• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komitmen Pemerintah Daerah (Subsidi/Hibah/Program) Untuk Pengembangan Energi Terbarukan

Nilai rata-rata Capaian Aspek Kognitif

E. Komitmen Pemerintah Daerah (Subsidi/Hibah/Program) Untuk Pengembangan Energi Terbarukan

Komitmen/subsidi/hibah untuk pemenuhan kebutuhan energy dan pengembangan energi terbarukan tergantung kebijakan masing-masing wilayah dan potensi energi terbarukan yang dimiliki oleh wilayah tersebut. Di Nusa Penida misalnya, karena memiliki potensi arus energi yang cukup besar, maka pada tahun 2009 sudah diberi insentif terhadap pengembangan energi arus dalam bentuk penyedian turbin untuk energi arus. Selain itu, dari beberapa lembaga penelitian dan pengembangan sudah mulai melakukan identifikasi untuk pengembangan energi arus di Nusa Penida. Adapun lembaga penelitian tersebut adalah dari BPPT, Litbang ESDM, dan Litbang Teknologi Kelautan KKP. Namun insentif tersebut baru pada tahap identifikasi pengembangan energi arus, memang sudah ada bentuk penyediaan turbin, tapi saat ini sudah tidak bisa digunakan lagi.

Tabel 4.37. Tingkat Kepentingan Optimasi Pengembangan Energi Terbarukan di Bawean

Keterangan Sidogedungbatu X

Potensi Energi Besar Sedang

Komitmen Pemda Cukup Kurang

Partisipasi Masyarakat Sedang Rendah

Potensi Konsumen Besar Sedikit

Subsidi Ada Ada

Sumber: Data Primer Diolah, 2013

Komitmen pemerintah pusat dalam hal pengembangan energi arus baru sebatas pada tahap penelitian di Nusa Penida, namun komitmen Pemda untuk pengembangan energi arus tidak ada. Komitmen Pemda baru sebatas pemenuhan kebutuhan listrik dari PLN di Nusa Lembongan

Kajian Sosial Ekonomi Pengembangan dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan di Sektor KP 82 untuk kebutuhan wisata. Pada tahun 2013 sudah dipasang kabel bawah laut untuk pemerataan distribusi pada pulau-pulau kecil dan pengembangan wisata. Hal ini berarti, selama masih ada komponen subsidi pada PLN maka pengembangan energi terbarukan khususnya energi arus masih sulit dilakukan.

Sedangkan komitmen Pemda untuk pemenuhan kebutuhan listrik di Raja Ampat cukup besar baik itu pengembangan energy solar atau energy terbarukan lainnya (Surya) jika dibandingkan dengan Nusa Penida. Misalnya untuk pengembangan energi surya, Pemda sudah mengembangkan energi surya dengan memberikan bantuan panel surya pada masing-masing pulau yang menjadi lokasi Penelitian.

Gambar 4.21. Prioritas Wilayah Pengembangan Energi di Kabupaten Gresik

Besarnya komitmen pemerintah terhadap pemenuhan kebutuhan energi dan pengembangan energi terbarukan tidak terlepas dari status Otonomi Daerah yang disandang Raja Ampat, dimana mereka memiliki anggaran yang cukup besar untuk pemerataan wilayah. Tidak hanya mengembangkan energi surya, tapi juga memberikan bantuan diesel untuk kebutuhan listrik setiap pulau. Bahkan di Kapisawar untuk kebutuhan solar dari diesel tersebut diambilkan dari dana adat yang diperoleh dari retribusi kapal pesiar yang masuk ke wilayah tersebut, dimana masing-masing kapal pesiar wajib menyediakan 100 liter solar setiap masuk ke wilayah Raja Ampat. Namun untuk pengembangan energy arus pihak Pemda belum mengetahui potensi yang dimiliki Raja Ampat, meskipun untuk Raja Ampat sudah ada BUMD yang mengurus masalah penyedian

0,020 0,040 0,060 0,080 0,100 0,120 0,140 0,160 0,180 0,200 Sidogedong Batu Sungai Teluk

Kajian Sosial Ekonomi Pengembangan dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan di Sektor KP 83 kebutuhan energy dan pengembangan energy terbarukan. PLN misalnya, sudah menjadikan energy surya sebagai sumber energy terbarukan mereka dengan membangun banyak panel surya di Pulau Saonek.

