jumlah sengketa pertanahan yang diselesaikan
229 kasus 168 kasus 73,36
Meningkatnya jumlah konflik pertanahan yang diselesaikan
365 kasus 287 kasus 78,63
Meningkatnya jumlah perkara pertanahan yang diselesaikan
200 kasus 157 kasus 78,50
Evaluasi dan analisis atas capaian indikator-indikator kinerja sasaran ini adalah sebagai berikut:
Meningkatnya jumlah sengketa pertanahan yang diselesaikan
Berdasarkan Peraturan Kepala BPN RI Nomor 3 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Pengkajian dan Penanganan Kasus Pertanahan, Sengketa pertanahan adalah perselisihan pertanahan antara orang perseorangan, badan hukum, atau lembaga yang tidak berdampak luas secara sosio-politis.
Selama tahun 2012 jumlah sengketa pertanahan yang dapat diselesaikan sebanyak 168 Kasus.
Faktor-faktor yang mempengaruhi capaian jumlah penyelesaian sengketa pertanahan tersebut antara lain disebabkan masih terbatasnya jumlah sumber-daya manusia ditinjau dari beban tugas rutin dan tugas lainnya. Adapun strategi pemecahan masalah dari kendala tersebut melalui permintaan tambahan SDM dari Biro Kepegawaian serta peningkatan hubungan kerja dan koordinasi, membentuk tim terpadu pelaksanaan kegiatan, melaksanakan evaluasi kinerja secara berkala serta melaksanakan rapat koordinasi secara berkala dan melakukan efektivitas dan efisiensi kerja.
Meningkatnya jumlah konflik pertanahan yang diselesaikan
Berdasarkan Peraturan Kepala BPN RI Nomor 3 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Pengkajian dan Penanganan Kasus Pertanahan, konflik pertanahan adalah perselisihan pertanahan antara orang perseorangan, kelompok, golongan, organisasi, badan hukum, atau lembaga yang mempunyai kecenderungan atau sudah berdampak luas secara sosio-politis.
Selama tahun 2012 jumlah konflik pertanahan yang dapat diselesaikan sebanyak 287 Kasus
Faktor-faktor yang mempengaruhi capaian jumlah penyelesaian konflik pertanahan tersebut antara lain:
1. Memberikan bimbingan teknis kepada staf/pelaksana mengenai Peraturan Kepala BPN No. 3 Tahun 2013;
2. Memberikan kesempatan kepada pegawai melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi;
3. Perlu dipertimbangkan perbandingan jumlah pegawai wanita dengan pria.
Meningkatnya jumlah perkara pertanahan yang diselesaikan
Berdasarkan Peraturan Kepala BPN RI Nomor 3 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Pengkajian dan Penanganan Kasus Pertanahan, Perkara pertanahan adalah perselisihan pertanahan yang penyelesaiannya dilaksanakan oleh lembaga peradilan atau putusan lembaga peradilan yang masih dimintakan penanganan perselisihannya di Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia.
Selama tahun 2012 jumlah perkara pertanahan yang dapat diselesaikan sebanyak 157 kasus.
Faktor-faktor yang mempengaruhi capaian jumlah penyelesaian perkara pertanahan tersebut antara lain:
1. Anggaran sidang dari dana rupiah murni yang tidak mencukupi, sedangkan dana APBN yang telah dialokasikan menunggu masuknya dana dari pihak ketiga.
2. Penyusunan RKAKL yang waktu perbaikannya sering hanya diberi waktu sedikit sehingga menghasilkan Rencana Kerja Anggaran dan Kegiatan yang tidak sempurna dan kurang cermat.
3. Terbatasnya jumlah sumber-daya manusia pada Direktorat Perkara Pertanahan ditinjau dari beban tugas rutin dan tugas lainnya.
Untuk mempercepat penyelesaian kasus-kasus pertanahan di tanah air, Kepala BPN RI membentuk Tim 11. Selama tahun 2012 Tim 11 menangani sebanyak 38 kasus pertanahan.
Tabel 3.3
Beberapa Contoh kasus yang ditangani antara lain:
No Kasus Perkembangan Proses Penyelesaian
No Kasus Perkembangan Proses Penyelesaian
1 Permasalahan tanah antara masyarakat Kec. Ngancar dan PT.
Sumber Sari Petung, di Kab.
Kediri, Provinsi Jawa Timur.
