• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : KAJIAN TEORI

2) Kompetensi Profesional

Selain kompetensi pedagogik yang harus dimiliki oleh dosen dalam pengembangan kompetensinya, kompetensi profesional juga mempengaruhi dalam pembentukan keprofesionalisme profesi dosen. Kompetensi profesional berkaitan dengan penguasaan materi yang diajarkan dengan metode yang tepat untuk mengajarkannya. Cara yang bisa ditawarkan dalam

commit to user

peyampaian materi agar dapat dengan mudah ditransformasikan kepada mahasiwa adalah dengan membaca, latihan, refleksi, up to date dan dengan menggunakan alat peraga.

Dalam mengembangkan kompetensi profesionalnya yang berkaitan dengan proses pembelajaran sangatlah tentu kalau dosen harus menguasai kurikulum yang ada. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pengajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Adapun beberapa hal yang berkaitan dengan kompetensi profesional adalah sebagai berikut: pertama; setiap perguruan tinggi tentunya memiliki Visi dan Misi yang idealis dan sempurna. Hal ini akan kelihatan dari kurikulum yang digunakan. Dengan maraknya sekarang pemerintah berkali mengubah kurikulum dengan tujuan agar pendidikan di Indonesia mengarah kepada pendidikan yang berkembang. Pergantian kurikulum oleh pemerintah tersebut memang patut untuk diapresiasikan karena menunjukan perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan yang akan membawa bangsa Indosenia ke arah yang lebih baik. Namun sebaliknya sebaik apapun kurikulum tersebut apabila tdak dimanfaatkan dengan benar maka tidak akan ada gunanya. Kurikulum yang baik adalah ketika dalam penerapannya peserta didiknya mengakami perubahan yang lebih baik.

commit to user

Kedua; dengan menciptakan atau mengganti kurikulum yang lama dengan baru, tetunya kurikulum yang baru akan disosialisasikan kepada setiap orang yang secara langsung terjun di dunia pendidikan baik itu pemerintah, pengurus yayasan serta guru dan dosen. Sosialisasi ini sangat penting karena apabila dosen yang sehari-harinya berhadapan dengan proses pendidikan tidak menguasai kurikulum dengan baik maka proses pendidikan tidak akan menjadi maksimal. Seorang dosen hanya bisa memanfaatkan kurikulum jika dosen tersebut menguasai kurikulum tersebut.

Ketiga; setelah dosen benar-benar menguasi kurikulum yang dipakai saat ini, maka selanjutnya dosen harus mengetahui bagaimana metode dalam menyampaikan kurikulum dengan cara yang menarik, baik dan tepat. Keempat; inti dari kesemuanya ini adalah bahwa saat ini dibutuhkan seorang dosen yang memiliki keberanian untuk menciptakan gebrakan baru yang dapat menunjang perkembangan pendidikan, kreatif dalam mengajar, bebas bertindak dan bernai keluar dari kotak kebiasaan.

Djojonegoro (1998) mengatakan profesionalisme dalam suatu pekerjaan ditentukan oleh tiga fktor penting yakni: (1) memiliki keahlian khusus yang dipersiapkan oleh program pendidikan keahlian atau spesialisasi; (2) memiliki kemampuan memperbaiki kemampuan (keterampilan dan keahlian khusus); dan (3) memperoleh penghasilan yang memadai sebagai imbalan terhadap penghasilan tersebut.

commit to user

Dengan demikian, kompetensi profesional seorang dosen adalah sebagai berikut:

a)Penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam

b)Kemampuan merancang, melaksanakan, dan menyusun laporan penelitian

c)Kemampuan mengembangkan dan menyebarluaskan inovasi

d)Kemampuan merancang, melaksanakan dan menilai pengabdian kepada masyarakat.

c. Kompetensi Sosial

Selanjutnya yang kompetensi yang harus dimiliki oleh dosen adalah kompetensi sosial. Yang perlu ditekankan dalam kompetensi ini adalah meliputi kemampuan dosen dalam berkomunikasi dengan empatik, bersosial, dan dapat hidup bersama orang lain dengan penuh persaudaraan. Untuk itu dosen harus memiliki sikap toleran, mendengar, memahami, menilai dan menghadapi.

