ANALISIS DAN PEMBAHASAN 6.1 Analisis dan Pembahasan dengan Menggunakan Balanced Scorecard
6.1.1 Kinerja Perspektif Keuangan .1 Indikator ROI
Pada Tabel 81.berikut disajikan ukuran hasil dari kinerja keuangan secara menyeluruh. Tahun Ukuran 2006 2007 2008 2009 ROI 12.23% 40.87% 56.57% 47.04% Rasio Efisiensi 5.36% 8.67% 5.75% 13.24% Current Ratio 148.29% 2.70% 170.24% 33.65
Profit Margin on Sales 0.09% 0.25% 0.28% 0.37%
ROE 12.23% 40.87% 56.57% 47.04%
Berdasarkan data dan hasil perhitungan yang disajikan pada tabel 81. di atas, dapat dilihat bahwa nilai ROI tahun 2006 adalah 12.23% yang berarti bahwa Rp.1,- total aktiva menghasilkan laba bersih sebesar Rp.0.1223. Tahun 2007 menjadi 40.87% yang berarti bahwa Rp.1,- total aktiva menghasilkan laba bersih sebesar Rp.0.4087, mengalami peningkatan sebesar 28.64% (40.87% - 12.23% = 28.64%). Kemudian pada tahun 2008 sebesar 56.57% yang berarti bahwa Rp.1,- total aktiva menghasilkan laba bersih sebesar Rp.0.5657, juga terjadi peningkatan 15.7% (56.57% – 40.87% = 15.7%). Hal ini disebabkan karena laba bersih rumah sakit meningkat.
Berarti tingkat pengembalian atas investasi/Return On Investment (ROI) yang dilakukan
mengalami peningkatan yang baik, karena berdasarkan penilaian kelayakan usaha, apabila tingkat ROI lebih dari 5% berarti telah dianggap layak/baik
Namun pada tahun 2009 menjadi 47.04% yang berarti bahwa Rp.1,- total aktiva menghasilkan laba bersih sebesar Rp.0.4704, berarti mengalami penurunan sebesar 9.53% (56.57% - 47.04% = 9.53%) yang disebabkan oleh berkurangnya jumlah pasien sehingga mengakibatkan kurangnya jumlah tagihan pasien. Disamping itu disebabkan juga bertambahnya biaya penyusutan dan pengeluaran atau besarnya modal yang di investasikan pada tahun 2009. Hal ini juga menunjukkan pada tahun 2009 perusahaan/rumah sakit tidak memiliki efektivitas pemakaian sumber daya atas aktiva yang dimiliki sehingga tingkat pengembalian investasi yang diharapkannya kurang baik dibandingkan tahun 2008.
Sedangkan pada tahun 2008 juga tidak adanya pengeluaran untuk membayar pesangon karyawan. Oleh karena itu Rumah Sakit PMI harus menjaga dan memperbaiki kembali kondisi keuangannya sehingga dapat menekan pengeluaran yang tidak begitu penting pengaruhnya terhadap kegiatan rumah sakit.
6.1.1.2 Indikator Rasio Efisiensi
Berdasarkan data dan hasil perhitungan yang disajikan pada Tabel 81. di atas, dapat dilihat bahwa nilai rasio efesiensi pada tahun 2006 sampai 2009 terus meningkat kecuali tahun 2008 sedikit terjadi penurunan. Hal ini berarti bahwa rasio efesiensi Rumah Sakit mengalami peningkatan karena efisien penggunaan aktiva lancar atau dapat menurunkan biaya operasi, hanya sedikit terjadi penurunan pada tahun 2008 yang disebabkan tidak efisiennya penggunaan aktiva lancar atau lebih besarnya biaya operasi.
6.1.1.3 Indikator Current Ratio
Current Ratio adalah menunjukkan angka 2.70% artinya setiap Rp. 1 aktiva lancar mampu
membayar hutang lancar sebesar Rp. 0.270. Selanjutnya tahun 2008 Current Ratio menunjukkan
angka 170.24% artinya setiap Rp. 1 aktiva lancar mampu membayar hutang lancar sebesar Rp.
1.7024. Kemudian tahun 2009 Current Ratio menunjukkan angka 33.65% artinya setiap Rp. 1
aktiva lancar mampu membayar hutang lancar sebesar Rp. 0.3365. Dimana dari tahun 2006 ke
tahun 2007 mengalami penurunan Current Ratio sebesar 145.59%, dan dari tahun 2007 ke 2008
kembali mengalami peningkatan sebesar 167.54%, kemudian tahun 2008 ke 2009 kembali terjadi penurunan sebesar 136.59%. Untuk itu diharapkan Rumah Sakit PMI Aceh Utara dapat memperbaiki dan sekaligus dapat meningkatkan aktiva lancarnya karena bertujuan untuk menjaga keuangan rumah sakit supaya terus meningkat dan selalu berada dalam kondisi stabil.
Bagi kreditur jangka pendek bertambah tinggi ratio ini berarti bertambah baik, karena jaminan terhadap piutang mereka bertambah tinggi. Bagi perusahaan bertambah tinggi hasil ratio ini berarti bertambah dikorbankan kemampulabaan modal sendiri, karena bertambah banyak
dana yang tertanam pada aktiva lancar yang tidak dapat digunakan. Current Ratio 100% bagi
umumnya perusahaan jasa sudah dapat dianggap baik (Parentahen Purba, 2002:84).
