a. Tinjauan tentang inisiatif dan Mekanisme Pengungkapan Kebenaran
Kotak 2: Pembunuhan Munir
4. Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP)
Karena adanya tekanan dari Komisi Ahli PBB tentang mekanisme peradilan untuk mengatasi 38 Keputusan Presiden No. 181 tahun 1998 tentang Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan.
39 Hasil diskusi dengan anggota Komnas Perempuan, 16 Desember 2008.
40 Beberapa dokumen ini tersedia di situs Komnas Perempuan, termasuk dua laporan tentang perempuan dalam konflik di Aceh (2006): Komnas Perempuan, Sebagai Korban Juga Survivor, (2006), http://www.komnasperempuan.or.id/2010/08/ pelaporan-khusus-untuk-aceh-sebagai-korban-juga-survivor; Komnas Perempuan, Kondisi Tahanan Perempuan di Nanggroe Aceh Darusalam, (2009), http://www.komnasperempuan.or.id/2010/09/kondisi-tahanan-perempuan-di-nanggroe-aceh-darusalam; juga laporan berdasarkan testimoni lebih dari 120 perempuan korban yang dikumpulkan oleh kelompok masyarakat sipil dan menemukan adanya kejahatan terhadap kemanusiaan berbasis gender pada tahun 1965: Komnas Perempuan, Kejahatan Terhadap Kemanusiaan Berbasis Jender: Mendengarkan Suara Perempuan Korban Peristiwa 1965, (2007), http://www.komnasperempuan.or.id/2010/08/mendengar-suara-perempuan-korban-peristiwa-1965-2: Komnas Perempuan juga mengluarkan laporan yang menelaah situasi korban 10 tahun setelah Peristiwa Mei; Komnas Perempuan, Saatnya Meneguhkan Rasa Aman: Langkah Maju Pemenuhan Hak Perempuan Korban Kekerasan Seksual dalam Kerusuhan Mei 1998, (2008), http://www.komnasperempuan.or.id/2010/09/saatnya-meneguhkan-rasa-aman/; dan laporan tentang kekerasan terhadap perempuan di Papua sejak 1963 sampai 2009; Komnas Perempuan, Stop Sudah: Kesaksian Perempuan Papua Korban Kekerasan dan Pelanggaran HAM, (2010), http:// www.komnasperempuan.or.id/2010/10/stop-sudah-kesaksian-perempuan-papua-korban-kekerasan-dan-pelanggaran-ham-1963-2009. Laporan itu diluncurkan dan diserahkan kepada presiden pada November 2009. Beberapa korban juga memberikan testimoni dalam acara ini, “Victims of Violence Celebrate Komnas Perempuan’s Anniversary with SBY (Korban Pelanggaran HAM Merayakan Hari Jadi Komnas Perempuan Bersama SBY),” Jakarta Post, 30 November 2009, http://www.thejakartapost.com/news/2009/11/30/victims-violence-celebrate-komnas-perempuan039s-anniversary-with-sby.html
kejahatan yang dilakukan di Timor Timur pada tahun 1999,41 pemerintah Indonesia dan Timor-Leste pada bulan Agustus 2005 membentuk komisi kebenaran bilateral yang disebut Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP). KKP, terdiri dari sepuluh Komisaris (5 dari masing-masing negara), didukung oleh sekretariat yang anggotanya sebagian besar ditunjuk dari Kementrian Luar Negeri Indonesia. Pendirian komisi yang melibatkan lebih dari satu negara merupakan hal yang baru pertama kali terjadi.
KKP tidak diberi mandat untuk melakukan penelitian sendiri. KKP diberi tugas untuk meninjau temuan dari empat mekanisme sebelumnya yaitu: Panel Khusus untuk Kejahatan Berat di Dili, pengadilan ad hoc di Jakarta yang mendapat kritik dari masyarakat sipil, hasil penyelidikan KPP-HAM Timor Timur, dan laporan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor-Leste (CAVR). Dari tinjauan ini, KKP ditugaskan untuk menemukan “kebenaran akhir” dari apa yang telah terjadi dan membuat rekomendasi untuk menjamin ketidakberulangan. Komisi juga memiliki kekuatan untuk merekomendasikan amnesti bagi mereka yang “bekerja sama sepenuhnya untuk mengungkap kebenaran” dan merekomendasikan rehabilitasi bagi mereka yang “dituduh secara salah” sebagai pelaku kejahatan serius.42 Mandat yang ganjil ini menyulut kritik dari kelompok
41 Mekanisme yang dimaksud termasuk Pengadilan ad hoc di Jakarta dan penyelidikan kejahatan berat di Timor-Leste. 42 Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP), Terms of Reference, Agustus 2005, pasal 14, http://www.deplu.go.id/Pages/
News.aspx?IDP=41 &l=en.
