• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4. Kompetensi Sosial

Menurut Mulyasa (2013: 42) kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik dalam berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, dan masyarakat. Kompetensi ini berkaitan dengan kemampuan guru berinteraksi dengan peserta didik dan dengan orang yang ada di sekitar dirinya. Modal interaksi berupa komunikasi personal yang dapat diterima oleh peserta didik dan masyarakat yang ada disekitarnya. Dalam konteks ini hendaknya guru memiliki strategi dan pendekatan dalam melakukan komunikasi yang cenderung bersifat horizontal. Walaupun demikian, pendekatan komunikasi lebih mengarah pada proses pembentukan masyarakat belajar (learning community), (Janawi, 2012: 50). Selanjutnya, kemampuan sosial dirinci sebagai berikut:

a) Bersikap inklusif dan bertindak objektif

Bersikap dan bertindak objektif adalah kemampuan yang harus dimiliki guru agar guru selalu berkomunikasi dan bergaul dengan peserta didik. Bagi peserta didik, guru adalah sebagai pembimbing, motivator, fasilitator, penolong, dan teman dalam proses pendidikan. Bertindak objektif berarti guru juga dituntut berlaku bijaksana, arif, dan adil terhadap peserta didik. Bijaksana dan arif dalam keputusan dan pergaulan, bijak dalam bertindak, bijak dalam berkata, dan bijak dalam bersikap. Kemudian guru dituntut untuk objektif dalam berkata, objektif dalam berbuat, objektif dalam bersikap, dan objektif dalam menilai hasil belajar. Bertindak objektif dapat pula berarti bahwasannya guru sebagai figur sentral dalam proses pembelajaran (apalagi untuk tingkat awal) harus senantiasa memperlakukan peserta didik secara proporsional dan tidak akan memilih, memilah, dan berlaku tidak adil terhadap peserta didik (Janawi, 2012: 136).

b) Beradaptasi dengan lingkungan tempat bertugas dan dengan lingkungan masyarakat

Beradaptasi dengan lingkungan adalah kemampuan yang dituntut pada seorang guru. Beradaptasi dengan lingkungan berarti seorang guru perlu melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan, baik lingkungan sekolah maupun

lingkungan masyarakat umumnya. Di lingkungan sekolah, guru diharapkan dapat beradaptasi dengan teman-teman kolegial profesi dan menyesuaikan diri dengan anak dalam proses pembelajaran.

Beradaptasi dengan lingkungan tugas guru berarti proses adaptasi menjadi bagian terpenting dalam berkomunikasi. Adaptasi berhubungan dengan konsep diri. Sullivan dalam Janawi mengungkapkan bahwa jika diri seseorang diterima, dihormati, dan disenangi orang lain, maka ia akan menyenangi dirinya. Sebaliknya, bila oranlain selalu meremehkan, menyalahkan, dan menolak keberadaan dirinya, maka orang itu akan cenderung tidak menyenangi dirinya sendiri (Janawi, 2012: 137).

c) Berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan komunitas profesi sendiri maupun profesi lain, secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.

Kompetensi sosial dapat dilihat dalam berkomunikasi secara efektif. Guru sebagai inspirator dan motivator dalam proses pembelajaran memiliki peran penting dalam melakukan komunikasi yang efektif. Maksudnya, guru dituntut untuk berkomunikasi dan bergaul dengan kolegialnya, anak didik, dan masyarakat sekitar. Komunikasi efektif dapat terjalin jika

dilakukan saling percaya bukan saling curiga di lingkungan sosial, termasuk lingkungan belajar (Janawi, 2012: 139).

d) Berkomunikasi secara empatik dan santun dengan masyarakat luas.

Sikap empatik dan santun menjadi barometer dalam berkomunikasi. Sikap dan perilaku serta tutur bahasa akan menentukan atmosphere komunikasi. Soetjipto dalam Janawi menegaskan, seorang guru akan dikatakan profesional apabila ia memiliki citra di masyarakat. Ia layak menjadi panutan atau teladan mayarakat sekelilingnya (Janawi, 2012: 141).

