• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.3 Pembahasan

4.3.2 Kohesi dalam Teks Pidato

Kohesi gramatikal dalam teks pidato ini didominasikan oleh konjungsi atau perangkaian sebanyak 69 data, yang direalisasikan melalui konjungsi aditif yang berupa kata dan yang berfungsi untuk menyatakan “gabungan biasa” dalam dua buah kata benda misalnya (73.TP1) “saya dan Saudara Prof. Dr. Boediono baru saja mengucapkan sumpah di hadapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia”, merupakan kata yang menghubungkan kata saya dan Prof.

Dr. Boediono. Konjunsgsi yang direalisasikan melalui Konjungsi Adversatif yang berupa kata namun yang berfungsi untuk menggabungkan atau mempertentangkan digunakan di antara dua buah kalimat pertama atau kalimat sebelumnya berisi

142

penyatuan dan kalimat kedua berisi pernyataan kontras dengan kalimat pertama.

Konjungsi yang direalisasikan melalui Konjungsi kausal yang berupa kata oleh karena itu yang memarkahi makna yang berhubungan dengan sebab akibat, konjungsi sebab menjelaskan bahwa suatu peristiwa terjadi karena suatu sebab tertentu. Bila anak kalimat ditandai oleh konjungsi sebab induk kalimat merupakan akibatnya. Yang direalisasikan melalui Konjungsi temporal yang berupa kata sementara itu yang menjelaskan hubungan waktu antara dua hal atau peristiwa.

Kemudian untuk kohesi gramatikal referensi atau pengacuan yang direalisasikan melaui pengacuan persona yang berupa kata kita yang berfungsi untuk menyatakan presiden atau sipembicara dan masyarakat Indonesia atau sipendengar dengan tujuan sipembicara ingin mengajak atau sama-sama dalam melakukan kebijakan-kebijakan dalam tujuan teks pidato. Pengacuan yang direalisasikan melalui pengacuan demonstratif yang berupa kata hari ini yang berfungsi untuk menyatakan waktu dalam berlangsungnya pidato yang dibicarakan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau sipembicara.

Kohesi gramatikal ellipsis yang direalisasikan melalui pelesapan kata atau kalimat yang sudah disebutkan sebelumnya yang berfungsi untuk efektifitas kalimat. Sedangkan Kohesi gramatikal substitusi yang direalisasikan melalui penggantian kata yang berupa penggunaan satuan lingual tertentu yang telah disebutkan dengan satuan lingual lain dalam wacana untuk memperoleh unsur pembeda.

143

Kohesi leksikal dalam teks pidato ini didominasi oleh sinonim sebanyak 11 data yang direalisasikan melalui persamaan kata yang berupa kohesi makna leksikal yang mirip antara konstituen yang satu dengan konstituen yang lain.

Kohesi leksikal repetisi yang direalisasikan melalui pengulangan kata berupa kalimat maupun berupa kata yang diulang beberapa kali yang berfungsi untuk menekankan kata tersebut. Misalnya kata menang yang diulang oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk maju bersama-sama dan memberi semangat.

Kohesi leksikal kolokasi yang direalisasikan melalui penyandingan kata atau pilihan kata yang berdampingan. Kohesi leksikal antonim yang direalisasikan melalui lawan kata yang memiliki relasi makna resikal yang bersifat kontras atau berlawanan antara konstituen yang satu dengan konstituen yang lain. Dan yang terakhir Kohesi leksikal hiponim yang direalisasikan melalui hubungan atas-bawahan yang memiliki hubungan antara makna spesifik dan makna generik yang merupakan anggota hipernim.

4.3.3 Kohesi dalam Teks Pidato Joko Widodo

Kohesi gramatikal yang pertama dalam teks pidato ini didominasi oleh penggunaan pengacuan atau referensi sebanyak 103 data, yang direalisasikan melalui pengacuan persona sebanyak 59 data dan pengacuan demonstratif sebanyak 44 data, yang direalisasikan melalui demonstratif. Pengacuan persona yang berupa kata kita yang befungsi untuk menyatakan presiden atau sipembicara dan masyarakat Indonesia atau sipendengar dengan tujuan sipembicara ingin mengajak atau sama-sama dalam melakukan kebijakan-kebijakan dalam tujuan teks pidato. Pengacuan demonstratif yang berupa kata sekarang ini yang befungsi

144

untuk menyatakan waktu dalam berlangsungnya pidato yang dibicarakan oleh presiden Joko Widodo atau sipembicara.

