• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.14 Koefisien Performansi Termoelektrik

Kulkas portabel banyak digunakan karena sederhana dalam desain, mudah untuk dibuat, mudah perawatannya dan membutuhkan material yang murah untuk konstruksinya. Masalah utama dengan sistem ini adalah koefisien kinerja yang rendah. Beberapa peneliti telah menggunakan material sebagai alat pendingin.

Banyak peneliti telah menggunakan dalam dua cara baik pemanasan maupun pendinginan. Memiliki untuk meningkatkan krisis energi, lebih banyak pekerjaan penelitian dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan manusia. Untuk menyeimbangkan energi dan kenyamanan manusia, pekerjaan sekarang dilakukan.

Desain dan fabrikasi sistem lemari es portabel telah selesai. Dalam pekerjaan ini telah dilakukan upaya untuk meningkatkan kenyamanan manusia dengan memiliki lemari es portabel untuk menyimpan obat, botol, coklat dll dan sekaligus sebagai tambahan kita dapat memiliki pendingin udara tangan jika kipas terpasang dan beberapa alat peltier digunakan.

Berdasarkan prinsip kerja dari komponen Termoelektrik, maka dapat dianalisa nilai koefisien performansi termoelektrik diberikan oleh efek peltier dan seebeck termoelektrik saat diberikan tegangan dan menghasilkan perbedaan suhu.

Maka, analisa teori yang diberikan ialah sebagai berikut:

1. Jumlah panas yang di ekstrak dari ruang pengujian keluar yaitu, panas yang diserap oleh sisi dingin perangkat termoelektrik, diberikan oleh:

QL = [π‘†πΌπ‘‡πΆβˆ’12𝐼2𝑅 βˆ’ 𝐾(π‘‡β„Ž βˆ’ 𝑇𝑐)] (-) tanda untuk penolakan panas.

2. Jumlah panas yang di ekstrak dari sisi panas ke pendingin yaitu, panas yang diserap oleh pendingin keluar diberikan oleh:

QH = [𝑆𝐼𝑇𝐻+12𝐼2𝑅 βˆ’ 𝐾(π‘‡β„Ž βˆ’ 𝑇𝑐)]

3. Koefisien Seebeck (S) dan hambatan listrik (R) dalam satuan Ohm bergantung pada bahan yang digunakan dalam TEC, tetapi juga pada geometri perangkat, yang diberikan oleh jumlah dan dimensi elemen semikonduktor tipe P dan tipe N sendiri. K = Konduktivitas Termal

QL, QH = Kalor diserap dan Kalor dibuang masing-masing

4. Spesifikasi modul TEC: Kedua model ini terdiri dari semikonduktor bismuth telluride. Properti dari modul-modul ini seperti yang disebutkan dibawah ini.

Koefisien Seebeck (S) = 0,01229 V/K (Volt/Kelvin) Konduktivitas Termal (K) = 0,1815 W/K

Hambatan Listrik (R) = 4Ξ©

5. Total energi yang disuplai ke modul peltier akan dihitung dengan mengetahui tegangan dan arus yang mengalir ke rangkaian sistem yaitu TEC sebagai komponen semikonduktor pandingin sistem.

W = QH – QL Dimana W = Total Energi yang disuplai

6. Oleh karena itu, parameter non-dimensi yang disebut koefisien performansi digunakan untuk mengukur kinerja sistem pendingin. COP adalah rasio daya keluaran termal dan daya masukan listrik TEC. COP dapat dihitung dengan membagi jumlah panas yang diserap disisi deingin dengan daya input.

COP = QL/Total Energi (W)

(N. Lavanya, R.E Ravalika and V Dharani, 2018)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Pada proses penelitian, pembuatan alat dan pengujian alat dilakukan di Laboratorium Elektronika Dasar, proses penelitian, dari pembuatan alat, pengujian alat dan pengolahan data.

