• Tidak ada hasil yang ditemukan

KITAB FILEMON Pasal: 1

Dalam dokumen Introduksi Perjanjian Baru.pdf (Halaman 72-76)

Sebenarnya surat Filemon termasuk surat-surat Penggembalaan (Pastoral), karena bersifat pribadi dan berisikan nasehal-nasehat pastoral. Itulah sebabnya surat Filemon dalam kanon Perjanjian Baru dimasukkan sesudah surat-surat penggembalaan. Namun demikian surat ini dibahas sehubungan dengan surat-surat lain yang ditulis oleh Paulus dalam penjara. Jelaslah bahwa hubungan dengan surat Efesus dan surat Kolose sangat erat. Kita sudah melihat bahwa Tikhikus merigantarkan surat Efesus dan surat Kolose. Di samping itu dia turut membawa surat Filemon juga, karena dalam perjalanan ke Asia, dia bersama-sama dengan Onesimus yang membawa surat ini untuk Filemon di Kolose (bnd. Kol. 4:7-9; Flm. 1 dan 10).

1. Alamat

Surat ini ditulis oleh Paulus dan dialamatkan kepada "Filemon yang kekasih, teman sekerja kami dan kepada Apfia, saudara perempuan kita dan kepada Arkhipus, teman di rumahmu" (Flm. 1-2).

Timbul pertanyaan: Siapakah Filemon?

Filemon adalah seorang Kolose yang merupakan buah Pekabaran Injil Paulus (Flm. 19). Menurut Kis. 19 Paulus pernah melayani di "ruang kuliah Tiranus". Waktu itu Efesus menjadi pusat Pekabaran Injil di seluruh daerah itu. Ada kemungkinan besar bahwa Filemon bertobat sebagai akibat dari pelayanan itu.

Di Kolose, Filemon berkedudukan tinggi dan mempunyai rumah yang cukup besar di mana diadakan kebaktian-kebaktian (Flm. 2), dan juga dipakai untuk menyambut hamba-hamba Tuhan (Flm. 22). Dia telah demikian maju secara rohani sehingga Paulus memanggil dia teman sekerjanya (Flm. 1).

Filemon adalah seorang yang kaya karena dia mempunyai budak-budak. (Flm. 15-16). Di antara budak-budaknya itu adalah seorang yang bemama Onesimus yang telah rnenipu hartanya serta melarikan diri (Flm. 18).

Di samping Filemon ada dua orang lain yang disebut, yaitu Apfia dan Arkhipus (Flm.2). Menurut banyak penafsir ada kemungkinan bahwa Apfia adalah isteri Filemon, dan bahwa Arkhipus adalah anaknya.

2. Latar Belakang

Onesimus adalah budak pelarian yang telah melarikan diri dari Filemon, tuannya. Di kota Roma dia bertemu dengan Paulus yang kemudian melayani dia. Akhimya Onesimus bertobat dan melayani Paulus dalam penjara (Flm. 10-13). Tetapi budak-budak pelarian, jika tertangkap kembali, dapat saja dijatuhi hukuman mati. Namun demikian Paulus merasa bahwa Onesimus harus kembali kepada tuannya, yaitu Filemon. Dia mengirim Onesimus kembali bersama dengan Tikhikus, dan mereka membawa surat ini dengan permohonan supaya Onesimus diterima kembali, bukan hanya sebagai budak melainkan sebagai saudara dalam Kristus.

Onesimus rela mendengar nasihat Paulus untuk kembali kepada tuannya. Setelah Filemon menerima surat ini, maka ia sangat tergerak, dan setahu kita dia menerima

Onesimus kembali sebagai saudara dalam Kristus. Menurut tradisi lama Onesimus kemudian hari menjadi uskup di Efesus.

