• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISTILAH

II. TINJAUAN PUSTAKA

3. Keputusan dan implementasi tindakan manajemen risiko, sangat diperlukan untuk menggunakan metode manajemen yang dapat

2.2. Komoditas Jagung

Salah satu komoditas pertanian yang mempunyai posisi sangat strategis dalam kehidupan masyarakat Indonesia adalah komoditas jagung. Bagi masyarakat Indonesia, jagung merupakan sumber karbohidrat kedua setelah beras, dan merupakan bahan baku utama industri pakan ternak yang akhir-akhir ini permintaannya meningkat pesat, seiring dengan semakin pesatnya perkembangan industri ternak. Selain itu jagung juga merupakan bahan baku industri makanan dan industri olahan lainnya. Hampir seluruh bagian dari tanaman jagung mempunyai potensi nilai ekonomis (Gambar 4).

Pohon Jagung

Gambar 4 Pohon industri jagung (Suryana & Hermanto 2006)

Biji jagung pipilan, sebagai produk utamanya merupakan bahan baku utama (50%) industri pakan, selain dapat dikonsumsi langsung dan sebagai bahan baku industri pangan. Daun, batang, kelobot, tongkolnya dapat dipakai sebagai pakan ternak dan pemanfaatannya lainnya. Demikian juga halnya dengan bagian lainnya jika dikelola dengan baik berpotensi mempunyai nilai ekonomi yang cukup menarik.

Kebutuhan jagung di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun dan telah mencapai angka 11,676 juta ton pada tahun 2003 (meningkat sebesar 4,28%/tahun selama kurun waktu 1990-2003). Pada tahun yang sama produksi dalam negeri baru mencapai 10,888 juta ton, sehingga masih diperlukan impor sebesar 1,346 juta ton (11,52% dari total kebutuhan jagung). Peningkatan kebutuhan jagung tersebut terutama dipacu oleh meningkatnya kebutuhan industri pakan yang telah mencapai pangsa sebesar 40,29% dari total kebutuhan jagung nasional pada tahun 2004 atau meningkat sebesar 5,76%/tahun (Suryana & Hermanto 2006).

Permintaan jagung untuk industri, terutama industri pakan, telah mendorong peningkatan harga jagung di dalam negeri maupun di pasar international. Harga jagung di pasar dunia pada tahun 2004 adalah 111,8 dolar AS/ton, turun menjadi 98,7 dolar AS pada tahun 2005, naik menjadi 121,9 dolar AS pada tahun 2006 dan mencapai 160,9 dolar AS pada periode Januari-Agustus 2007. Harga jagung diperkirakan akan terus meningkat karena meningkatnya permintaan untuk industri etanol sebagai bahan bakar nabati (BBN). Harga perdagangan internasional jagung pada bulan Juni 2007 mencapai 165,2 dolar AS/ton dan turun menjadi 151,2 dolar AS/ton pada bulan Agustus 2007 (World Bank 2007). Berdasar perkiraan yang disimulasikan oleh IFPRI (2006) dengan berbagai skenario pertumbuhan biofuel, harga jagung diperkirakan dapat meningkat 20-41% pada tahun 2010 dan 2020, dibandingkan dengan harga pada tahun 2007. Kenaikan harga jagung akan mempengaruhi ketahanan pangan dan industri pakan, dan tentunya juga mempengaruhi pendapatan petani (Kasryno et al. 2008).

Pusat produksi jagung dewasa ini antara lain adalah jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, dan Sulawesi Selatan. Jawa Timur merupakan produsen jagung utama dengan rata-rata pangsa produksi per tahun 33,99 persen atau 3,322

juta ton. Selanjutnya diikuti oleh jawa Tengah dengan pangsa produksi rata-rata 17,76 persen per tahun atau 1,707 juta ton. Propinsi Lampung menempati posisi ketiga dengan pangsa produksi 10,20 persen per tahun atau 1005 ribu ton.