Sikap empatik dan santun dapat diaplikasikan dalam cara melakukan kritik, teguran, dan nasihat. Bahasa menjadi solusi alternatif dalam menyampaikan kritik, teguran, dan nasihat tersebut. Bhkan empatik dan santun menjadi kunci keberhasilan dalam berkomunikasi baik dengan anak didik, sesama profesi, dan masyarakat. Empatik dan santun merupakan cara dan pendekatan yang dilakukan guru dalam melakukan komunikasi dengan anak, sesama kolega, dan masyarakat.

Keempat kompetensi di atas adalah kompetensi mutlak yang harus dikuasai oleh semua guru. Keempatnya menjadi kompetensi standar dan menjadi standar mutu guru (pendidik) dalam bidang standar kompetensi. Guru yang memiliki kompetensi standar dianggap

mampu mengembangkan proses pembelajaran pada satuan pendidikan (Janawi, 2012:50-51).

e. Karakteristik Tanggung Jawab dan Kompetensi Guru

Menurut Janawi (2012: 52-56), beberapa karakteristik tanggung jawab guru yang berhubungan dengan kompetensi guru, yaitu:

1) Tanggung jawab dan kompetensi guru

Guru adalah refleksi dari sebagian manusia yang memiliki tugas dan fungsi sebagai tenaga pendidik. Seorang guru profesional harus memnuhi persyaratan sebagai manusia, bertanggung jawab dalam bidang kependidikan. Guru selaku pendidik bertanggung jawab untuk mentransformasikan dan mewariskan nilai-nilai dan norma-norma kepada generasi berikutnya. Transformasi tersebut menjadi proses konversi nilai, bahkan melalui proses pendidikan diupayakan terciptanya nilai-nilai baru yang sesuai dengan nilai dan norma masyarkat.

Guru akan mampu melaksanakan tanggung jawabnya apabila ia memiliki kompetensi yang diperlukan untuk itu. Setiap tanggung jawab membutuhkan sejumlah kompetensi. Tanggung jawab tersebut akan merefleksikan pribadi guru sebagai pendidik profesional yang dibuktikan dengan sertifikat pendidik.

2) Tanggung jawab moral

Setiap guru profesional berkewajiban menghayati dan mengamalkan Pancasila dan bertanggung jawab mewariskan moral. Tanggung jawab seperti ini menjadi tanggung jawab bagi setiap guru di tanah air. Implementasinya, guru harus memiliki

kompetensi dalam bentuk kemampuan menghayati dan

mengamalkan nilai-nilai luhur bangsa yang tertuang dalam Pancasila sebagai filosofi bangsa. Lebih khusus lagi, sebagai implementasi dari nilai moral tersebut, guru harus mampu sebagai model, sebagai manusia pancasila bagi murid-muridnya, bahkan guru harus mampu berbicara dan bergerak selaku manusia Pancasila.

3) Tanggung jawab dalam bidang pendidikan di sekolah

Tanggung jawab guru dalam konteks ini berarti, guru bertanggung jawab memberikan bimbingan dan pengajaran kepada peserta didik. Bimbingan ini dapat diformulasikan dalam pembinaan kurikulum, menuntun peserta didik belajar, membina pribadi, watak, dan jasmaniah siswa, menganalisis kesulitan belajar, dan menilai kemajuan belajar siswa secara berkesinambungan. Tanggung jawab guru dalam bidang pendidikan di sekolah diperkuat dengan kompetensi yang relevan seperti kompetensi pedagogis, kepribadian, dan sosial.

Kompetensi-kompetensi tersebut dibutuhkan agar guru dapat menjadi model bagi siswa di dalam kelas.

4) Tanggung jawab guru dalam masyarakat

Guru yang profesional adalah guru yang mampu memerankan dirinya dalam bermasyarakat. Di satu sisi guru adalah sosok individu sebagai warga masyarakat, dan di pihak lain guru bertanggung jawab dalam memajukan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, guru harus memiliki kemampuan memecahkan permasalahan-permasalahan sosial, memahami nilai-nilai, norma- norma, adat istiadat, kebutuhan dan kondisi empirik masyarakat. 5) Tanggung jawab dalam bidang keilmuan

Guru sebagai ilmuwan bertanggung jawab terhadap pengembangan ilmu, terutama disiplin ilmu yang dimilikinya. Tanggung jawab tersebut diwujudkan dengan melakukan kajian atau penelitian khususnya yang berkenaan dengan profesinya sebagai guru. Tanggung jawab ini selalu terabaikan oleh guru. Guru cenderung memahami tugasnya dalam proses pembalajaran dan lupa melakukan kajian dalam proses pembelajaran.