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) No. 20 tahun 2003 pasal 4 ayat 1, menyatakan “Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan nilai kultural dan kemajemukan bangsa”. Pernyataan ini menunjukan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan, tidak dapat di urus dengan paradigma birokratik. Karena apabila paradigma birokratik yang dikedepankan, tentu

commit to user

ruang kreatifitas dan inovasi dalam penyelenggaraan pendidikan khususnya pada satuan pendidikan sesuai semangat UUSPN 2003 tersebut tidak akan terpenuhi. Penyelenggaraan pendidikan secara demokratis khususnya dalam memberi layanan belajar kepada eserta didik mengandung dimensi sosial, oleh karena itu dalam melaksanakan tugas sebagai seorang pendidik mengedepankan sentuhan sosial.

Tidak hanya sebatas pada kinerja dan intelektual saja untuk mencaia dosen yang profesional melainkan pula pada kehidupan sosial karena dosen juga merupakan warga masyarakat. Sebagai pendidik profesional seorang dosen tidak hanya mengajar dan mendidik di lembaga pendidikan saja melainkan juga mendidik di masyarakat. Artinya bahwa dengan pola pendidikan yang berbeda namun pribadi dan teladan dari seorang dosen tentunya dapat menjadi panutan bagi masyarakat setempat. Untuk itu, kompetensi sosial seorang dosen meliputi:

1) Kemampuan menghargai keragaman sosial dan konservasi lingkungan

2) Menyampaikan pendapat dengan runtut, efisien dan jelas

3) Kemampuan menghargai pendapat orang lain

4) Kemampuan membina suasana kelas.

5) Kemampuan membina suasana kerja

commit to user

Menyandang imej seorang pendidik setiap dosen memiliki tanggungjawab untuk juga dapat memberikan contoh dan teladan yang baik bagi masyarakat secara umum dengan relasi sosial dengan masyarakat terjalin akrab. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

d. Kompetensi Kepribadian

Jangan dikira mahasiswa hanya menilai dosen dari kemampuan akademisnya. Dosen juga perlu pengembangan diri yang lain, khususnya tentang kepribadian dan soft skill. kepribadian seorang dosen itu sangat besar peranannya dalam pengajaran kepada mahasiswa. Sebaliknya, mahasiswa pun mampu menilai kepribadian dosen mulai A sampai Z untuk dikatakan bisa mengajar dengan baik dan berhubungan baik dengan mereka. Tugas dosen itu mendidik, bukan cuma mengajar, dan ada tujuan-tujuannya untuk membentuk watak yang baik, sehingga dosen juga dituntut mesti punya watak yang baik. Dan mutlak, untuk itu dosen juga harus didukung soft skill yang baik pula.

Ada dua hal yang menarik dalam kompetensi kepribadian, yaitu dapat diteladani dan jujur. Hingga saat ini masih kejujuran bagi profesi apapun menjadi salah satu ukuran penilaian kepribadian serta yang memang pantas untuk diteladani. Lebih lagi dalam hal kejujuran yang sebenarnya tidak

commit to user

memiliki ukuran yang tegas, karena kejujuran hanyalah dirinya sendiri yang bisa memastikan apakah seseorang itu jujur atau tidak jujur.

Dilihat dari aspek psikologi kometensi kepribadian dosen menunjukan kemampuan personal yang mencerminakn kepribadian (1) mantap dan stabil yaitu memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai norma hukum, norma sosial, dan etika yang berlaku; (2) dewasa yang berarti mempun yai kemandirian untuk berindak sebagai pendidik yang memiliki etos kerja; (3) arif dan bijaksanan yaitu tampilannya bermanfaat bagi mahasiswa, lembaga perguruan tinggi dan masyarakat dengan menunjukan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak; (4) berwibawa yaitu perilaku guru yang disegani sehingga berpengaruh positif terhadap mahasiswa; dan (5) memiliki akhlak mulia dan memiliki perilaku yang dapat diteladani oleh mahasiswa, bertindak sesuai dengan nirma religius, jujur, iklas, dan suka menolong (Sagala: 2009).

