Sektor Pertambangan
Pada triwulan II 2015 kinerja sektor pertambangan di Kalimantan mengalami penurunan. Secara agregat, pertumbuhan sektor pertambangan terkontrakasi lebih dalam dari sebelumnya terkontraksi 0,51% menjadi 2,61% pada periode laporan. Penurunan kinerja pertambangan tersebut terjadi di semua provinsi. Secara spasial, sektor pertambangan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah memberikan sumbangan yang cukup besar pada penurunan kinerja sektor pertambangan di Kalimantan. Sektor pertambangan Kalimantan Timur mengalami kontraksi lebih besar pada periode laporan dari 1,16% menjadi 2,99%. Selain itu, penurunan yang sangat signifikan juga terjadi di Kalimantan Tengah yang terkontraksi sebesar 1,30% (yoy) dari sebelumnya tumbuh sangat tinggi 10,9% (yoy).
Sumber : Mc Closkey
Grafik IV.13. Produksi Batubara Kalimantan Grafik IV.14. Pertumbuhan tahunan Ekspor Tambang Batubara Berdasarkan Negara Tujuan, %
Melemahnya kinerja pertambangan terutama dipicu oleh masih terkontraksinya produksi batubara dan minyak di Kalimantan. Pada triwulan II 2015 produksi batubara terkontraksi menjadi sebesar 13,23% (yoy) (Grafik IV.13). Berkurangnya produksi batubara antara lain disebabkan oleh turunnya permintaan dari Tiongkok, India dan Jepang yang masing-masing sebesar 50% (yoy), 16% (yoy) dan 28% (yoy). Kondisi ini berbeda dengan perkiraan semula, yang memperkirakan terjadi peningkatan permintaan batubara dari India, sehubungan dengan masih tingginya kebutuhan batubara untuk pembangkit listrik di India. Untuk migas, penurunan produksi minyak sebesar 9,41% (yoy) disebabkan oleh kondisi sumur-sumur tambang yang sudah tua dan tidak lagi produktif (Grafik IV. 16). Meski demikian, lifting gas diprakirakan naik terbatas sehingga menahan laju kontraksi sektor pertambangan pada tingkat yang lebih dalam.
Pada triwulan III 2015, pertumbuhan sektor pertambangan diprakirakan masih mengalami kontraksi pada level yang lebih besar, akibat belum membaiknya kondisi pertambangan batubara. Lesunya perekonomian Tiongkok disertai dengan kebijakan Pemerintah Tiongkok untuk mengutamakan produksi dalam negeri, serta dikenakannya kenaikan pajak impor batubara di Korea Selatan mulai 1 Juli 2015, menjadi faktor penahan kinerja produksi batubara. IMF memprakirakan harga batubara pada triwulan III masih dalam tren menurun yaitu sebesar 24,2% (yoy). Pada pertambangan minyak bumi, penurunan lifting juga masih akan terus terjadi, mengingat umur sumur-sumur migas di Kalimantan yang sudah tua dan belum ada investasi yang signifikan dalam waktu dekat.
Sektor Industri Pengolahan
Industri pengolahan Kalimantan pada triwulan II 2015 masih kontraksi, khususnya akibat masih belum dapat berkembangnya industri di Kalimantan Timur. Pertumbuhan industri pengolahan di Kalimantan Timur masih terkontraksi, sehubungan dengan penurunan lifting minyak olahan yang kemudian berpengaruh pada penurunan industri olahan minyak. Di sisi lain, kenaikan kinerja industri gas sedikit menahan industri olahan terkontraksi lebih dalam. Kinerja industri nonmigas juga mengalami peningkatan, yang terindikasi pada peningkatan produksi CPO dan pupuk.
Memasuki triwulan III 2015, industri pengolahan tetap terkontraksi meski tidak sebesar periode sebelumnya.