Kohesi gramatikal yang kedua adalah penyulihan atau subsitusi yang direalisasikan melalui penggantian kata yang berupa penggantian satuan lingual tertentu yang telah disebutkan dengan satuan lingual lain dalam wacana untuk memperoleh unsur pembeda.

Kohesi gramatikal yang ketiga adalah elipsis atau pelesapan yang direalisasikan melalui pelesapan kata atau kalimat yang sudah disebutkan sebelumnya yang berfungsi untuk efektifitas kalimat.

Kohesi gramtikal yang keempat adalah konjungsi atau perangkaian yang direalisasikan melalui konjungsi aditif berupa kata lagi yang berfungsi menggabungkan dua kata frasa, klausa, atau kalimat dalam kedudukan yang sederajat. Konjungsi yang direalisasikan melalui konjungsi adversatif berupa kata namun yang menghubungkan dua bagian kalimat yang sederajat dengan mempertentangkan kedua bagian tersebut. Konjungsi yang direalisasikan melalui konjungsi kausal berupa kata karena yang berfungsi untuk menyatakan hubungan sebab. Kojungsi yang direalisasikan melalui konjungsi temporal berupa kata ketika yang menjelaskan hubungan waktu antara dua hal atau peristiwa.

Kohesi leksikal yang pertama berupa repetisi atau pengulangan dalam wacana teks pidato ini didominasi oleh penggunaan pengulangan kata berupa kata namun yang berfungsi untuk menegaskan atau menekankan kata dalam suatu tujuan teks/informasi yang disampaikan.

Kohesi leksikal yang kedua berupa kolokasi yang direalisasikan melalui penyandingan kata atau pilihan kata yang berdampingan. Kohesi leksikal yang

145

ketiga berupa sinonim yang direalisasikan melalui persamaan kata yang berupa kohesi makna leksikal yang mirip antara konstituen yang satu dengan konstituen yang lain.

Kohesi leksikal yang keempat berupa antonim yang direalisasikan melalui lawan kata yang memiliki relasi makna resikal yang bersifat kontras atau berlawanan antara konstituen yang satu dengan konstituen yang lain. Dan yang terakhir kohesi leksikal yang kelima berupa hiponim yang direalisasikan melalui hubungan atas-bawahan yang memiliki hubungan antara makna generik yang merupakan anggota hipernim.

146 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan analisis data penelitian ini dapat disimpulkan bahwa:

1. Teks pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo ditemukan empat aspek kohesi gramatikal yaitu, referensi, susbtitusi, ellipsis dan konjungsi. Kohesi gramatikal dalam teks pidato Susilo Bambang Yudhoyono didominasi oleh penggunaan konjungsi atau perangkaian, dan Kohesi gramatikal dalam teks pidato Joko Widodo didominasi oleh penggunaan referensi atau pengacuan. Referensi sebesar 64 data (45,7%), substitusi 6 data (4,3%), Elipsis 1 data (0,7%), dan Konjungsi sebesar 69 data (49,3%) yang ditemukan dalam teks pidato kenegaraan presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dan dalam teks pidato kenegaraan presiden Joko Widodo terdapat Referensi sebesar 103 data (49,7%), substitusi 5 data (2,4%), ellipsis 8 data (3,9%) dan konjungsi sebesar 91 data (43,9%).

2. Dalam wacana teks pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan presiden Joko Widodo ditemukan empat jenis kohesi leksikal yakni repetisi, kolokasi, sinonim, antonim dan hiponim. Kohesi leksikal dalam teks pidato Susilo Bambang Yudhoyono didominasi oleh penggunaan sinonim, dan Kohesi leksikal dalam teks pidato Joko Widodo didominasi oleh penggunaan repetisi. Repetisi sebesar 4 data (14,3%), kolokasi sebesar 5 data (17,9%), sinonim 11 data (39,3%), antonim 4 data (14,3%), dan hiponim 4 data (14,3%) yang ditemukan dalam teks pidato kenegaraan presiden Susilo

147

Bambang Yudhoyono. Dan dalam teks pidato kenegaraan presiden Joko Widodo terdapat Repetisi sebesar 11 data (42,3%), kolokasi 1 data (3,8%), sinonim 7 data (26,9%), antonim 4 data (15,4,%), dan hiponim 3 data (11,5%).