Sedangkan kompetensi pribadi menurut Usman (2004) meliputi (1) kemampuan mengembangkan kepribadian; (2) kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi; (3) kemampuan melaksanakan bimbingan dan penyuluhan. Intinya kompetensi kepribadian ini berkaitan dengan sosok seorang dosen sebagai individu yang mempunyai kedisiplinan, berpenampilan baik, bertanggungjawab, memiliki komitmen, dan menjadi teladan.

Singkatnya, kompetensi kepribadian meliputi Empathy, Berpandangan positif terhadap orang lain, berpandangan positif terhadap diri sendiri , genuine (authenticity), berorientasi pada tujuan

commit to user

5. Prinsip Profesionalitas

Seseorang yang menyandang profesi sebagai dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut (UU Guru dan Dosen Bab III):

a. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme;

b. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia;

c. Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas;

d. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas; e. Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan; f. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja; g. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara

berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat;

h. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan;

i. Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofeionalan.

6. Dosen Profesional

Pentingnya seorang pendidik yang profesional bukanlah sesuatu yang baru-baru ini menjadi bahan perbincangan dan menjadi tuntutan pemerintah Indonesia saja, melainkan oleh pendidikan dunia persoalan tentang

commit to user

profesionalisme seorang pendidik sudah menjadi perhatian. Hal ini terungkap dalam Carnegie Forum, 1986; Holmes Group, 1986; Nasional Commission Teaching and America's Future, 1996, Goals, 2000, yang pada intinya mengatakan bahwa “The importance of teacher professional development has become increasingly and noticeably recognized worldwide” (Pentingnya pengembangan guru profesional telah menjadi semakin dan terasa di seluruh dunia). Kalimat tersebut mengungkapkan bahwa persoalan tentang profesionalnya seorang pendidik merupakan persoalan dunia (Yi-Ching Huang: Vol. 2010, Vol. 2).

Mengulang kembali apa yang telah dijelaskan di atas bahwa dosen adalah pendidik profesional dan ilmuan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Sedangkan profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (UU Guru dan Dosen: 2005).

Profesionalisme seorang dosen harusnya selalu ditingkatkan secara berkala baik oleh perguruan tinggi tempat bernaung ataupun pemerintah. Peningkatan profesionalisme dosen bisa dengan berbagai bentuk pelatihan, seminar, penyuluhan dll. Kegiatan-kegiatan ini akan banyak membantu perkembangan profesional mereka, karena akan adanya banyak tambahan

commit to user

ilmu pengetahuan dan pengalaman. Pengembangan profesional adalah sesuatu yang memungkinkan seorang individu untuk memperluas potensi mereka, itu hal yang pembelajar seumur hidup akan mencari keluar sebagai seorang profesional (something that allowed an individual to extend their potential, it’s the thing that the lifelong learner will seek out as a professional), pengertian ini dilontarkan oleh Roger B. Hill & Paul A. Asunda, dalam tulisannya yang berjudul “Preparing Technology Teachers to Teach Engineering Design”, yang terdapat dalam Journal Of Industrial Teacher Educations (2008). Sedangkan menurut Palinscar, Magnusson, Marano, Ford, and Brown (1998):

Professional development of teachers should result in improvement geared to their classroom practice, that is, planning, enactment, and reflection upon instruction for the purpose of helping students learn. Therefore, professional development is a means by which teachers acquire and enhance a set of skills and knowledge in order to meet new challenges of guiding all students in achieving higher standards of learning and development (Roger B. Hill & Paul A. Asunda: 2008).

Pengembangan profesional seorang pendidik harus menghasilkan perbaikan yang ditujukan untuk praktek mereka di dalam kelas, yaitu: perencanaan, pemberlakuan, dan refleksi atas pembelajaran dengan bertujuan untuk membantu siswa belajar. Oleh karena itu, pengembangan profesional adalah sarana yang pendidik memperoleh dan meningkatkan satu set keterampilan dan pengetahuan dalam rangka memenuhi tantangan baru dalam membimbing semua siswa dalam mencapai standar yang lebih tinggi dari pembelajaran dan pengembangan.

commit to user

Jadi, dosen profesional adalah seorang pendidik profesional yang mempunyai tugas mentransformasikan, mengmbangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, seni melalui pendidikan dan penelitian dengan memerlukan kemahiran, keahlian atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu.

