• Tidak ada hasil yang ditemukan

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

DAFTAR LAMPIRAN

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taman Nasional

2.4. Kolaboratif Manajemen Sumberdaya dan Lingkungan

Ko-manajemen atau kolaborasi manajemen merupakan salah satu bentuk

dari pengelolaan sumberdaya dan lingkungan. Untuk kawasan konservasi seperti

taman nasional, ketidakefektifan pengelolaan taman nasional saat ini dapat

disebabkan oleh beragamnya para pemangku kepentingan (stakeholder) yang memiliki kepentingan yang berbeda-beda serta beragam masalah dari hambatan

dalam menjalankan perannya. Untuk alasan inilah, maka pengelolaan taman

nasional harus dijembatani melalui sistem manajemen taman nasional yang

bersifat kolaboratif agar semua pemangku kepentingan sumberdaya dari taman

nasional memiliki tanggung jawab dalam pengelolaannya. Pendekatan manajemen

kolaborasi membutuhkan adanya suatu pengelolaan yang awalnya top-bottom

menjadi pengelolaan yang bersifat terdesentralisasi dengan harapan dapat

memberikan dukungan lokal terhadap agenda konservasi nasional dengan

melibatkan pengguna sumberdaya dalam pengambilan keputusan.

Ko-manajemen adalah pengintegrasian rezim pengelolaan yang berbasis

masyarakat dengan yang berbasis pemerintah atau bisa diartikan sebagai derivatif

yang berasal dari rezim PSALBM (pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan

berbasis masyarakat) dan rezim PSALP (pengelolaan sumberdaya alam dan

lingkungan berbasis pemerintah) atau dengan kata lain ko-manajemen dapat

didefinisikan sebagai pembagian atau pendistribusian tanggung jawab dan

wewenang antara pemerintah dan masyarakat lokal dalam mengelola sumberdaya

20 dalam Sungkar (2010) manajemen kolaborasi merupakan sebuah kesepakatan

antara dua atau lebih pemangku kepentingan (stakeholder) untuk membagi informasi, peran, fungsi dan tanggung jawab dalam suatu hubungan dan

mekanisme kemitraan yang disetujui bersama. Manajemen kolaborasi diharapkan

dapat menciptakan sebuah tata kelola mandiri yang akan menciptakan keuntungan

bagi seluruh stakeholder. Ciri khas dari kolaborasi adalah adanya proses saling belajar (sharing), terutama berbagi informasi yang akan membantu para pemangku kepentingan untuk menciptakan rencana-rencana kegiatan yang

adaptif.

Secara umum, tujuan ko-manajemen adalah status pengelolaan

sumberdaya alam dan lingkungan yang lebih tepat, lebih efisien serta lebih adil

dan merata. Selain itu ko-manajemen lahir disebabkan oleh dua hal, pertama

adalah karena adanya kemauan serta inisiatif pemerintah dan masyarakat, yang

kedua adalah karena adanya sensitivitas dan kesadaran pemerintah atau masyarakat terhadap perkembangan suatu keadaan atau situasi. Tujuan secara

khusus dari ko-manajemen adalah : (1) Ko-manajemen merupakan jalan menuju

arah terwujudnya pembangunan berbasis masyarakat, (2) Ko-manajemen

merupakan cara untuk mewujudkan proses pengambilan keputusan secara

desentralisasi sehingga dapat memberikan hasil yang lebih efektif, dan (3) Ko-

manajemen adalah mekanisme untuk mencapai visi dan tujuan masyarakat dalam

mengelola sumberdaya dan lingkungan serta mengurangi konflik melalui proses

demokrasi partisipatif.

Menurut Sen dan Nielsen (1996) dalam Hidayat (2009), bentuk Ko-

21 sejauh mana peanan pemerintah dan kelompok masyarakat pengguna terlibat

dalam proses pengambilan keputusan dan implementasinya. Klasifikasi tersebut

antara lain : (1) Instruksi, (2) Konsultasi, (3) Koperasi, (4) Pendampingan, dan

(5) Informasi.

