• Tidak ada hasil yang ditemukan

KODE SAMPEL

Dalam dokumen BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN (Halaman 46-60)

LOKASI FORMASI/SATUAN

BATUAN

UMUR

(Bolli dan Saunders)

R.124 Sungai Cirendeu Kaliwangu / Batulempung N18 tengah - N19 atas

R.125 Sungai Cirendeu Kaliwangu / Batulempung N18 bawah - N19 atas

R.126 Sungai Cirendeu Kaliwangu / Batulempung N18 bawah - N19 atas

R.117 Sungai Ciawitali Kaliwangu / Batulempung N18 tengah - N19 atas

R.82 Sungai Cijurey Kaliwangu / Batulempung N17 tengah - N19 atas

Fachreza Aiyubi Akbar 12006029 | 60 Tabel 2. Analisa Lingkungan Pengendapan berdasarkan kehadiran fossil Bentonik

KODE SAMPEL LOKASI FORMASI/SATUAN BATUAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN (Rauwenda) R.122 S.Cirendeu Kaliwangu / Batulempung Neritik Tepi - Neritik Tengah

bagian bawah, (50-100)m

R.124 S.Cirendeu Kaliwangu / Batulempung Neritik Tepi -Neritik Tengah bagian bawah, (50-100)m

R.125 S. Cirendeu Kaliwangu / Batulempung Neritik Tepi - Neritik Tengah bagian bawah(0-100)m

R.126 S. Cirendeu Kaliwangu / Batulempung Neritik Tepi - Neritik Tengah bagian bawah(0-100)m

R.117 S.Ciawitali Kaliwangu / Batulempung Neritik Tepi - Neritik Tengah bagian bawah(0-100)m

R.82 S. Cijurey Kaliwangu / Batulempung Neritik Tepi - Neritik Tengah bagian bawah(0-100)m

KESIMPULAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN

Neritik Tepi - Neritik Tengah bagian bawah(0-100)m

3.3.1.4 Kesebandingan dan Hubungan Stratigrafi

Berdasarkan posisi stratigrafi, kesamaan ciri litologi yang berupa batulempung sisipan batupasir dan konkresi karbonat serta ditemukannya fossil moluska di beberapa tempat lalu dilanjutkan dengan analisis fosil foraminifera sehingga diketahui umur pengendapan dan lingkungan pengendapannya, Satuan Batulempung ini dapat disetarakan dengan Formasi Kaliwangu yang diendapkan secara tidak selaras diatas Formasi Cidadap. Formasi Cidadap sendiri terdiri atas batulempung dan serpih pada bagian utara dan fasies vulkanik berupa breksi dan batupasir tufaan pada bagian selatan (Van Bemmelen 1949).

Fachreza Aiyubi Akbar 12006029 | 61 3.3.2.1 Penyebaran

. Satuan ini diberi warna jingga pada peta geologi menempati bagian utara dari daerah penelitian. Satuan ini menempati 14% dari keseluruhan luas daerah penelitian. Satuan ini tersingkap dengan baik pada bagian utara daerah penelitian seperti pada Sungai Ciawitali bagian utara dan di Sungai Cirelong. Kontak antara Satuan Konglomerat dengan Satuan Batulempung dibawahnya dapat diamati pada singkapan R13 yang berlokasi di Sungai Cirendeu (Gambar III.43).

3.3.2.2 Ciri Litologi

Satuan Konglomerat ini dicirikan oleh Konglomerat berwarna coklat terang - coklat gelap, memiliki matriks pasir sedang-kasar tidak karbonatan, semen tidak karbonatan, pemilahan sedang-buruk, kemas terbuka, fragmen litik polimik umumnya andesit membundar berukuran kerakal atau lebih besar (Gambar III.42 dan Gambar III.44). Hadir pula batupasir sedang- sangat kasar, semen tidak karbonatan, berwarna coklat- coklat gelap, porositas sangat baik, pemilahan sedang, kemas terbuka. Umumnya batupasir agak lapuk dan materialnya mulai lepas-lepas, terdapat fragmen berukuran lebih dari 1cm. Batupasir pada satuan ini berbeda ciri litologi dengan batupasir yang ditemukan menjadi sisipan pada Satuan Batulempung. Pada singkapan konglomerat di lokasi R1310 terlihat pula adanya struktur geologi yang berupa lapisan bersusun (Gambar III.45).