3.2 Diagram Blok

Gambar 3.1 Diagram Blok Panel Surya

MPPT

Charge Controller

Baterai TEC1 12706

Ruang Pengujian Pembuangan

Panas

Mikrokontroler

Keypad

Sensor Suhu

SD Card

3.2.1 Penjelasan Fungsi Tiap Blok dari Diagram Blok

1. Panel Surya : Sebagai penghasil daya DC yang belum teregulasi yang dihasilkan dari cahaya matahari.

2. MPPT : Sebagai rangkaian yang mengubah arus DC yang belum teregulasi menjadi arus DC yang stabil.

3. Charge Controller : Sebagai pengontrol tegangan dan arus dari MPPT yang akan disalurkan ke baterai.

4. Baterai : Sebagai tempat penyimpanan daya.

5. TEC 12706 : Sebagai penimbul suhu saat dialiri arus listrik dari Baterai.

6. Sensor Suhu : Sebagai sensor untuk mengukur suhu.

7. Mikrokontroler : Sebagai pemrogram untuk mengeksekusi perintah disetiap rangkaian.

8. Keypad : Sebagai kendali input awal suhu.

9. Modul SD Card : Sebagai penyimpan data hasil pembacaan sensor suhu.

3.3 Rangkaian DC ke DC Konverter

Secara umum, konverter DC-DC berfungsi untuk mengkonversikan daya listrik searah (DC) ke bentuk daya listrik DC lainnya yang terkontrol arus, atau tegangan, atau dua-duanya.

Gambar 3.2 Rangkaian DC to DC Konverter

Boost Konverter, seperti namanya, konverter step-up atau boost mengubah tegangan input yang lebih rendahmenjadi tegangan output yang lebih tinggi stabil.

Diagram sirkuit yang disederhanakan dan arus utama dan bentuk gelombang tegangan. Dengan S1 tertutup, arus mengalir melalui induktor L1 yang meningkat secara linear pada rasioVIN / L1.Selama periode ini, arus beban disuplai dari energi yang tersimpan di C1. Kapan saklar dibuka lagi, energi yang tersimpan di induktor menyebabkan tegangan output tinggi ditumpangkan ke tegangan input.

Arus yang dihasilkan mengalir melalui freewheeling diode D1 untuk memasok beban dan juga mengisi ulang C1. Arus melalui induktor jatuh linear dan proporsional ke (VOUT - VIN) / L1.

3.4 Rangkaian LCD

Pengoperasian LCD dengan Arduino. Setelah sensor pir sudah mendeteksi gelombang infrared, variabel resistor akan mengirimkan data ke Arduino melalui pin-pin kemudian Arduino menerima data yang terbaca dan ditampilkan oleh LCD. Berikut adalah skematik rangkaian LCD.

Gambar 3.3 Rangkaian LCD

3.5 Rangkaian Sensor Suhu DS18B20

Sensor suhu DS18B20 adalah sensor suhu yang memiliki keluaran digital.

DS18B20 memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi, yaitu 0,5Β°C pada rentang suhu -10Β°C sampai +85Β°C. Sensor suhu pada umumnya membutuhkan ADC dan beberapa pin port pada mikrokontroler, namun DS18B20 ini tidak membutuhkan ADC agar dapat berkomunikasi dengan mikrokontroler dan hanya membutuhkan 1 wire saja.

Gambar 3.4 Rangkaian Sensor Suhu DS18B20

3.6 Rangkaian Keypad

Keypad berarti Sebuah keyboard miniatur atau set tombol untuk operasi perangkat elektronik, telepon, atau peralatan lainnya. Keypad merupakan sebuah rangkaian tombol yang tersusun atau dapat disebut "pad" yang biasanya terdiri dari huruf alfabet (Aβ€”Z) untuk mengetikkan kalimat, juga terdapat angka serta simbol-simbol khusus lainnya. Berikut skematik rangkaian Keypad yang digunakan dalam penelitian.

Gambar 3.5 Rangkaian Keypad Sebagai Input

3.7 Rangkaian Keseluruhan Penelitian

Gambar 3.6 Rangkaian Keseluruhan Sistem

3.8 Diagram Alir (FlowChart)

No

Yes

Gambar 3.7 Diagram Alir (FlowChart)

Start

Inisialisasi pin sensor, keypad, relay I2C dan LCD

Penentu set point dengan keypad

Arduino Nano

Deteksi suhu ruangan dan set point

Tampilkan srt time dan suhu pada LCD 16x2 dan simpan di

SD Card

Set point <=

suhu Pompa dan TEC OFF

Pompa dan TEC ON

Selesai

BAB 4

PENGUJIAN DAN ANALISA

4.1 Pengujian Sensor Tegangan

Pada pengujian sensor tegangan menggunakan rangkaian pembagi tegangan sedangkan pengujian sensor arus menggunakan ACS712. Pengujian sensor tegangan dilakukan untuk menguji pembacaan sensor tegangan yang digunakan dan dibandingkan dengan pembacaan multimeter. Percobaan menggunakan tegangan masukan dari baterai yang diubah.