Industri nonmigas diperkirakan akan menjadi pendorong pertumbuhan sektor industri secara umum, sementara pertumbuhan industri migas masih akan tumbuh terbatas. Hal tersebut sejalan dengan hasil liasion, yang memperkirakan terjadinya peningkatan penjualan pada industri non migas. Hal tersebut sejalan dengan perbaikan industri CPO yang ditandai dengan membaiknya proyeksi harga CPO oleh IMF, serta peningkatan produksi tandan buah segar (TBS) sawit.
Sektor Pertanian
Pertumbuhan sektor pertanian Kalimantan pada triwulan II 2015 meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pada triwulan II 2015, sektor pertanian tumbuh 5,10% (yoy) dari sebelumnya yang tercatat sebesar 3,93% (yoy). Peningkatan kinerja tersebut terjadi hampir di seluruh provinsi di Kalimantan.
Peningkatan didukung oleh naiknya produksi perkebunan dan tanaman bahan makanan (tabama). Sesuai perkiraan sebelumnya adanya banjir di Kalimantan Selatan, membuat panen bergeser ke triwulan II 2015 sehingga mendorong kinerja sektor dimaksud pada periode berjalan. Hal tersebut sejalan dengan hasil panen padi di Kalimantan Barat yang menunjukan peningkatan dibandingkan periode sebelumnya dari 1,68% (yoy) menjadi 2,99% (yoy).
Sumber: Dinas Pertanian Kalimantan Barat dan Kalimantan Sekatan, diolah
Sumber: IMF, diolah
Grafik IV.17. Pertumbuhan Tahunan Luas Tanam dan Luas Panen di Kalimantan
Grafik IV.18. Perkiraan Harga Minyak Mentah dan CPO di Pasar Internasional
Perkembangan berbagai indikator pertanian di Kalimantan mengindikasikan adanya perbaikan kinerja sektor pertanian pada triwulan III 2015, antara lain tercermin pada peningkatan produksi tabama dan perkebunan.
Kenaikan produksi tabama tersebut dipengaruhi oleh upaya khusus yang ditempuh oleh pemerintah untuk mendorong peningkatan produksi pangan di Kalimantan. Luas panen padi diperkirakan meningkat sejalan dengan peningkatan luas tanam pada triwulan II 2015. Pada triwulan II 2015, luas tanam padi meningkat sebesar 49,8%(yoy) lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan I yang hanya tumbuh 1% (yoy), hal ini akan mendorong kenaikan luas panen padi pada triwulan III 2015. Selain itu berdasar liaison, perluasan lahan pada tahun 2010 yang dilakukan oleh para pelaku usaha sawit di Kalimantan mulai menghasilkan sehingga turut berkontribusi positif bagi perbaikan kinerja sektor pertanian.
PERKEMBANGAN INFLASI
Perkembangan inflasi di berbagai daerah Kalimantan sepanjang triwulan II 2015 relatif terjaga walaupun cenderung lebih tinggi dibanding daerah lainnya. Hal ini tercermin dari laju kumulatif inflasi (year-to-date) periode Januari-Juni 2015 yang tercatat sebesar 2,15% (ytd), lebih rendah dibanding rata-rata periode yang sama dalam empat tahun terakhir yaitu sebesar 2,86% (ytd). Terjaganya inflasi terutama didukung oleh terkendalinya kenaikan harga pangan seiring dengan musim panen yang berlangsung pada triwulan II 2015 di beberapa daerah sentra produksi lokal seperti di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan. Selain itu, pasokan ikan segar cukup berlimpah sejalan dengan peningkatan hasil produksi ikan tangkap. Meningkatnya tekanan inflasi di wilayah ini terjadi pada akhir Juni 2015 disebabkan terjadinya peningkatan permintaan memasuki masa Ramadhan. Beberapa komoditas yang menunjukkan peningkatan di akhir periode triwulan II 2015 antara lain daging ayam ras, telur, dan bawang merah. Secara tahunan (year-on-year), inflasi di Kalimantan masih berada pada level yang tinggi karena faktor base effect kenaikan harga BBM pada November 2015. Inflasi Kalimantan pada Juni 2015 tercatat sebesar 7,33% (yoy), dengan inflasi tertinggi terjadi di Provinsi Kalimantan Barat (9,04%) dan Kalimantan Timur (7,55%).
