• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori yang Berkenaan dengan Variabel yang Diambil

5. Komite Audit

Pengertian Komite Audit menurut Komite Nasional Kebijakan

Governance dalam Pedoman Umum Good Corporate Governance

Indonesia 2006 yaitu sekelompok orang yang dipilih oleh kelompok yang lebih besar untuk mengerjakan pekerjaan tertentu atau untuk melakukan tugas-tugas khusus atau sejumlah anggota Dewan Komisaris perusahaan

21 klien yang bertanggungjawab untuk membantu auditor dalam mempertahankan independensinya dari manajemen.

Berikut ketentuan dan peraturan mengenai Komite Audit sebagai berikut:

a. Surat Edaran BAPEPAM No.SE-03/PM/2000 tentang pelaksanaan pembentukan Komite Audit bagi perusahaan go-public.

b. Keputusan Direksi BEJ No.Kep-339/BEJ/07-2001 tentang aturan jumlah dan kualifikasi keanggotaan Komite Audit.

c. Surat Keputusan Ketua BAPEPAM No.Kep-412/PM/2003 mengenai pedoman pembentukan Komite Audit.

d. Kep-117/M-MBU/2002 mewajibkan BUMN memiliki Komite Audit. e. Peraturan No.IX.1.5 mengenai pembentukan dan pedoman

Pelaksanaan Kerja Komite Audit dalam Lampiran Keputusan Ketua BAPEPAM No.29/PM/2004.

Dewan Komisaris umumnya membentuk komite-komite di bawahnya sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan peraturan perundangan yang berlaku untuk membantu Dewan Komisaris dalam melaksanakan tanggung jawab dan wewenangnya secara efektif. Komite yang dibentuk oleh Dewan Komisaris tersebut adalah Komite Audit, Komite Kebijakan Risiko, Komite Remunerasi dan Nominasi, dan Komite Kebijakan Corporate Governance. Namun, menurut peraturan BEJ Nomor KEP-339/BEJ/07-2001, yang sifatnya wajib dimiliki oleh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek hanya Komite Audit.

22 Peran dan tanggungjawab Komite Audit menurut Komite Nasional Good Corporate Governance (KNGCG, 2002) yaitu:

a. Pelaporan Keuangan

Peran dan tanggung jawab Komite Audit dalam pelaporan keuangan: 1) Pengawasan atas proses pelaporan keuangan dengan menekankan

agar standar dan kebijaksanaan keuangan yang berlaku terpenuhi. 2) Memeriksa ulang laporan keuangan apakah sudah sesuai dengan

standar dan kebijaksanaan tersebut dan apakah sudah konsisten dengan informasi lain yang diketahui oleh anggota Komite Audit. 3) Mengawasi audit laporan keuangan eksternal dan menilai mutu

pelayanan dan kewajaran biaya yang diajukan auditor eksternal. b. Manajemen Risiko dan Kontrol

Dalam hal manajemen risiko dan kontrol, peran dan tanggung jawab Komite Audit adalah:

1) Mengawasi proses manajemen risiko dan kontrol, termasuk identifikasi risiko dan evaluasi kontrol untuk mengecilkan risiko. 2) Mengawasi laporan auditor internal dan auditor eksternal untuk

memastikan bahwa semua bidang kunci risiko dan kontrol diperhatikan.

3) Menjamin bahwa pihak manajemen melaksanakan semua rekomendasi yang terkait dengan risiko dan kontrol, yang dibuat oleh auditor internal dan auditor eksternal.

23

c. Corporate Governance

Tanggungjawab Komite Audit di bidang corporate governance adalah memberikan kepastian bahwa perusahaan tunduk pada undang-undang dan peraturan yang berlaku, dan mempertahankan kontrol yang efektif terhadap benturan kepentingan pegawai. Peran dan tanggung jawab Komite Audit harus termasuk juga:

1) Mengawasi proses corporate governance

2) Memastikan bahwa manajemen senior membudayakan GCG

3) Mengerti semua pokok persoalan yang mungkin dapat mempengaruhi kinerja finansial atau non-finansial perusahaan