B. Kerangka Berpikir

Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak (Mulyasa, 2006: 37). Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik,

kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial. Guru dapat dikatakan guru profesional apabila memiliki keempat kompetensi tersebut serta melaksanakan dan menerapkan dalam tugas keguruannya, untuk mendidik dan membentuk peserta didik yang berkualitas dan berkompeten.

1. Kompetensi Pedagogik

Kompetensi pedagogik merupakan kompetensi khusus yang dimiliki dan dikuasai oleh seorang guru. Kompetensi ini dipelajari secara khusus oleh mahasiswa yang belajar di FKIP, sedangkan mahasiswa lain yaitu non-FKIP tidak mempelajari kompetensi ini. Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik.

Guru Ekonomi lulusan FKIP memiliki serta menguasai kompetensi ini melalui berbagai mata pelajaran dalam perkulihan. Beberapa di antaranya adalah strategi pembelajaran dan evaluasi pembelajaran. Dari mata kuliah tersebut, Guru Ekonomi lulusan FKIP banyak dibekali pengetahuan yang terkait dengan perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran. Selain itu, mahasiswa FKIP dibekali dengan kemampuan pedagogik yang berkaitan dengan penguasaan serta pemahaman karakteristik peserta didik, melalui kegiatan pembelajaran mikro serta program pengalaman lapangan.

Sedangkan Guru Ekonomi lulusan non-FKIP pada dasarnya tidak mempelajari kompetensi pedagogik secara khusus, karena kompetensi

pedagogik tidak diajarkan kepada mahasiswa non-FKIP. Selain itu, Guru Ekonomi lulusan non-FKIP tidak diarahkan sebagai tenaga pendidik melainkan tenaga profesional bidang lain, sehingga penguasaan kompetensi pedagogik guru lulusan non-FKIP diduga lebih rendah dibandingkan guru lulusan FKIP.

Berdasarkan uraian di atas dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

Ha = Ada perbedaan signifikan kompetensi pedagogik Guru

Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta.

2. Kompetensi Profesional

Keahlian dan keterampilan teoritik serta praktik khususnya mengenai pembelajaran Ekonomi merupakan hal yang paling penting yang harus dimiliki oleh seorang Guru Ekonomi. Keahlian teoritik dan praktik yang dimiliki guru berkaitan dengan kompetensi profesional guru. Kompetensi profesional merupakan kemampuan dasar dalam penguasaan materi pembelajaran yang dimiliki oleh seorang guru, baik guru lulusan FKIP maupun non-FKIP. Setiap lulusan calon guru memiliki bekal masing-masing mengenai bidang keilmuan yang dikuasainya.

Guru Ekonomi lulusan FKIP mempelajari kompetensi profesional yang secara umum terdapat dalam kurikulum sekolah. Guru Ekonomi lulusan FKIP memiliki bekal kemampuan penguasaan standar kompentensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang pengembangan

yang akan diampu. Sedangkan Guru Ekonomi lulusan non-FKIP juga memiliki keahlian serta keterampilan teori maupun praktik pembelajaran Ekonomi, akan tetapi keterampilan teori dan praktik yang dimiliki bukan didasarkan pada profesi guru, sehingga dalam dunia pendidikan dan mengajar di kelas beberapa materi pembelajaran berbeda bahkan tidak dipelajari sebelumnya. Selain itu Guru Ekonomi lulusan non-FKIP belum memiliki pengalaman praktik langsung, misalnya dalam mata kuliah Pembelajaran Mikro dan Program Pengalaman Lapangan.

Berdasarkan uraian di atas dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

Ha = Ada perbedaan signifikan kompetensi profesional Guru

Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta.