Hirarki dalam Ko-manajemen dilihat dari tiga hal yang menentukan variasi

bentuk Ko-manajemen, antara lain : (1) Peranan pemerintah dan masyarakat

dalam pengambilan keputusan, (2) Bentuk tugas dan fungsi manajemen yang

dapat atau akan dikelola bersama oleh pemerintah dan masyarakat atau

didistribusikan di antara kedua pihak, (3) Tahapan proses manajemen ketika

secara aktual kerjasama pengelolaan betul-betul terwujud (Hidayat 2009). Berikut

adalah gambar bentuk ko-menejemen sumberdaya alam dan lingkungan antara

pemerintah dengan pemegang kepentingan.

(a)

(b)

Gambar 1. (a) Ilustrasi Bentuk Ko-Manajemen Sen dan Nielsen (1996), (b) Ko-Manajemen Sumberdaya dan Lingkungan Antara Pemerintah dengan Pemegang Kepentingan

Masyarakat Ko-Manajemen Pembagian tanggung jawab & wewenang Konsumen Pemerhati Akademisi Tokoh Akademisi Pusat Daerah

Informatif Pendampingan Kooperatif

Konsultatif Instruktif

PSALBM (Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Berbasis Masyarakat)

PSALP(Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Berbasis Pemerintah)

22 Bentuk Ko-manajemen yang ideal adalah pemerintah dan masyarakat

adalah mitra yang sejajar yang bekerjasama untuk melaksanakan semua tahapan

dan tugas proses pengelolaan sumberdaya dan lingkungan serta memahami peran

dan tanggungjawab masing-masing sehingga sistem Ko-manajemen bisa sukses

berjalan.

2.5. Penelitian Terdahulu

Berdasarkan hasil studi dari beberapa penelitian terdahulu, diperoleh hasil

kajian mengenai kelembagaan masyarakat adat dan kolaboratif manajemen.

Beberapa penelitian tersebut diantaranya yaitu :

2.5.1. Penelitian tentang Kelembagaan Masyarakat Adat

No Penulis Judul Skripsi Kesimpulan

1 Afif Aprianto Komparasi Kearifan Tradisional Masyarakat Adat Kasepuhan Cibedug Dengan Aturan Formal Pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak

1) Terdapat kelembagaan yang jelas dan lengkap dengan organisasi yang menegakkan norma-norma/aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari mekanisme sanksi yang berlaku adalah mekanisme “kabendon”

2) Kearifan tradisional masyarakat adat Kasepuhan Cibedug sangat terkait dengan konsep tata ruang wilayah masyarakat adat Kasepuhan Cibedug dan aturan-aturan /norma yang ada di dalamnya. Tata ruang wilayah meliputi wewengkon dan pemukiman, leuweung (hutan), reuma, lahan garapan, tutupan dan titipan

3) Aturan adat masyarakat adat Kasepuhan Cibedug sangat konsisten dengan aturan formal pengelolaan TNGHS dalam hal asas, tujuan dan zonasi

2 Muhammad Ramli

Kelembagaan

Pengelolaan Sumberdaya Hutan Masyarakat Adat Baduy Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten

1) Struktur kelembagaan masyarakat adat Baduy bersifat vertikal, dengan masing- masing pemegang jabatan adat memiliki batasan dan wewenag khusus dalam setiap kegiatan pengelolaan sumberdaya hutan

2) Masyarakat Baduy memiliki pengetahuan tradisi yang telah berlangsung sejak lama dan diwariskan secara turun temurun baik dalam pengelolaan hutan pemanfaatan hasil hutan atau dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang tersirat di dalam pikukuh karuhun.

23

No Penulis Judul Skripsi Kesimpulan

3 Golar Strategi Adaptasi Masyarakat Adat Toro Kajian Kelembagaan Lokal dalam Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumberdaya Hutan di Taman Nasional Lore Lindu Propinsi Sulawesi Tengah

1) Telah terjadi perubahan lingkungan yang disebabkan intervensi ekonomi pasar dan dinamika politik

2) Perubahan preferensi ekonomi masyarakat serta dinamika politik di Toro berimplikasi terhadap kestabilan sumberdaya hutan di Toro

3) Kelembagaan adat yang direvitalisasi telah dinilai baik berdasarkan kriteria Ostrom maupun criteria umum masyarakat Toro

4) Perubahan kelembagaan adat secara umum memiliki implikasi terhadap kelestarian pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hutan di Toro