Fachreza Aiyubi Akbar 12006029 | 62 Gambar III.42 Singkapan Konglomerat pada lokasi R1310. Tersingkap di timur Sungai

Ciawitali bagian utara.

Gambar III.43 Singkapan pada lokasi R13 yang menunjukan kontak antara Satuan Konglomerat dan Satuan Batulempung

Fachreza Aiyubi Akbar 12006029 | 63 Gambar III.44 Singkapan konglomerat R11 pada Satuan Konglomerat terdapat pada sungai

Cirelong

Gambar III.45 Struktur Lapisan bersusun yang tedapat pada singkapan konglomerat di lokasi R1310

Analisis Petrografi dilakukan pada sampel dari Satuan Konglomerat yaitu sampel R139 untuk matriks dan R1310 untuk butiran. Batupasir pada satuan ini merupakan Batupasir Lithic Graywacke (Dott. 1964) sedangkan butirannya diketahui berupa batuan beku andesit (Lampiran B-2 dan Lampiran B-3).

Fachreza Aiyubi Akbar 12006029 | 64 3.3.2.3 Umur dan Lingkungan Pengendapan

Umur Satuan ini ialah Pleistosen Awal mengacu pada Van Bemmelen, 1949. Umur Pleistosen awal diketahui karena pada formasi ini mengandung fossil verebrata Fauna Djetis berupa Meganthropus paleojavanicus, Pithecanthropus

dubius dan Pithecanthropus mojokertensis yang diyakini berumur Pleistosen Awal. Lingkungan pengendapan satuan ini diperkirakan merupakan lingkungan pengendapan Fluviatil, hal ini didukung oleh sifat tidak karbonatan yang ditunjukan pada semua singkapan dan juga tidak ditemukannya mikrofosil pada Satuan Batupasir Konglomerat ini. Jika dilihat dari ukuran butir batupasir dan juga struktur Lapisan bersusun yang hadir pada satuan ini dapat diperkirakan bahwa satuan ini diendapkan pada Sungai Teranyam atau Braided Stream.

3.3.2.4 Kesebandingan dan Hubungan Stratigrafi

Satuan Konglomerat diendapkan tidak selaras diatas Satuan Batulempung dan berdasarkan ciri litologi, dan posisi stratigrafi satuan ini dapat disetarakan dengan Formasi Tambakan yang berumur pleistosen Awal (Van Bemmelen, 1949).

3.3.3 Satuan Breksi 3.3.3.1 Penyebaran

Satuan breksi ditandai oleh warna coklat terdapat di bagian baratdaya, menempati 4% luas daerah penelitian. Satuan batuan ini tidak tersingkap dengan baik pada daerah penelitian, satuan ini tersingkap di dengan baik di perbukitan sebelah selatan diluar daerah penelitian namun masih perbukitan yang sama dengan perbukitan disebelah baratdaya daerah penelitian. Pada daerah penelitian hanya tersingkap singkapan yang sudah sangat lapuk di perbukitan sebelah baratdaya daerah penelitian.

Fachreza Aiyubi Akbar 12006029 | 65 Gambar III.46 Singkapan Breksi yang tersingkap di Sungai Desa Cicariuk di luar

daerah penelitian sebelah selatan.

Satuan ini terdiri atas breksi berwarna gelap kehitaman, semen tidak karbonatan, fragmen monomik, bentuk fragmen menyudut – menyudut tanggung, porositas buruk, pemilahan buruk (Gambar III.46).

3.3.3.3 Umur dan Lingkungan Pengendapan

Satuan Breksi ini berumur Pleistosen Tengah dan diendapkan dilingkungan pengendapan darat (Van Bemmelen, 1949)

3.3.3.4 Kesebandingan dan Hubungan Stratigrafi

Penyebaran satuan Breksi inimenurut Van Bemmelen tahun 1949 terendapkan selaras diatas Formasi Tambakan atau Satuan Konglomerat ini. Mengacu pada stratigrafi Zona Bogor Van Bemmelen tahun 1949, satuan ini disetarakan dengan Hasil Gunung Api Kuarter Tua

Fachreza Aiyubi Akbar 12006029 | 66 3.3.4 Satuan Tufa

3.3.4.1 Penyebaran

Satuan ini tersingkap pada perbukitan di Tenggara daerah penelitian. Singkapan segar dapat ditemukan di sekitar Desa Surian menuju ke Sungai Cijurey Pada Peta Geologi satuan ini ditandai dengan warna Merah Muda dan menempati setidaknya 6% dari seluruh luas daerah penelitian. Singkapan Tufa ini seluruhnya tersingkap di sekitar Desa Surian (Gambar III.47).