Tabel 4.1 Data Hasil Pengujian Sensor Tegangan Pengujian

Gambar 4.1 Grafik Linearitas Kalibrasi Sensor Tegangan

0

Nilai yang terbaca pada sensor tegangan (V)

Nilai Pengaturan Pada Voltmeter (V)

Grafik Linearitas Kalibrasi Sensor

Tegangan

4.2 Pengujian Sensor Arus

Pengujian sensor arus dilakukan untuk melihat performansi arus ACS712 dan memastikan keakurasiannya dengan pembaca arus menggunakan multimeter.

Pengujian dilakukan menggunakan tegangan masukan dari baterai yang diubah-ubah tegangannya dan dipasangkan beban.

Tabel 4.2 Data Hasil Pengujian Sensor Arus

Beban (Ξ©J) Multimeter (A) Sensor Arus (A) βˆ†Error %Error

Gambar 4.2 Grafik Kalibrasi Sensor Arus

0

Kalibrasi Sensor Arus ACS712 5A

Sensor Arus (A)

4.3 Pengujian Sensor Suhu DS18B20

Pengujian ini dilakukan dengan metode menggunakan alat kalibrasi analog termometer dimana tujuan percobaan ini dilakukan untuk mengetahui keakurasian sensor suhu DS18B20 dalam membaca suhu dengan konfigurasi pin. Berikut program yang digunakan.

*/

// the setup routine runs once when you press reset:

void setup() {/*

ReadAnalogVoltage

Reads an analog input on pin 0, converts it to voltage, and prints the result to the Serial Monitor.

Graphical representation is available using Serial Plotter (Tools > Serial Plotter menu).

Attach the center pin of a potentiometer to pin A0, and the outside pins to +5V and ground.

This example code is in the public domain.

// initialize serial communication at 9600 bits per second:

Serial.begin(9600);

}

// the loop routine runs over and over again forever:

void loop() {

// read the input on analog pin 0:

int sensorValue = analogRead(A0);

// Convert the analog reading (which goes from 0 - 1023) to a voltage (0 - 5V):

float voltage = sensorValue * (5.0 / 1023.0);

// print out the value you read:

Serial.println(voltage);

}

Tabel 4.3 Data Pengujian Sensor Suhu DS18B20 No Pin Arduino Uno DS18B20

1 VCC VCC

2 GND Gnd

3 A1 Out Data

No DS18B20 Kalibrasi

1 30,02 30

2 44,09 45

3 50,05 50

4 67,04 67

4.4 Pengujian Keypad

Pengujian ini dilakukan untuk menetapkan suhu awal sebagai setpoint pada rangkaian keypad. Nilai setpoint merupakan suhu sistem pendingin pada umumnya (25℃ βˆ’ 20℃), sehingga mikrokontroler dapat mengeksekusi perintah yang diberikan pada rangkaian. Berikut program yang digunakan.

*/

#include <Keypad.h>

const byte ROWS = 4; //four rows const byte COLS = 3; //three columns char keys[ROWS][COLS] = {

byte rowPins[ROWS] = {9,8,7,6}; //connect to the row pinouts of the keypad byte colPins[COLS] = {5,4,3}; //connect to the column pinouts of the keypad

Keypad keypad = Keypad( makeKeymap(keys), rowPins, colPins, ROWS, COLS );

void setup(){

Serial.begin(9600);

}

void loop(){

char key = keypad.getKey();

if (key){

Serial.println(key);

} }

Berikut adalah tampilan outpout dari hasil penelitian.

