• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Kinerja Organisasi

137

Direktorat Jenderal Pajak Laporan Tahunan 2020 Sumber: Laporan Keuangan DJP 2020 (Audited).

Jenis Pajak

(miliar Rp) Capaian

(%) Realisasi

(miliar Rp)

PBB 13.441,94 20.953,61 155,88 21.145,90 (0,91)

Pajak Lainnya 7.485,67 6.790,71 90,72 7.677,47 (11,55)

PPh Migas 31.859,00 33.033,71 103,69 59.164,88 (44,17)

Jumlah dengan PPh Migas 1.198.823,38 1.072.114,57 89,43 1.332.659,15 (19,55)

Jumlah Tanpa PPh Migas 1.166.964,38 1,039,080,86 89,04 1.273.494,27 (18,41)

Pemerintah telah melakukan dua kali penyesuaian terhadap target penerimaan pajak dalam APBN 2020 sebagai respon terhadap dampak pandemi Covid-19.

Penyesuaian terakhir dilakukan melalui Perpres Nomor 72 Tahun 2020, target penerimaan pajak disesuaikan menjadi Rp1.198,82 triliun. Namun demikian, hingga akhir tahun 2020 realisasi

penerimaan hanya mampu mencapai 89,43 persen dari target.

Melesetnya capaian target kinerja penerimaan pajak tahun 2020 dipengaruhi oleh faktor kondisi ekonomi nasional yang mengalami tekanan akibat pelemahan industri manufaktur, penurunan aktivitas perdagangan internasional, serta pembatasan aktivitas masyarakat

sebagai upaya pengendalian wabah Covid-19. Selain itu, implementasi berbagai kebijakan insentif pajak dalam rangka pemulihan ekonomi nasional juga turut menekan kinerja penerimaan pajak sampai dengan akhir tahun 2020. Pemanfaatan insentif pajak sendiri berkontribusi terhadap 22,1 persen penurunan penerimaan pajak.

Penjelasan capaian penerimaan per jenis pajak adalah sebagai berikut.

1. PPh Pasal 21

2. PPh Pasal 22

Realisasi penerimaan PPh Pasal 21 sebesar Rp139,35 triliun, mencapai 103,54 persen dari target serta tumbuh negatif 6,16 persen dibandingkan realisasi tahun 2019. Penurunan penerimaan PPh Pasal 21 dipengaruhi oleh melemahnya kondisi pasar tenaga kerja sebagai dampak dari pandemi Covid-19 yang terlihat dari setoran masa yang turun dengan pertumbuhan 6,78 persen. Peningkatan setoran atas Jaminan Hari Tua, Uang Tebusan Pensiun,

Realisasi penerimaan PPh Pasal 22 sebesar Rp16,85 triliun, mencapai 88,60 persen dari target serta tumbuh negatif 20,93 persen dibandingkan realisasi tahun 2019. Penurunan penerimaan PPh Pasal 22 didominasi oleh setoran masa dengan pertumbuhan

dan Uang Pesangon sebesar 12,53 persen juga mengindikasikan peningkatan pemutusan hubungan kerja. Selain itu, mulai dimanfaatkannya insentif PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah sejak Mei 2020 semakin menambah tekanan pada penerimaan PPh Pasal 21. Tekanan terbesar penerimaan PPh Pasal 21 terjadi pada sektor Industri Pengolahan dan Administrasi dan Pemerintahan.

9,65 persen dan ekspor komoditas tambang batubara yang tumbuh 15,60 persen. Penurunan terutama terjadi pada sektor Pengadaan Listrik dan Pertambangan yang masing-masing terkontraksi sebesar 53,05 persen dan 16,74 persen.

Pembahasan Kinerja Organisasi

138

Direktorat Jenderal Pajak Laporan Tahunan 2020

3. PPh Pasal 22 Impor

7. PPh Pasal 26 4. PPh Pasal 23

6. PPh Pasal 25/29 Badan 5. PPh Pasal 25/29 Orang Pribadi

Realisasi penerimaan PPh Pasal 22 Impor sebesar Rp27,12 triliun, hanya mencapai 71,60 persen dari target serta tumbuh negatif 49,50 persen dibandingkan realisasi tahun 2019. Penurunan penerimaan PPh Pasal 22 Impor sejalan dengan tren penurunan impor yang secara kumulatif terkontraksi 17,34 persen dibandingkan tahun 2019. Selain itu, pemberian insentif pembebasan PPh Pasal 22 Impor menyebabkan penurunan yang lebih dalam pada penerimaan pajak jenis ini. Secara sektoral, penurunan terbesar terjadi pada Industri Pengolahan dengan pertumbuhan 58,32 persen, diikuti sektor Perdagangan dengan pertumbuhan 41,95 persen.