3.3.4.2 Ciri litologi

Satuan ini tediri atas Tufa yang berwarna abu-abu kekuningan, lapuk – agak lapuk, matriks dan semen tidak karbonatan, frgamen tidak terdefinisi berukuran pasir halus – sedang, menyudut – menyudut tanggung, pemilahan buruk, kemas terbuka, getas–rapuh dan ringan. Hasil analisa petrografi yang dilakukan pada sampel Rx1 diketahui bahwa tufa pada satuan ini merupakan tufa gelas (Schmid, 1981) dapat dilihat pada Lampiran B-4.

Fachreza Aiyubi Akbar 12006029 | 67 Umur Satuan tufa mengacu pada Van Bemmelen 1949, ialah Pliosen Akhir dan diendapkan pada lingkungan pengendapan darat.

3.3.4.4 Kesebandingan dan Hubungan Stratigrafi

Jika Mengacu pada Van Bemmelen, 1949 satuan ini setara dengan Endapan Gunung Api Kuarter muda yang berumur Pliosen Akhir terendapkan secara tidak selaras diatas Endapan Gunung Api Kuarter Tua yang setara dengan Satuan Breksi. Kemudian ciri litologi dan letak penyebaran Satuan Tufa ini juga cocok dengan dengan Endapan Hasil Gunung Api Muda Tak Teruraikan menurut P.H Silitonga, 1973 pada Peta Geologi lembar Bandung.

3.3.5 Satuan Endapan Aluvial 3.3.5.1 Penyebaran

Satuan Endapan Aluvial merupakan Satuan yang termuda pada lapangan penelitian. Satuan ini berwarna abu-abu pada Peta Geologi. Satuan Endapan Aluvial yang terendapakan secara tidak selaras diatas satuan sebelumnya, tersebar pada Pada kelok-kelok dan badan Sungai besar yang terdapat pada daerah penelitian. Sungai-sungai tersebut ialah Sungai Cipunegara dan Sungai Ciawitali. Satuan ini menempati setidaknya 3% dari seluruh daerah penelitian.

3.3.5.2 Ciri Litologi

Satuan ini terdiri dari batuan lepas berukuran pasir halus – berangkal berupa fragmen batupasir, batulempung, konglomerat, dan juga breksi (Gambar III.48)

Fachreza Aiyubi Akbar 12006029 | 68 Gambar III.48 Satuan Aluvial (lokasi Sungai Ciawitali)

3.3.5.3 Umur dan Lingkungan Pengendapan

Satuan Endapan Aluvial ini berumur holocen. Pengendapan satuan ini masih berlangsung hingga sekarang.

Fachreza Aiyubi Akbar 12006029 | 69 Posisi dan hubungan stratigrafi dari kelima Satuan batuan diatas dapat dilihat pada kolom stratigrafi tidak resmi (gambar III.50). Kolom stratigrafi yang dibuat tidak menggunakan skala yang tepat, namun tetap mengilustasikan ketebalan setiap satuan batuan. Satuan Batulempung diperkirakan merupakan satuan yang paling tebal diantara satuan lainnya. Pada Satuan Batulempung juga terlihat bahwa sisipan batupasir besifat menipis keatas (thinning upward). Nama formasi dan Umur Satuan Konglomerat, Satuan Breksi dan Satuan Tufaa mengacu pada Van Bemmelen, 1949).

Fachreza Aiyubi Akbar 12006029 | 70 Gambar III.50 Kolom Stratigrafi tidak resmi daerah penelitian tidak menggunakan skala

Fachreza Aiyubi Akbar 12006029 | 71 Analisis struktur pada darah penelitian dilakukan dengan dua pendekatan. Pendekatan tersebut ialah pendekatan secara langsung yang merupakan pengukuran data-data primer dan sekunder struktur dilapangan dan pendekatan tidak langsung yang dilakukan dengan menginterpretasi gejala struktur melalui peta topografi dan SRTM. Dengan melakukan pendekatan langsung, struktur yang dapat terlihat dan terukur diantaranya ialah Jurus dan kemiringan batuan, kekar gerus, kekar tarik, bidang sesar dan sayap-sayap lipatan. Sedangkan, setelah melakukan pendekatan tidak langsung dapat menentukan kelurusan-kelurusan yang terdapat pada lapangan.