Sulawesi Selatan menempati urutan ke empat dengan pangsa 7,31 persen per tahun atau 698,80 ribu ton. Pertumbuhan produksi tertinggi dicapai oleh propinsi Jawa timur dan Lampung, yaitu masing-masing sebesar 10,62 persen dan 17,19 persen per tahun, seperti terlihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Produksi jagung di daerah sentra produksi

Tahun Lampung Jawa Tengah Jawa Timur Sulawesi Selatan Indonesia (000 ton) (%) (000 ton) (%) (000 ton) (%) (000 ton) (%) (000 ton) 1998 1111,83 11,05 1781,85 17,71 3765,14 37,43 916,50 9,11 10058,61 1999 1176,49 12,78 1525,28 16,57 3150,87 34,23 652,22 7,09 9204,04 2000 1120,35 11,99 1633,82 17,48 3389,95 36,28 579,83 6,20 9344,83 2001 1122,67 12,01 1553,92 16,62 3529,97 37,77 515,41 5,51 9347,19 2002 989,32 10,25 1505,71 15,60 3692,15 38,24 661,01 6,85 9654,11 2003 1087,75 9,99 1926,24 17,69 4181,55 38,41 650,83 5,98 10886,44 2004 1216,95 10,84 1836,23 16,36 4133,76 36,83 674,72 6,01 11225,24 2005 1439,00 11,49 2191,26 17,50 4398,50 35,12 705,99 5,64 12523,89 2006 1183,98 10,20 1856,02 15,99 4011,18 34,55 696,08 6,00 11609,46 2007 1346,82 10,14 2233,99 16,81 4252,18 32,00 969,31 7,30 13286,17 2008 1351,62 9,74 2355,62 16,97 4415,98 31,81 967,29 6,97 13883,19 Rerata 1005,40 10,20 1707,18 17,76 3322,75 33,99 698,80 7,31 9718,13

Sumber: BPS (1998-2008)

Peningkatan produksi jagung di Indonesia belum diikuti oleh penanganan pascapanen yang baik. Petani kurang mendapatkan informasi tentang kegiatan panen dan pascapanen yang dapat mengurangi biaya dan menekan susut mutu jagung. Karena itu, petani di beberapa wilayah pengembangan jagung masih belum merasakan nilai tambah dengan meningkatnya kualitas produk biji jagung (Firmansyah 2006).

Selama kurun waktu 1998-2008 rata-rata produktifitas usaha tani jagung Indonesia baru mencapai 31,63 ku/ha, dengan tingkat pertumbuhan 3,43 persen per tahun. Sementara di sentra-sentra produksi jagung, pada umumnya produktifitas usaha tani jagung hampir berimbang, sebagaimana disajikan dalam

Tabel 5. Nampak dalam tabel tersebut bahwa produktifitas tertinggi dicapai oleh usaha tani jagung di jawa Timur, yaitu sebesar 28,23 ku/ha, sedangkan yang terendah terjadi di Sulawesi Selatan, yaitu 24,89 ku/ha. Sementara produktifitas usaha tani jagung jawa tengah dan lampung masing-masing mencapai 28,17 ku/ha dan 27,27 ku/ha. Namun bila dilihat dari pertumbuhan produktifitasnya, ternyata paling pesat pertumbuhannya justru di alami oleh petani Sulawesi Selatan, yaitu sebesar 6,01 persen per tahun, yang kemudian diikuti oleh propinsi Lampung dengan pertumbuhan sebesar 3,55 persen/tahun. Keadaaan ini mungkin disebabkan oleh selain jawa Timur merupakan daerah tradisionil produsen jagung, juga telah banyak berkembang perusahaan pembibitan jagung, baik jagung komposit maupun jagung hibrida, sehingga persediaan benih jagung unggul relatif lebih banyak.

Tabel 5 Produktifitas usaha tani jagung di daerah sentra produksi Tahun Lampung Jawa

Tengah

Jawa Timur

Sulawesi

Selatan Indonesia (Ku/Ha) (Ku/Ha) (Ku/Ha) (Ku/Ha) (Ku/Ha) 1998 29,66 27,49 27,92 27,1 26,43 1999 29,42 28,04 27,82 27,04 26,63

2000 29,3 28,08 28,96 25,9 27,01

2001 29,68 29,38 31,08 26,85 28,45

2002 30,91 30,4 35,39 32,1 30,88

2003 32,88 34,4 35,76 30,44 32,42 2004 33,36 35,2 36,21 34,36 33,44 2005 34,96 36,75 36,47 34,18 34,54 2006 35,59 37,27 36,49 33,73 34,7 2007 36,4 39,12 36,86 36,97 36,61 2008 36,53 40,31 37,01 36,35 36,83 Rerata 32,61 33,31 33,63 31,37 31,63

Sumber : BPS (1998-2008)

Produktivitas jagung di Indonesia masih sangat rendah, baru mencapai 3,47 t/ha pada tahun 2006, namun cenderung meningkat dengan laju 3,38% per tahun. Masih rendahnya produktivitas menggambarkan bahwa penerapan teknologi produksi jagung belum optimal. Dalam periode 1990 - 2006, produksi jagung rata-rata 9,1 juta ton dengan laju peningkatan 4,17% per tahun.