Realisasi penerimaan PPh Pasal 26 sebesar Rp43,60 triliun, mencapai 100,24 persen dari target namun tumbuh negatif 5,50 persen dibandingkan realisasi tahun 2019. Penurunan penerimaan PPh Pasal 26 terutama terjadi pada setoran Dividen dan setoran masa yang masing-masing tumbuh negatif sebesar 10,21 persen dan 38,63 persen. Adapun penurunan terbesar PPh Pasal 26 berasal dari sektor utamanya, yaitu Industri Pengolahan dengan pertumbuhan 9,90 persen.

Realisasi penerimaan PPh Pasal 23 sebesar Rp40,00 triliun, mencapai 81,35 persen dari target serta tumbuh negatif 6,06 persen dibandingkan realisasi tahun 2019. Kondisi ini antara lain dipengaruhi oleh penurunan pada setoran utama, yaitu Jasa (tumbuh negatif 6,47 persen), Masa (tumbuh negatif 12,18

Realisasi penerimaan PPh Pasal 25/29 Badan sebesar Rp155,09 triliun, hanya mencapai 71,81 persen dari target serta tumbuh negatif 38,50 persen dibandingkan realisasi tahun 2019. Capaian realisasi penerimaan PPh Pasal 25/29 Badan dipengaruhi oleh perlambatan ekonomi domestik maupun global, menurunnya profitabilitas perusahaan di tahun 2019, melemahnya harga komoditas utama, serta meningkatnya restitusi. Tekanan semakin berlanjut Realisasi penerimaan PPh Pasal

25/29 Orang Pribadi sebesar Rp11,56 triliun, mencapai 112,94 persen dari target serta mampu tumbuh 3,24 persen dibandingkan realisasi tahun 2019. Penerimaan PPh Pasal

persen), Bunga (tumbuh negatif 13,37 persen), dan Dividen (tumbuh negatif 18,33 persen). Penerimaan terbesar berasal dari Industri Pengolahan dengan pertumbuhan negatif 7,91 persen, diikuti sektor Pertambangan dengan pertumbuhan 1,95 persen.

seiring diberlakukannya penurunan tarif PPh Badan sesuai UU Nomor 2 Tahun 2020 dan insentif pajak berupa pengurangan angsuran PPh Pasal 25 sebesar 30 persen yang kemudian dinaikkan menjadi 50 persen. Tiga sektor utamanya, yaitu Jasa Keuangan, Industri Pengolahan, dan Pertambangan mengalami penurunan berturut-turut sebesar 31,11 persen, 36,56 persen, dan 61,43 persen.

25/29 Orang Pribadi merupakan satu-satunya jenis pajak utama yang masih tumbuh positif di tengah pandemi Covid-19 tahun 2020. Hal ini tidak terlepas dari resiliensi usaha dan tetap terjaganya tingkat

kepatuhan sukarela wajib pajak orang pribadi. Secara sektoral, 78 persen setoran PPh Pasal 25/29 Orang Pribadi didominasi oleh sektor Kegiatan Jasa Lainnya dengan pertumbuhan realisasi sebesar 4,84 persen.

Pembahasan Kinerja Organisasi

139

Direktorat Jenderal Pajak Laporan Tahunan 2020

10. PPN Impor 9. PPN Dalam Negeri

11. PPnBM Dalam Negeri 8. PPh Final

12. PPnBM Impor

Realisasi penerimaan PPN Impor sebesar Rp140,45 triliun, mencapai 92,28 persen dari target dengan serta tumbuh negatif 18,04 persen dibandingkan realisasi tahun 2019. Sejalan dengan kinerja penerimaan PPh Pasal 22 Impor, penurunan penerimaan PPN Impor juga disebabkan oleh penurunan pada aktivitas impor. Secara sektoral, dua kontributor terbesar pada jenis pajak ini adalah sektor Industri Pengolahan dan Perdagangan yang mengalami penurunan cukup dalam dengan pertumbuhan negatif masing-masing sebesar 19,02 persen dan 18,82 persen.