Berdasarkan pengamatan di lapangan dapat diketahui dan disimpulkan bahwa jurus umum lapisan batuan ialah baratlaut-tenggara dengan arah kemiringan umumnya kearah selatan pada bagian selatan dan umumnya kearah utara pada bagian utara (gambar III.51). Berdasarkan data kedudukan lapisan batuan ini maka dapat ditarik garis sumbu antiklin dan sinklin besar yang membagi penelitian menjadi utara dan selatan. Sumbu Antiklin ini membentang dari barat Hingga timur. Hanya saja Sumbu antiklin dan sinklin ini tergeser oleh sepasang sesar mendatar yang memanjang pada aderah penelitian dari utara hingga selatan pada bagian barat dan timur daerah penelitian. Pada daerah penelitian juga ditemukan beberapa antiklin kecil tidak terpetakan yang merupakan hasil dari pergerakan sepasang sesar mendatar. Antiklin ini dapat diamati di sekitar sungai cilame dan sungai cijurey. Ketiga penampang baik A-B, C-D maupun E-F (Lampiran D-1) memperlihatkan dengan baik struktur geologi yang berupa antiklin dan sinklin dan sesar mendatar yang berkembang di daerah penelitian.

Fachreza Aiyubi Akbar 12006029 | 72 Gambar III.51 Diagram Roset jurus singkapan yang terukur

Di daerah penelitian terdapat 2 sesar mendatar yang membentang dari utara hingga selatan daerah penelitian. Sesar pertama ialah sesar Cijurey yang berarah utara-selatan di sebelah timur daerah penelitian. Sesar ini merupakan sesar Strike slip dengan arag pergerakan mengiri. Berdasarkan hasil analisis sesar pada Stereonet menggunakan data kekar gerus dan arah jurus bidang sesar dapat disimpulkan tegasan utama sesar ini (σ1) ialah berarah utara-selatan (Gambar III.52 dan Lampiran C). Pada daerah penelitian ditemukan adanya gejala sesar yang berupa Kekar gerus dan kekar tarik serta terlihat adanya pergeseran lapisan pada singkapan di lokasi R92 (Gambar III.35). Sesar medatar kedua terdapat pada bagian barat daerah penelitian. Sesar ini disebut Sesar Ciawitali. Sesar ini ditarik diatas peta geologi berdasarkan arah kedudukan lapisan batuan yang tidak menentu di sekitar Sungai Ciawitali dan adanya pergeseran sumbur sinklin dan antiklin yang terdapat di daerah penelitian. Arah Sesar Ciawitali ialah barat laut-tenggara atau hampir tegak lurus dengan dengan arah kedudukan lapisan yang ada di sekitar sungai cilame, sehingga kehadiran beberapa singkapan dengan kedudukan jurus lapisan yang berbeda dari ssingkapan lain yang hampir sejajar dengan atau mengikuti Sesar Ciawitali ini bisa dijadikan kontrol untuk mengamati

Fachreza Aiyubi Akbar 12006029 | 73 dilapangan seperti milonit, cermin sesar ataupun breksiasi dilapangan. Umur pasti kedua sesar mendatar ini tidak diketahui, namun berdasarkan hukum potong memotong lapisan dapat disimpulkan kedua sesar mendatar yang memotong atau mensesarkan lipatan pada daerah penelitian lebih muda dibandingkan umur lipatan.

Gambar III.52 Analisa Sesar Cijurey yang berkembang pada bagian barat daerah penelitian menggunakan Stereonet

Setidaknya ada dua kejadian tektonik yang berbeda yang terjadi pada daerah penelitian. Kejadian tektonik pertama membentuk sumbu antiklin dan sinklin yang membagi daerah penelitian menjadi utara dan selatan. Kemudian terjadi kejadian tektonik kedua yang lebih muda dimana terbentuk sepasang sesar mendatar yang zonanya memanjang dari utara hingga selatan daerah penelitian dan antiklin-antiklin kecil yang berkembang disekitar zona sesar tersebut.

Dalam dokumen BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN (Halaman 46-60)

Dokumen terkait