Terindikasi bahwa peningkatkan produksi jagung di Indonesia lebih ditentukan oleh perbaikan produktivitas daripada peningkatan luas panen (laju peningkatan 0,96%) (Zubachtirodin et al. 2007).

Selanjutnya jika dibandingkan dengan negara produsen jagung lainnya, usaha tani jagung di Indonesia masih ketinggalan jauh, dibandingkan negara produsen utama jagung yaitu Amerika, Argentina dan MEE. Produktifitas usaha tani jagung Indonesia baru mencapai setengahnya, bahkan dibandingkan dengan Amerika Serikat, baru mencapai sepertiganya (Tabel 6). Selama periode 1998-2008, rata-rata produktifitas usaha tani jagung Indonesia baru mencapai 3,21 ton/ha, sementara Amerika Serikat, Argentina dan MEE masing-masing telah mencapai 8,84 ton/ha, 6,28 ton/ha dan 5,92 ton/ha. Rata-rata produktifitas jagung dunia mencapai 4,53 ton/ha, jadi sedikit lebih tinggi dibanding Indonesia.

Tabel 6 Produktifitas jagung di beberapa negara produsen jagung dunia Tahun

Produktifitas (ton/ha) Dunia Amerika

Serikat Argentina MEE Indonesia

1998 4,42 8,44 6,08 5,63 2,65

1999 4,38 8,40 5,37 6,28 2,66

2000 4,27 8,59 5,43 5,09 2,77

2001 4,42 8,67 5,45 6,16 2,85

2002 4,37 8,16 6,52 6,24 3,09

2003 4,47 8,92 6,48 5,03 3,25

2004 4,59 9,00 6,50 6,04 3,34

2005 4,65 9,12 6,71 6,12 3,45

2006 4,65 8,97 6,30 5,88 3,47

2007 4,76 9,31 6,66 6,20 3,66

2008 4,81 9,66 7,56 6,48 4,08

Rerata 4,53 8,84 6,28 5,92 3,21

Sumber: USDA (2008)

Peluang peningkatan produksi jagung dalam negeri masih terbuka lebar, baik melalui peningkatan produktivitas karena masih lebarnya perbedaan produktivitas di tingkat petani (3,1 t/ha) dengan di tingkat penelitian (4,5-8,0 t/ha), maupun perluasan areal tanam, terutama pada lahan kering di luar Jawa (Subandi 2004). Sekitar 65% jagung ditanam pada lahan kering pada musim

hujan, sehingga pengeringan tongkol jagung sangat bergantung pada sinar matahari. Panen pada musim hujan menyebabkan kadar air jagung cukup tinggi.

Kondisi demikian menyebabkan tumbuhnya cendawan Aspergillus sp. yang memproduksi aflatoksin. Untuk mencegah menurunnya mutu biji, jagung tongkol yang dipanen segera dikeringkan Ananto et al. (2005). Penundaan proses pengeringan jagung tongkol menyebabkan kerusakan biji jagung. Semakin lama penundaan proses pengeringan, semakin besar kerusakan biji jagung. Kadar air jagung pada saat dipipil berpengaruh terhadap butir utuh, butir pecah, dan kotoran, terutama pada saat pemipilan dengan mesin pemipil (corn sheller).

Makin rendah kadar air, makin tinggi persentase butir utuh, dan makin tinggi persentase kotoran (Ananto et al. 2005). Pemipilan pada saat kadar air jagung tinggi menyebabkan persentase biji pecah tinggi pula. Hasil pengujian di Kediri menggunakan tiga mesin pemipil jagung buatan lokal menunjukkan tingkat kerusakan biji di atas 15% bila pemipilan dilakukan pada kadar air 32,5-35% bb (Tastra et al. 1990).