Tidak ada penjelasan tentang istilah pendidik dalam Undang-Undang ini. Yang ada adalah penjelasan tentang istilah profesional. Pasal 1: ayat 4 menyebutkan professional berarti"pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi". Dalam kamus Umum Bahasa Indonesia, dikatakan pendidik adalah guru atau orang yang mendidik.

Sedangkan mendidik adalah mengajari seseorang agar menjadi pandai dan berakhlak mulia. Dosen sebagai pendidik professional adalah seseorang yang ahli, mahir dan cakap dalam mengajari orang lain menjadi pandai dan berakhlak mulia. Mengajarai seseorang menjadi pandai mungkin dapat dilakukan oleh semua dosen, asal mau belajar, kerja keras dan berdedikasi. Walaupun, para ahli pendidikan juga sepakat bahwa tidak semua siswa dapat diajari agar menjadi pandai.

Yang sukar adalah yang kedua, mengajari seseorang berakhlak mulia. Hingga kini, membuat orang menjadi berakhlak mulia itu merupakan

commit to user

pekerjaannya para guru agama dan para alim-ulama, pendeta, kiai, atau pastor. Mereka ini oleh masyarakat 'dianggap' memiliki akhlak mulia maka mereka diserahi wewenang mengajari orang lain agar juga berakhlak mulia. Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen, pekerjaan ini diberikan kepada para guru dan para dosen.

Pertanyaan berikutnya terkait dengan professional yang disebutkan sebagai pekerjaan yang menjadi sumber penghasilan kehidupan. Bagaimana saya dapat menjadi seorang dosen yang memiliki akhlak yang mulia jika setiap tindakan saya sebagai pendidik masih saya maknai sebagai sumber penghasilan yang menopang kehidupan saya? Karena itu, tampaknya istilah pendidik professional merupakan sebuah dilema. Di satu pihak seorang pendidik harus berakhlak mulia dan di pihak lain profesional menempatkan tindakan yang dilakukan selalu dikaitkan dengan imbalan sebagai suatu sumber penghasilan. Kalau kurang bijak, maka ada kemungkinan akan menurunkan arti pendidik yang memiliki akhlak yang mulia itu.

Dosen wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, dan memenuhi kualifikasi lain yang ditentukan oleh perguruan tinggi tempat bertugas, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Berikut adalah 10 ciri dosen yang sungguh-sungguh disiapkan yang diungkapkan oleh Milton Hildebrand dan Kenneth Feldman (Principles of College Teaching), seperti:

commit to user a. Gaya Mengajar Yang Merangsang Belajar

1) Menyajikan kuliah dengan cara yang menarik dan melibatkan mahasiswa.

2) Menggunakan humor untuk membantu mempertahankan perhatian mahasiswa

3) Memperkuat setiap poin utama dengan memberikan rujukan, contoh, dan ilustrasi yang bermakna

4) Mengaitkan materi kuliah dengan dunia mahasiswa

5) Mengaitkan materi kuliah pada pengalaman sebenarnya dalam dunia nyata

6) Memusatkan perhatian pada pelajaran yang akan menjadi bagian permanen dari kehidupan seseorang dan akan digunakan berulang kali di luar kampus

7) Mengembangkan rasa ingin tahu

8) Menyediakan waktu untuk membuat mahasiswa secara psikologis siap untuk belajar

b. Kemampuan Untuk Berkomunikasi Secara Jelas

1) Menyampaikan informasi dengan cara yang jelas dan dapat difahami

2) Mampu mereduksi pengetahuan sampai pgada komponen-komponennya yang paling sederhana

commit to user

4) Mengaitkan teori, prinsip-prinsip, dan konsep-konsep pada penerapan praktis

5) Merumuskan tujuan belajar dengan jelas dan memberitahukannya kepada mahasiswa

6) Menjawab pertanyaan secara tuntas dan bebas

7) Memberikan umpan balik secara teratur dengan cara yang mendorong mahasiswa belajar

8) Menjelaskan kritik yang diberikan kepada mahasiswa

c. Menguasai Materi Kuliah Yang Dipegangnya

1) Memiliki pengetahuan yang cukup luas dan mendalam di bidang ilmu yang dikuliahkan

2) Memiliki pengetahuan yang mutakhir di bidang ilmu yang dikuliahkan

3) Memiliki komitmen terhadap bidang yang menjadi spesialisasinya (selalu membaca literatur, menghadiri pertemuan profesional, dsb.)