4) Memonitor bahwa perusahaan tunduk pada tiap undang-undang dan peraturan yang berlaku

5) Mengharuskan auditor internal melaporkan secara tertulis hasil pemeriksaan corporate governance dan temuan lainnya

Struktur Komite Audit di Indonesia diatur dalam Keputusan Ketua BAPEPAM Nomor Kep-41/PM/2003 tentang Peraturan Nomor IX.I.5: Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit adalah sebagai berikut:

a. Anggota Komite Audit diangkat dan diberhentikan oleh Dewan Komisaris dan dilaporkan kepada Rapat Umum Pemegang Saham. b. Anggota Komite Audit yang merupakan komisaris independen

24 independen yang menjadi anggota Komite Audit lebih dari satu orang maka salah satunya bertindak sebagai ketua Komite Audit.

Rekomendasi yang dibentuk oleh Forum for Corporate Governance in Indonesia 2002 adalah penting bahwa perusahaan harus memperhatikan karakteristik yang dimiliki oleh setiap anggota Komite Auditnya. Hal ini disebabkan karakteristik komite akan berpengaruh pada peran Komite Audit dalam pemberian bantuan kepada Dewan Komisaris dalam melaksanakan tugasnya tentang pengendalian internal dan pelaporan keuangan dan manajemen.

Persyaratan keanggotaan Komite Audit sesuai dengan Keputusan Ketua BAPEPAM Nomor Kep-29/PM/2004 sebagai berikut: a. Memiliki intregitas yang tinggi, kemampuan, pengetahuan dan

pengalaman yang memadai sesuai dengan latar belakang pendidikannya, serta mampu berkomunikasi dengan baik.

b. Salah seorang dari anggota Komite Audit memiliki latar belakang pendidikan akuntansi atau keuangan.

c. Memiliki pengetahuan yang memadai tentang peraturan perundang- undangan di bidang pasar modal dan di bidang lainnya.

d. Bukan merupakan orang dari KAP, kantor konsultan hukum, atau pihak lain yang memberikan jasa audit, jasa non-audit, atau jasa konsultasi lain kepada perusahaan dalam enam bulan terakhir.

25 e. Bukan orang yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab dalam merencanakan, memimpin, atau mengendalikan kegiatan perusahaan dalam waktu enam bulan terakhir.

f. Tidak memiliki saham di perusahaan.

g. Tidak memiliki hubungan keluarga karena perkawinan dan keturunan dengan komisaris, direksi atau pemegang saham utama perusahaan.

h. Tidak memiliki hubungan usaha, baik langsung maupun tidak langsung, yang berkaitan dengan kegiatan usaha perusahaan.

a. Independensi Komite Audit

Menurut Sukrisno (2012), Independensi artinya tidak mudah dipengaruhi, karena auditor melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa auditor tidak dibenarkan memihak kepada kepentingan siapa pun, sebab bagaimanapun sempurnanya keahlian teknis yang dimiliki, auditor akan kehilangan sikap tidak memihak yang justru sangat penting untuk mempertahankan kebebasan pendapatanya.

Pengertian independensi juga terdiri dari tiga jenis yaitu:

1) Independensi dalam penampilan (Independent In Appearance) merupakan independensi yang selama bertugas selalu menghindari keadaan yang dapat menyebabkan pihak lain meragukan independensinya.

26 2) Independensi dalam kenyataan/fakta (Independent In Fact) merupakan sikap auditor dalam menjalankan tugasnya selalu mematuhi kode etik internal auditor dan professional framework of internal auditor.

3) Independensi dalam pikiran (Independent In Mind) merupakan sudut pandang keahlian terkait erat dengan kecakapan professional auditor.

Dari ketiga pengertian diatas dapat dijelaskan bahwa independensi yaitu sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, serta tidak bergantung pada orang lain. Independensi juga berarti adanya kejujurean dalam mempertimbangkan fakta dan adanya pertimbangan objektif. Independensi anggota Komite Audit dapat dilihat dari persyaratan keanggotaan Komite Audit, seperti tertuang dalam Peraturan No. IX.1.5 tentang pembentukan dan pedoman pelaksanaan kerja Komite Audit, lampiran ketua Bapepam No. 29/PM/2000.