Sekitar 65% pertanaman jagung diusahakan pada lahan kering pada musim hujan, sehingga pada saat panen kadar air biji jagung masih cukup tinggi. Kondisi ini kondusif bagi pertumbuhan cendawan yang menghasilkan mikotoksin pada biji jagung. Syarat umum bagi produk jagung untuk pakan maupun untuk pangan, ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI).

Syarat umum:

• Bebas hama dan penyakit

• Bebas bau busuk, asam, atau bau asing lainnya

• Bebas bahan kimia: insektisida dan fungisida

• Suhu normal Syarat Khusus:

• Kadar air maksimum (mutu I < 14%, mutu II 14%, mutu III 15%, dan mutu IV 15-17%)

• Butir rusak (mutu I < 2%, mutu II 4%, mutu III 6%, dan mutu IV 8%)

• Warna lain maksimum (mutu I < 2%, mutu II 3%, mutu III 7%, dan mutu IV 10%)

• Butir pecah maksimum (mutu I < 1%, mutu II 1%, mutu III 2%, dan mutu IV > 2%)

• Kadar aflatoksin tidak lebih dari 30 ppb.

2.2.1. Tata Niaga Jagung

Tiga komponen utama yang mendukung tataniaga jagung adalah produsen, pedagang, dan konsumen. Petani sebagai produsen perlu didukung oleh paket teknologi dan lembaga penyedia sarana produksi yang mampu menyediakan secara lima tepat (tepat waktu, jenis, ukuran, tempat, dan harga). Anjuran paket teknologi jagung sesungguhnya telah disadari manfaatnya oleh petani, yaitu untuk meningkatkan produksi, namun belum sepenuhnya diterapkan karena terbentur masalah pendanaan. Konsekuensinya, produksi belum optimal, baik jumlah maupun mutu, sehingga akan mempersulit pemasaran hasil, terutama untuk tujuan ekspor.

Hal lain yang dihadapi petani dalam pemasaran produksi adalah belum dapat menjual langsung kepada pedagang besar (eksportir), PUSKUD, atau pedagang lainnya di kota provinsi (Gambar 5). Petani umumnya menjual hasil jagung hanya ke pedagang pengumpul atau ke pasar (pedagang penyalur kota atau pengecer di pasar umum). Dengan demikian, harga yang diterima petani relatif rendah dan fluktuatif. Keadaan ini kurang menguntungkan bagi petani, sebab tidak adanya jaminan harga yang layak (Sarasutha et al. 2007).

Gambar 5 Alur tataniaga jagung (Sarasutha et al. 2007)

Hasil jagung petani, bila dilihat dari distribusinya, sudah mengarah kepada pasar (market oriented). Sebagian besar produksi dijual dan hanya sebagian yang disimpan untuk konsumsi dan benih pada musim tanam berikutnya. Faktor yang mendorong petani untuk menjual cepat hasil jagungnya antara lain adalah: (1) mereka memerlukan uang tunai untuk membayar bunga dan angsuran pokok kredit, (2) memenuhi kebutuhan keluarga, dan (3) keharusan membayar PBB.

Berdasarkan data perkembangan harga jagung, pada bulan September- November merupakan puncak harga jual tertinggi. Pada bulan September- Desember, kebutuhan (konsumsi) lebih besar dibanding produksi, yang menyebabkan harga jagung naik. Periode tersebut merupakan puncak paceklik, sehingga harga jagung tinggi. Dalam periode Januari-April, produksi lebih tinggi dari kebutuhan sehingga terjadi kelebihan produksi, yang menyebabkan harga jagung cenderung rendah (Nadjamuddin & Noor 1997). Pola tanam jagung di Indonesia secara garis besar dapat diperlihatkan pada Gambar 6.

Gambar 6 Areal tanam dan panen bulanan jagung di Indonesia (Suryana &

Hermanto 2006)

Dari Gambar 6 terlihat bahwa pola tanam jagung tidak merata sepanjang tahun sehingga kemungkinan terjadinya anjlok harga sangat tinggi pada musim panen raya. Oleh karena itu perlu adanya penjadwalan tanam jagung agar diperoleh kestabilan harga dan kuntinuitas produk.