Tanah atas nama PT. Sumber Sari Petung semula luasnya 600 ha, 250 ha diantaranya diduduki oleh warga masyarakat. Terhadap tanah seluas ± 250 Ha tersebut, yang digarap warga 1.766 bidang tanah (100 %) telah diterbitkan Sertipikat Hak Milik melalui redistribusi tanah dan sudah diserahkan kepada penerima tanah redistribusi tanah/warga. Pada saat ini telah dilaksanakan akses reform berupa penanaman nilam dan pembuatan pengolahan penyulingan minyak asiri bantuan pihak ketiga.
2 Permasalahan tanah Curah Nongko, Perkebunan Kali Senan PTPN XII dengan warga
masyarakat yang terletak di Desa Curah Nongko, Kec. Tempurejo, Kab. Jember, Prov. Jawa Timur
Luas yang diminta untuk diperpanjang seluas 2.709,49 Ha dimana dalam HGU tersebut terdapat klaim dari masyarakat seluas 300 ha. Dari 300 ha areal yang diklaim tersebut, 125 ha ditanami (okupasi) oleh warga. Sedangkan sisa seluas 175 ha dituntut warga.
Penyelesaian telah dilaksanakan mediasi pada tanggal 23 Januari 2013 bertempat di Dewan Perwakilan Daerah (DPD) antara BPN, PTPN XII dan Kementerian BUMN. Prinsip BUMN akan melepas sejauh untuk kepentingan petani dan dalam waktu dekat akan diadakan peninjauan lapang.
3 Permasalahan tanah Hak Pakai No. 1/Alastlogo atas nama Dephankam cq. TNI AL antara masyarakat Desa Alaslogo dengan TNI AL terletak di Grati, Kab. Pasuruan, Prov. Jawa Timur
Dari luas keseluruhan tanah dengan Hak Pakai (HP) atas nama Departemen Pertanahan (DEPHAN) cq. TNI-AL di Pasuruan 3.476 ha di dua bidang Hak Pakai di Alastlogo dan Sumberanyar seluas 1.083 ha ada klaim dari warga masyarakat. Sementara itu, hasil rapat dengan Komandan Armada Maritim Kawasan Timur (DanArmatim) telah disimpulkan bahwa persoalan ini sepenuhnya diserahkan ke Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) dan DEPHAN (Kementerian Pertahanan); untuk itu kiranya Komisi-II DPR RI dapat memfasilitasi Rapat Koordinasi yang
No Kasus Perkembangan Proses Penyelesaian
mengikutsertakan setiap pihak terkait, setidaknya unsur warga masyarakat, Pemerintah Kabupaten Pasuruan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan BPN-RI.
4 Permasalahan Tanah antara TNI Kodam Brawijaya dengan masyarakat yaitu kebun
Penampean seluas 5.440 ha dan kebun Kali gentong seluas 1.525 ha di Kabupaten Tulungagung.
Hasil mediasi antara BPN, Kodam dan Pemda yaitu bahwa kebun Penampaian akan diserahkan seluruhnya kepada masyarakat, sedangkan kebun Kaligentong tetap diserahkan ke TNI AD untuk digunakan sebagai tempat latihan militer. Namun demikian belum ada persetujuan dari KASAD. Mohon DPR dapat menindaklanjuti hal ini.
5 Masalah Tanah HGU Wongsorejo seluas 600 Ha di desa
Wongsorejo kecamatan Wongsorejo Kabuaten
Banyuwangi Jawa timur dengan Petani setempat.
Pihak Perusahaan pemilik HGU telah menyerahkan tanah seluas 60 Ha yang akan dijadikan obyek Land reform untuk di redistribusikan kepada 200 KK Petani setempat.
6 HGU PT Blitar Putra seluas 380 Ha didesa Gadungan Kecamatan Gandusari Kabupate Blitar dengan Petani setempat.
PT. Blitar Putra telah melepaskan tanah seluas 80 Ha yang akan dijadikan obyek Landreform untuk diredistribusikan kepada 400 KK petani
7 Masalah tanah Keraton
Surakarta, terletak di Kelurahan Baluwerti, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta
Dijadwalkan minggu ke-2 Februari 2013 akan dilaksanakan Gelar Kasus di Kanwil BPN Provinsi Jawa Tengah.
8 Permasalahan tanah Negeri Halong yang terletak di Kota Ambon, Provinsi Maluku
Masih dilakukan pengumpulan data, baik data yuridis administratif maupun data fisik lapangan.