Realisasi penerimaan PPN Dalam Negeri sebesar Rp298,67 triliun, mencapai 86,60 persen dari target serta tumbuh negatif 13,29 persen dibandingkan realisasi tahun 2019. Penurunan penerimaan PPN Dalam Negeri dipengaruhi oleh melemahnya tingkat konsumsi masyarakat sebagai akibat terbatasnya aktivitas perekonomian, peningkatan restitusi, dan

Realisasi penerimaan PPnBM Dalam Negeri sebesar Rp5,55 triliun, mencapai 82,61 persen dari target serta tumbuh negatif 48,80 persen dibandingkan realisasi tahun 2019. Pertumbuhan negatif pada penerimaan PPnBM DN secara umum disebabkan oleh penurunan penjualan kendaraan bermotor, Realisasi penerimaan PPh

Final sebesar Rp112,16 triliun, mencapai 96,94 persen dari target serta tumbuh negatif 11,14 persen dibandingkan realisasi tahun 2019.

Penurunan penerimaan PPh Final terutama dipengaruhi

Realisasi penerimaan PPnBM Impor sebesar Rp3,00 triliun, mencapai 87,14 persen dari target dan tumbuh negatif 36,50 persen dibandingkan realisasi tahun 2019. Secara sektoral, penerimaan

masih terbatasnya ekspansi sektor manufaktur yang tercermin pada nilai Purchasing Managers’ Index (PMI) yang sebagian besar ada pada zona kontraksi.

Secara sektoral, penurunan terbesar terutama terjadi pada sektor Perdagangan dan Konstruksi yang tumbuh negatif masing-masing sebesar 9,82 persen dan 29,14 persen.

termasuk di dalamnya penjualan kendaraan yang terutang PPnBM. Secara sektoral, penerimaan PPnBM Dalam Negeri didominasi oleh Industri Pengolahan terutama Industri Kendaraan Bermotor (kontribusi 97,15 persen), dengan pertumbuhan 50,40 persen.

oleh penurunan suku bunga deposito, penurunan aktivitas konstruksi, penurunan setoran dividen, serta perlambatan permintaan properti. Selain itu, implementasi insentif PPh Final Ditanggung Pemerintah bagi wajib pajak tertentu

terbesar berasal dari Sektor Perdagangan, khususnya perdagangan mobil yang memberikan kontribusi 72,92 persen namun mengalami pertumbuhan negatif 39,66 persen. Penurunan terutama

berdasarkan PP Nomor 23 Tahun 2018 turut mendorong penurunan penerimaan PPh Final. Penurunan terbesar terjadi pada sektor Perdagangan dengan pertumbuhan sebesar 21,55 persen.

disebabkan oleh penurunan impor mobil (completely built up) yang pada tahun 2020 tumbuh negatif 53,50 persen dibandingkan tahun 2019.

Pembahasan Kinerja Organisasi

140

Direktorat Jenderal Pajak Laporan Tahunan 2020

13. PBB

14. Pajak Lainnya

Realisasi penerimaan PBB sebesar Rp20,95 triliun, mencapai 155,88 persen dari target serta tumbuh negatif 0,91 persen dibandingkan realisasi tahun 2019. Penerimaan PBB ditopang terutama oleh PBB Pertambangan untuk Minyak dan Gas Bumi. Capaian ini tidak terlepas dari mulai membaiknya harga minyak dunia pada akhir tahun 2020 setelah sempat mengalami tekanan di bulan April.

Realisasi penerimaan Pajak Lainnya sebesar Rp6,79 triliun, mencapai mencapai 90,72 persen dari target serta tumbuh negatif 11,55 persen dibandingkan realisasi tahun 2019. Penurunan terbesar terjadi

pada Bunga Penagihan PPN diikuti Penjualan Benda Meterai dengan pertumbuhan negatif masing-masing sebesar 95,57 persen dan 11,73 persen.

2016

1.069,87

1.105,97

2017

1.100,71

1.151,03

2018

1.248,61

1.313,32

2019

1.273,49

1.332,66

2020

1.039,08

1.072,12

0 500 1.000 1.500

triliun rupiah