3. Sistem Perbudakan Pada Zaman Kerajaan Romawi

Di Kerajaan Romawi jumlah budak sangat banyak. Ketika kita mempelajari surat Roma, nampak jelas bahwa separuh penduduk kota Roma adalah budak-budak.. Budak-budak itu dijadikan seperti barang yang dapat diperjualbelikan (bnd. Wahyu 18:12-13). Kebanyakan mereka melaksanakan pekerjaan kasar bagi tuannya. Yang lebih pandai atau cantik ditempatkan dalam keluarga untuk melakukan pekeraan yang lebih tinggi nilainya. Kalau mereka mempunyai ketrampilan khusus, maka mereka dihargai oleh tuannya sehingga boleh melayani melalui keahliannya itu, misalnya menjadi dokler pribadi atau guru keluarga. Jika seorang budak berlaku setia dan berjasa, maka tuannya akan secara resmi membebaskan dia sehingga dia menjadi seorang yang berstatus bebas. Hal ini merupakan penghargaan besar bagi para budak. Bila dia ingin bekerja dengan tuannya, maka biasanya diijinkan bekerja, namun statusnya sebagai seorang upahan.

Para budak tidak mempunyai hak asasi. Mereka tidak bebas untuk menikah, berkeluarga dan tidak memiliki harta pribadi. jika mereka membuat kesalahan, maka tuannya boleh secara bebas menjatuhi hukuman atasnya; hukuman matipun boleh. Tidak ada orang yang bisa membela mereka.

Bagaimana sikap orang Kristen terhadap masalah perbudakan? Jelaslah bahwa orang Kristen tidak bangkit melawan sistem perbudakaan itu. Dalam surat Filemon sikap yang sama nampak. Paulus tidak mau menghapus perbudakan itu sebagai ketentuan sosial. Secara hukum Paulus masih mengaku hak Filemon atas budaknya. Yang penting bagi Paulus adalah bahwa Onesimus sudah menjadi budak Kristus. Dengan demikian Filemon sudah kehilangan haknya atas Onesimus. Onesimus sudah menjadi saudara seiman, dan Filemon tidak lagi dapat orang menganggapnya sebagai budaknya. Dalam persekutuan orang Kristen status hukum tidak dipersoalkan. Semua saudara mempunyai hak yang sama (bnd. Gal. 3:26-28). Mereka.semua terikat kepada Kristus, dan dengan demikian mereka semua dimasukkan dalam persekutuan kasih sebagai satu keiuarga.

Bahwa persekutuan Kristen ini menjadi titik tolak untuk mengubah pikiran banyak orang tentang masalah perbudakan, sehingga akhirnya sistem perbudakan juga dihapus sebagai ketentuan sosial. Ini terjadi setelah pengaruh Kristen makin besar dalam masyarakat dan pemerintah.

4. Isi Kitab: Kitab Filemon terbagi atas 1 pasal. Di dalam Kitab ini kita dapat melihat

ajaran Rasul Paulus tentang cara hidup orang Kristen dalam menghadapi orang lain yang bersalah dan mau bertobat.

5. Intisari Berita Surat Filemon

Surat yang pendek ini berisikan permohonan Paulus mengenai Onesimus, supaya Filemon menerima dia kembali dengan sikap yang baru. Beberapa hal yang penting dalam surat ini antara lain:

1) Filemon. sudah menjadi seorang Kristen dan teman sekerja Paulus (Flm. I).

budak-budaknya. Tetapi Onesimus melarikan dan ini tentu melukai hati Filemon. Oleh sebab itu kesungguhan iman Filemon diuji melalui kembalinya Onesimus. Jangan sampai Filemon bertindak sebagai manusia lama, yang menggunakan haknya untuk menghukum Onesimus.

2) Paulus memuji Onesimus karena perubahan telah terjadi di dalam hidupnya, tetapi dia tidak menutup dosanya. Dia minta supaya Onesimus kembali pada tuannya untuk membereskan segala masalahnya.