3. Kompetensi Kepribadian

Menurut Asmani (2009: 117), tampilan kepribadian guru akan lebih banyak mempengaruhi minat dan antusisme anak dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Kompetensi kepribadian berkaitan dengan kemampuan profesionalitas seorang guru. Guru merupakan teladan serta panutan bagi peserta didik di sekolah. Setiap sikap dan perilaku seorang guru harus mencerminkan kepribadian yang baik bagi peserta didik. Guru Ekonomi baik lulusan FKIP maupun non-FKIP harus memiliki kepribadian yang baik sehingga menampilkan pribadi yang berwibawa dan profesional sebagai guru.

Guru Ekonomi lulusan FKIP dan non-FKIP tentu memiliki kepribadian yang baik yang telah dibekali sebelumnya dalam perkuliahan. Akan tetapi, sejak dalam perkuliahan Guru Ekonomi lulusan FKIP dituntut untuk berperilaku sopan, baik dalam hal berpakaian, tutur kata dan juga perbuatan. Sehingga Guru Ekonomi lulusan FKIP lebih menghargai dan bangga akan profesi keguruan yang dimiliki. Sedangkan Guru Ekonomi lulusan non-FKIP bukan berarti tidak diajarkan perilaku sopan dan baik, akan tetapi karena sebelumnya calon Guru Ekonomi lulusan non-FKIP tidak diarahkan sebagai seorang guru, maka kompetensi kepribadian yang dimiliki berbeda. Guru Ekonomi lulusan FKIP secara khusus tidak mempelajari sikap maupun perilaku seorang guru yang diaplikasikan dalam praktik langsung seperti Program Pengalaman Lapangan, sehingga Guru lulusan FKIP belum memiliki pribadi yang mantap dan stabil dalam melaksanakan profesi keguruannya.

Berdasarkan uraian di atas dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

Ha = Ada perbedaan signifikan kompetensi kepribadian Guru

Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta.

4. Kompetensi Sosial

Kompetensi sosial berkaitan dengan kemampuan guru dalam berinteraksi dengan peserta didik dan orang yang ada sekitar. Kompetensi ini menunjukkan bagaimana cara guru sebagai tenaga pendidik dapat

berinteraksi dengan peserta didik, sesama guru, wali murid, dan masyarakat sekitar yang kaitannya denga proses pembelajaran.

Sebagai seorang guru, baik guru lulusan FKIP maupun non-FKIP harus memiliki kemampuan sosial yaitu kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Guru Ekonomi lulusan FKIP mempelajari kemampuan sosial melalui Program Pengalaman Lapangan yang diselenggarakan di sekolah. Program pengalaman lapangan memberikan banyak pengetahuan bagi calon guru lulusan FKIP dalam berikteraksi dan berkomunikasi secara langsung dengan peserta didik, sesama pendidik dan juga masyarakat. Guru FKIP diduga lebih menguasai kompetensi sosial lebih baik daripada Guru Ekonomi lulusan non-FKIP, karena dalam masa perkuliahan Guru Ekonomi FKIP banyak melakukan praktik langsung terkait dengan tugas seorang guru. Sedangkan Guru Ekonomi lulusan non-FKIP, tidak memiliki pengalaman sosial secara langsung yang terkait dengan tugas sebagai guru, karena sebelumnya tidak dibekali dan tidak memiliki pengalaman secara langsung dalam dunia pendidikan.

Berdasarkan uraian di atas dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

Ha = Ada perbedaan signifikan kompetensi sosial Guru Ekonomi

SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta.

Berdasarkan uraian di atas dapat digambarkan kerangka berpikir yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:

Guru Ekonomi Lulusan FKIP

Guru Ekonomi Lulusan Non FKIP

Kompetensi Guru Pedagogik Profesional Kepribadian Sosial

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah Studi Komparatif. Menurut Sugiyono (2012: 36) penelitian komparatif adalah penelitian yang membandingkan keberadan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda. Menurut Sudjud (Arikunto, 2006: 267) penelitian komparasi akan dapat menemukan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan tentang benda-benda, tentang orang, tentang prosedur kerja, tentang ide-ide, kritik terhadap orang, kelompok, terhadap suatu ide atau suatu prosedur kerja. Dapat juga membandingkan kesamaan pandangan dan perubahan-perubahan pandangan orang, grup atau negara, terhadap kasus, terhadap orang, peristiwa atau terhadap ide-ide. Dalam penelitian ini, peneliti akan membandingkan perbedaan Kompetensi Guru Ekonomi SMA Lulusan FKIP dan Lulusan non- FKIP di SMA Kota Yogyakarta.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 2 Yogyakarta dan SMA Negeri 7 Yogyakarta. Sedangkan waktu penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pada bulan Mei-Juni 2016.

