• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kinerja Lingkungan PT Freeport Akan Dinilai

Jakarta, Kompas – Kementerian Negara Lingkungan Hidup akan memantau secara ketat kinerja PT Freeport Indonesia atau PT FI dari aspek lingkungan hidup. Hal itu dilakukan melalui penilaian Proper tahun ini, yang baru pertama kali diikuti PT FI sejak program penilaian kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup itu dilaksanakan 2002.

“Ditengarai di (PT FI) sana ada risiko yang timbul terhadap lingkungan hidup dan terus meningkat, misalnyamasalah pembuangan tailing dan ekspansi areal eksploitasi. KLH sudah menyiapkan tim melalui program Proper untuk menilai kinerja lingkungan perusahaan itu dan status lingkungan di sana,” ungkap Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar kepada Kompas di Jakarta, Rabu (18/1).

Menurut Asisten Deputi Urusan Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dan Limbah B3, Pertambangan, Energi, dan Migas, Rasio Ridho Sani, tim Proper untuk PT FI akan ke lapangan awal Februari. Namun, KLH sudah mengirim tim pendahuluan untuk

mengumpulkan data.

Rachmat mengakui pada masa sebelumnya banyak sekali hal-hal yang terkait dengan lingkungan di PT FI tidak terpantau dengan baik. Akan tetapi, begitu Proper diberlakukan program penilaian itu harus dilaksanakan merata pada seluruh perusahaan.

“Saya yakin PT FI akan ikuti aturan main dalam penilaian Proper. Jadi tidak ada pengecualian. Kalau ada keresahan di masyarakat atau dugaan bahwa perusahaan tertentu bisa berada di luar hukum, itu tidak benar,” tutur Rachmat.

Rasio menambahkan, awalnya banyak perusahaan menganggap keikutsertaan dalam program Proper bersifat sukarela. Padahal Proper adalah salah satu mekanisme pengawasan oleh KLH yang wajib diikuti semua perusahaan. “Hanya selama ini ada keterbatasan tenaga dan anggaran sehingga belum semua terjangkau,” ungkapnya.

Tahun 2002-2003 baru 85 perusahaan yang diikutsertakan dalam Proper. Jumlah ini terus meningkat hingga mencapai 466 perusahaan pada periode 2004-2005. Tahun 2006 tidak kurang dari 515 perusahaan sektor industri pertambangan, energi, dan migas; manufaktur, prasarana, dan jasa serta pertanian dan kehutanan; termasuk PT FI beroperasi di Papua sejak awal 1970-an.

Perusahaan Hitam

Seusai menandatangani kerja sama pelestarian lingkungan dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Yogyakarta, Jumat (20/1),

Rachmat juga mengingatkan kembali pada perusahaan hitam yang sudah dua kali berturut-turut di peringkat sama. “Tidak peduli itu perusahaan asing, BUMN, atau perusahaan dalam negeri, kalau terbukti merusak lingkungan akan diingatkan untuk memperbaiki. Jika tidak ada perubahan, diajukan ke pengadilan,” ujarnya.

Berdasarkan Program Peringkat Penilaian Kinerja Perusahaan (PROPER) 2004-2005, dari 466 perusahaan yang dinilai Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, tidak ada perusahaan yang berpredikat emas. Perusahaan berpredikat hijau 23 (5 persen), biru 221 (48 persen), merah 150 (32 persen), dan hitam 72 (15 persen). Emas untuk yang terbaik, hitam untuk yang terburuk. Dari 72 itu, 14 merupakan perusahaan yang pernah berpredikat hitam tahun sebelumnya. Menurut Rachmat, lima perusahaan sudah diajukan ke meja hijau. Sisanya baru diproses untuk keperluan serupa. (RIS/ LAM)/

 Sumber : Kompas 21 Januari 2006

Jadi kinerja lingkungan dari perusahaan-perusahaan di Indonesia khususnya dinilai dengan Program Peringkat Penilaian Kinerja Perusahaan (Proper) setiap tahunnya. Untuk tahun 2010 Kementerian Lingkungan Hidup sejak tahun 2002 telah meluncurkan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam pengelolaan lingkungan (PROPER) sebagai pengembangan dari PROPER PROKASIH. Sejak dikembangkan, PROPER telah diadopsi menjadi instrumen penataan di

berbagai negara seperti China, India, Filipina, dan Ghana, serta menjadi bahan pengkajian di berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian.

Tujuan penerapan instrumen PROPER adalah untuk mendorong peningkatan kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan melalui penyebaran informasi kinerja penaatan perusahaan dalam pengelolaan lingkungan. Guna mencapai peningkatan kualitas lingkungan hidup. Peningkatan kinerja penaatan dapat terjadi melalui efek insentif dan disinsentif reputasi yang timbul akibat pengumuman peringkat kinerja PROPER kepada publik. Para pemangku kepentingan (stakeholders) akan memberikan apresiasi kepada perusahaan yang berperingkat baik dan memberikan tekanan dan atau dorongan kepada perusahaan yang belum berperingkat baik.

PROPER sebagai instrumen penaatan, untuk periode 2009 ‐

2010 kali ini telah menerapkan dasar hukum Undang‐undang 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, sehingga dalam pelaksanaannya termasuk kriteria saat ini disesuaikan dengan UU tersebut. Pelaksanaan PROPER diharapkan dapat memperkuat berbagai instrument pengelolaan lingkungan yang ada, seperti penegakan hukum lingkungan, dan instrumen ekonomi. Di samping itu penerapan PROPER dapat menjawab kebutuhan akses informasi, transparansi dan partisipasi publik dalam pengelolaan lingkungan. Pelaksanaan PROPER saat ini dilakukan berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 18 tahun 2010 tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Mengingat keberhasilan PROPER sebagai instrumen penaatan sangat tergantung kepada sikap proaktif dan kritis para pemangku pihak dalam mensikapi hasil kinerja penaatan yang telah dilakukan oleh perusahaan, maka diharapkan para pemangku kepentingan agar dapat berpartisipasi secara aktif dalam mensikapi hasil pengumuman peringkat kinerja penaatan perusahaan PROPER. Berbagai upaya dapat dilakukan oleh pemangku kepentingan untuk lebih meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungan oleh perusahaan terkait dengan pelaksanaan PROPER, antara lain memberikan penghargaan kepada perusahaan yang berkinerja baik dan secara konsisten mendorong perusahaan yang belum menunjukkan kinerja yang baik untuk lebih dapat meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungannya. Salah satu contoh adalah pihak perbankan dapat menjadikan kinerja PROPER sebagai pertimbangan dalam penentuan kredit yang diajukan oleh perusahaan.

Pada saat ini pelaksanaan PROPER difokuskan kepada perusahaan yang memenuhi kriteria, antara lain; perusahaan yang berdampak besar terhadap lingkungan hidup, perusahaan yang berorientasi ekspor dan/atau produknya bersinggungan langsung dengan masyarakat, serta perusahaan publik. Mengingat keterbatasan sumber daya yang ada, pada saat ini baru sebagian kecil perusahaan dapat dimasukkan dalam penilaian, yaitu 689 perusahaan. Jumlah ini naik 10% dibandingkan tahun lalu yaitu 627 perusahaan. Namun jumlah ini masih relatif kecil jika dibandingkan dengan total 8.000 ‐ 10.000 perusahaan yang berpotensi untuk dijadikan peserta PROPER.

2 Kriteria Penilaian Program Peringkat Penilaian Kinerja