HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3. Koefisien Determinasi (R 2 )
Koefisien determinasi adalah koefisien nilai yang menunjukkan besarnya variasi variabel terikat (dependent variabel) yang dapat dijejelaskan oleh variasi variabel bebas (independent variabel). Pengukuran besarnya kebenaran dari uji regresi tersebut dapat dilihat melalui nilai koefisien determinasi multiple R Square. Apabila nilai R square mendekati satu, maka variabel inedependen dalam penelitian mampu menjelaskan variabel dependen dengan baik. Dan apabila nilai R square mendekati nol menandakan bahwa variabel independen dalam penelitian hanya mampu menjelaskan variabel dependen secara terbatas.
Berdasarkan Tabel 4.5, diketahui nilai adjusted r-squared dalam penelitian ini hanya 0,357097. Artinya variabel nilai perusahaan dapat dijelaskan secara serempak oleh variabel struktur modal, kebijakan dividen, profitabilitas, growth, dan size hanya sebesar 35,71% sisanya sebesar 64,29% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini.
4.3 Pembahasan
4.3.1 Pengaruh Struktur Modal (DER) terhadap Nilai Perusahaan
Trade-off theory yang dikemukakan Myers (2001) menjelaskan bahwa jika posisi struktur modal berada di bawah titik optimal maka setiap penambahan hutang akan meningkatkan nilai perusahaan. Sebaliknya, jika posisi struktur modal berada di atas titik optimal maka setiap penambahan hutang akan menurunkan nilai perusahaan. Oleh karena itu, dengan asumsi titik target struktur
adanya hubungan yang positif terhadap nilai perusahaan. Penelitian oleh Prastuti
& Sudiartha (2016) menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan struktur modal terhadap nilai perusahaan. Namun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur modal berpengaruh negative dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan.
Hasil penelitian ini sesuai dengan Pecking Order Theory yang dikemukakan Myers (1984), yang menyatakan bahwa perusahaan dengan tingkat profitabilitasnya tinggi justru tingkat hutangnya rendah, dikarenakan perusahaan yang profitabilitasnya tinggi memiliki sumber dana internal yang berlimpah.
Pecking order theory tidak mengindikasikan target struktur modal yang optimal, pecking order theory menjelaskan urutan – urutan pendanaan. Manajer keuangan tidak memperhitungkan tingkat struktur modal yang optimal, disebabkan kebutuhan dana ditentukan oleh kebutuhan investasi. Pecking order theory juga menyatakan bahwa manajer lebih senang menggunakan pembiayaan yang pertama yaitu laba ditahan kemudian utang.
Menurut pecking order theory menyatakan bahwa manajer lebih senang menggunakan pembiayaan yang pertama yaitu laba ditahan kemudian utang.
Dengan kata lain perusahaan akan cenderung menggunakan sumber pendanaan internal sebanyak mungkin sebelum menggunakan hutang. Sumber pendanaan internal tersebut berasal dari laba ditahan yang dihasilkan dari kegiatan operasional perusahaan (Syahyunan, 2015). Sehingga kebijakan untuk meningkatkan struktur modal memiliki pengaruh negatif terhadap harga saham dan secara jangka panjang akan menurunkan nilai perusahaan. Temuan ini juga
sesuai dengan Teori struktur modal modern yang pertama yaitu teori Modigliani dan Miller (teori MM). Mereka berpendapat bahwa struktur modal tidak relevan atau tidak mempengaruhi nilai perusahaan.
Struktur Modal (DER) memiliki nilai probabilitas sebesar 0,1455 > 0,05.
Hal ini menunjukkan bahwa struktur modal (DER) berpengaruh tidak signifikan terhadap nilai perusahaan (PBV). Temuan ini juga selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rasyid (2015) yang menyatakan bahwa struktur modal berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan.
4.3.2 Pengaruh Kebijakan Dividen (DPR) terhadap Nilai Perusahaan Dalam penelitian ini ditemukan hasil Dividend Payout Ratio berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Temuan dengan tanda positif mengindikasikan bahwa perusahaan memiliki kemampuan untuk mendistribusikan laba yang dibagikannya kepada pemegang saham perusahaan secara lebih konsisten. Sehingga hal tersebut akan menunjukkan keberhasilan manajemen dalam menjalankan perusahaan sekaligus menunjukkan stabilnya cash flow perusahaan. Hasil ini sesuai dengan Bird in the hand theory yang dikemukakan oleh Myron Gordon dan John Lintner dalam (Brigham & Houston, 2007). Teori ini menyatakan bahwa investor lebih tertarik terhadap perusahaan yang membagikan dividen. Pembagian dividen yang dilakukan perusahaan dianggap menjadi sinyal positif oleh para investor untuk menanamkan modal, karena investor lebih suka pada return yang pasti pada investasinya. Perusahaan yang membagikan dividen akan menarik minat investor untuk menanamkan
modalnya. Dengan banyaknya investor yang membeli saham maka akan menaikkan harga saham sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan.