5) Eksistensi sumberdaya hutan sangat penting bagi masyarakat Toro. Hal tersebut tercemin melalui pola hubungan yang kompleks antara masyarakat dengan sumberdaya hutan

2.5.2. Penelitian tentang Kolaboratif Manajemen

No Penulis Judul Skripsi Kesimpulan

1 Wulandari Implementasi Manajemen Kolaboratif Dalam Pengelolaan Ekowisata Berbasis Masyarakat (Studi Kasus Kampung Citalahab Sentral- Cikaniki, Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat)

1) Pelaksanaan Kolaborasi dalam program ekowisata berbasis masyarakat di kampung Citahab telah berada pada tahap ke tiga yaitu melaksanakan kesepakatan. Namun, kolaborasi hanya sebatas pelaksanaan saja dan belum diadakan kegiatan mereview kesepakatan. Selain itu juga belum adanya pelibatan stakeholder lain seperti dinas pariwisata dan swasta dalam pengembangan kesepakata. 2) Manfaat pengelolaan kolaboratif ekowisata

berbasis masyarakat di Kampung Citalahab meliputi manfaat ekonomi, sosial, dan manfaat ekologis. Manfaat ekonomi yaitu penyerapan tenaga kerja lokal sebagai penyedia home stay, pemandu lokal, porter dan juru masak. Manfaat sosial yaitu meningkatnya pengetahuan dan kemampuan masyarakat tentang ekowisata, pelestarian budaya lokal khususnya budaya sunda. Manfaat ekologisnya yaitu masyarakat ikut membantu Taman Nasional untuk menjaga sumberdaya alam yang ada dalam kawasan.

24

No Penulis Judul Skripsi Kesimpulan

2 Clara Christina Theresia

Efektivitas Pengelolaan Hutan Kolaboratif Antara Masyarakat Dengan Perum Perhutani (Kasus PHBM di KPH Kuningan dan KPH Majalengka Perum Perhutani Unit III Jawa Barat)

1) Telah terbangun kepercayaan (trust) antara pihak yang terlibat

2) Setiap pihak juga telah mengerti mengenai pembagian peran dan tanggung jawab

3) Kapasitas masing-masing pihak dinilai sudah dapat menunjang dalam pelaksanaan kegiatan PHBM

4) Pentingnya resiko sudah dipahami bahwa sudah terpenuhinya dana, pekerja, peralatan dan waktu dalam proses kolaborasi

III.KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Teoritis

3.1.1. Analisis Kelembagaan dan Pembangunan (Institutional Analysis and Development, IAD)

Analisis ini digunakan untuk mengetahui siapa saja pihak-pihak yang terlibat

di dalam sistem kelembagaan masyarakat adat Kasepuhan Cibedug dan peran yang

dijalankan serta aturan-aturan adat yang diterapkan pada Kasepuhan Cibedug. Teori

dasarnya berangkat dari fungsi kelembagaan sebagai alat (tool) untuk mengarahkan, mengharmoniskan, mensinergikan atau membatasi perilaku perilaku manusia (human behavior) yang cenderung mementingkan diri sendiri, opportunistis, dan lain-lain (Hidayat 2009). Perilaku manusia atau human behavior dapat diterangkan dengan tiga teori (Hidayat 2009), yaitu : (1) Ekonomi klasik / neoklasik memandang perilaku

manusia dipengaruhi oleh pasar, (2) Sosiologi dan politik melihat perilaku manusia

dari sudut pandang hirarki, dan (3) Ekonomi kelembagaan menerangkan perilaku

manusia dengan teori permainan tidak bekerjasama (non-cooperative game theory). Dalam analisis kelembagaan dan pembangunan (Institutional Analysis and Development, IAD) seperti dipaparkan Hidayat (2009), yang menjadi fokus analisis adalah perilaku manusia arena aksi (Arena Action, AA). Arena aksi dapat berupa suatu organisasi, masyarakat atau komunitas masyarakat (petani, nelayan, pesisir,

suatu bangsa, negara, dan lain-lain). Dalam Arena Action rule (aturan) memiliki peran penting sebagai faktor untuk mengharmoniskan hubungan antara karakteristik

fisik dunia dengan sifat masyarakat (nature of community). Rule akan mewarnai pola interaksi diantara individu dalam suatu arena yang terjadi. Pola ini seharusnya

berjalan dinamis untuk terus berupaya mencari pola interaksi terbaik dalam suatu

26 dan transformasi dari sumberdaya alam dan lingkungan yang mempengaruhi

keterkaitan aksi dengan outcome dan pengetahuan aktor. Jika rule (aturan) yang mengatur aktor dimana aksi utamanya adalah pemanfaatan sumberdaya hutan, maka

aturan yang dibentuk harus disesuaikan dengan sifat fisik dari hutan itu sendiri.