Gambar 4.22. Nilai Prioritas Wilayah Pengembangan Energi di Kabupaten Gresik Tingginya kepedulian Pemda Raja Ampat terhadap pemenuhan kebutuhan energy masyarakat dan pengembangan energy terbarukan juga disebabkan status sosial ekonomi masyarakat di masing-masing lokasi penelitian di Raja Ampat masih berstatus desa swadaya. Secara ekonomi masyarakat di desa yang dikunjungi untuk Kecamatan Waigieo Selatan masih masuk kategori desa kategori 1 yaitu masih termasuk desa swadaya. Ada pun desa yang dikunjungi adalah desa Saonek, Yenbeser, dan Saporkren. Desa swadaya berbeda statusnya dengan desa swasembada atau desa swakarya, dimana program pembangunan masih tergantung dengan dana pemerintah. Berdasarkan definisi dari Badan Pusat Statistik Raja Ampat (2012), Desa Swadaya adalah Desa yang memiliki potensi tertentu tetapi dikelola dengan sebaik-baiknya, dengan ciri daerahnya terisolir dengan daerah lainya, penduduknya jarang, mata pencaharian bersifat homogen, masyarakat memegang teguh adat, sarana dan prasarana sangat kurang. Ada pun status desa tersebut terlihat pada tabel di bawah ini.

0,10 0,20 0,30 0,40 0,50 0,60 0,70 0,80 0,90 1,00

Kajian Sosial Ekonomi Pengembangan dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan di Sektor KP 84 Tabel 4.38. Status Kemandirian Ekonomi Desa Terkait Subsidi Pemerintah di Kecamatan Waigio

Selatan

No. Desa Swadaya Swakarya Swasembada

1. Saonek √ − − 2. Friwen √ − − 3. Yenbesar √ − − 4. Saprokren √ − − 5. Wawiyai √ − − JUMLAH 5

Sumber : BPS Kabupaten Raja Ampat, 2012

Ketergantungan ekonomi masyarakat pada bantuan bisa terlihat jumlah bantuan yang diberikan pemerintah daerah dan pemerintah pusat, dimana ini menguatkan definisi kalau desa yang dikunjungi di Waigeo Selatan adalah baru masuk pada kategori swadaya dimana secara ekonomi untuk membangun infrastrukturnya masih tergantung penuh pada dana Pemda, termasuk salah satunya pemenuhan kebutuhan energy dan pengembangan energy terbarukan. Untuk memenuhi kebutuhan pembangunan pada tingkat Desa di Kecamatan Waigeo Selatan termasuk salah satunya adalah pemerataan energy dan pengembangan energy terbarukan, setiap tahun diturunkan bantuan dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Papua Barat, dan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat. Hal inilah yang menyebabkan perhatian Pemda Papua terhadap pemenuhan kebutuhan energy dan pengembangan energy terbarukan lebih besar ketimbang di Nusa Penida.

Tabel 4.39. Tingkat Kepentingan Optimasi Pengembangan Energi Terbarukan di NTT

Keterangan Lamahala Kolaka

Potensi Energi Sedang Tinggi

Komitmen Pemda Cukup Cukup

Partisipasi Masyarakat Sedang tinggi

Potensi Konsumen Rendah Tinggi

Subsidi Ada Ada

Sumber: Data Primer Diolah, 2013

Hal ini untuk meyakinkan kepada masyarakat bahwa betapa besarnya perhatian pemerintah atas pembangunan yang ada di Desa (BPS Raja Ampat, 2012). Nilai bantuan yang diterima pada tahun 2011 disajikan seperti pada Grafik diatas. Dimana penggunaan bantuan tersebut salah satunya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan listrik dan pengembangan energi terbarukan dengan menyediakan diesel dan panel surya di masing-masing pulau. Namun untuk pengembangan energi arus Pemda belum mengetahui potensi arus, bukan berarti tidak ada komitmen dari Pemda untuk pengembangan energi arus. Jika dilihat dari komitmen Pemda terhadap pengembangan energi terbarukan, maka komitmen Pemda terhadap pengembangan energi arus cukup besar.