Penerapan inovasi teknologi di tingkat petani masih beragam, bergantung pada orientasi produksi (subsisten, semi komersial, komersial), kondisi kesuburan tanah, risiko yang dihadapi, dan kemampuan petani membeli atau mengakses sarana produksi. Penyebaran penggunaan varietas pada tahun 2005 adalah 22%

hibrida, dan selebihnya komposit (unggul dan lokal). Angka ini masih di bawah Thailand yang telah menggunakan benih jagung hibrida hingga 98%, sedangkan Filipina sudah menggunakan benih hibrida 65%. Masih mahalnya benih hibrida dan pertimbangan risiko yang dihadapi, cukup banyak petani yang menanam

benih hibrida turunan (F2). Pemakaian benih hibrida merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan produksi jagung (Sarasutha et al. 2007).

Untuk mengatasi masalah yang dihadapi, petani perlu didorong untuk memanfaatkan peluang yang ada, di antaranya meningkatkan produktivitas, nilai tambah produksi melalui pengelolaan hasil, dan menempuh alur pemasaran yang pendek, bahkan diupayakan untuk berhubungan langsung dengan industri pangan dan pakan (Yonekura 1995). Alur pemasaran/tataniaga turut menentukan pendapatan petani. Semakin panjang alur tataniaga dari produsen ke konsumen akhir semakin menurun pendapatan yang diperoleh produsen. Untuk memenuhi permintaan industri pengolahan pakan dan makanan, terjadi alur tataniaga jagung antarprovinsi yaitu dari provinsi surplus ke provinsi yang mengalami kekurangan.

Pemasaran hasil jagung melibatkan banyak pihak. Karena itu perlu dilibatkan pihak-pihak terkait dalam merumuskan program, mulai dari proses produksi sampai pemasaran. Program tersebut menurut Bahtiar et al. (2002) mencakup: (1) sosialisasi teknologi penyimpanan yang dapat diterapkan petani untuk menghindari ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan, (2) penyediaan sarana produksi (KUD, PT. Pertani, Perum Sang Hyang Seri) secara tepat (tepat jumlah dan jenis, tepat mutu, dan tepat harga dan lokasi), (3) penyediaan kredit usahatani untuk komoditas jagung (BRI), dan (4) penyerapan hasil berdasarkan standar mutu hasil (jaminan harga dari pemerintah/swasta).

2.2.2. Rantai Pasok Jagung

Jaringan rantai pasok produk/komoditi jagung terdiri dari produser (petani/gapoktan), collector (pedagang pengumpul tingkat desa, kecamatan, kabupaten dan propinsi), processor (industri pakan, industri makanan, dan industri lainya seperti etanol), retailer (pengecer besar dan kecil) dan konsumen (peternak unggas), sebagai jaringan rantai pasok total produk/komoditi jagung menurut Vorst (2006) dapat diperlihatkan pada Gambar 7.

Dalam rantai pasok tersebut risiko yang sering dihadapi petani/gapoktan jagung adalah penggunaan varietas jagung yang masih menggunakan varietas lokal yang mempunyai tingkat produktifitas rendah, penanganan paska panen yang kurang baik sehingga menurunkan kualitas dan jadwal tanan yang tidak tepat

sehingga pada waktu panen raya harga jagung merosot tajam serta gagal panen karena lahan puso (Kasryno 2006).

Gambar 7 Jaringan rantai pasok total produk/komoditi jagung

Adapun risiko yang sering dihadapi oleh pedagang pengumpul atau kolektor adalah rendahnya mutu jagung karena kebanyakan jagung dipanen pada musim penghujan sehingga proses pengeringannya tidak sempurna dan menyebabkan tumbuhnya jamur. Disamping itu risiko yang dihadapi adalah biaya penyimpanan dan pengeringan tambahan untuk mendapatkan kualitas yang sesuai standard (Kusumaningrum 2008).

Adapun dari sisi distributor risiko yang akan dihadapi terutama adalah risiko turunnya kualitas jagung karena penyimpanan dan risiko karena pengangkutan disamping kendala transportasi dan distribusi ke pihak konsumen yaitu industri pakan dan industri pangan. Adapun risiko yang dihadapi pihak prosesor (agroindustri) adalah ketidakpastian pasokan bahan baku sehingga kapasitas produksi tidak tercapai untuk mendapatkan efisiensi produksi yang tinggi. Disamping itu risiko yang dihadapi adalah ketidakpastian harga bahan baku.

Dokumen terkait