pekerjaan dan keterampilan, kreativitas, semangat kerja, kepribadian, keramahan, integritas pribadi serta kesadaran dan dapat dipercaya dalam menyelesaikan tugas dalam bekerja.
44 c. Indikator Penilaian Kinerja
Desseler (2016: 338) menyatakan bahwa terdapat delapan indikator dalam mengukur dan menilai kinerja karyawan berdasarkan kompetensinya :
1) Pengetahuan kerja karyawan dalam menjalani pekerjaannya (Job Knowledge)
2) Kualitas baik dalam hal ketepatan watu penyelesaian tugas atau kesesuaian antara rencana kerja dengan kenyataan yang mampu dicapai (Quality or Quantity of Work)
3) Perencanaan kerja dalam puaya mencapai tujuan tujuan yang organisasi (Planning or Organization)
4) Kemampuan melakukan inisiatif dan kemandirian dalam bekerja atau komitmen karyawan dalam menjalankan pekerjaannya hingga tuntas (Initiative or Commitment)
5) Kemampuan menyelesaikan permasalahan yang timbul dari sebuah pekerjaan (Problem Solving or Creativity)
6) Kerjasama dalam tim kerja baik dengan sesame karyawan maupun dengan atasan ataupun dengan bawahan (Teamwork and Cooperation)
7) Kemampuan menjalin hubungan kekaryawanan sehingga mampu menciptakan lingkungan kerja yang kondusif (Interpersonal Skills)
8) Kemampuan berkomunikasi dan berbahasa dalam bekerja (Communication oral and Writen).
45 B. Penelitian Terdahulu
Tabel 2. 1 Penelitian Terdahulu
Peneliti Judul Variabel Alat
Penelitian
The finding of the study revealed that
3. leadership has a significant effect
The finding of the study revealed that
46 of HR practices to highlight the
47
48
4,235 > 2,008,dan kompensasi
Yulianti (2002) Studi Empiris Pengaruh
Kuisioner Berdasarkan hasil penelitian
Kuisioner Dari hasil
perhitungan secara parsial maupun stimulant diketahui bahwa kompensasi finansial dan
49
kuisioner Berdasarkan hasil temuan penelitian
Kuisioner Hasil penelitian menunjukan Fitria(2014) Studi Empiris
Pengaruh
Variabel X :
Kuisioner hipotesis yang telah diuji dengan
50 C. Kerangka Berpikir
Gambar 2. 1 Kerangka Pemikiran Penelitian
Berdasarkan gambar diatas menjelaskan mengenai hubungan kausalitas antara variabel X1, X2, dan Y sebagai variabel independent terhadap Z sebagai variabel dependent baik secara bersama-sama (simultan) ataupun secara individu (parsial).
Pemberian Kompensasi
Terhadap Semangat kerja
Kompensas i
Variabel Y:
Semangat Kerja
menggunakan aregresi linear bergandamenyebut kan bahwavariabel X(kompensasi) tidak berpengaruh kepada variabel Y(semangat kerja).
H
51 D. Hipotesis
Berdasarkan perumusan masalah dan kajian teoritis maupun empirik maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
H01 : Komitmen organisasi tidak berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan
Ha1 : Komitmen organisasi berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan
H02 : Kompensasi tidak berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan
Ha2 : Kompensasi berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan
H03 : Komitmen organisasi dan kompensasi tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja
Ha3 : Komitmen organisasi dan kompensasi berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja
H04 : Kepuasan kerja tidak berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan
Ha4 : Kepuasan kerja berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan
52
H05 : Kompensasi tidak berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja
Ha5 : Kompensasi berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja
H06 : Komitmen organisasi tidak berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja
Ha6 : Komitmen organisasi berpengaruh secara dan signifikan terhadap kepuasan kerja
H07 : Komitmen organisasi dan kompensasi terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja tidak berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja
Ha7 : Komitmen organisasi dan kompensasi terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja
53 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian
1. Lokasi, Fokus dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di PT. IKAD (Industri Keramik Angsa Daya.) Alamat: Ruko Bahan Bangunan, Jl. Mangga Dua Raya Blok F2 No. 3-5, RT.1/RW.12, Mangga Dua Selatan, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10730 dengan jumlah populasi sebanyak 120 karyawan. Waktu penelitan yang dilakukan oleh peneliti selama 3 bulan. Penelitian dilakukan pada bulan Maret, Mei, Juni 2020.