Sumber: BPS, diolah Sumber: BPS, diolah
Grafik IV.19. Perkembangan Inflasi Kalimantan dan Indonesia Grafik IV.20. Disagregasi Inflasi Kalimantan Memasuki awal triwulan III 2015, berbagai daerah di Kalimantan mengalami tekanan inflasi yang lebih tinggi.
Pada Juli 2015, inflasi Kalimantan tercatat sebesar 1,51% (mtm) dan secara tahunan menjadi 7,99% (yoy), lebih tinggi dibanding wilayah lainnya. Kenaikan inflasi terjadi pada semua kelompok barang terutama akibat meningkatnya permintaan pada masa Ramadhan. Kenaikan tekanan harga yang cukup signifikan terutama terjadi pada tarif angkutan udara sehingga menyebabkan Kalimantan Barat mengalami inflasi tertinggi secara nasional. Berbagai upaya yang cukup intensif ditempuh oleh pemerintah daerah melalui forum TPID seperti penyelenggaraan program pasar murah menjadi penyeimbang untuk mengefisienkan biaya distribusi dan program peningkatan produksi antara lain melalui metode Hazton, relatif dapat menahan tekanan kenaikan harga-harga lebih lanjut. Meski demikian, tekanan inflasi diperkirakan akan mereda di akhir triwulan III pasca berakhirnya aktivitas perayaan Idul Fitri masih dibayangi risiko akan meluasnya kekeringan di sejumlah daerah di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Hal tersebut diperkirakan akan berdampak pada penurunan produksi pertanian.
Koordinasi Pengendalian Inflasi
Dalam rangka pengendalian inflasi di Wilayah Kalimantan, berbagai upaya koordinasi dan kegiatan melalui TPID diarahkan untuk mencapai inflasi yang rendah dan stabil, khususnya masa Idul Fitri. Pengendalian ekspektasi inflasi dari masyarakat dilakukan melalui diseminasi kegiatan TPID melalui media massa, baik cetak maupun elektronik. Selain itu, untuk memperkuat koordinasi, dilakukan berbagai kegiatan antara lain rapat koordinasi TPID bersama dinas dan instansi di daerah. Dalam menjaga suplai komoditas pangan, TPID secara aktif melakukan operasi pasar, menyelenggarakan pasar murah, mempercepat penyaluran raskin, mendirikan pasar penyeimbang, mendorong penerbitan SK Gubernur terkait tarif angkutan pada masa Idul Fitri, melakukan inspeksi mendadak (sidak) pasar induk dan distributor, melakukan sidak ketersediaan BBM dan LPG, dan berbagai kegiatan lainnya.
Dalam rangka memperkuat fungsi TPID, Kemendagri memberikan surat penugasan kepada TPID untuk melakukan melakukan pengawasan dan pemantauan penerapan kebijakan penetapan harga khusus saat puasa dan Idul Fitri tahun 2015. TPID diminta melaksanakan sepuluh kegiatan dalam menjaga stabilnya harga pada bulan puasa dan Idul Fitri. Secara umum, instruksi dari Kemendagri tersebut telah dilaksanakan dengan cukup baik di Kalimantan. Namun demikian, instruksi pembentukan pos pengaduan yang menampung keluhan masyarakat terkait kelangkaan dan ketidakpastian harga pangan masih belum dapat direalisasikan oleh TPID di Kalimantan.