Kajian Sosial Ekonomi Pengembangan dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan di Sektor KP 85

Sumber: BPS Kabupaten Raja Ampat, 2012

Gambar 4.23. Subsidi Pemerintah Untuk Pembangunan Infratsruktur di Kecamatan Waigio Selatan

Begitu pun desa lokasi penelitian yang ada di Kecamatan Meosmansar, secara ekonomi masyarakat di desa yang dikunjungi untuk Kecamatan ini masih masuk kategori desa kategori 1 yaitu masih termasuk desa swadaya. Ada pun desa yang dikunjungi adalah desa Kapisawar dan dan desa Sawingray. Artinya, program pembangunan termasuk program pemerataan energy dan pengembangan energy terbarukan masih tergantung dengan dana pemerintah di desa Kapisawar dan Sawingray, ada pun status desa tersebut terlihat pada Tabel 4.40.

Tabel 4.40. Status Kemandirian Ekonomi Desa Terkait Subsidi Ekonomi di Kecamatan Meosmansar

No. Desa Swadaya Swakarya Swasembada

1. Saonek √ − − 2. Friwen √ − − 3. Yenbesar √ − − 4. Saprokren √ − − 5. Wawiyai √ − − JUMLAH 5

Sumber : BPS Kabupaten Raja Ampat, 2012

Sama halnya dengan Kecamatan Waigio Selatan, lokasi penelitian di Kecematan Meosmansar masih ketergantungan ekonomi pada bantuan bisa terlihat jumlah bantuan yang diberikan pemerintah daerah dan pemerintah pusat, dimana ini menguatkan definisi kalau desa yang dikunjungi di Meosmansar adalah baru masuk pada kategori swadaya. Untuk memenuhi kebutuhan pembangunan salah satunya pemenuhan kebutuhan energi dan pengembangan energi terbarukan

0 500 1000 1500 2000 2500 3000 2010 2011 1967,6 3000

Kajian Sosial Ekonomi Pengembangan dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan di Sektor KP 86 pada tingkat Desa di Meosmansar, setiap tahun terjadi peningkatan jumlah bantuan dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Papua Barat, dan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat. Artinya, komitmen pemerintah dalam memberikan insentif dan hibah untuk pengembangan energi terbarukan cukup besar, tapi untuk pengembangan energi arus belum ada, hal ini disebabkan ketidaktahuan Pemda terhadap potensi arus di Raja Ampat.

Sumber : BPS Kabupaten Raja Ampat, 2012

Gambar 4.24.Subsidi Pemerintah Untuk Pembangunan Infrastruktur di Kecamatan Meosmansar Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pemerataan infrastruktut termasuk pemenuhan infrastruktur listrik sesuai dengan status Otonomi Khusus yang diberikan kepada Propinsi Papua Barat. Hal ini juga untuk meyakinkan kepada masyarakat bahwa betapa besarnya perhatian pemerintah atas pembangunan yang ada di Desa (BPS Raja Ampat, 2012) termasuk salah satunya pengembangan energi terbarukan. Nilai bantuan yang diterima pada tahun 2011 disajikan pada Grafik diatas.

Banyak penelitian yang mengungkapkan potensi energi terbarukan namun banyak yang lupa untuk menyiapkan kebijakan untuk optimalisasi pengembangan energi terbarukan arus dan gelombang laut. Padahal potensi energi terbarukan tidak cukup sebagai dasar untuk pengembangan energi terbarukan jika tidak ada komitmen daerah untuk keberlanjutan pengembangan tersebut. Guna mengoptimalkan potensi energi terbarukan seperti gelombang dan arus laut maka pemerintah harus mengambil tindakan.

0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 2010 2011

Kajian Sosial Ekonomi Pengembangan dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan di Sektor KP 87 Gambar 4.25. Prioritas Wilayah Pengembangan Energi Kabupaten Flores Timur

Pemerintah harus mengurangi subsidi terhadap bahan bakar minyak dan memperbesar subsidi untuk energi terbarukan seperti energi arus dan gelombang laut, karena selama harga BBM lebih rendah dari harga energi terbarukan maka pengembangan energi terbarukan tidak kompetitif. Selain itu perlunya partisipasi masyarakat dalam hal pengembangan energi terbarukan (arus dan gelombang laut), hal ini penting terutama untuk status keberlanjutan pengembangan energi terbarukan (belajar dari pengalaman pengembangan energi solar di Raja Ampat). Selama partisipasi masyarakat rendah, maka pengembangan energi terbarukan hanya betrsifat hibah.