B. Metode Penentuan Sampel 1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari yang kemudian ditarik kesimpulannya(Sugiyono,2012: 17). PT.IKAD Kantor Cabang Jakarta yang berjumlah dari 120 orang karyawan tetap.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut(Sugiyono, 2012: 19). Dalam penelitian ini sampel ditentukan secara probabilitas (probability sampling)
54
dengan metode sampel acak sederhana (simple random sampling).
Sugiyono (2012: 59) menyatakan bahwa metode penentuan sampel acak sederhana ialah sampling dimana elemen-elemen sampelnya ditentukan atau dipilih berdasarkan nilai probabilitias dan pemilihannya dilakukan secara acak. Jumlah sample dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan rumus slovin dengan rumus sebagai berikut:
n = sampel
N= Populasi
e= Tingkat kesalahan
*diketahui bahwa tingkat kesalahan yang diterima dalam penelitian ini sebesar 5 persen (e = 5%). Dengan populasi(N) sebanyak 120 orang dan tingkat kesalahan (e) sebesar 5% maka besaran sampelnya :
n = 120
1 + 120(0.05) 2 n = 92,3076
Maka dibulatkan dari 92,3076 dalam penelitin ini jumlah sampel dalam penelitian menjadi 92 orang.
C. Jenis dan pendekatan penelitian
penelitian ini merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara terencana dan sistematis untuk mendapatkan jawaban pemecahan
55
masalah terhadap fenomena-fenomena tertentu penelitian ini telah ditetapkan, maka jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksplanatori. Margono (2015: 98) menyatakan bahwa penelitian kuantitatif adalah suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alat menemukan keterangan mengenai apa yang ingin kita ketahui. Moloeng dan Lexy (2015) menyatakan bahwa penelitian eksplanatori adalah untuk menguji hipotesis antar variabel yang dihipotesiskan dengan begitu hasil dari penelitian ini terlihat.
D. Metode Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data peneliti menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Wawancara
Teknik pengumpulan data dengan cara melakukan wawancara langsung dengan pimpinan dan karyawan tentang objek observasi yang sedang diteliti wawancara yang dilakukan adalah wawancara tidak terstruktur. Sugiyono (2012) menyatakan bahwa wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak mengunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.
56 2. Angket (Quesioner)
Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden tentang dirinya atau hal-hal yang dirasakan oleh karyawan selama terikat dengan perjanjian yang telah disepakati dengan organisasi tersebut dengan cara membagi langsung dengan responden yang bersangkutan, angket dapat berupa pertanyaan atau pernyataan tertutup atau terbuka,dapat diberikan pada responden secara langsung atau dikirim melalui pos atau internet (Sugiyono, 2012) 3. Skala Pengukuran Variabel
Untuk mengukur variabel-variabel yang ada maka digunakan skala likert, dimana masing-masing pertanyaan diberi skor 1 sampai 5 dengan tingkat kepercayaan 95%.Bobot dari masing-masing jawaban adalah sebagai berikut:
a. Jawaban point a : dengan nilai 5, sanggat setuju b. Jawaban point b : dengan nilai 4, setuju
c. Jawaban point c : dengan nilai 3, ragu-ragu d. Jawaban point d : dengan nilai 2, kurang setuju e. Jawaban point e : dengan nilai 1, sanggat tidak setuju
57 E. Metode Analisis Data
Data yang didapat dari hasil kuesioner kemudian akan diolah dan dianalisis dengan tujuan hasil data tersebut menjadi sebuah informasi, sehingga karakteristik dapat lebih dipahami untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan. Pengolahan dan dianalisis data dilakukan dengan menggunakan program SPSS (Statistical Package for Social Sciences) versi 23.0. Adapun metode analisis data yang digunakan adalah metode regresi linier berganda.
1. Statistik Deskriptif
Sugiyono (2012: 56) menyatakan bahwa statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Sedangkan, Ghozali (2011: 19) menyatakan bahwa statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, range, kurtosis, dan skewness (kemencengan distribusi).
2. Uji kualitas data a. Uji Validitas
Uji validitas dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuisioner. Validitas
58
menunjukan sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi alat ukurnya. Suatu kuisioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuisioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuisioner tersebut (Ghozali, 2011: 53). Uji validitas dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung dengan nilai r tabel untuk degree of freedom (df) = n-2 dengan alpha 0,05. Jika r hitung lebih besar dari r tabel dan nilai r positif, maka butir atau pertanyaan tersebut dikatakan valid. Untuk hasil analisis dapat dilihat pada output uji reliabilitas pada bagian corrected item total correlation. Dalam pengambilan keputusan untuk menguji validitas indikatornya adalah:
1) Jika r hitung > r tabel maka butir atau variabel tersebut valid.