Tabel IV.1. Tindak Lanjut Surat Kemendagri
Keterangan kelompok inflasi : C (core/inti); VF (volatile food); AP (administered prices)
STABILITAS SISTEM KEUANGAN, PENGELOLAAN SISTEM PEMBAYARAN, DAN PENGELOLAAN UANG TUNAI RUPIAH
Ketahanan Sektor Korporasi
Pembiayaan ke sektor korporasi di Kalimantan pada triwulan II 2015 didominasi oleh sektor pertanian, terutama disalurkan untuk perkebunan sawit dengan pangsa 32%. Selain sektor pertanian, sektor pertambangan, industri dan perdagangan juga memiliki peran yang cukup dominan dalam pembiayaan oleh sektor korporasi Kalimantan dengan pangsa masing-masing 16%, 14% dan 12%. Masih lesunya perekonomian Kalimantan yang dipengaruhi oleh koreksi harga dan turunnya permintaan komoditas global membuat kinerja kredit sektor korporasi melambat dari 6,19 % menjadi 5,84%. Walaupun melambat, risiko kredit korporasi mengalami sedikit perbaikan yang tercermin dengan penurunan NPL dari 4,35% menjadi 4,29%. Penurunan NPL didorong oleh sektor pertanian, konstruksi serta transportasi dan komunikasi, sementara untuk sektor pertambangan dan industri mengalami peningkatan dan berada pada level yang cukup tinggi. Secara spasial, tingkat NPL tertinggi berada di Kalimantan Timur yang mencapai 6,29%, sedangkan di provinsi lainnya masih pada level yang aman yakni di bawah 5%. Tekanan NPL di Kalimantan Timur merupakan dampak langsung dari kontraksi pertumbuhan ekonomi di sektor pertambangan batubara dan migas serta sektor-sektor pendukungnya yang mengalami perlambatan.
No Upaya Pengendalian Inflasi Kalbar Kalteng Kalsel Kaltim
1 Menjaga ketersediaan pasokan dan mempercepat distribusi barang khususnya kebutuhan pokok masyarakat(C, VF) a a a a
2 Mengendalikan tarif angkutan darat(AD) a a
3 Menyediakan informasi terkait produksi, ketersediaan dan harga komoditas bahan pangan pokok(VF) a a a a 4 Meningkatkan kerjasama antar daerah yang surplus komoditas dengan daerah yang defisit komoditas(VF) a
5 Mengefektifkan TPID untuk memantau ketersediaan, kelancaran distribusi dan perkembangan harga(VF, C) a a a a
6 Menghimbau masyarakat agar lebih bijaksana dalam pola konsumsi (VF, C) a a a a
7 Membentuk pos pengaduan yg menampung keluhan masyarakat terkait kelangkaan dan ketidakstabilan harga pangan (VF)
8 Bersama-sama dengan seluruh anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah untuk melakukan pengawasan(VF, C) a a a a 9 Mempercepat pelaksanaan APBD 2015, khususnya program yang mendukung angka 1 s.d. 8 (AD, C, VF) a a
10 Melaporkan upaya-upaya secara berjenjang ke Pimpinan Daerah a a a
Grafik IV.25. Pertumbuhan Kredit Sektoral Grafik IV.26. NPL Sektoral Ketahanan Sektor Rumah Tangga
Sejalan dengan melambatnya kondisi perekonomian, pada triwulan II-2015 penyaluran kredit sektor rumah tangga di Kalimantan tumbuh melambat. Pada akhir triwulan II 2015, pertumbuhan kredit ke sektor rumah tangga tercatat sebesar level 14,67% (yoy), lebih rendah dibanding posisi akhir triwulan sebelumnya yang mencapai 18,97% (yoy). Melambatnya pertumbuhan terjadi pada hampir setiap jenis penggunaan kredit.
Meskipun melambat, risiko kredit rumah tangga masih tetap terjaga yang tercermin dari rendahnya tingkat NPL yakni 1,96%. Tingginya ketahanan stabilitas sistem keuangan sektor rumah tangga juga terindikasi pada rendahnya level debt-to-service ratio Kalimantan pada triwulan II 2015 yakni 14,70%. Sementara itu, DPK perseorangan di Kalimantan tumbuh cukup stabil meskipun terjadi tren perlambatan selama setahun terakhir.
Pada triwulan II 2015, DPK Perseorangan di Kalimantan tumbuh sedikit meningkat dari 7,05% (yoy) menjadi 7,25% (yoy).
Grafik IV.27. Pertumbuhan Kredit RT Grafik IV.28. Pertumbuhan NPL
Grafik IV.29. Debt-to-Service Ratio Per Provinsi Grafik IV.30. Pertumbuhan DPK Perseorangan
Pembiayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)
Pada triwulan II 2015, pembiayaan terhadap UMKM juga mengalami perlambatan dari 13,41% (yoy) menjadi 4,78% (yoy). Perlambatan pembiayaan UMKM disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan sektor perdagangan dan penurunan dari sektor konstruksi serta transportasi dan komunikasi. Namun demikian, penyaluran kredit UMKM pada sektor pertanian mengalami pertumbuhan yang meningkat dibanding triwulan sebelumnya. Risiko kredit UMKM di Kalimantan juga perlu diwaspadai karena tingkat NPL yang sudah berada di atas 5% selama dua triwulan berturut-turut, dengan kecenderungan yang meningkat dari 5,3% menjadi 5,8%. Peningkatan risiko tersebut terjadi utamanya di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan yang perekonomiannya didominasi oleh sektor pertambangan. Secara sektoral, risiko kredit tertinggi terdapat pada sektor sekunder dan tersier seperti konstruksi (13,40%), transportasi (9,71%) dan jasa (9,10%).
Grafik IV.31. Pertumbuhan Kredit UMKM Grafik IV.32. NPL Kredit UMKM
Sementara itu, perkembangan indikator keuangan inklusif di Kalimantan masih belum sebaik di wilayah lainnya. Hal ini terlihat dari rendahnya rasio rekening per penduduk di Kalimantan dibandingkan dengan nasional. Selain itu, rasio kredit dan DPK terhadap PDRB cenderung tidak setinggi nasional yang mengindikasikan dukungan keuangan dalam perekonomian relatif masih terbatas. Di sisi lain, ketersediaan dukungan sektor keuangan terhadap UMKM di Kalimantan cukup baik meskipun rasio rekening kredit UMKM terhadap total rekening kredit di Kalimantan sedikit di bawah nasional.
Tabel IV.2. Indikator Keuangan Inklusif
Sumber: BPS, Bank Indonesia, diolah Pengelolaan Sistem Pembayaran
Masih sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif melambat pada triwulan II 2015, transaksi non tunai khususnya kliring masih terus terkontraksi. Transaksi kliring cenderung masih terkontraksi dari sebesar 0,36%
(yoy) menjadi terkontrakasi lebih dalam lagi sebesar 1,43% (yoy) dengan nominal Rp 18,65 triliun. Meski demikian, secara keseluruhan transaksi nontunai di Kalimantan pada triwulan II 2015 mengalami peningkatan dengan total nominal tercatat Rp382,60 triliun, atau tumbuh 48,99% (yoy). Kenaikan tersebut terutama didorong oleh kebijakan kewajiban penggunaan Rupiah di wilayah NKRI, yang tertangkap pada transaksi RTGS, yang tumbuh dari 9,60% (yoy) menjadi 48,99% (yoy) dengan total nominal Rp364,02 triliun.
Tabel IV.3. Perkembangan RTGS Kalimantan
Tabel IV.4. Perkembangan Kliring Kalimantan
Pengelolaan Uang Tunai Rupiah
Transaksi tunai Bank Indonesia se-Kalimantan pada triwulan II 2015 tercatat mengalami net outflow Rp5,1 triliun. Net outflow ini merupakan dampak kenaikan kebutuhan uang tunai menjelang Idul Fitri dan libur sekolah. Secara spasial, outflow terjadi di hampir semua provinsi kecuali Kalimantan Tengah yang mengalami net inflow. Pada triwulan II pertumbuhan outflow meningkat tajam dari kontraksi -1,52% (yoy) menjadi tumbuh 29,30% (yoy). Di sisi lain terjadi perlambatan inflow dari tumbuh 20,96% (yoy) menjadi hanya tumbuh 9,67% (yoy). Sementara itu, perkembangan uang palsu pada triwulan II 2015 ini menunjukkan penurunan dari 3.619 lembar menjadi 2.618 lembar dengan temuan terbesar di Kalbar dan Kalsel.