Gambar 4.3 Pengujian Keypad

4.5 Pengujian Kurva Karakteristik Panel Surya

Pada penelitian ini, digunakan Panel surya dengan spasifikasi berdasarkan Data Sheet sebagai berikut ini:

Pmax : 85W

Dimensi : 0.125Γ—0.125Γ—36=0.5625 m

Jumlah sel seri dan pararel : 9Γ—4

Luas 1 sel : 12.5Γ—12.5 cm2

Pengujian Karakteristik panel surya dilakukan untuk melihat nilai keluaran tegangan dan arus yang dihasilkan oleh panel surya. Panel surya yang digunakan berdasarkan dengan spasifikasi seperti yang diatas. Berikut hasil pengujian yang dilakukan dengan menggunakan beban yang berbeda dan intensitas yang berbeda.

Tabel 4.4 Pengujian Karakteristik Panel Surya

Intensitas 200 W/m2 Intensitas 400 W/m2

Mulai dari Pukul 15:19 WIB Mulai dari Pukul 12:10 WIB

R V I P

Intensitas 600 W/m2 Intensitas 800 W/m2

Mulai dari Pukul 09:38 WIB Mulai dari Pukul 11:35 WIB

Intensitas 1000 W/m2

Mulai dari Pukul 12:49 WIB

R V I P

-10

Karakteristik P - V Panel Surya

200

Karakteristik I - V Panel Surya

200w/

Berikut penyajian data dalam bentuk grafik dari hasil pengukuran I vs V dan P vs V dari panel surya.

Gambar 4.4 Kurva karakterisik Arus vs Tegangan

Gambar 4.5 Kurva karakterisik Daya vs Tegangan

Pada gambar 4.4 dan gambar 4.5 diatas, adalah kurva karakteristik dari hasil pengujian panel surya dengan menggunakan beban yang berbeda, yaitu : 0.33 Ω, 0.39 Ω, 1 Ω, 1.8 Ω, 3.3 Ω, 3.9 Ω, 4.7 Ω, 6.8 Ω, 10 Ω, 12 Ω, 18 Ω, 39 Ω, 56 Ω, 120 Ω, 150 Ω, dan 220 Ω. Dan juga pengujian dilakukan dengan mengatur intensitas cahaya dari 200 W/m2, 400 W/m2,600 W/m2, 800 W/m2 dan 1000 W/m2. Kemudian didapatkan data dalam bentuk grafik antara Arus vs Teganga dan Daya vs Tegangan.

4.6 Pengujian Sinyal PWM dari Arduino

Untuk mengatur nilai duty cycle, menggunakan fungsi analogWrite ([nomorPin], [nilai]). Nilai pada parameter berkisar antara 0 hingga 255. Simulasi PWM hanya bisa dilakukan pada pin-pin tertentu seperti pada Arduino Nano, pin yang dapat menggunakan fungsi ini hanya pin 3, 5, 6, 9, 10 dan 11. Biasanya pin PWM disimbolkan dengan karakter '~'. Duty cycle dapat diatur dengan memetakan range 0 hingga 100% pada nilai analog 0 hingga 255 dengan persamaan dibawah ini

Nilai analog = Duty Cycle

100 x 255

Berikut ini adalah program dan hasil pengujian PWM pada pin 5 Arduino Nano dengan nilai analog 10, 20, 30, 40, 50, 60, 70 dan 80. Dengan program

4.7 Pengujian DC to DC Converter

Pengujian Boost Converter dilakukan pada tegangan masukan sekitar 12 volt dengan memvariasikan PWM yang di program pada software arduino yang mengatur MOSFET. Berikut ini hasil pengujian Boost Converter.

Tabel 4.5 Data hasil pengujian Boost converter dengan variasi Duty Cycle

4.8 Efisiensi Panel Surya

Efisiensi panel surya adalah perbandingan antara daya output dengan daya input, dimana daya output adalah hasil perkalian tegangan dan arus, sedangkan input adalah hasil perkalian luas permukaan dengan intensitas. Sehingga, dari data yang sudah didapatkan dapat disimpulkan:

αΆ‡ = π‘ƒπ‘šπ‘Žπ‘₯

𝐼π‘₯𝐴 Γ—100%

Dimana:

I (intensitas) : 1000 watt/m2

A : 0.125 m Γ—0.125 m Γ—36=0.5625 m2 Pout rata-rata : 75,144 W

Maka nilai efisiensi Panel surya tersebut adalah:

αΆ‡ = π‘ƒπ‘œπ‘’π‘‘ π‘…π‘Žπ‘‘π‘Žβˆ’π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘Ž

𝐼π‘₯𝐴 x 100%

αΆ‡= 75,144

1000 π‘₯ 0,5625 x 100%

αΆ‡ = 13,35%

4.9 Efisiensi MPPT P&O

Dari data yang dihasilkan dengan menggunakan MPPT P&O, nilai rata-rata tegangan masukan sebesar 17,65 V, nilai rata-rata-rata-rata tegangan keluaran sebesar 18,75 V, nilai rata-rata arus masukan 3,08 A, nilai rata-rata arus keluaran sebesar 2,48 A. Kemudian didapat nilai rata-rata daya masukan sebesar 54,36 W dan nilai rata-rata daya keluaran sebesar 46,5 W.

Sehingga didapat nilai efisiensinya :

Maka efisiensi daya menggunakan MPPT ialah sebesar 85,53 %.

4.10 Koefisien Performansi Termoelektrik

Pada penelitian ini, digunakan TEC1-12706 dengan spasifikasi berdasarkan Data Sheet sebagai berikut ini:

Tegangan Kerja : 0-15,2 V DC suhu antara 5℃ pada sisi dingin sampai 200℃ pada sisi panas, hal ini yang dapat menyebabkan kerusakan jika panas alat tidak di buang dengan baik, oleh karena itu alat yang digunakan menggunakan pompa untuk mengalirkan air secara terus-menerus sebagai pembuang panas dan waterblock sebagai padanan yang terhubung ke sisi dingin pada ruang pengujian dan sisi panas pada blok penyimpanan air.

Tabel 4.6 Data Temperatur Suhu Waktu Suhu (Β°C)

11:16:36 10,48 11:18:14 10,19 11:19:52 10,08 11:21:30 10

Gambar 4.6 Grafik Penurunan Suhu

Grafik diatas menunjukkan proses penurunan suhu dalam ruang pengujian dengan dimensi ruang 0,2mΓ—0,2mΓ—0,2m (0,008m3) dengan set suhu di awal 10℃.

Panas yang diserap oleh sisi dingin:

QL = [π‘†πΌπ‘‡πΆβˆ’12𝐼2𝑅 βˆ’ 𝐾(π‘‡π»βˆ’ 𝑇𝐢)]

QL = [(0,01229 Γ— 2 Γ— 283) βˆ’ (12Γ— 2 Γ— 2 Γ— 4) βˆ’ 0,1815(298,06 βˆ’ 283)]

QL = [6,9561 βˆ’ 8 βˆ’ 2,7333]

QL = βˆ’3,77 𝐽

Panas yang diserap oleh sisi panas:

QH = [𝑆𝐼𝑇𝐻+12𝐼2𝑅 βˆ’ 𝐾(π‘‡π»βˆ’ 𝑇𝐢)]

10:48:00 10:55:12 11:02:24 11:09:36 11:16:48 11:24:00

Suhu-vs-Waktu

Suhu (Β°C)

W = 12,59 – (-3,77) W = 16,37 J

Perhitungan COP

COP = QC/Total Energi (W) COP = 16,373,77

COP = 0,2307 = 23,07%

4.11 Efisiensi keseluruhan Kinerja dari Sistem Penyedia Daya Berbasis Panel Surya

Berdasarkan semua data yang telah di dapat maka kita dapat menghitung efiensi keseluruhan kinerja dari sistem dengan menghitung efiensi panel surya, efiensi mppt, dan koefisien Performansi Termoelektrik sebagai berikut:

ɳ𝑆𝐼𝑆𝑇𝐸𝑀= ɳ𝑃𝑉+ π½π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž ᢇɳ𝑀𝑃𝑃𝑇+𝐢𝑂𝑃

= 13,35%+ 85,53%+23,07%

3

= 40,65%

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang sudah dilaksanakan, mulai dari hasil perancangan dan pembahasan sistem, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Dari hasil penelitian yang dilakukan, didapat nilai efisiensi dari panel surya yang digunakan sebesar 13,35%. Efisiensi panel surya tergolong rendah yang diakibatkan karena pemantulan kembali cahaya ke udara dan dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari. Nilai efisiensi alat sistem MPPT sebesar 85,53%. Nilai efisiensi MPPT dari penelitian ini dapat menjejak daya optimum dari keluaran panel surya. Nilai koefisien sistem pendingin TEC sebesar 23,07%. Nilai koefisien TEC tergolong rendah yang diakibatkan daya yang dialiri kepada sistem pendingin TEC sebagian terbuang ke sisi ruang panas. Dan keseluruhan sistem penyedia daya dengan efisiensi 40,65%.