Menurut Islahuzzaman (2012), Independensi adalah: “Auditor yang independen adalah auditor yang tidak dipengaruhi oleh berbagai kekuatan yang berasal dari luar diri auditor dalam mempertimbangkan fakta yang dijumpainya dalam audit. Independensi lebih banyak ditentukan faktor luar diri auditor.”

Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa auditor dalam penugasannya harus menahan diri dari kegiatan-kegiatan yang

27 menimbulkan konflik kepentingan atau menimbulkan prasangka yang meragukan untuk dapat melaksanakan tugas dan profesinya secara objektif.

b. Keahlian Komite Audit

Keahlian Komite Audit merupakan professional yang mempunyai latar belakang pendidikan dan berpengalaman dalam bidang akuntansi dan auditing. Menurut Hiro Tugiman (2006) Peningkatan keahlian internal auditor secara signifikan dilakukan memalui program sertifikasi profesi, baik sertifikasi tingkat nasional maupun internasional.

Berdasarkan pendapat di atas untuk pengembangan keahlian Komite Audit dibutuhkan pelatihan, namun tetap mengikuti perkembangan zaman dan terus menjaga tingkat kemampuannya salama karier profesinya. Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Nomor: PER-211/K/JF/2010 tentang standar keahlian auditor bahwa keahlian auditor adalah ukuran kemampuan minimal yang harus dimiliki auditor yang mencakup aspek pengetahuan (knowledge), keterampilan/keahlian (skill), dan sikap perilaku (attitude) untuk dapat melakukan tugas-tugas dalam jabatan fungsional auditor dengan hasil baik.

Berdasarkan keputusan diatas seorang auditor diakatakan kompeten jika memiliki pengetahuan, keterampilan/keahlian, dan sikap perilaku yang sesuai dengan peraturan yang telah ditentukan agar dapat

28 melakukan tugas-tugasnya dengan baik. Keahlian seseorang juga memiliki pengaruh positif terhadap pekerjaan yang dilakukannya yaitu sejauh mana peran orang itu dapat dinilai sebagai individu dalam pengambilan keputusan dan efektif dalam penyelesaian pekerjaannya. c. Frekuensi Rapat Komite Audit

Dalam setiap audit committee charter yang dimiliki oleh masing-masing anggota, Komite Audit akan mengadakan pertemuan untuk rapat secara periodik dan dapat mengadakan rapat tambahan atau rapat-rapat khusus bila diperlukan. Pertemuan secara periodik ini sebagaimana ditetapkan oleh Komite Audit sendiri dan dilakukan sekurang-kurangnya sama dengan ketentuan rapat Dewan Komisaris yang ditentukan dalam anggaran dasar perusahaan. Komite Audit biasanya perlu untuk mengadakan pertemuan tiga sampai empat kali dalam satu tahun untuk melaksanakan kewajiban dan tanggungjawabnya (FCGI, 2002).

Komite Audit juga dapat mengadakan pertemuan eksekutif dengan pihak-pihak luar keanggotaan Komite Audit yang diundang sesuai dengan keperluan atau secara periodik. Pihak-pihak luar tersebut antara lain komisaris, manajemen senior, kepala auditor internal dan kepala auditor eksternal. Hasil rapat Komite Audit dituangkan dalam risalah rapat yang ditandatangani oleh semua anggota Komite Audit.

Ketua komite audit bertanggung jawab atas agenda dan bahan- bahan pendukung yang diperlukan serta wajib melaporkan aktivitas

29 pertemuan Komite Audit kepada Dewan Komisaris. Apabila Komite Audit menemukan hal-hal yang diperkirakan dapat mengganggu kegiatan perusahaan, Komite Audit wajib menyampaikannya kepada Dewan Komisaris selambat-lambatnya sepuluh hari kerja.

Laporan yang dibuat dan disampaikan Komite Audit kepada komisaris utama adalah:

1) Laporan triwulanan mengenai tugas yang dilaksanakan dan realisasi program kerja dalam triwulan bersangkutan.

2) Laporan tahunan pelaksanaan kegiatan Komite Audit.