6.1.1.4 Indikator Profit Margin on Sales
Pada tahun 2006 Profit Margin on Sales menunjukkan angka 9% artinya laba usaha yang
dihasilkan adalah sebesar 9% dari total penjualan. Dilihat dari tahun 2006 sampai 2009 Profit
Margin on Sales terus terjadi peningkatan. Penyebab terjadinya peningkatan keuntungan
penjualan disebabkan adanya kenaikan pemasukan dari pasien rawat inap dan meningkatnya laba usaha setiap tahun. Hal ini berarti operasional Rumah Sakit PMI semakin efisien atau semakin baik.
6.1.1.5 Indikator ROE
Pada tahun 2006 sampai 2008 ROE menunjukkan terus terjadi peningkatan. Namun pada tahun 2009 ROE mengalami penurunan. Hal ini berarti bahwa pada tahun 2009 menurunnya penjualan/pendapatan Rumah Sakit PMI Aceh Utara yang menyebabkan turunnya rasio ROE yang dimiliki rumah sakit sehingga tingkat pengembalian investasi modal bagi pemegang saham pada tahun 2009 kurang baik dibandingkan tahun 2008. Semakin besar ROE menunjukkan bahwa rumah sakit semakin baik dalam mensejahterakan para pemegang saham yang bisa dihasilkan dari setiap lembar saham.
6.1.2 Kinerja Perspektif Pasien
6.1.2.1 Indikator Retensi Pasien (Patient Retention)
Berdasarkan data dan hasil perhitungan yang disajikan pada Tabel 27. mengenai Retensi Pasien dapat dilihat, bahwa nilai Retensi Pasien dari tahun 2006 sampai 2008 mengalami penurunan kecuali tahun 2009 yang mengalami peningkatan. Namun demikian, secara keseluruhan bahwa kemampuan rumah sakit untuk mempertahankan hubungan yang baik dengan pasien lama dapat dikategorikan sudah berhasil. Hal ini dikarenakan jumlah pasien lama yang berobat ke Rumah Sakit PMI dapat dipertahankan atau bahkan mengalami peningkatan. Akan tetapi pada tahun 2009 terjadi kenaikan retensi pasien. Ini disebabkan oleh pelayanan dan fasilitas-fasilitas rumah sakit yang kurang memuaskan pasien, dan juga ada dokter yang tidak lagi mengirimkan pasiennya ke Rumah Sakit PMI Aceh Utara serta semakin tingginya persaingan antar rumah sakit di Lhokseumawe dan sekitarnya.
6.1.2.2 Indikator Akuisisi Pasien (Patient Acquisition)
Berdasarkan data dan hasil perhitungan yang disajikan pada Tabel 28. mengenai Akuisisi Pasien dapat dilihat, bahwa nilai Akuisisi Pasien dari tahun 2006 sampai 2008 terjadi peningkatan kecuali tahun 2009 yang mengalami penurunan. Namun demikian, secara keseluruhan bahwa kemampuan rumah sakit untuk membuat hubungan yang baik dengan pasien baru dapat dikategorikan sudah berhasil. Hal ini dibuktikan bahwa jumlah pasien baru yang berobat ke Rumah Sakit PMI semakin meningkat. Tetapi pada tahun 2009 terjadi penurunan yang juga disebabkan oleh semakin tingginya persaingan dengan rumah sakit lain yang ada di daerah Lhokseumawe dan sekitarnya serta kebijakan-kebijakan dari Rumah Sakit PMI dan pemerintah mulai tahun 2008 sampai sekarang ini, tidak mengizinkan karyawan untuk bekerja di
dua tempat atau lebih sehingga karyawan sering berganti-ganti dengan Skill yang berbeda,
efeknya ada dokter maupun dokter spesialis yang tidak lagi mengirimkan pasiennya ke Rumah Sakit PMI Aceh Utara.
6.1.2.3 Indikator Rata-Rata Kepuasan Pasien (Patient Satisfaction)
Secara keselurahan tingkat kepuasan pasien terhadap Rumah Sakit PMI Aceh Utara dapat dilihat pada Tabel 82. dan Gambar 73. berikut ini:
Tabel 82. Tingkat kepuasan pasien
No. Pilihan responden keterangan jumlah
rata-rata persentase rata-rata 1 A Sangat puas 12,35 12,35 2 B Puas 64,95 64,95 3 C Kurang puas 19,8 19,8 4 D Tidak puas 1,45 1,45
5 E Sangat tidak puas 0 0
6 Tidak menjawab 1,45 1,45
Gambar 73. Hasil Perhitungan Kepuasan Pasien (KP)
Tabel 82. dan Gambar 73. menunjukkan bahwa pasien yang merasa puas dengan pelayanan Rumah Sakit PMI Aceh Utara baik fisik maupun non fisik dominan menyatakan puas adalah sebanyak 64,95 %. Hal ini berarti Rumah sakit PMI Aceh Utara sudah mampu melayani pasien secara baik walaupun belum begitu maksimal.
Oleh karena itu Rumah Sakit PMI harus dapat meningkatkan lagi pelayanannya, terutama harus selalu menjaga kebersihan bangunan, kamar dan tempat tidur, prosedur pelayanan juga jangan berbelit-belit, tetapi harus sangat mudah dimengerti, waktu layanan harus tepat, jangan sampai telah tiba saatnya dilayani tapi dokternya terlambat datang, dan keterampilan serta keahlian karyawan juga sangat menentukan kepuasan pasien, sehingga dapat memberikan kepuasan yang maksimal terhadap pasien. Karena semakin banyaknya pasien yang berobat dan memberikan kepercayaan yang lebih kepada Rumah Sakit PMI, tentu pada akhirnya akan dapat meningkatkan pendapatan dan memberikan keuntungan kepada Rumah Sakit PMI aceh Utara.
6.1.3 Kinerja Perspektif Proses Bisnis Internal