Jakarta, indonesia. Masyarakat dan keluarga korban Peristiwa Mei 1998 memperingati Lima Tahun Tragedi 13-14 Mei
pembela HAM yang menilai bahwa proses KKP dimaksudkan untuk melanggengkan penolakan atas pertanggungjawaban pemerintah Indonesia .43
Walaupun tidak memiliki mandat untuk menyelenggarakan dengar pendapat, KKP tetap melakukan hal tersebut. Namun format dengar pendapat ini justru memberikan kesempatan kepada orang yang diduga menjadi pelaku untuk memberikan kesaksiannya dengan diliput oleh televisi dan media secara luas tanpa disertai pemeriksaan silang atau dikonfrontir dengan bukti-bukti yang berbicara sebaliknya yang dipegang oleh KKP. Komisi kebenaran dan rekonsiliasi biasanya memberi ruang kepada korban atau saksi untuk bicara dengan terbuka kepada publik tanpa sanggahan. Namun membiarkan orang yang diduga sebagai pelaku untuk menggunakan model ini sangatlah tidak biasa, bahkan tidak pantas.
Banyak pihak yang sebelumnya mengecam KKP dan menganggapnya sebagai upaya cuci tangan menjadi terkejut dengan laporan akhir KKP, yang menyebutkan temuan bahwa:
• Kejahatan terhadap kemanusiaan termasuk pembunuhan, penyiksaan, perkosaan dan pemindahan paksa atau deportasi terjadi di seluruh wilayah di Timor Timur pada tahun 1999 • Kejahatan ini tidak dilakukan secara spontan ataupun acak dan bukan merupakan tindakan
balas dendam
• Pelaku utama kejahatan adalah kelompok milisi, yang menyasar para pendukung kemerdekaan. Milisi tersebut bertindak dengan dukungan dan keterlibatan militer Indonesia, polisi serta otoritas sipil
• Dukungan militer, polisi dan penguasa sipil kepada kelompok milisi termasuk dengan memberikan uang, makanan dan persenjataan. Semua ini dilakukan secara sistematis, dengan pengetahuan bahwa kelompok yang menerima dukungan tersebut melakukan pelanggaran HAM berat.
Laporan tersebut diterima oleh Presiden Timor-Leste dan Indonesia. Bagi Indonesia, penerimaan ini memutarbalikkan sikapnya yang semula menolak pertanggungjawaban. Walaupun bukan bukan berita baru bagi rakyat Timor-Leste, kebanyakan rakyat Indonesia menganggap hal ini sebagai sesuatu yang baru. Sebelumnya, rakyat Indonesia hanya mendengar penjelasan sepihak yang menyalahkan PBB dan kelompok pro-independen, sebagaimana yang ditayangkan berulang-ulang dalam beragam liputan di layar media televisi nasional. Namun temuan komisi ini jelas menunjukkan bahwa penjelasan tersebut bias.
Hal yang patut dicatat adalah penolakan KKP untuk merekomendasikan amnesti dengan alasan bahwa, “amnesti tidak akan konsisten dengan tujuan Komisi untuk memulihkan martabat
43 Statemen bersama yang dikeluarkan oleh KontraS, ELSAM, Solidamor, HRWG, PBHI, Imparsial, PEC, ICTJ Indonesia, YLBHI, dan Forum Asia, “Commission of Truth and Friendship – A Stage Play for Human Rights Abusers (Komisi Kebenaran dan Persahabatan – Panggung Permainan bagi Pelaku Pelanggaran HAM),” 23 Maret 2007, http://www. forum-asia.org/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=506.
manusia, menciptakan landasan bagi rekonsiliasi diantara kedua negara, dan memastikan tidak terulangnya kekerasan di dalam kerangka yang dijamin supremasi hukum.”44
Tetapi tanggapan positif terhadap laporan KKP itu segera meredup dan berubah menjadi kekecewaan. Tidak adanya tindak lanjut konkrit meningkatkan kekhawatiran bahwa pemerintah kedua negara menggunakan KKP sebagai alasan untuk menutup pintu bagi langkah selanjutnya, melindungi pelaku atas nama “rekonsiliasi”.