4) Memelihara kontak dengan teman-teman sejawat di bidangnya (di dalam dan di luar kampus)

5) Dapat mendemonstrasikan dan menggambarkan aspek-aspek yang penting, serta menjelaskannya

6) Mengetahui materi kuliahnya dengan cukup baik sehingga dapat menekankan aspek-aspeknya yang paling penting

commit to user

7) Menunjukkan dan perbedaan dan implikasi berbagai teori dan prinsip di bidang ilmu itu

8) Menghubungkan fakta-fakta dan konsep-konep yang lebih penting kepada bidang studi yang berkaitan

d. Siap dan Terorganisir

1) Merencanakan dengan baik kegiatan kuliah untuk satu semester, unit, minggu, sehari

2) Memberikan silbaus yang berisi tujuan mata kuliah, bibliografi, tugas, laporan laboratorium, pekerjaan rumah, jadwal tes, tugas khusus, penilaian, dan pedoam

3) Datang ke ruang kuliah siap untuk mengajarkan topik tersebut

4) Menggunakan waktu kuliah secara efektif dan efisien

5) Menyajikan kuliah sedemikian rupa sehingga mahasiswa dapat melihat hubungan-hubungan yang ada di dalam materi kuliah itu

6) Menggaris bawahi ide-ide yang utama

7) Menggunakan alat bantu belajar secara efektif

8) Memubat rangkuman untuk membantu mahasiswa mempelajari dan mengingat materi kuliah

e. Memiliki Antusiasme Yang Dinamis

1) Merasa tertarik dan senang mengajar, dan menunjukkan hal itu

commit to user

3) Membuat belajar itu menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan

4) Memancarkan sikap yang positif ke arah kehidupan secara umum

5) Mengembangkan gaya kemanusiaannya sendiri yang unik

6) Mau berusaha lebih keras untuk membuat mahasiswa melakukan apapun yang diperulukan untuk belajar

f. Memiliki Kepedulian Pribadi Terhadap Mahasiswa

1) Secara tulus menghormati mahasiswa dan menunjukkan sikap peduli dan siap membantu ini

2) Menunjukkan dengan jelas bahwa ia ingin membantu mahasiswa belajar

3) Menyediakan waktu dan berusaha untuk mengenal mahasiswa dan kebutuhan mereka

4) Bekerja dengan setiap mahasiswa sebagai pribadi

5) Berbicara dengan mahasiswa, baik di dalam maupun di luar kelas

6) Membantu mahasiswa menemukan jawaban atas pertanyaan mereka sendiri

7) Dihargai karena nasihat-nasihatnya pada hal-hal selain masalah kuliah, serta dalam kegiatan di dalam kelas

commit to user

1) Melihat kebutuhan mahasiswa dan selalu mengikuti perkembangan kemajuan setiap mahasiswa

2) Menggunakan reaksi dan umpan balik dari mahasiswa untuk meningkatkan danmemandu tindakannya

3) Secara akurat membaca dan mengomunikasikan sinyal-sinyal non-verbal

4) Mengetahui ketika para mahasiswa tidak mengerti

5) Memandang mahasiswa ketika berbicara kepada mereka, di dalam atau di luar ruang kuliah—kontak mata menunjukkan adanya kesadaran sebenarnya

6) Berusaha agar mahasiswa saling mengenal

7) Memuji prestasi mahasiswa yang berhasil untuk memotivasi belajar mereka di masa mendatang

h. Fleksibilitas, Kreativitas, Keterbukaan

1) Menggunakan berbagai ragam gaya dan metode penyajian kuliah

2) Membagi setiap jam kuliah menjadi setidaknya tiga kegiatan yang terpisah

3) Bekerja dengan berbagai mahasiswa secara bebeda

4) Mengubah pendekatan mengajar untuk menyesuaikan dengan situasi baru

commit to user

6) Terus meneus mencari ide-ide, pendekatan dan metode mengajar yang baru

7) Terbuka terhadap saran mahasiswa mengenai isi, metode perkuliahan, dan tugas-tugas yang diberikan kepada mahasiswa