2) Jika r hitung< r tabel maka butir atau variabel tersebut tidak valid.
b. Uji Reabilitas
Uji reabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kusioner yang merupakan indikator dari variabel dan konstruk(Ghozali, 2011:47). Suatu kuisioner dikatakan reliable atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Adapun cara yang digunakan untuk menguji reliabilitas kuisioner dalam penelitian ini adalah mengukur realibilitas dengan uji statistik Cronbach Alpha.
59
Untuk mengetahui kuisioner tersebut sudah reliable akan dilakukan pengujian reliabilitas kuisioner dengan bantuan program Spss 23. Kriteria penilaian uji reliabilitas adalah(Ghozali, 2011: 48) :
1. Apabila koefisien alpha lebih besar dari taraf signifikansi 70% atau 0,7 maka kuisioner tersebut reliable.
2. Apabila koefisien alpha lebih kecil dari taraf signifikansi 70% atau 0,7 maka kuisioner tersebut tidak reliable.
3. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini adalah Uji Normalitas, Uji Heteroskedestisitas, dan Uji Multikolonieritas.
a. Uji Normalitas
Tujuan uji normalitas adalah untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel independen, variabel dependen, atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi normal atau mendekati normal. Untuk menguji apakah distribusi data normal atau tidak, dilakukan dengan cara normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari distribusi normal.
Distribusi normal akan membentuk suatu garis lurus diagonal dan ploting data akan dibandingkan dengan garis diagonal. Jika
60
distribusi data normal, maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya(Ghozali, 2011:
161-162). Pada prinsipnya deteksi normalitas dilakukan dengan melihat grafik normal probabiliity plot. Dasar pengambilan keputusannya adalah sebagai berikut:
1) Jika menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukan pola distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
2) Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram yang tidak menunjukan pola distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas(Ghozali, 2011 : 63)
Uji normalitas data juga dilakukan dengan uji KolmogorovSmirnov. Untuk mempermudah dalam melakukan perhitungan secara statistik. Suatu data dinyatakan berdistribusi normal jika nilai Asymp Sig (2-tailed) hasil pehitungan KolmongorovSmirnov lebih besar dari 1/2Ξ± atau 0,05(Ghozali, 2011: 161).
b. Uji Heterokedastisitas
Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika
61
variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homokedastisitas, dan jika berbeda disebut dengan heterokedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homokedestisitas atau tidak terjadi heterokedestisitas (Ghozali, 2011: 139). Cara untuk mendeteksinya adalah dengan melihat grafik scater plot antara nilai prediksi variabel terikat (z variabel), dengan residualnya (s residualnya): Jika ada pola tertentu yang teratur, seperti titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar, kemudian menyempit), maka mengidentifikasikan telah terjadi heterokedestisitas. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titiknya menyebar diatas dan dibawah angka nol (0) pada sumbu Y, maka tidak terjadi heterokedastisitas(Ghozali, 2011: 139) c. Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi anatara variabel independen(Ghozali, 2011: 105).
Deteksi ada atau tidaknya multikolinieritas dalam model regresi adalah dilihat dari besaran VIF (Variance Inflation Factor) dan Tolerance (TOL). Regresi bebas dari maslah multikolinieritas jika nilai vif < 10 dan nilai TOL > 0,10 (Ghozali, 2011: 106).
62 d. Uji Autokorelasi
Ghozali (2011: 110) menyatakan bahwa tujuan uji autokorelasi adalah untuk menguji apakah ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena adanya observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Cara yang digunakan peneliti untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi adalah dengan menggunakan Uji Durbin-Watson (DW test). Ghozali (2011:111) menyatakan bahwa uji durbin watson hanya digunakan untuk autokorelasi tingkat satu dan mensyaratkan adanya intercept (konstanta) dalam model regresi dan tidak ada variabel lagi diantara variabel independen.
Hipotesis yang akan diuji adalah : H0 : tidak ada autokorelasi (r = 0)
HA : ada autokorelasi (r β 0)
4. Uji hipotesis a. Uji Mediasi
Mediasi atau intervening merupakan variable yang memediasi antara variable independen dan variable dependen.