Grafik IV.33. Perkembangan Inflow-outflow Kalimantan Tabel IV.5. Perkembangan Inflow-Outflow Provinsi di Kalimantan
PROSPEK PEREKONOMIAN
Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Secara umum, pemulihan kinerja perekonomian berbagai daerah di Kalimantan diperkirakan masih tumbuh terbatas pada tahun 2015. Pertumbuhan ekonomi tahun 2015 diperkirakan berada pada kisaran 1,40-1,90%
(yoy), lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2014 sebesar 3,19% (yoy). Faktor utama perlambatan tersebut karena pemulihan ekonomi global yang masih terbatas sehingga menghambat kinerja sektor pertambangan
I II III IV I II III IV I II
Nilai (Rp triliun) 214.74 256.79 247.44 250.74 219.07 244.32 249.40 276.05 240.09 364.02
g. Nilai (% yoy) 34.96 28.11 31.04 15.97 2.02 -4.86 0.79 10.09 9.60 48.99
Volume (ribu lembar) 237.94 249.87 233.33 252.31 221.51 226.37 224.19 226.10 111.48 116.24
g. Volume (% yoy) 14.46 4.90 -3.01 -5.86 -6.90 -9.41 -3.92 -10.39 -49.67 -48.65
2013 2014 2015
I II III IV I II III IV I II
Nilai (Rp triliun) 18.18 18.42 19.34 20.37 18.72 18.85 18.33 19.97 18.65 18.58
g. Nilai (% yoy) 6.06 2.61 10.71 11.81 2.99 2.33 -5.24 -1.99 -0.36 -1.43
Volume (ribu lembar) 549.61 570.82 558.50 572.65 525.76 547.28 519.99 555.10 539.17 540.27
g. Volume (% yoy) 1.48 1.12 0.60 1.79 -4.34 -4.12 -6.90 -3.06 2.55 -1.28
2013 2014 2015
Provinsi Inflow Outflow Net Outflow Kalbar 1,072,654 2,077,780 1,005,126 Kalsel 682,023 2,773,266 2,091,244 Kalteng 2,027,610 1,680,597 -347,013 Kaltim 1,838,940 4,169,232 2,330,292 Kalimantan 5,621,227 10,700,875 5,079,649
khususnya batubara sehingga ekspor masih tertahan. Selain itu, penurunan lifting minyak bumi juga turut menahan laju pertumbuhan ekonomi Kalimantan.
Melambatnya ekonomi Kalimantan untuk keseluruhan tahun 2015, terutama dipengaruhi oleh perkembangan pemulihan ekonomi global yang masih terbatas, yang disertai harga komoditas yang cenderung menurun sehingga berdampak pada kinerja ekspor di berbagai daerah Kalimantan. Perkembangan ekonomi Tiongkok yang cenderung melambat diperkirakan akan memengaruhi kinerja ekspor batubara. Meski demikian, permintaan domestik terutama konsumsi rumah tangga masih cukup kuat. Selain itu, upaya yang ditempuh oleh pemerintah untuk mendorong penyerapan belanja anggaran di tingkat pusat dan daerah untuk pembangunan berbagai proyek infrastruktur strategis diperkirakan dapat menahan melambatnya laju perekonomian lebih lanjut. Kemudian, penyelenggaraan Pilkada serentak di akhir tahun 2015 diperkirakan dapat memberikan dampak positif terhadap kinerja perekonomian.
Pada sisi penggunaan, perlambatan ekonomi yang diakibatkan penurunan kinerja ekspor tambang yang disertai produksi (lifting) minyak bumi selanjutnya akan berdampak pada menurunnya pendapatan ekspor sehingga memengaruhi konsumsi RT. Oleh karena itu, konsumsi dan ekspor diperkirakan tumbuh terbatas.