0,020 0,040 0,060 0,080 0,100 0,120 0,140 0,160 0,180 0,200 Potensi energi Komitmen pemda Partisipasi masyarakat Potensi konsumen Subsidi Lamahala Kolaka

Kajian Sosial Ekonomi Pengembangan dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan di Sektor KP 88 Gambar 4.26. Prioritas Wilayah Pengembangan Energi Kabupaten Flores Timur

Tingginya kepedulian Pemda Raja Ampat terhadap pemenuhan kebutuhan energi masyarakat dan pengembangan energi terbarukan juga disebabkan status sosial ekonomi masyarakat di masing-masing lokasi penelitian di Raja Ampat masih berstatus desa swadaya, dimana semua kegiatan pembangunan masyarakat semua dananya berasal dari dana pemerintah. Hal ini juga yang menjadi salah satu kelemahan dari program pengembangan energi terbarukan di pulau-pulau kecil seperti Raja Ampak dan Nusa Penida. Kelemahan tersebut adalah secara teknis dan potensi masing-masing wilayah memiliki potensi, namun secara kebijakan yang mempertibangkan aspek keberlanjutan program tersebut terutama dari aspek perawatannya pasca hibah dari alat yang diberikan tidak dipikirkan. Hal yang tidak boleh dilupakan dalam pengembangan energi terbarukan adalah pengembangan energi terbarukan (arus dan gelombang laut) diharapkan secara teknis mudah dilaksanakan oleh masyarakat (kalau bisa teknologi yang digunakan harus disederhanakan), hal ini berkaitan dengan perawatan pasca pengembangan energi terbarukan terutama di pulau-pulau kecil.

Kelebihan dari masing-masing wilayah adalah dari segi potensi, misalnya di Raja Ampat dan Nusa Lembongan. Namun jika potensi tersebut dibandingkan biaya investasi dan biaya perawatan tidak sebanding, apalagi mengingat kebijakan pemerintah yang masih memberikan subsidi terhadap BBM. Selama kebijakan subsidi terhadap BBM masih ada pengembangan energi terbarukan tidak kompetitif. Berdasarkan hasil penelitian dari Badan Pusat Pengembangan

0,10 0,20 0,30 0,40 0,50 0,60 0,70 0,80 Lamahala Kolaka

Kajian Sosial Ekonomi Pengembangan dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan di Sektor KP 89 Teknologi dan Pusat Penelitian PLN potensi arus antara Nusa Penida dan Lembongan mampu menghasilkan listrik sebesar 20 KW (kilo watt).

Potensi arus tersebut jika dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk investasi pengembangan energi terbarukan adalah tidak sebanding. Hal ini dikarenakan daya yang dihasilkan hanya 20 KW, dimana menurut wawancara dengan pihak PLN di lokasi penelitian, daya tersebut hanya mampu mengaliri listrik untuk 30 KK (Kepala Keluarga) dengan spesifikasi untuk kategori konsumen R1 (kategori pemakaian daya paling kecil yang masih diberikan subsidi oleh pemerintah). Berdasarkan kesimpulan dari wawancara, pengembangan energi terbarukan dari arus laut di Nusa Penida cukup berat, karena antara kebutuhan investasi dan arus yang dihasilkan tidak sepadan.

Lesson learned yang harus diambil ketika ada hibah bantuan energy terbarukan adalah Partisipasi masyarakat dibutuhkan ketika hibah peralatan sudah dilaksanakan, hal ini untuk menentukan keberlanjutan dari program pengembangan energi terbarukan. Dari Pengalaman di Lapang (Raja Ampat dan Bali), banyak hibah energi terbarukan terbengkalai karena kurangnya partisipasi masyarakat. Belajar dari pengalaman pengembangan energi terbarukan lainnya seperti energi surya, keberlanjutan program terkendala karena kemauan masyarakat untuk merawat alat yang diberikan cukup rendah, termasuk juga faktor ketergantungan masyarakat terhadap dana pemerintah dalam hal program pembangunan termasuk pemarataan energi. Kemauan masyarakat yang rendah untuk pengembangan energi terbarukan masih rendah karena perawatan peralatan yang cukup rumit dan ketergantungan mereka terhadap bantuan pemerintah yang cukup tinggi karena status Otda dan status ekonomi mereka yang masuk kategori desa swadaya.

