BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
D. Persepsi Petani terhadap AUTP
5. Klaim AUTP
Klaim adalah tuntutan ganti rugi karena terjadinya bencana yang berakibat pada kerugian keuangan bagi petani dan memberi hak kepadanya untuk mengajukan tuntutan ganti rugi kepada pihak asuransi. Klaim yang diberikan dalam program AUTP ini sebesar Rp6.000.000,00/Hektar/Musim Tanam. Klaim diberikan kepada peserta AUTP apabila terjadi banjir, kekeringan dan atau serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang mengakibatkan kerusakan tanaman padi yang dipertanggungkan dengan kondisi persyaratan : i) umur padi sudah melewati 10 hari setelah tanam/HST, ii) umur padi sudah melewati 30 hari (teknologi tabela), dan iii) intensitas kerusakan mencapai ≥75% dan luas kerusakan mencapai ≥75% pada setiap luas petak alami. Pembayaran klaim dilaksanakan paling lambat 14 (empat belas) hari kalender sejak berita acara hasil
87
pemeriksaaan kerusakan. Pertanyaan mengenai klaim ini ditujukan untuk melihat apakah ketentuan klaim yang ada saat ini sudah sesuai dengan yang dinginkan dan harapan petani. Pada variabel klaim AUTP, untuk mengetahui persepsi responden terhadap program AUTP, maka terdapat empat indikator pernyataan yang diajukan dan dapat dilihat pada Tabel 23 berikut ini :
Tabel 23. Persepsi Petani terhadap AUTP Berdasarkan pada Variabel Klaim AUTP Pernyataan SS (5) S (4) RR (3) TS (2) STS (1) Total Total Skor Rata-rata Total Skor Harga pertanggungan (Klaim) yang ditetapkan sudah mampu menutupi semua kerugian usahatani 1 29 22 0 0 52 187 3,59 Mekanisme
pengajuan klaim jika terjadi gagal panen merupakan
mekanisme yang mudah
0 32 20 0 0 52 188 3,61
Jumlah ganti rugi yang diberikan sesuai dengan bencana (banjir, kekeringan, serangan OPT) yang dihadapi
0 30 22 0 0 52 186 3,57
Syarat pengajuan klaim yaitu umur padi sudah melewati 10 HST dan
intensitas kerusakan mencapai >75% dan luas kerusakan mencapai >75% pada setiap petak alami sudah sesuai dengan keinginan saya
0 26 24 2 0 52 180 3,46
Rata - rata Total Skor 185,25 3,56
Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 23 dapat diketahui bahwa persepsi petani terhadap pernyataan bahwa besaran klaim yang ditetapkan sudah mampu menutupi semua kerugian usahatani berada pada kategori baik dengan rata-rata skor sebesar 3,59. Sebanyak satu orang petani responden menyatakan sangat setuju bahwa besaran klaim tersebut sudah sangat mampu menutupi semua kerugian usahatani jika terjadi gagal panen, kemudian sebanyak 29 petani responden menyatakan setuju bahwa klaim tersebut bisa menutupi kerugian usahatani jika terjadi kegagalan panen, dan sebanyak 22 orang petani responden menyatakan ragu-ragu terhadap pernyataan yang diberikan tersebut. Berdasarkan hasil wawancara dengan petani responden yang menyatakan setuju bahwa klaim AUTP sudah mampu menutupi kerugian usahatani menyatakan bahwa klaim AUTP yang ditetapkan tersebut dapat digunakan untuk biaya benih, pengolahan lahan, dan pupuk tergantung dari jumlah klaim yang mereka terima. Semakin besar jumlah klaim yang diterima, maka akan semakin banyak juga biaya kerugian usahatani yang bisa ditutupi, sedangkan responden yang menyatakan ragu-ragu dengan pernyataan yang diberikan berpendapat bahwa mereka belum pernah menerima klaim sehingga mereka tidak mengetahui biaya kerugian apa saja yang bisa ditutupi oleh klaim AUTP yang ditetapkan tersebut, namun mereka juga berasumsi bahwa jika mereka menerima klaim sebesar Rp6.000.000,-/Ha/MT, klaim tersebut bisa mereka gunakan untuk menutupi biaya usahatani jika terjadi kegagalan panen, mulai dari biaya pengolahan lahan, pupuk, pestisida, biaya tenaga kerja, dan lain sebagainya.
Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 23 dapat diketahui bahwa persepsi petani terhadap kemudahan mekanisme pengajuan klaim berada pada kategori baik dengan rata-rata skor sebesar 3,61. Sebanyak 32 orang petani responden menyatakan setuju bahwa mekanisme pengajuan klaim jika terjadi kegagalan panen pada usahatani merupakan mekanisme yang mudah untuk dilaksanakan. Petani cukup melaporkan jika mereka mengalami kegagalan panen, memberikan bukti berupa foto kerusakan lahan, dan luas lahan yang mengalami kerusakan kepada PPL, selanjutnya PPL bersama petani yang bersangkutan meninjau dan memeriksa lahan yang mengalami gagal panen, kemudian PPL bertugas untuk menyampaikan informasi mengenai kerusakan lahan tersebut
89
kepada pihak asuransi pelaksana. Pihak asuransi pelaksana akan mengirimkan tim penilai kerusakan (loss adjuster) untuk meninjau, melakukan pemeriksaan dan perhitungan kerusakan terhadap lahan sawah petani yang mengalami kerusakan. Kemudian petani mengisi berita acara dengan melampirkan bukti kerusakan berupa foto-foto lahan yang mengalami kerusakan dan ditandatangani oleh PPL, dan petugas asuransi pelaksana, serta diketahui oleh Dinas Pertanian Kabupaten Lima Puluh Kota. Sebanyak 20 orang petani responden menyatakan ragu-ragu terhadap pernyataan bahwa mekanisme pengajuan klaim merupakan mekanisme yang mudah, hal tersebut karena petani responden tersebut belum pernah mengajukan klaim sehingga mereka tidak tahu apakah mekanisme tersebut dapat dikatakan mudah atau tidak.
Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 23 diketahui bahwa persepsi petani terhadap kesesuaian jumlah ganti rugi atau klaim dengan bencana yang dihadapi seperti kekeringan, banjir, dan serangan OPT berada pada kategori baik dengan rata-rata skor sebesar 3,57. Sebanyak 30 orang petani responden menyatakan setuju bahwa besaran klaim atau ganti rugi yang diberikan sudah sesuai dengan bencana yang mereka hadapi, sedangkan 22 orang petani responden lainnya menyatakan ragu-ragu dengan pernyataan tersebut, hal ini karena sebagian besar petani responden tersebut tidak mengalami bencana pada usahatani padi sawah mereka dalam dua tahun terakhir dan mereka juga tidak memperoleh klaim, sehingga kurang mengetahui apakah klaim yang diberikan sesuai dengan bencana yang dihadapi, namun mereka juga berpendapat jika klaim yang diberikan sebesar Rp6.000.000,-/Ha/MT sudah mampu menutupi kerugian usahatani sesuai dengan bencana yang dihadapi seperti kekeringan, banjir, dan serangan OPT.
Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 23 diketahui bahwa persepsi petani terhadap syarat pengajuan klaim AUTP berada pada kategori baik dengan rata-rata skor sebesar 3,46. Sebanyak 26 orang petani responden setuju bahwa syarat pengajuan klaim yang telah ditetapkan seperti umur padi sudah melewati 10 HST dan intensitas kerusakan mencapai >75% dan luas kerusakan mencapai >75% pada setiap petak alami sudah sesuai dengan keinginan mereka. Petani responden tersebut berpendapat bahwa ketentuan tersebut sudah disusun dengan baik dan mempertimbangkan banyak pihak. Jika ketentuan intensitas kerusakan
tersebut diturunkan dari 75%, maka pihak asuransi pelaksana akan mengalami kerugian, sehingga akan berdampak pada pelaksanaan program AUTP ke depannya. Sebanyak 24 orang petani menyatakan ragu-ragu dengan pernyataan yang diberikan, hal tersebut karena menurut petani tersebut, syarat bahwa intensitas kerusakan harus >75% kurang sesuai dengan yang mereka harapkan karena kerusakan yang sering dialami oleh petani biasanya kurang dari 75%, namun di sisi lain mereka harus menyetujui syarat tersebut karena mereka merasa bahwa syarat yang dibuat tersebut sudah dipertimbangkan sedemikian rupa oleh pemerintah agar baik pihak petani maupun pihak asuransi sama-sama tidak dirugikan. Sebanyak 2 orang petani responden menyatakan tidak setuju dengan syarat pengajuan klaim yang telah ditetapkan karena mereka merasa bahwa syarat tersebut tidak sesuai dengan keinginan mereka. Hal ini karena intensitas kerusakan yang dialami oleh petani biasanya kurang dari 75%, sehingga syarat untuk pengajuan klaim menjadi tidak terpenuhi. Syarat pengajuan klaim yang diinginkan oleh petani tersebut adalah dengan intensitas kerusakan yang bisa diajukan klaim adalah sebesar ≥50%.
Secara keseluruhan persepsi petani terhadap klaim AUTP berada pada kategori baik dengan rata-rata total skor sebesar 3,56 sehingga dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan AUTP dilihat dari variabel klaim telah terlaksana dengan baik menurut pandangan petani responden di Kecamatan Akabiluru. Pada variabel klaim, sebagian besar petani yang pernah menerima klaim akan memberikan respon yang lebih positif dan setuju atas pernyataan yang diberikan, sedangkan petani yang belum pernah menerima klaim memberikan respon ragu-ragu. Jawaban ragu-ragu yang diberikan oleh petani responden disebabkan karena petani tersebut belum pernah menerima klaim atau ganti rugi sehingga mereka tidak bisa menyatakan setuju dengan pernyataan yang diberikan, namun di sisi lain mereka merasa ketentuan yang telah ditetapkan mengenai klaim tersebut merupakan ketentuan yang sudah sesuai dan sudah mempertimbangkan kepentingan dari berbagai pihak yang terlibat dalam AUTP.
91