Prospek pemulihan perekonomian Tiongkok yang berjalan lambat akan berdampak pada pemulihan kinerja ekspor batubara Kalimantan. Hal ini tercermin pada harga batubara yang diproyeksikan turun hingga sebesar 20% (yoy) pada tahun 2015 oleh IMF. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah kenaikan royalti di saat harga batubara rendah dapat membuat pelaku usaha yang berhenti beroperasi. Terbatasnya konsumsi rumah tangga sejalan dengan belum membaiknya perekonomian Kalimantan khususnya sektor pertambangan.
Investasi diperkirakan tumbuh membaik, didukung oleh investasi yang dilakukan oleh pemerintah. Sementara kinerja ekspor diperkirakan ditopang oleh prospek kinerja ekspor CPO yang diperkirakan mengalami perbaikan dan ekspor mineral olahan yang dimulai tahun 2015.
Dari sisi sektoral, sumber utama melambatnya pertumbuhan ekonomi Kalimantan diprakirakan berasal dari pertambangan yang kinerjanya memburuk. Selain itu, industri pengolahan juga diproyeksikan akan mengalami kontraksi sebesar 0,3% (yoy). Industi hilir migas yang memiliki share 45% terhadap total industri di Kalimantan, mengalami penurunan seiring dengan rendahnya lifting minyak bumi di sisi hulu dan harga LNG yang diproyeksikan terkontraksi. Namun masih terdapat potensi industri CPO, pupuk dan kayu olahan yang dapat menahan laju penurunan industri olahan. Selain itu, kinerja sektor pertanian dan industri pengolahan merupakan pendorong utama perbaikan di tahun 2015. Sektor pertanian, diperkirakan akan mengalami peningkatan produksi sejalan dengan semakin tingginya produktivitas sawit memasuki usia produktifnya.
Kinerja subsektor tanaman bahan makanan juga diperkirakan meningkat didukung oleh program swasembada pangan secara Nasional. Pemerintah menetapkan target produksi beras pada tahun 2015 di Kalimantan sebesar 5,82 juta ton atau naik 21,89% (yoy) dibandingkan dengan tahun 2014. Target peningkatan produksi beras ini sangat tinggi dibandingkan dengan historis, dengan rata-rata kenaikan produksi beras hanya 1,67%.
Secara spasial, perlambatan perekonomian Kalimantan pada 2015 diprakirakan terutama terjadi di daerah yang bergantung pada komoditas batubara. Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur diproyeksikan akan melambat cukup dalam, akibat menurunnya kinerja sektor pertambangan. Sementara itu, pertumbuhan Kalimantan Tengah akan tetap meningkat, didukung oleh perbaikan kinerja pertanian dan pertambangan mineral. Perbaikan di sektor pertambangan mineral juga terjadi di Kalimantan Barat, sehingga dapat menahan penurunan perekonomian Kalimantan Barat. Diperkirakan pada tahun 2015, perekonomian Kalimantan Barat tumbuh stabil.
Prospek Inflasi
Perkembangan inflasi di Kalimantan hingga akhir tahun 2015 diperkirakan tetap terkendali dan masih sejalan dengan sasaran inflasi nasional yang berada pada kisaran 4%±1%. Prakiraan terkendalinya tekanan inflasi hingga akhir tahun ini sejalan dengan perlambatan ekonomi Kalimantan, yang berdampak pada melemahnya tekanan inflasi pada sisi permintaan, terutama di Kalimantan Timur yang pertumbuhan ekonominya
mengalami kontraksi sepanjang semester I 2015. Pada sisi penawaran, produksi pangan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, khususnya untuk komoditas beras, diperkirakan masih meningkat dibanding periode tahun sebelumnya sebagai dampak penerapan program swasembada pangan.