3) Jalan yang dipakai oleh Paulus untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ini adalah percaya akan pekerjaan Roh Kudus di dalam hati orang lain, yaitu Filemon dan Onesimus. Paulus sungguh percaya akan buah Roh Kudus pada diri Filemon, sehingga dia akan menerima Onesimus dengan penuh kasih. Dalam surat ini Paulus tidak memaksa Filemon dengan kewibawaan rohaninya. Dia hanya percaya bahwa Roh Kudus sudah mengubah pikiran dan sikap Filemon

Paulus percaya juga akan pekerjaan Roh Kudus di dalam diri Onesimus, sehingga

tak mungkin Onesimus akan melarikan diri sekali lagi. Sekarang Onesimus

bersedia menghormati dan mengindahkan tuannya sesuai dengan nasihat Paulus dalam Ef. 6:5-8.

4) Berdasarkan hal ini kita dapat menarik beberapa kesimpulan dan pengajaran untuk diri kita juga, antara lain:

a. Kalau timbul masalah, maka pakailah argumen-argumen rohani. Percayalah akan pekerjaan Roh Kudus di dalam orang lain. Di dalam Kristus tidak ada perbedaan.

b. Surat ini menggarisbawahi suatu kebenaran rohani yang menyangkut etika Kristen, yaitu bahwa dengan kelahiran baru seseorang tidak luput dari membereskan hubungan secara manusiawi, yaitu Onesimus harus kembali kepada Filemon. Kebenaran ini penting untuk kita. Orang yang sudah lahir baru harus membereskan masalah-masalah-manusiawi.

c. Dari surat ini kita belajar bahwa tugas kita adalah mengabarkan Injil, kepada semua orang, baik yang kaya dan berkedudukan tinggi dalam masyarakat (contohnya: Filemon), maupun kepada. yang paling rendah dan hina (contohnya: Onesimus).

d. Martin Luther menafsirkan Surat Filemon secara allegoris. Dia berkata: Apa yang Paulus perbuat untuk Onesimus di hadapan Filemon, itulah juga yang telah ,dibuat oleh Kristus untuk kita di hadapan Allah Bapa. Kita manusia sebenamya milik Allah lama seperti Onesimus milik Filemon. Kita telah berbuat dosa dan melarikan diri; maka hukuman sudah menunggu dan suara hati kita menghakimi kita. Seperti Onesimus mendapat perlindungan daripada Tuhan Yesus sahabat orang berdosa yang telah membawa kita kepada rahasia hidup baru seperti halnya dengan Onesimus. Paulus berkata: Kalau dia (Onesimus) sudah merugikan engkau ataupun berhutang padamu, tanggungkanlah itu semuanya kepadaku (Flm.18). Aku akan membayamya (Flm. 19), Demikianlah telah dibuat oleh Tuhan Yesus dengan segala hutang dosa kita (bnd. 2 Kor.5:21). Hati Onesimus diperdamaikan dengan Filemon sehingga dengan rela kembali kepada tuannya. Kita juga setelah diperdamaikan

dengan Allah, kembalilah kita kepadaNya serta menjadi milik Tuhan untuk selama-lamanya (Flm. 15).

e. Dalam surat ini masih terkandung satu prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu bahwa masalah-masalah antara orang-orang Kristen dapat diatasi dengan kebijaksanaan rohani (ay. 8-16)

6. Garis Besar

[1] Pembukaan File 1:1-7 File 1:1-3 Salam

File 1:4-7 Terima kasih, Filemon [2] Budak Yang Melarikan Diri File 1:8-22

File 1:8-14 Onesimus yang baru: berguna bagi saya File 1:15-20 Tolonglah, terimalah ia kembali

File 1:21-22 Dan bersiaplah untuk menyambut saya [3] Salam Dan Kasih Karunia File 23-25

SURAT PAULUS KEPADA JEMAAT DI TESALONIKA

Dalam dokumen Introduksi Perjanjian Baru.pdf (Halaman 72-76)

Dokumen terkait