3) Laporan atas setiap penugasan khusus yang diberikan oleh Dewan Komisaris.

Dalam laporan Komite Audit kepada Dewan Komisaris, Komite Audit memberikan kesimpulan dari diskusi dengan auditor eksternal tentang temuan mereka yang berhubungan dengan peninjuan tengah tahun dan laporan keuangan tahunan, rekomendasi atas pengangkatan auditor eksternal dan setiap masalah pengunduran diri, penggantian dan pemberhentian perikatannya, kesimpulan tentang nilai fungsi audit internal dan tanggapan atas penemuan audit internal, serta kesimpulan atas kinerja sistem kontrol internal. Pertemuan Komite Audit berfungsi sebagai media komunikasi formal anggota Komite Audit dalam mengawasi proses corporate governance, untuk memastikan bahwa manajemen senior membudayakan corporate governance, memonitor bahwa perusahaan patuh pada code of conduct, mengerti semua pokok

30 persoalan yang mungkin dapat mempengaruhi kinerja keuangan atau non-keuangan perusahaan, memonitor bahwa perusahaan patuh pada tiap undang-undang dan peraturan yang berlaku, dan mengharuskan auditor internal melaporkan secara tertulis hasil pemeriksaan corporate governance dan temuan lainnya.

d. Ukuran Komite Audit

Ukuran Komite Audit merupakan salah satu karakteristik yang mendukung efektifitas kinerja Komite Audit dalam suatu perusahaan. Destika (2011) menyatakan bahwa karakteristik Komite Audit yang mendukung fungsi pengawasan terhadap manajemen (agen) agar tidak merugikan pemilik perusahaan (prinsipal) adalah ukuran Komite Audit. Karena dengan semakin besarnya ukuran Komite Audit akan meningkatkan fungsi monitoring pada Komite Audit terhadap pihak manajemen.

Siswanto Sutojo (2005) dalam Ristifani (2009) menyatakan bahwa Komite Audit harus beranggotakan lima orang, diangkat untuk masa jabatan lima tahun. Dua diantara lima orang anggota tersebut pernah menjadi akuntan publik. Tiga orang anggota yang lain bukan akuntan publik. Ketua komite audit dipegang oleh salah seorang anggota Komite akuntan publik, dengan syarat selama lima tahun terakhir mereka tidak berprofesi sebagai akuntan publik. Ketua dan anggota Komite Audit tidak diperkenankan menerima penghasilan dari perusahaan akuntan publik kecuali uang pensiun.

31 Sedangkan Task Force Komite Audit yang dibentuk oleh Komite Nasional Good Corporate Governance dan diwakili tim kerja dari FCGI untuk menyusun Pedoman Pembentukan Komite Audit yang Efektif tanggal 30 Mei 2002 sebagai berikut :

1) Dewan Komisaris harus membentuk suatu Komite Audit.

2) Harus ada ketentuan-ketentuan tertulis yang mengatur dengan jelas kewenangan dan tugas Komite Audit.

3) Tugas utama Komite Audit termasuk pemeriksaan dan pengawasan tentang proses pelaporan keuangan dan kontrol internal.

4) Anggota Komite Audit harus diangkat dari anggota Dewan Komisaris yang tidak melaksanakan tugas-tugas eksekutif dan paling sedikit terdiri dari tiga anggota.

Keanggotaan Komite Audit diatur dalam Surat Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia Nomor Kep-339/BEJ/07/2001 bagian C, yaitu sekurang-kurangnya terdiri dari 3 orang anggota.

Dalam rekomendasi yang dibentuk oleh Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI, 2002) adalah penting bahwa perusahaan harus memperhatikan karakteristik yang dimiliki oleh setiap anggota Komite Auditnya. Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan di Indonesia khususnya yang terdaftar di BEI harus memiliki Komite Audit dengan anggota minimal 3 orang yang dibentuk oleh Dewan Komisaris perusahaan. Komite Audit berfungsi juga untuk membantu Dewan Komisaris dalam melakukan pengawasan internal,

32 untuk itu Komite Audit bertanggung jawab kepada Dewan Komisaris dalam melaksanakan wewenang dan tugasnya.

Dokumen terkait