Risiko inflasi yang perlu diwaspadai terutama berasal dari kelompok volatile foods. Menguatnya intensitas El Nino, berisiko untuk menurunkan produksi beras di Kalimantan Barat. Disamping itu, permasalahan kenaikan harga komoditas daging yang terjadi pada awal triwulan III 2015 serta masih rentannya kestabilan pasokan beberapa komoditas pangan strategis lainnya seperti aneka cabai, ikan segar, dan bawang, turut menjadi risiko yang dapat memberikan tekanan kenaikan inflasi pangan. Pada sisi distribusi, mulai tingginya gelombang juga menjadi risiko bagi kestabilan harga di Kalimantan, khususnya di Kota Tarakan yang berada terpisah dari pulau Kalimantan dan hampir seluruh barang konsumsinya didatangkan dengan transportasi laut dari kota lain seperti Balikpapan, Surabaya dan Makasar.
Risiko lain yang perlu diwaspadai berasal dari kelompok administered prices. Risiko inflasi administered prices berasal dari rencana penyesuaian tarif Listrik, LPG 3 kg serta harga BBM. Selain itu risiko lain berasal dari kenaikan tarif angkutan udara pada masa Sembayang Kubur II bulan Agustus. Secara historis, tekanan inflasi angkutan udara yang cukup signifikan selalu terjadi pada masa Sembayang Kubur karena tingginya arus keluar masuk penumpang di Kalimantan Barat, baik Kota Pontianak maupun Singkawang. Selain itu, risiko lainnya yang perlu diwaspadai berasal dari kelompok inti adalah kenaikan harga sewa rumah pada masa ajaran kuliah baru di bulan Agustus dan September.
Mengantisipasi potensi meningkatnya risiko inflasi, akan dilakukan melalui penguatan koordinasi pengendalian inflasi melalui TPID, diantaranya melalui (i) program minimalisir dampak kekeringan akibat El-Nino, (ii) mengelola ekspektasi masyarakat salah satunya melalui PIHPS yang sudah terbentuk. Selain itu juga dilakukan pengawasan yang intensif terhadap distribusi komoditas strategis untuk memastikan kesinambungan pasokannya bagi masyarakat serta menjaga stok bahan makanan sepanjang waktu, hal ini dilakukan melalui kandang penyangga dan pasar penyeimbang.
Perekonomian Kalimantan yang secara umum lebih mengandalkan pada komoditas sumber daya alam (SDA) menyebabkan pertumbuhan ekonomi Kalimantan cenderung tidak sustainable. Struktur ekspor Kalimantan selama 10 tahun terakhir sangat bergantung pada ekspor SDA mentah. Pada tahun 2000, ekspor bergantung pada komoditas kayu, dan semenjak tahun 2010 beralih ke batubara. Sebagian besar produksi batubara yang dihasilkan di Kalimantan ditujukan untuk ekspor, dan hanya sebagian kecil yang digunakan untuk kepentingan domestik. Ketergantungan ini membuat perekonomian Kalimantan sangat rentan dipengaruhi dinamika harga komoditas di pasar global, terutama terkait dengan harga komoditas SDA ekspor. Melihat kondisi perekonomian Kalimantan ini, diperlukan transformasi ekonomi berbasis SDA ke berbasis industri atau melalui
Perekonomian Kalimantan yang secara umum lebih mengandalkan pada komoditas sumber daya alam (SDA) menyebabkan pertumbuhan ekonomi Kalimantan cenderung tidak sustainable. Struktur ekspor Kalimantan selama 10 tahun terakhir sangat bergantung pada ekspor SDA mentah. Pada tahun 2000, ekspor bergantung pada komoditas kayu, dan semenjak tahun 2010 beralih ke batubara. Sebagian besar produksi batubara yang dihasilkan di Kalimantan ditujukan untuk ekspor, dan hanya sebagian kecil yang digunakan untuk kepentingan domestik. Ketergantungan ini membuat perekonomian Kalimantan sangat rentan dipengaruhi dinamika harga komoditas di pasar global, terutama terkait dengan harga komoditas SDA ekspor. Melihat kondisi perekonomian Kalimantan ini, diperlukan transformasi ekonomi berbasis SDA ke berbasis industri atau melalui