Kesalahan memahami karakteristik fisik akan kesalahan aturan main yang pada

gilirannya akan mempengaruhi hasil akhir (outcome). Attributes of community

didefinisikan sebagai norma perilaku, common understanding dari situasi aksi/arena, individual preferensi, dan alokasi/distribusi sumberdaya di kalangan anggota

komunitas yang dianggap penting dan mempengaruhi situasi aksi.

Dalam action arena atau arena aksi terdapat dua komponen (Hidayat 2009) yaitu :

1. Situasi aksi (action situation), merupakan ruang sosial (social space) tempat individu-individu berinteraksi mempertukarkan barang dan jasa, terlibat dalam

aktifitas pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam, memecahkan

permasalahan atau bersaing mengenai hal-hal yang setiap saat individu perbuat

dalam arena. Situasi ini bersifat continous, dinamis dan berubah sehingga sulit menentukan kapan suatu aksi mulai dan kapan berakhir. Situasi aksi meliputi

komponen yang antara lain :

a. Partisipan, merupakan aktor yang telah berpartisipasi dalam situasi aksi.

b. Posisi, tempat dimana partisipan berperan dalam situasi aksi, bisa sebagai

bos, pekerja, pedagang, pengguna sumberdaya alam, dan lain-lain.

c. Aksi, kegiatan yang dapat dilakukan oleh partisipan, misalnya menebang

27 d. Potensial outcome, sesuatu yang dapat dihasilkan dari suatu dan dampak

yang diakibatkan oleh aksi partisipan.

e. Fungsi transformasi, pemetaan aksi partisipan dengan outcome

f. Informasi, merupakan informasi yang tersedia bagi partisipan dimana

dengan informasi tersebut diharapkan partisipan dapat melakukan aksi

yang benar dan dapat memprediksi dari outcome tersebut.

g. Biaya dan manfaat.

2. Aktor merupakan individu-individu yang terlibat dalam situasi aksi yang

memiliki proferensi, kemampuan memproses informasi, kriteria seleksi dan

sumberdaya. Aktor meliputi komponen antara lain :

a. Preferensi, kesukaan atau kecenderungan aktor dalam merespon potensi

outcome yang terkadang sangat tergantung pada rasionalitasnya.

b. Kemampuan individu memproses informasi berdasarkan informasi yang

tersedia.

c. Individu selection criteria, kriteria yang dipakai oleh individu dalam membuat keputusan.

d. Sumberdaya individual, merupakan modal untuk dapat melakukan aksi.

Berdasarkan penjelasan diatas , maka dalam menganalisis kelembagaan pada

masyarakat adat Kasepuhan Cibedug TNGHS dapat dilihat melalui Gambar 2

28

Gambar 2. Diagram Teknik Analisis Kelembagaan dan Pembangunan (Institutional and Development Analysis) Kasepuhan Adat Cibedug, TNGHS

3.2. Kerangka Operasional

Kawasan hutan di Jawa Barat terutama di dalam kawasan Taman Nasional

Gunung Halimun-Salak selain menjadi kawasan pelestarian alam yang berfungsi

melestarikan keberadaan dari keanekaragaman hayati yang ada didalamnya juga

dimanfaatkan sebagai sumber penghidupan bagi masyarakat yang berada di sekitar

kawasan taman nasional maupun masyarakat adat kasepuhan yang berada di dalam

kawasan taman nasional. Bentuk pemanfaatannya berupa hasil hutan kayu dan non

kayu ataupun hasil dari jasa lingkungan dari hutan taman nasional tersebut, misalnya

sebagai penghasil sumber air bersih.