C. Sumber Data

1. Data Primer

Data primer adalah sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari responden penelitian. Dalam penelitian ini, siswa kelas X SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 7 Yogyakarta menjadi sumber data primer, karena penelitian mengenai kompetensi guru yang diajukan berdasarkan persepsi siswa.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data kedua yang diperlukan dalam melengkapi data primer yang diperlukan, data sekunder diperoleh dari data tempat penelitian, yang meliputi gambaran umum tempat penelitian, yaitu gambaran umum SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 7 Yogyakarta.

D. Subjek dan Objek Penelitian

1. Subjek Penelitian

Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah guru ekonomi di SMA Negeri 2 Yogyakarta dan SMA Negeri 7 Yogyakarta, karena penelitian ini mengenai studi komparasi kompetensi Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP di SMA Kota Yogyakarta. 2. Objek penelitian

Dalam penelitian ini objek penelitian adalah kompetensi Guru Ekonomi SMA lulusan FKIP dan lulusan non-FKIP yang dilihat berdasarkan persepsi siswa.

E. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2012: 80). Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh Guru Ekonomi di SMA Kota Yogyakarta.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dinamakan sampel apabila kita bermaksud untuk menggeneralisasikan hasil penelitian sampel (Arikunto, 2006:131). Sampel dalam penelitian ini adalah Guru Ekonomi di SMAN 2 Yogyakarta dan SMAN 7 Yogyakarta.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan rumus Slovin untuk mengetahui banyaknya responden sebagai berikut (Yusuf, 2014: 170):

Keterangan: s = sampel N = populasi

e = derajat ketelitian atau nilai kritis yang diinginkan

Perhitungan responden menggunakan rumus Slovin dengan tingkat ketelitian sebesar 5% adalah sebagai berikut:

Jadi jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 130,18 dibulatkan menjadi 130 responden.

Tabel 3.1

Jumlah Peserta Didik Kelas X SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 7 Yogyakarta

Kelas Jumlah

X PMIIA 1 SMAN 2 Yogyakarta 34

X PIIS 1 SMAN 2 Yogyakarta 30

X.3 SMAN 7 Yogyakarta 30

X.4 SMAN 7 Yogyakarta 30

X.5 SMAN 7 Yogyakarta 35

X.6 SMAN 7 Yogyakarta 34

Total 193

Perhitungan Responden Setiap Kelas:

Kelas X.3 = dibulatkan menjadi 20

Kelas X.4 = dibulatkan menjadi 20

Kelas X.5 = dibulatkan menjadi 24

Kelas X.6 = dibulatkan menjadi 23

Kelas X.IIA = dibulatkan menjadi 23

3. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel dapat ditentukan menggunakan 3 cara, yaitu teknik sampling untuk menentukan tempat penelitian, teknik sampling untuk menentukan jumlah sampel dan teknik sampling untuk menentukan jumlah responden penelitian.

Teknik sampling untuk menentukan tempat penelitian menggunakan Purposive Sampling. Effendi (2012, 172) mendefinisikan

purposive sampling sebagai metode pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu yang dianggap relevan atau dapat mewakili objek yang akan diteliti. Teknik ini digunakan karena beberapa pertimbangan, yaitu:

a. Jumlah sekolah di Kota Yogyakarta baik negeri maupun swasta hanya 51 sekolah.

b. Keterbatasan jumlah sekolah yang memiliki Guru Ekonomi lulusan non-FKIP.

Teknik sampling untuk menentukan jumlah sampel menggunakan

Simple Random Sampling, yaitu pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu (Sugiyono, 2012: 64).