2. Dari hasil penelitian yang dilakukan, didapat nilai titik suhu terendah yang didapatkan dari sistem pendingin Thermo Electric Cooler (TEC) adalah 10Β°C dari awal suhu ruangan yaitu 25,06Β°C. Dan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik suhu tersebut adalah 26 menit 55 detik.

5.2 Saran

Setelah melakukan penelitian, diperoleh beberapa hal yang dapat dijadikan saran untuk melakukan penelitian ini lebih lanjut yaitu:

1. Untuk pengembangan selanjutnya, sistem pendingin TEC dapat disempurnakan lebih bagus lagi untuk mencapai efisiensi yang baik.

2. Untuk peneliti selanjutnya, sebaiknya bisa mencapai suhu hingga 0Β°C sebagai nilai suhu pada titik beku.

DAFTAR PUSTAKA

Ba,Abdellahi.2018.Performance Optimization of the PV Pumping System.

Marocco : Abdelmalek Essaadi University Generation, IET, 4 (4), 317-328.

Greeen, M. A. (1982). Solar Cells Opertaing Principles, Technology and System Applications. New Jersey: Prentice-Hall.

Haruno Tahara, Sularso. 2000. Pompa dan Kompresor. Pradnya Paramita, Jakarta.

Hart, D. W. (1997). Introduction to Power Electronics. New Jersey: Prentics-Hall.

https://www.sandielektronik.com/2016/07/tec-atau-pendingin-peltier.html

Ikbal M., β€œInterkoneksi Sistem Photovoltaic dengan Grid”, Program studi teknik elektro, ITB, 2008.

N. Lavanya, R.E Ravalika and V. Dharani. (2018). Design and Fabrication of a Portable Refrigerator Based on Peltier Effect. India. GPREC

Nema, S., Nema, R. K., & Agnihotri, G. (2010). Matlab Simulink Based Study of Photovoltaic Cells Modules Array and Their ExperimentalVerification International Journal of Energy and Environment, 1 (3),

487-500.

Plegari, L., & Rizzo, R. (2010). Adaptive perturb and observe algorithm for photovoltaic maximum power point tracking. Renewable Power

Prayogo, Rudito.2012.PENGATURAN PWM (Pulse Width Modulation) dengan PLC .Universitas Brawijaya.

Rafi, A. dan Rif’an, M., (2007). Perancangan Sistem Penjejak Matahari Berbasis Mikrocontroller dan Sensor Cahaya. Skripsi.

Xiao, W., Dunford, W. G., Palmer, P. R., & Capel, A. (2007). Regulation of Photovoltaic Voltage. Industrial Electronics, IEEE Transaction on, 54(3), 1365-1374.

Yacine D., Jean-Paul G., Lazhar R., β€œImplementation of a new maximum powerd point tracking control strategy for small wind energi conversion systems without mechanical sensors”Energi Conversion and Management, 2 April 2015.

Lampiran I. Program Sensor Arus dan Tegangan

#include <Wire.h>

#include <LiquidCrystal_I2C.h>

unsigned long int milli_time;

float voltage;

// Set the LCD address to 0x27 for a 16 chars and 2 line display LiquidCrystal_I2C lcd(0x27, 16, 2);

Serial.println("LABEL,Computer Time,Time (Milli Sec.),Volt,Arus");

lcd.init();

float voltage = (analogRead(A1)*0.241231000);

float arus = ((analogRead(A2)-511)*0.075);

if (arus <= 0) {

Serial.print("DATA,TIME,");

Serial.print(milli_time);

Serial.print(",");

Serial.print(voltage);

Serial.print(",");

Serial.println(arus);

lcd.setCursor(0,0);

lcd.print("Volt = ");

lcd.print(voltage);

lcd.print(" V ");

lcd.setCursor(0,1);

lcd.print("Arus = ");

lcd.print(arus);

lcd.print(" A ");

delay(1000);

// Do nothing here...

}

Lampiran II. Foto Pengujian

Dokumen terkait