Kondisi Karakteristik Hutan TNGHS

(Attributes of physical world)

Alokasi SDH di masyarakat adat kasepuhan Cibedug (Attributes of community)

Aturan-aturan, nilai adat-adat yang digunakan oleh masyarakat adat kasepuhan

Aktor atau pihak-pihak masyarakat kasepuhan yang

terlibat dalam penggunaan SDH TNGHS Situasi aksi merupakan daerah adat masyarakat kasepuhan Cibedug TNGHS Arena aksi Pola interaksi yang dibentuk (pattern of interaction) Hasil dan dampak yang ditimbulkan dari arena aksi

di masyarakat kasepuhan terhadap SDH TNGHS Kriteria evaluasi

29 Masyarakat adat Kasepuhan Cibedug berdasarkan informasi dari penelitian

sebelumnya berada di dalam kawasan zona inti TNGHS (Aprianto 2008).

Masyarakat adat Kasepuhan Cibedug selain menempati kawasan zona inti untuk

bermukim, mereka juga melakukan pemanfaatan terhadap sumberdaya hutan didalam

zona inti TNGHS. Bentuk pemanfaatan sumberdaya hutan (SDH) oleh masyarakat

adat Kasepuhan Cibedug menimbulkan kekhawatiran bahwa aktifitas yang mereka

lakukan dapat menyebabkan terjadinya potensi perubahan kondisi sumberdaya hutan

TNGHS terutama didalam zona inti TNGHS yang secara aturan formal negara tidak

sesuai dengan Undang-Undang No 41 Tahun 1999 Pasal 33 Ayat 1.

Sebagai masyarakat adat yang selalu memegang teguh tradisi leluhur secara

turun-temurun, penentuan pembagian lahan SDH sudah tentu tidak dilakukan secara

sembarangan proses pengelompokkannya. Selain itu, dalam pengelompokkan lahan

SDH tersebut masyarakat adat juga mengelompokkan SDH yang dijaga

keberadaannya oleh mereka yaitu dalam leuweung titipan (hutan titipan) sehingga timbul sebuah hipotesis apakah benar dengan keberadaan masyarakat adat kasepuhan

Cibedug didalam kawasan zona inti TNGHS menyebabkan kemungkinan dapat

menimbulkan kerusakan terhadap sumberdaya hutan kawasan TNGHS.

Dengan menggunakan instrumen Institutional Analysis and Development

(IAD), penelitian ini akan coba menggambarkan bagaimana pembentukan aturan

main (rule) dan arena aksi yang terdapat di dalam masyarakat adat kasepuhan terhadap pemanfaatan yang dilakukan pada sumberdaya hutan serta potensi dampak

yang ditimbulkan dari arena aksi tersebut. Sistem pemanfaatan terhadap sumberdaya

30 menggunakan aturan formal perundang-undangan dengan tujuan melihat apakah

aturan adat Kasepuhan Cibedug sesuai dengan peraturan perundangan. Peraturan

perundangan yang digunakan mencakup aspek masyarakat adat beserta hak-hak yang

didapat, aspek pemanfaatan kawasan hutan, aspek pemanfaatan sumberdaya hutan

dan aspek sanksi. Peraturan perundangan yang digunakan yaitu dengan Undang-

Undang No 41 Tahun 1999, Peraturan Menteri Kehutanan No 56 Tahun 2006,

Undang-Undang No. 5 Tahun 1990, Peraturan Menteri Agraria No. 5 Tahun 1999,

Peraturan Pemerintah No 28 Tahun 2011 dan Peraturan Pemerintah No 6 Tahun

2007.

Konsep Ko-manajemen juga menjadi bahan analisis sebagai pertimbangan

untuk mengetahui apakah konsep ini bisa dijadikan rekomendasi pengelolaan di

TNGHS terhadap keberadaan masyarakat adat Kasepuhan Cibedug di dalam

kawasan TNGHS dengan aktifitas pemanfaatan sumberdaya hutan yang dilakukan

tanpa mengurangi fungsi taman nasional sebagai kawasan pelestarian alam. Secara

31 Keterangan :

Lingkup Penelitian

Gambar 3. Diagram Alir Kerangka Berpikir Operasional

Tidak Merusak Hutan

Taman Nasional Gunung Halimun-Salak Balai Taman Nasional

Gunung Halimun-Salak Masyarakat Adat Kasepuhan Cibedug Resort Cibedug TNGHS Pemanfaatan Sumberdaya Hutan TNGHS Pola Pemanfaatan Sumberdaya Hutan berdasarkan Adat Kasepuhan Cibedug Dasar Pengelolaan • UU No 41 Tahun 1999 • Permenhut No 56 Tahun 2006 • UU No 5 Tahun 1990 • Permen Agraria No 5 Tahun 1999 • PP No 28 Tahun 2011 • PP No 6 Tahun 2007