3. Teks pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo dalam teks pidato kenegaraan bisa dinyatakan sebagai teks pidato yang berkualitas karena dalam teks pidato kenegaraan ditemukan kohesi gramatikal dan kohesi leksikal dalam wacana teks pidato kenegaraan, dan teks pidato kenegaraan merupakan teks yang kohesif.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian, penulis memberikan saran sebagai berikut:

1. Penelitian ini merupakan penelitian tahap awal sehingga masih terdapat banyak kekurangan dan masih memerlukan tindak lanjut. Oleh karena itu, diharapkan muncul peneliti lain yang akan mengembangkan penelitian ini.

2. Penelitian terhadap wacana “Teks Pidato Kenegaraan” dapat dilakukan dengan berbagai tinjauan yang lain, yang dapat memperjelas makna yang sesuai dengan konteks kalimat yang dimaksudkan pada wacana tersebut.

148

DAFTAR PUSTAKA

Azizah, Ana Sofiyatul. 2016. Analisis Kohesi dan Koherensi pada Cerita Bergambar dalam Majalah Apik dan Citra TK Junior. S2 Tesis.

Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Bodgan dan Taylor. 1984. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. Usaha Nasional. Surabaya.

Bungin, Burhan H.M, 2007; Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu social, Jakarta : Kencana Prenama Media Group.

Dharma, Surya. (2009). Manajemen Kinerja Falsafah Teori dan Penerapannya.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Djajasudarma, Fatimah. 1993. Metode Linguistik Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Jakarta: Refika Aditama.

Djajasudarma, Fatimah. 1994. Wacana: Pemahaman dan Hubungan Antarunsur. Bandung: Eresco.

Hadinegoro, Luqman. 2003. Teknik Seni Berpidato Mutakhir. Yogyakarta: Indek Halliday, MAK dan Ruqaiya Hasan. 1976. Cohesion in English. London: Longman.

Halliday, M.A.K & Hasan. (1992). Bahasa, Konteks, dan Teks: Aspek-aspek bahasa dalam pandangan semiotic sosial. Terjemahan (1992).

Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press.

Halliday, M.A.K. (2003). Lingusitic Studies of Text and Discourse. London. New York: Continuum.

Juliana. 2014. Terjemahan Alat Kohesi Pada Teks Hikayat Raja-Raja Pasai Dalam Bahasa Inggris The Chronicle Of The Kings Of Pasai. S2 Tesis.

Medan: Universitas Sumatera Utara.

Keraf, Goris. 1970. Komposisi. Ende Flores : Nusa Indah.

Luhukay, Marsefio S. 2007. Presiden SBY dan Politik Pencitraan : Analisis Teks Pidato Presiden SBY dengan Pendekatan Retorika Aristoteles. Jurnal Ilmiah Vol. 1 No.2. Yogyakarta; Scriptura.

Miles, Matthew dan Huberman, A. Michael. 1992. Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru. Jakarta:UI Press.

149

Moleong, J Lexy. 1994. Metode Penelitian Kualitatif. PT. Remaja Rosdakarya.

Bandung.

Moleong, J Lexy. 2000. Metode Penelitian Kualitatif. PT. Remaja Rosdakarya.

Bandung.

Moeliono, Anton M. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

Nunan, David. 1993. Introducing Discourse Analysis. London: Penguin English.

Rakhmat, Jalaludin M.Sc.2008. Psikologi Komunikasi. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.

Schiffrin, Deborah. 1987. Approaches to Discourse. Massachusetts: Blackwell Publishers.

Schmitt, MP, dan A., Viala. 1982. Savoire Lire. Paris: Didier.

Setiani, Septi. 2016. Kohesi dan Koherensi Komposisi Peserta Tes Simulasi IELTS. S2 Tesis. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Setyowati,Endang. 2014. Pergeseran Dalam Penerjemahan Kohesi Leksikal Dan Faktor-Faktor Penyebabnya: Studi Kasus Pada Novel Inferno dan Terjemahannya Dalam Bahasa Indonesia. S2 Tesis. Yogyakarta:

Universitas Gajah Mada.

Subroto, 1992. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sudaryanto. (1988). Metode Linguistik. Metode dan Aneka Teknik Pengumpulan Data. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa (Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistik). Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Sumarlam. 2003. Analisis Wacana: Teori dan Praktik. Surakarta: Pustaka Cakra.

Sumarlam. (2008). Analisis Wacana.Penelitian Kualitatif. Surakarta: Pustaka Cakra.

Tarigan, Henry Guntur. 1987. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa

Triasmoko, Guntur Yuli. 2016. Kohesi Pada Teks Cerita Rubrik Anak-Anak, Remaja, Dan Dewasa Dalam Majalah Panjebar Semangat. S2 Tesis.

Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Wiyanto, Asul. 2004. Terampil Menulis Paragraf. Jakarta: Grasindo.

150 Sumber-sumber lain

bersama-dpr-ri-dan-dpd-ri-jakarta-14-agustus-2015,

diakses tanggal 4 Desember 2016

dilantik/, diakses tanggal 4 Desember 2016

http://www.rappler.com/indonesia/143199-pidato-lengkap-kenegaraan-jokowi 2016/, diakses tanggal 4 Desember 2016

151 LAMPIRAN –LAMPIRAN

TEKS PIDATO 1

Inilah pidato awal jabatan presiden 2009-2014, sesaat setelah Susilo Bambang Yudhoyono dilantik menjadi presiden untuk kedua kalinya, 20 Oktober 2009.

PIDATO AWAL MASA JABATAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2009-2014 Di Hadapan Sidang Paripurna MPR-RI

Jakarta, 20 Oktober 2009 Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu‟alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati, saudara Ketua, para Wakil Ketua dan segenap anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia,

Yang saya hormati, para mantan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, Yang saya muliakan Para Kepala Negara, Kepala Pemerintahan, dan Utusan Khusus Negara-negara sahabat,

Yang saya hormati, para Ketua, para Wakil Ketua dan para anggota Lembaga-Lembaga Negara,

Yang Mulia Para Duta Besar, serta para pimpinan Organisasi Internasional, Yang saya hormati, Para Gubernur seluruh Indonesia,

Saudara-saudara se-bangsa dan se-tanah air,

Hadirin sekalian yang saya muliakan, Hari ini, dengan penuh rasa syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, saya dan Saudara Prof. Dr.

Boediono baru saja mengucapkan sumpah di hadapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia untuk mengemban amanah rakyat lima tahun mendatang.

Pada kesempatan yang bersejarah dan insya Allah penuh berkah ini, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pimpinan dan anggota MPR-RI, pimpinan dan anggota DPR-RI, pimpinan dan anggota DPD-RI, beserta pimpinan dan anggota lembaga-lembaga negara lainnya masa bakti 2004-2009, yang telah bersama-sama bekerja keras membangun bangsa dan negara kita menuju masa depan yang lebih baik.

Kepada saudara Muhammad Jusuf Kalla, Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2004-2009, yang telah mendampingi saya selama lima tahun terakhir, saya ucapkan terima kasih dan penghargaan atas jasa dan pengabdian saudara, baik kepada pemerintah, maupun kepada bangsa dan negara. Pengabdian saudara tercatat abadi dalam sejarah perjalanan bangsa, dan akan dikenang sepanjang masa. Kepada segenap jajaran Kabinet Indonesia Bersatu Masa Bakti 2004-2009,

152

saya ucapkan pula terima kasih dan penghargaan saya, atas upaya yang sungguh-sungguh dalam menjalankan dan menyukseskan program-program pembangunan nasional yang sarat dengan tantangan dan permasalahan yang rumit.

Saudara-saudara,

Kita baru saja melewati periode sejarah 2004-2009 yang penuh dengan tantangan.

Hari ini, bangsa Indonesia patut bersyukur dan berbesar hati. Di tengah gejolak dan krisis politik di berbagai wilayah dunia, kita tetap tegak dan tegar sebagai negara demokrasi yang makin kuat dan stabil. Di tengah badai finansial dunia, ekonomi Indonesia tetap tumbuh positif, dan diprediksi akan mengalami pertumbuhan nomor tiga tertinggi di dunia. Di tengah maraknya konflik dan disintegrasi di belahan dunia lain, bangsa Indonesia semakin rukun dan bersatu.

Karena itu, tepatlah kalau dalam beberapa hari ini di berbagai televisi internasional muncul tayangan, yang menyebut bangsa kita sebagai “remarkable Indonesia” – bangsa yang dinilai berhasil dalam mengatasi krisis dan tantangan yang berat dan kompleks 10 tahun terakhir ini.

Namun, semua itu janganlah membuat kita lengah, lalai, apalagi besar kepala.

Ingat : pekerjaan besar kita masih belum selesai. Ibarat perjalanan sebuah kapal, ke depan, kita akan mengarungi samudra yang penuh dengan gelombang dan badai.

Di luar Indonesia, resesi perekonomian global belum sepenuhnya usai.