Teknik sampling untuk menentukan jumlah responden penelitian menggunakan Proportional Sampling, yaitu pengambilan anggota sampel yang memperhatikan pertimbangan unsur-unsur atau kategori dalam populasi penelitian (Sugiyono, 2003: 75).

F. Operasionalisasi Variabel

Dalam penelitian ini variabel yang digunakan adalah variabel kompetensi guru yang meliputi kompetensi pedagogik, variabel profesional, variabel kepribadian dan variabel kompetensi sosial.

1. Kompetensi guru

Kompetensi guru merupakan serangkaian kemampuan yang harus dimiliki setiap guru dalam melaksanakan tugasnya yang meliputi semua kemampuan dalam kegiatan pembelajaran, perilaku atau tingkah laku, serta kegiatan sosial dengan lingkungan sekitarnya.

2. Kompetensi Pedagogik

Kompetensi pedagogik adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran baik dalam kegiatan awal pembelajaran, inti pembelajaran dan akhir pembelajaran menurut persepsi siswa. Guna memperoleh data dan agar variabel dapat diukur, maka variabel tersebut perlu diturunkan ke dalam beberapa indikator. Rincian mengenai variabel penelitian, indikator dan butir pernyataan disampaikan dalam tabel berikut:

Tabel 3.2

Kisi-kisi Kuesioner Variabel Kompetensi Pedagogik

Dimensi Indikator No. item

(+) (-)

Karakter peserta didik 1. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, spiritual, sosial, kultural,

emosional, dan intelektual

Perancangan dan Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran

2. Menguasai teori belajar dan prinsip- prinsip pembelajaran yang mendidik 7,8 3. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu. 9 10 4. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik. 11,12 5. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran 13 14 Pengembangan Potensi Peserta Didik

6. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikna berbagai potensi yang dimiliki. 15,16 Komunikasi

Evaluasi Hasil Belajar dan Refleksi 7. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik 8. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses hasil belajar 17,18 19,20,22 21 9. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran 23,24 10.Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran 25

3. Kompetensi Profesional

Kompetensi profesional adalah kemampuan guru dalam menguasai dan memahami materi pembelajaran secara luas dan mendalam menurut persepsi siswa. Guna memperoleh data dan agar variabel dapat diukur, maka variabel tersebut perlu diturunkan ke dalam beberapa indikator. Rincian mengenai variabel penelitian, indikator dan butir pernyataan disampaikan dalam tabel berikut:

Tabel 3.3

Kisi-kisi Kuesioner Variabel Profesional

Dimensi Indikator No. item

(+) (-)

Penguasaan Materi Pembelajaran

1. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu 27,28 26 2. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran 29,30 3. Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif 31 32 4. Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif 33

Penguasaan Teknologi 5. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri 34 35 4. Kompetensi Kepribadian

Kompetensi kepribadian adalah keseluruhan sikap dan perilaku guru dalam mengajar dan berperilaku dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru sehingga akan dijadikan teladan dan contoh menurut persepsi siswa. Guna memperoleh data dan agar variabel dapat diukur, maka variabel tersebut perlu diturunkan ke dalam beberapa indikator. Rincian mengenai variabel penelitian, indikator dan butir pernyataan disampaikan dalam tabel berikut:

Tabel 3.4

Kisi-kisi Kuesioner Variabel Kompetensi Kepribadian

Dimensi Indikator No. item

(+) (-) Dapat Menjadi Teladan 1. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia 36,37 2. Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat

3. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa

41,42

Etos Kerja 4. Menunjukkan etos

kerja,

tanggungjawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri

43 44

5. Menjunjung tingi kode etik profesi guru

45

5. Kompetensi Sosial

Kompetensi sosial adalah kemampuan guru dalam berhubungan dengan sesama dan lingkungan sekitar. Karena dalam seorang guru adalah teladan bagi siswa-siswanya sehingga perlu memberikan contoh baik mengenai perilaku maupun sikap dengan lingkungan sekitar dan sesama menurut persepsi siswa. Guna memperoleh data dan agar variabel dapat diukur, maka variabel tersebut perlu diturunkan ke dalam beberapa indikator. Rincian mengenai variabel penelitian, indikator dan butir pernyataan disampaikan dalam tabel berikut:

Dokumen terkait