Kebijakan Dividen (DPR) memiliki nilai probabilitas sebesar 0,0629 >
0,05. Hal ini menunjukkan bahwa struktur modal (DPR) berpengaruh tidak signifikan terhadap nilai perusahaan (PBV). Akan tetapi apabila dilakukan pelonggaran terhadap tingkat signifikansi menjadi 10%, maka growth berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan (PBV) pada tingkat signifikansi 10%. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mahpudin &
Suparno (2016) yang menemukan hasil bahwa kebijakan dividen berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan.
4.3.3 Pengaruh Profitabilitas (ROE) terhadap Nilai Perusahaan
Dalam penelitian ini ditemukan hasil profitabilitas (ROE) berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Menurut (Murhadi, 2015), profitabilitas juga merupakan suatu indikator kinerja seorang manajemen dalam mengelola kekayaan suatu perusahan berupa laba yang dihasilkan. Hasil temuan dengan tanda positif antara profitabilitas dan nilai perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan sektor industri dasar dan kimia dalam menghasilkan laba yang tersedia bagi pemegang saham. Perusahan yang profitable sangat diminati investor, karena pada dasarnya tujuan investor ialah untuk memperoleh keuntungan dimasa yang akan datang melalui investasi yang dilakukannya saat ini. Oleh karenanya kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba akan menjadi sinyal yang positif bagi investor untuk berinvestasi di perusahaan sektor
perusahaan. Apabila harga saham naik, maka nilai perusahaan juga akan mengalami peningkatan.
Profitabilitas (ROE) memiliki nilai probabilitas sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa profitabilitas (ROE) berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan (PBV). Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sianipar (2017), Pratiwi dan Amanah (2017), Hariyawan dan Andayani (2017), Mahpudin dan Suparno (2016), Sabrin, Buyung, Deddy, dan Sujono (2016), Rasyid (2015) yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
4.3.4 Pengaruh Growth terhadap Nilai Perusahaan
Perusahaan dengan pertumbuhan aset yang baik adalah perusahaan yang mampu untuk mengelola sumberdaya untuk mengahasilkan keuntungan sehingga dapat menambah aset yang telah dimiliki. Perusahaan yang setiap tahunnya memiliki perkembangan yang baik menandakan kualitas kinerja keuangan perusahaan dalam kondisi yang sehat. Hal ini akan mempengaruhi keputusan investor dalam berinvestasi dan hal tersebut berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi dan Amanah (2007) menunjukkan bahwa growth berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Namun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa growth berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Temuan dengan tanda negatif dari growth menunjukkan bahwa pertumbuhan perusahaan tidak menjamin meningkatnya nilai perusahaan. Hal ini juga dikarenakan growth
yang dihasilkan akan berkurang. Selanjutnya, perusahaan yang memilki kesempatan pertumbuhan tinggi membutuhkan dana yang tinggi juga untuk mengembangkan operasional perusahaan dengan investasi–investasi aset tetap.
Pertumbuhan ini akan menjadi pusat pemikiran manajemen, karena dengan pertumbuhan yang tinggi akan mempermudah manajemen mencapai targetnya.
Manajemen akan lebih memfokuskan pada pertumbuhan perusahaan dibandingkan kesejahteraan pemegang saham. Karena laba yang di peroleh perusahaan akan digunakan untuk pembiayaan pertumbuhan perusahaan dari pada untuk dibagikan ke pemegang saham seperti dalam bentuk dividen, sehingga hal ini akan mempengaruhi persepsi investor untuk berinvestasi, yang sejatinya memiliki keinginan untuk memperoleh return di masa depan.
Growth memiliki nilai probabilitas sebesar 0,4181 > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa growth berpengaruh tidak signifikan terhadap nilai perusahaan (PBV). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rasyid (2015) yang menyatakan bahwa growth berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
4.3.5 Pengaruh Size Terhadap Nilai Perusahaan
Dalam penelitian ini ditemukan hasil ukuran perusahaan berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Temuan dengan tanda positif mengindikasikan bahwa ukuran perusahaan yang besar memiliki akses yang luas untuk membiayai kegiatan operasionalnya. Saham perusahaan dengan ukuran besar tersebar sangat luas. Menurut Sartono (2010), perusahaan besar yang sudah
dengan perusahaan kecil. Karena kemudahan akses tersebut berarti perusahaan besar memiliki fleksibilitas yang lebih besar”. Investor akan mempertimbangkan ukuran perusahaan dalam menanamkan modal, karena perusahaan yang besar dianggap telah berkembang dan memiliki kinerja yang baik. Respon yang positif dari pasar mampu menaikkan harga saham perusahaan. Jika harga saham perusahaan naik maka secara otomatis akan mempengaruhi nilai perusahaan.
Size memiliki nilai probabilitas sebesar 0,1209 > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa size berpengaruh tidak signifikan terhadap nilai perusahaan (PBV). Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Dewi dan Wirajaya (2013) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan.
BAB V