9 Permasalahan tanah HGU PT.
Cipta Daya Sejati Luhur seluas 268 Ha sebagian dari luas keseluruhan 3.671 Ha yang secara fisik dikuasai oleh
Kelompok Tani Makmur Sejati, di Provinsi Riau;
Karena tidak tercapai win-win solution sedangkan lokasi dikuasai dan diolah oleh Kelompok Tani Makmur Sejati maka PT. CDSL harus bisa membuktikan telah membayar ganti rugi. Apabila tidak bisa membuktikan ganti rugi tersebut maka sebagian HGU seluas 164,4 Ha dapat dibatalkan karena terdapat cacat hukum administrasi sesuai Perkaban No.
3/2011.
10 Tuntutan pengembalian tanah seluas 80 Ha oleh Suwarno, dkk
Permasalahan ini termasuk kriteria K4 dan K5 yang intinya penyelesaian kasus
No Kasus Perkembangan Proses Penyelesaian
dari lokasi HGU No. 1/Paya Bagas A.n. PTPN III Kebun Rambutan, di Kab. Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara.
pertanahan melalui proses perkara di pengadilan.
11 Permasalahan tanah antara TNI Angkatan Udara dengan
masyarakat Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor
Mengingat tanah tersebut merupakan aset negara yang sudah terdaftar dalam IKN atas nama Kementerian Pertahanan RI Nomor Reg. IKN 50503007 dan Nomor 50503008, maka perlu dikoordinasikan permasalahan tanah tersebut kepada Kemenhan RI, Kemenkeu RI dan Kemendagri RI.
12 Permasalahan tanah antara PT.
Pupuk Kaltim dengan Majelis Perjuangan Rakyat Perwakilan Masyarakat Gunung Kempeng, Pada Idi dan H. Daeng Masserang
PT. Pupuk Kaltim mengajukan permohonan perpanjangan atas HGB No.10/Belimbing yang akan berakhir tanggal 9 September 2013, selanjutnya Kepala Kantor Pertanahan Kota Bontang dengan suratnya No.125/3-64.74/X/2012 Tanggal 11 Oktober 2012 jo Kepala Kantor Wilayah BPN Prov.
Kalimantan Timur dengan suratnya No.924/6-64/X/2012 Tanggal 18 Oktober 2012, Mohon Petunjuk kepada Deputi Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan perihal tindak lanjut Permohonan Pengukuran dan Perpanjangan atas HGB No. 10/Belimbing seluas 173 Ha atas nama PT. Pupuk Kaltim. Belum ada kesepakaan dari masyarakatsehingga proses pengkrannya ertnda.
13 Permasalahan Tanah Antara PT.
Jembayan Muara Bara Dengan Masyarakat Transmigrasi
Swakarsa Mandiri Yang Terletak Di Desa Bhuana Jaya, Kecamatan Tenggarong Sebrang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.
Masih dilakukan pengumpulan data, baik data yuridis administratif maupun data fisik lapangan
14 Permasalahan tanah antara masyarakat dengan TNI AU/Lanud Atang Sendjaja,
terletak di Desa Bojong, dan Desa
Terhadap tanah yang dipermasalahkan akan diintensifkan koordinasi antara semua unit terkait diantaranya Kementerian Pertahanan, Kementerian
No Kasus Perkembangan Proses Penyelesaian
Semplak, Kecamatan Kemang, Desa Bantarsari, Kec.
Rancabungur Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat;
Keuangan, BPN RI dan Pemerintah setempat.
15 Permasalahan tanah PT. Barat Selatan Makmur Investindo di Kabupaten Mesuji Provinsi Lampung
Penyelesaian kasus tersebut sedang ditangani oleh Tim dari Menteri Polhukam.
Disadari bahwa penanganan dalam rangka penyelesaian sengketa, perkara, maupun konflik pertanahan masih dihadapkan pada berbagai faktor antara lain:
a. Persoalan yang kompleks dan banyaknya mafia serta spekulan tanah yang tidak henti-hentinya melakukan aksinya;
b. Ketidakpercayaan masyarakat terhadap lembaga peradilan dalam menyelesaikan konflik pertanahan;
c. Ketidakmampuan sebagian besar masyarakat untuk membayar biaya perkara di pengadilan;
d. Sikap arogansi dari suatu institusi dalam menghadapi masalah/konflik pertanahan;
e. Adanya tumpang tindih putusan pengadilan baik TUN, perdata maupun pidana yang saling bertentangan menyangkut obyek yang sama.