Perdagangan dan arus investai dunia belum pulih. Sementara itu harga minyak dan berbagai komoditas masih berfluktuasi, yang dapat mengancam stabilitas dan kepastian ekonomi kita. Oleh karena itu, walaupun gejala perbaikan perekonomian dunia mulai terlihat, namun kita tidak boleh berhenti untuk terus memperkuat sendi-sendi perekonomian kita, seraya tetap melanjutkan upaya nasional untuk meminimalkan dampak dari krisis dunia tersebut.

Di dalam negeri kita bersyukur, reformasi telah berjalan makin jauh, namun masih belum tuntas. Upaya untuk membangun “good governance” dan memberantas korupsi mulai membuahkan hasil, namun masih perlu terus ditingkatkan.

Kemiskinan sudah banyak berkurang, namun upaya peningkatan kesejahteraan rakyat perlu terus dilanjutkan.

Pengalaman menunjukkan, setiap prestasi yang kita capai biasanya akan disusul oleh tantangan – tantangan baru. Tetapi saya percaya, semua tantangan ini, baik yang sudah kita ketahui, maupun yang belum dapat kita bayangkan, akan dapat kita hadapi dan atasi. Insya Allah, bangsa Indonesia akan terus maju untuk meningkatkan kehidupannya yang lebih baik.

Saudara-saudara,

Tahun ini, kita menyaksikan rakyat Indonesia telah menentukan pilihannya dalam Pemilihan Umum yang berlangsung secara damai dan demokratis. Ini adalah kali ketiga kita mampu menyelenggarakan Pemilu secara langsung, umum, bebas,

153

rahasia, serta jujur dan adil. Kita semua mampu melaksanakan kompetisi politik dengan penuh etika dan kedewasaan.

Dalam pemilihan umum, kalah atau menang adalah hal yang biasa. Dalam demokrasi, kita semua menang. Demokrasi menang. Rakyat menang. Indonesia menang. Berkaitan dengan itu, pada kesempatan yang baik ini, saya ingin menyampaikan rasa hormat kepada Ibu Megawati Soekarnoputri dan Bapak Prabowo Subianto, serta Bapak Muhammad Jusuf Kalla dan Bapak Wiranto, atas partisipasi aktif dan kegigihan beliau-beliau sebagai calon Presiden dan Wakil Presiden dalam Pemilu Tahun 2009. Mereka adalah putra-putri bangsa, yang ikut berjasa memekarkan kehidupan demokrasi kita.

Hari ini, saya mengajak segenap komponen bangsa untuk kembali bersatu, dan bersama-sama membangun masa depan kita semua. Dengan semangat baru dan kebersamaan, mari kita songsong pembangunan lima tahun ke depan dengan penuh optimisme dan rasa percaya diri.

Dalam menjalankan amanah rakyat lima tahun mendatang, saya bersama Wakil Presiden, telah menetapkan program 100 hari, program satu tahun, dan program lima tahun ke depan. Esensi dari program pemerintahan lima tahun mendatang adalah peningkatan kesejahteraan rakyat, penguatan demokrasi, dan penegakan keadilan. “Prosperity, Democracy and Justice.”

Peningkatan kesejahteraan rakyat, merupakan prioritas utama. Kita ingin meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui pembangunan ekonomi yang berlandaskan keunggulan daya saing, pengelolaan sumber daya alam, dan peningkatan sumber daya manusia. Ekonomi kita harus tumbuh semakin tinggi.

Namun, pertumbuhan ekonomi yang kita ciptakan adalah pertumbuhan yang inklusif, pertumbuhan yang berkeadilan, dan pertumbuhan disertai pemerataan.

Kita juga ingin membangun tatanan demokrasi yang bermartabat, yaitu demokrasi yang memberikan ruang kebebasan dan hak politik rakyat, tanpa meninggalkan stabilitas dan ketertiban politik. Kita juga ingin menciptakan keadilan yang lebih baik, ditandai dengan penghormatan terhadap praktek kehidupan yang non-diskriminatif, persamaan kesempatan, dengan tetap memelihara kesetiakawanan sosial dan perlindungan bagi yang lemah.

Saudara-saudara,

Untuk mewujudkan cita-cita kita semua, utamanya dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat, memperkuat demokrasi dan meningkatkan keadilan, ada sejumlah kunci sukses yang perlu kita pedomani dan jalankan bersama.