Sejalan dengan Aturan Formal

Analisis Kelembagaan

dengan IAD

Tidak Sejalan dengan Aturan Formal

Potensi Merusak Hutan

Ko-Manajemen Sebagai Salah Satu Konsep Pengelolaan

Pengelolaan Sumberdaya Hutan TNGHS secara Lestari

Stakeholder terkait:

a. Pemerintah Desa Citorek Barat

b. LSM RMI

a. Menyampaikan informasi mengenai urusan terhadap pemerintah desa

b. Mendokumentasikan aturan adat yang ada di Kasepuhan Cibedug

Mengawasi kawasan TNGHS dan menindak pelanggaran yang ada di kawasan TNGHS

Mengelola

Dimanfaatkan

IV.METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Tempat dan Waktu

Pengambilan data dilakukan di Kasepuhan Adat Cibedug, Desa Citorek

Barat, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Penentuan lokasi penelitian dilakukan

secara sengaja (purposive) karena wilayah Kasepuhan Cibedug terletak di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak serta melakukan pemanfaatan

terhadap sumberdaya hutan taman nasional. Waktu yang digunakan untuk

pengambilan data dilaksanakan pada bulan Juli 2011.

4.2. Jenis dan Sumber Data

Data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan

sekunder. Data primer dalam penelitian ini diperoleh dari wawancara secara

mendalam (depth interview) terhadap key person yang dianggap dapat mewakili

stakeholder terkait. Masyarakat Kasepuhan Cibedug diwakili oleh kepala adat dan

baris kolot Kasepuhan Cibedug, pemerintah setempat diwakili oleh kepala desa dan BPD Citorek Barat, serta pemerintah sebagai pemilik dan pengelola TNGHS diwakili

oleh kepala resort dan staf resort Cibedug TNGHS. Observasi juga dilakukan di

wilayah Kasepuhan Cibedug berfungsi untuk melihat secara langsung keadaan

lingkungan daerah penelitian, penerapan kearifan lokal dalam pemanfaatan

sumberdaya hutan oleh masyarakat serta mengamati tempat-tempat yang diceritakan

informan yang berkaitan dengan penelitian

Data sekunder diperoleh dari catatan berupa laporan penelitian atau arsip dari

lembaga-lembaga dan instansi terkait meliputi keadaan umum penelitian dan peta

ruang adat dari kasepuhan adat Cibedug ini serta aturan-aturan formal mengenai

33 Peraturan Menteri Kehutanan No 56 Tahun 2006, Undang-Undang No 5 Tahun 1990

dan Perarturan Menteri Agraria No 5 Tahun 1999.

4.3. Metode Pengambilan Data

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey.

Singarimbun (1989) menyebutkan survey adalah metode pengambilan sampel dari

suatu populasi dengan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang

pokok. Seorang peneliti dapat mengumpulkan data tertentu dengan memilih sampel

dari suatu populasi dengan menggunakan kuesioner yang telah disiapkan dengan

melakukan teknik survey.

Pengambilan data yang digunakan dalam wawancara akan menggunakan

teknik pendekatan informan kunci (Key Informant Approach). Menurut Rudito dan Femiola (2008) dalam pendekatan ini mencoba mengumpulkan data melalui orang-

orang tertentu yang dipandang sebagai pemimpin, pengambil keputusan atau juga

dianggap sebagai juru bicara dari kelompok atau komunitas yang jadi obyek

pengamatan, dan orang tersebut dianggap akan bisa memberikan informasi akurat

dalam mengidentifikasi masalah-masalah dalam komunitas tersebut. Orang-orang ini

merupakan atau dianggap sebagai pemimpin dari kelompok-kelompok orang dalam

komuniti atau masyarakat, dan biasanya diwakili oleh tokoh-tokoh informal, seperti

seseorang yang dianggap oleh anggota masyarakat atau komuniti lainnya sebagai ahli

agama, ahli adat kebiasaan dan ahli pemerintahan. Selanjutnya, wawancara secara

snowball juga dilakukan yakni jawaban yang diperoleh dari seorang informan kemudian dikembangkan dan dicari jawabannya pada informan lain yang dianggap

34 dapat menjelaskan permasalahan lebih lanjut. Berikut rincian jenis, sumber dan

analisis data yang akan dilakukan dalam penelitian ini disajikan dalam Tabel 2.