8) Menggunakan individualitas dan originalitas dalam mengatur kegiatan belajar mengajar

i. Memiliki Kepribadian Yang Kuat

1) Memiliki integritas dan krjujuran dalam semua hubungannya dengan mahasiswa

2) Mengemukakan di depan semua peraturan dan persyaratan khusus tanpa ada harapan yang disembunyikan

3) Tidak mengubah peraturan tanpa persetujuan mahasiswa

4) Sangat berhati-hati dan bertindak adil dalam memberikan nilai dan ujian

5) Menjaga kerahasiaan mahasiswa

6) Bersedia mengambil resiko untuk berbuat salah dan kemudian memperbaiki kesalahan yang telah dibuatnya

7) Memiliki kesabaran dan pengertian bagi mahasiswa baru

j. Komitmen

1) Menunjukkan keingingan tulus untuk mengajar

commit to user

3) Menerima pembatasan dan kerja yang diperlukan menjalankan tugas secara benar

4) Melakukan segala apa yang diperlukan untuk selalu memberi tahu mahasiswa tentang kemajuan, keberhasilan, dan kebutuhannya

5) Meminta masukan dari mahasiswa, teman sejawat, dan pegawai administrasi untuk tujuan perbaikan

6) Menerima kritik dan saran sebagai tanda perubahan yang positif

7) Selalu mencari cara-cara mengajar yang baru dan lebih baik

8) Berbagi ide-ide terbaik dengan teman sejawat demi peningkatan profesional mereka

Banyak cara untuk menuju dosen yang profesional. Diantaranya dapat diupayakan melalui program tetap dalam pola manajemen PT itu sendiri sedemikian rupa sehingga dapat: Mengidentifikasi keperluan akan pelatihan dan studi lanjut (pasca sarjana) bagi staf akademik. Mengidentifikasi staf akademik yang harus mengikuti pelatihan dan atau studi lanjut. Mengupayakan adanya kesempatan bagi staf akademik untuk mengikuti pelatihan dan atau studi lanjut.

Secara umum ada beberapa langkah yang dapat ditempuh guna menuju terwujudnya dosen yang profesional, antara lain :

a. Melakukan kegiatan Tri Dharma PT secara seimbang dan proporsional dengan tetap menjaga kualitas masingmasing unsur dharma (memenuhi standar baku).

commit to user

b. Guna mewujudkan butir (1) diatas, maka langkah utama adalah menempuh studi lanjut (S2 dan S3).

c. Memupuk minat dan mentradisikan budaya baca yang tinggi guna menimba ilmu baru dan informasi mutakhir.

d. Selalu mencari kesempatan untuk mengikuti berbagai forum ilmiah seperti diskusi, seminar, lokakarya dan sebagainya, baik sebagai penyaji materi, moderator, maupun sebagai peserta guna memperluas wawasan dan memperkaya khasanah keilmuan.

e. Menciptakan iklim akademik dan menumbuhsuburkan budaya ilmiah dengan membentuk kelompokkelompok studi atau pusat studi keilmuan, mengadakan aktivitas ilmiah sehingga tidak terjebak dalam rutinitas kerja mengajar saja, atau kegiatan sosial kemasyarakatan, organisasi dan lainlain yang masih bernuansa ilmiah.

f. Menjadikan dosen menulis makalah, artikel di majalah ilmiah, media massa maupun buku teks sebagai aktivitas keseharian disamping membaca dan berdiskusi (Menurut Francis Bacon : membaca, menulis, dan berdiskusi merupakan trilogi yang tak terpisahkan jika seseorang ingin memperkaya dan memperluas ilmu).

g. Memiliki perpustakaan pribadi yang memadai dengan membiasakan diri menyisihkan dana khusus untuk membeli buku secara rutin tiap bulan.

commit to user

Dokumen terkait