Pertama, jangan pernah kita menyerah dan patah semangat. Ingat, segala keberhasilan monumental bangsa kita – dari revolusi, pembangunan nasional, reformasi, penyelesaian berbagai konflik, termasuk penanganan tsunami – semua ini hanya bisa dicapai dengan keuletan dan semangat tak kenal menyerah.

Sebagaimana sering saya sampaikan dalam berbagai kesempatan, kita harus selalu mengobarkan semangat Harus Bisa ! “Can do spirit ! ”

154

Ke depan, dengan semangat ”Indonesia Bisa” inilah, kita akan menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah krisis dunia. Dengan semangat inilah kita akan menegakkan ”good governance” dan membasmi korupsi. Dan dengan semangat ini pulalah, kita akan terus mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat kita.

Kunci sukses kedua, adalah perlu terus menjaga persatuan dan kebersamaan.

Dalam demokrasi, kita bisa berbeda pendapat, namun tidak berarti harus terpecah belah. Dalam demokrasi yang sehat, ada masanya kita berdebat, ada masanya kita merapatkan barisan. Dalam menghadapi berbagai tantangan dunia yang kian berat, para pemimpin bangsa – apapun warna politiknya – harus bisa terus menjaga kekompakan, mencari solusi bersama, dan sedia berkorban untuk kepentingan bangsa yang lebih besar. Oleh karena itu, dalam melanjutkan pembangunan bangsa yang tidak pernah sepi dari tantangan, dan dalam melaksanakan reformasi gelombang kedua 10 tahun mendatang, marilah terus kita pupuk dan perkokoh persatuan dan kebersamaan kita.

Kunci sukses yang ketiga adalah kita harus bisa menjaga jati diri kita, ke-Indonesia-an kita. Yang membedakan bangsa Indonesia dari bangsa-bangsa lain adalah budaya kita, “way of life“, dan ke-Indonesia-an kita. Ada identitas dan kepribadian yang membuat bangsa Indonesia khas, unggul dan tidak mudah koyak. Ke-Indonesiaan kita tercermin dalam sikap pluralisme atau kebhinekaan, kekeluargaan, kesantunan, toleransi, sikap moderat, keterbukaan, dan rasa kemanusiaan. Hal-hal inilah yang harus selalu kita jaga, kita pupuk dan kita suburkan di hati sanubari kita, dan anak-anak kita. Inilah modal sosial dan potensi nasional yang paling berharga.

Hadirin yang saya muliakan,

Rakyat Indonesia yang saya banggakan,

Mengakhiri pidato ini, saya mengajak segenap rakyat Indonesia, untuk terus melangkah maju sebagai sebuah bangsa yang besar, rukun, dan bersatu. Bangsa yang senantiasa tegak dan tegar menghadapi tantangan, berlandaskan empat pilar kehidupan bernegara, yaitu Pancasila, NKRI, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika.

Kepada para tamu negara-negara sahabat yang berada di tengah kita, terimalah salam persahabatan bangsa Indonesia. Atas nama rakyat dan Pemerintah Indonesia, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Sultan Brunei Darussalam Paduka Yang Mulia Sultan Hassanal Bolkiah, Presiden Timor Leste Yang Mulia Jose Ramos Horta, Perdana Menteri Singapura Yang Mulia Lee Hsien-Loong, Perdana Menteri Australia Yang Mulia Kevin Rudd dan Perdana Menteri Malaysia Yang Mulia Dato Seri Mohamad Najib Tun Hj Abdul Razak.

Saya juga mengucapkan selamat datang kepada Utusan Khusus dari Thailand, Republik Korea, Amerika Serikat, Republik Ceko, Sri Lanka, Selandia Baru, Jepang dan Philipina. Kedatangan sahabat-sahabat internasional dalam inaugurasi

155

hari ini merupakan simbol “goodwill” dan kehormatan yang tiada taranya bagi bangsa Indonesia.

Kepada dunia internasional, saya ingin menegaskan bahwa Indonesia akan terus menjalankan politik bebas aktif, dan akan terus berjuang untuk keadilan dan perdamaian dunia. Indonesia akan mengobarkan nasionalisme yang sejuk, moderat dan penuh persahabatan, dan sekaligus mengusung internasionalisme

Kepada dunia internasional, saya ingin menegaskan bahwa Indonesia akan terus menjalankan politik bebas aktif, dan akan terus berjuang untuk keadilan dan perdamaian dunia. Indonesia akan mengobarkan nasionalisme yang sejuk, moderat dan penuh persahabatan, dan sekaligus mengusung internasionalisme

Dokumen terkait