Tabel 2. Metode Pengumpulan dan Analisis Data

Tujuan Jenis Data Sumber Data Analisis Data

Melihat kesesuaian serta potensi dampak yang dihasilkan dari pemanfaatan SDH oleh masyarakat adat Kasepuhan Cibedug

Primer dan Sekunder 1. Aturan pembagian ruang adat 2. Aturan dalam pemanfaatan SDH 3. Aturan batasan pemanfaatan SDH 4. Aturan akses pemanfaatan SDH 5. Aturan formal perundangan yang berlaku dalam pemanfaatan SDH 6. Potensi dampak akibat pemanfaatan SDH 1. Wawancara dengan kepala adat Kasepuhan Cibedug 2. Aturan-aturan adat Kasepuhan Cibedug 3. Peraturan formal perundangan 4. UU No 41 tahun 1999 pasal 24, 37, 50, 67, 74, 75 dan 78 5. UU No 5 tahun 1990 pasal 26, 27 dan 33. 6. PP No 28 tahun 2011 pasal 35 7. PP No 6 tahun 2007 pasal 19 8. Permen Agraria No 5 tahun 1999 pasal 1 dan 2 9. Permenhut No 56 tahun 2006 pasal 5 1. Analisis Kesesuaian 2. Analisis Deskriptif Peranan Balai TNGHS serta Stakeholder terkait keberadaan Kasepuhan Cibedug

Primer dan Sekunder 1. Aktor kelembagaan 2. Aturan pengawasan pemanfaatan SDH 3. Aturan sanksi pemanfaatan SDH 4. Aturan penyelesaian konflik 1. Wawancara dengan kepala adat Kasepuhan Cibedug

2. Wawancara dengan Kepala dan Staf Resort Cibedug TNGHS 3. Laporan riset, studi,

penelitian oleh pihak lain seperti LSM atau peneliti 1. Institutional Analysis and Development 2. Analisis evaluasi kelembagaan 3. Analisis Deskriptif - Mengevaluasi kegiatan ko- manajemen yang telah terbangun antara TNGHS dan Kasepuhan Cibedug di dalam pengelolaan kawasan TNGHS

Primer dan Sekunder 1. Pertukaran informasi antara TNGHS dan Kasepuhan Cibedug 2. Penentuan keputusan di kawasan TNGHS 1. Wawancara dengan kepala adat Kasepuhan Cibedug

2. Wawancara dengan Kepala dan Staf Resort Cibedug TNGHS 3. Aturan pengawasan pemanfaatan SDH 4. Aturan sanksi pemanfaatan SDH 5. Aturan penyelesaian konflik 1. Analisis evaluasi kelembagaan 2. Analisis Deskriptif

35

4.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data

Data yang akan dikumpulkan antara lain adalah data kualitatif yang berasal

dari data kelembagaan yang terdapat di Kasepuhan adat Cibedug mencakup deskripsi

situasi aksi (action situation), aktor (actor) dan tata cara aturan-aturan adat yang mereka terapkan dalam kasepuhan. Setelah data-data tersebut terkumpul kemudian

digunakan untuk dianalisis dengan menggunakan Institutional Analysis and Development (IAD) mengenai bentuk kelembagaan yang diterapkan dalam masyarakat adat Kasepuhan Cibedug. Setelah dilakukan analisis kelembagaan,

selanjutnya dilakukan analisis evaluasi dari sistem pengelolaan pemanfaatan yang

dilakukan oleh masyarakat adat Kasepuhan Cibedug. Selanjutnya peraturan

perudangan digunakan untuk menganalisis keseuaian aturan adat Kasepuhan