Untuk menguji pengaruh variable mediasi atau intervening digunakan metode analisi jalur (path analysis). Analisis jalur
63
tidak dapat menentukan hubungan sebab akibat (hukum kausal) dan tidak dapat dijadikan sebagai subtitusi bagi peneliti untuk melihat kausalitas antar hubungan. Adapun analisis jalur bertujuan menentukan pola hubungan antara variable dan tidak dapat untuk mengkonfirmasi atau menolak hipotesis kausalitas imajiner.
b. Diagram jalur
Ghozali (2011: 111) menyatakan bahwa diagram jalur memberikan secara eksplisit hubungan kausalitas antar variable berdasarkan teori. Anak panah menunjukkan hubungan antar variable. Di dalam menggambarkan diagram jalur yang perlu diperhatikan adalah anak panah yang berkepala satu merupakan hubungan regresi. Hubungan langsung terjadi jika satu variable mempengaruhi variable lain tanpa ada variable ketiga yang memediasi (intervening) hubungan kedua variable yang tersebut.
pada setiap variable independen akan ada anak panah yang menuju ke variable mediasi dan ini berfungsi untuk menjelaskan jumlah varian yang tak dapat dijelaskan oleh variable lain.
Hubungan variable kompensasi, dan kinerja karyawan dimediasi oleh variable kepuasan kerja digambarkan dalam diagram path analisis sebagai berikut:
64
Gambar 3. 1 Diagram Jalur
c. Persamaan Struktural
Juliansyah (2014:84) menyatakan bahwa persamaan struktural adalah adalah persamaan yang menyatakan hubungan antarvariabel pada diagram jalur yang ada. Berdasarkan diagram jalur pada Gambar 3.2 di atas, dapat diformulasikan ke dalam bentuk persamaan struktural, yaitu:
Persamaan jalur sub struktur pertama: (halaman selanjutnya)
65
Gambar 3. 2 Sub Struktur Ke-1
Sub Struktur pertama: Diagram Jalur X1 X2 dan Y terhadap Z
Persamaan jalur sub struktur ke-dua:
Gambar 3. 3 Sub Struktur Ke-2
Y= πππ1π1+πππ2π2+Τ1
Sub Struktur kedua: Diagram Jalur X1dan X2 terhadap Y
Τ1 Τ2
πZπ1
ΟZY
ππ₯1π₯2
π Zπ2 X1
X2
Y Z
66 Keterangan :
π1 = Komitmen Organisasi X2 = Kompensasi
Y = Kepuasan kerja Z = Kinerja karyawan
ππ₯1π₯2 = Koefisien Korelasi komitmen organisasi dengan kompensasi
ππ₯1π¦ = Koefisien Korelasi komitmen organisasi dengan kinerja karyawan
πππ1π1 = Koefisien Jalur komitmen organisasi terhadap kinerja karyawan
πππ2π2 = Koefisien Jalur kompensasi terhadap kinerja karyawan
ππ₯2π¦ = Koefisien Korelasi kompensasi dengan kinerja karyawan
Τ1 = Faktor lain yang mempengaruhi Pengungkapan kinerja karyawan
πππ1π1 = Koefisien Jalur komitmen organisasi terhadap kepuasan kerja
πππ2π2 = Koefisien Jalur kompensasi terhadap kepuasan kerja
ππππ = Koefisien Jalur Kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan
67
Τ2 = Faktor lain yang mempengaruhi kepuasan kerja
a. Koefisien Jalur
Untuk memperoleh nilai koefisien jalur dari masing-masing variabel Independen, terlebih dahulu dihitung korelasi antar variabel menggunakan rumus korelasi Pearson Product Moment sebagai berikut:
πππ= πβππβ(βπ)(βπ)
β{πβπ2β(βπ2)}{πβπ2β(βπ2)}
Nilai korelasi yang diperoleh dapat di interpretasikan dengan berpedoman pada tabel berikut:
Tabel 3. 1 Interpretasi Nilai Koefisien Korelasi
Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0.00 β0.199 Sangat Rendah
0.20 β0.399 Rendah
0.40 β0.599 Sedang
0.60 β0.799 Kuat
0.80 β1.000 Sangat kuat Sumber: Sugiyono (2014:250)
Setelah koefisien korelasi antar variabel dihitung, selanjutnya dihitung koefisien jalur. Adapun
langkah-68
langkah manual yang dilakukan dalam analisis jalur adalah sebagai berikut:
1. Membuat matriks korelasi antar variabel Independen dan dependen yaitu:
π 1= [
] dan π π₯ππ¦ = [ ]
2. Menghitung matriks Invers korelasi untuk variabel independen (π 1β1), yaitu:
π 1 -1= [ ]
3. Menghitung Koefisien jalur Pyxi (i = 1,2), dengan rumus sebagai berikut:
ππππ=β( π πππ) π ππ
Keterangan:
ππππ : Merupakan koefisien jalur dan dari variabel ππ terhadap variabel Y π πππ:Unsur atau elemen pada baris Y dan kolom ke-ππdari matriks invers
π ππ : Unsur atau elemen pada baris Y dan kolom Y dari matriks invers
69
4. Menghitung π 2π¦(π1π2)yaitu koefisien yang menyatakan determinasi total π1π2terhadap Y, dengan rumus sebagai berikut:
π ππ₯π...ππ2 = 1 -1/ π ππ= βππππππππ
5. Menghitung πππ berdasarkan rumus:
πππ = β1βπ π¦ππ1π2
Setelah koefisien jalur dihitung selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis untuk membuktikan variabel independen yang sedang diteliti berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
Namun, karena kerumitan dalam perhitungan koefisien jalur peneliti menggunakan bantuan softwareAMOS βSPSS 20 (Statistical Package for Social Science)
d. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t)
Uji t digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh masing-masing variabel independen secara individual (parsial) terhadap variabel dependen dengan tingkat signifikansi (alpha) 5% (0,05). Jika nilai probability t lebih besar dari alpha 0,05 maka tidak ada pengaruh secara parsial dari variabel
70
independen terhadap variabel dependen, sedangkan jika nilai probability t lebih kecil dari alpha 0,05 maka terdapat pengaruh secara parsial dari variabel independen terhadap variabel dependen. Selain itu, dapat juga dengan membandingkan nilai t-hitung dengan ttabel. Apabila tt-hitung lebih besar dari ttabel maka dapat dikatakan bahwa variabel independen secara parsial berpengaruh terhadap variabel dependen. Sedangkan jika nilai t-hitung lebih kecil dari ttabel maka dapat dikatakan bahwa variabel independen secara parsial tidak berpengaruh terhadap variabel dependen (Ghozali, 2012: 98).
e. Uji Signifikansi Simultan (Uji F)
Uji F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel dependen untuk mengambil keputusan hipotesis diterima atau ditolak dengan membandingkan tingkat signifikansi (alpha) sebesar 5% (0,05). Jika nilai probability F lebih besar dari alpha 0,05 maka model regresi tidak dapat digunakan untuk memprediksi variabel dependen dengan kata lain variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap variabel dependen(Ghozali,2011: 98). Sebaliknya jika nilai probability F lebih kecil dari alpha 0,05 maka dapat dikatakan bahwa variabel independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen. Selain itu, dapat juga dengan
71
membandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel. Apabila Fhitung lebih besar dari Ftabel maka dapat dikatakan bahwa variabel independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen. Sedangkan jika nilai Fhitung lebih kecil dari Ftabel maka dapat dikatakan bahwa variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap variabel dependen(Ghozali, 2011: 98).
5. Koefisien Determinasi (RΒ²)
Ghozali (2011: 97) menyatakan bahwa koefisien determinasi (RΒ²) Pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen Nilai koefisien determinasi adalah antara 0 (nol) dan 1 (satu). Nilai R yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Ghozali (2011: 98) menyatakan bahwa nilai yang mendekati satu berarti variable-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.
Kelemahan mendasar dalam penggunaan koefisien determinasi adalah jumlah variabel independen yang dimasukan kedalam model.
Setiap penambahan satu variabel independen, maka R2 pasti meningkat tidak peduli apakah variabel berpengaruh secara signifikan terhadap variabel independen. Oleh karena itu, banyak peneliti yang menganjurkan untuk menggunakan nilai Adjusted R2 pada saat mengevaluasi mana model regresi yang terbaik. Tidak seperti nilai R2,
72
nilai Adjusted R2 dapat naik atau turun apabila satu variabel independen ditambah ke dalam model.
F. Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional merupakan unsur yang sangat membantu dalam penelitian karena definisi operasional akan menunjukkanpada indicator-indikator, aspek-aspek variabel atau konstrak, dan alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu Komitmen organisasi(X1), kompensasi(X2), kinerja karyawan(Y) dan kepuasan kerja(Z).
Definisi Operasional adalah suatu definisi yang diberikan kepada suatu variabel dengan cara memberikan arti, atau menspesifikasikan kegiatan, ataupun memberikan suatu operasional yang diperlukan untuk mengukur variabel tersebut, adapun definisi operasional dari masing-masing variabel ini adalah sebagai berikut:
Tabel 3. 2 Operasional Variabel Penelitian
No Variabel Dimensi Indikator Skala
No Variabel Dimensi Indikator Skala