4.4. Analisis Keberlanjutan

Dalam rangka memformulasikan rekomendasi kebijakan yang dapat mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan secara berkelanjutan, maka diperlukan strategi pengelolaan yang memperhatikan atribut-atribut sensitif terhadap keberlanjutan pengembangan energi baru dan terbarukan. Strategi pengembangan, dimulai dengan mengurut prioritas dimensi dan atribut prioritas dalam setiap dimensi yang perlu diperbaiki. Untuk mengetahui prioritas yang perlu diperbaiki, maka dilakukan penentuan prioritas dimensi dengan melakukan pengurutan nilai dari indeks keberlanjutan dari masing-masing dimensi, kemudian dimensi yang memiliki nilai indeks lebih rendah dianggap sebagai dimensi yang harus dikelola atau diperbaiki Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka atribut-atribut dari ke lima dimensi selanjutnya disusun berdasarkan urutan prioritas dengan indikator nilai RMS. Prioritas urutan dimulai dari atribut yang memiliki nilai RMS yang paling besar. Selanjutanya strategi yang dilakukan adalah intervensi terhadap

masing-Kajian Sosial Ekonomi Pengembangan dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan di Sektor KP 90 masing atribut yang disusun dalam tindakan berdasarkan prioritas jangka waktu, yaitu jangka pendek-menengah dan jangka panjang. Penentuan rentang waktu tersebut, untuk jangka pendek dan menengah adalah 1-5 tahun dan 6-10 tahun. Pertimbangan tersebut didasarkan kepada lamanya kepemimpinan dari kepala pemerintah daerah. Ketentuan perubahan atribut adalah untuk atribut yang diinterfensi sebagai prioritas jangka pendek-menengah, skor dari atribut yang diinterfensi meningkat satu skala dan 2 skala atau maksimal untuk prioritas jangka menengah. Intervensi atau perbaikan tersebut merupakan strategi yang akan dilakukan dalam bentuk kebijakan operasional yang mungkin bisa dilakukan dan disesuaikan dengan pertimbangan rasionalitas, ketersediaan biaya, ketersediaan SDM dan dapat dengan mudah untuk dilakukan.

Dalam kajian ini dilakukan penentuan indeks keberlanjutan pengembangan dan pemanfaatan energi baru dan terbarukan yang ditetapkan pada 6 (enam) dimensi keberlanjutan, yaitu: ekologi, politik, ekonomi, sosial, teknologi dan hukum – kelembagaan. Nilai indeks keberlanjutan untuk 6 dimensi di lokasi penelitian secara rinci disajikan pada Tabel 4.41.

Tabel 4.41. Nilai Indeks Keberlanjutan untuk Enam Dimensi di Lokasi Penelitian

Dimensi Lokasi Penelitian

Raja Ampat Nusa Penida Gresik Bangka Flores Timur Ekologi 50.50 79.99 63.10 74.23 73.02 Ekonomi 54.05 39.87 39.87 46.01 82.61 Politik 38.48 49.82 45.31 31.82 45.29 Sosial 56.69 57.05 47.51 49.11 52.94 Teknologi 44.52 41.34 37.04 41.68 51.10 Hukum-Kelembagaan 33.18 58.11 43.63 16.44 9.80

Sumber: Data Primer Diolah, 2013

Nilai indeks keberlanjutan pengembangan dan pemanfaatan energi baru dan terbarukan untuk ke-6 dimensi divisualisasikan dalam bentuk diagram layang (kite diagram). Secara visual nilai indeks keberlanjutan yang ditunjukkan pada Gambar 4.27.

Kajian Sosial Ekonomi Pengembangan dan Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan di Sektor KP 91 Gambar 4.27. Diagram Layang Nilai Indeks Keberlanjutan pengembangan dan pemanfaatan energi

baru dan terbarukan di lokasi penelitian, 2013

Untuk mengetahui atribut-atribut yang sensitif memberikan pengaruh terhadap nilai indeks keberlanjutan pada setiap dimensi dilakukan analisis leverage. Atribut yang sensitif ini merupakan faktor pengungkit dalam setiap dimensi, sehingga bila dilakukan perbaikan pada atribut tersebut akan mengungkit nilai indeks keberlanjutan setiap dimensinya secara keseluruhannya. Berikut disajikan hasil analisis status keberlanjutan pengembangan dan pemanfaatan energi baru dan terbarukan terhadap berbagai dimensi yaitu: ekologi, politik, ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan.