Bagan 4.1. Struktur Organisasi Rumah Sakit Umum Daerah Batubara
5.1. Kompetensi Teknis Perawat di Rumah Sakit Umum Batubara
5.1.3 Kompetensi Teknis Perawat di ruang Operasi Rumah Sakit Umum Batubara
Hasil penelitian untuk kompetensi teknis di ruang operasi bahwa sebesar 81,8% perawat selalu melakukan tindakan sesuai dengan asuhan keperawatan, namun hanya 45,5 % perawat yang selalu melaksanakan intervensi keperawatan yang direncanakan sesuai dengan standar praktik keperawatan dibawah pengawasan perawat penanggung jawab. Selain itu, hanya 45,5% perawat yang selalu merujuk pasien kepada perawat penanggung jawab untuk menjamin pasienagar mendapatkan intervensi terbaik yang tersedia.
Nilai kepatuhan perawat pada standar asuhan keperawatan dan SOP disebabkan karena perawat di ruang operasi diharuskan memiliki kepatuhan dalam hal tindakan asuhan keperawatan yang sesuai agar dalam hal tindakan operasi dapat berjalan dengan baik, dan pasien pasca operasi juga dapat di tangani dengan baik. Tindakan di ruang operasi dikatakan baik jika persiapan pasien, pada pelaksanaan tindakan operasi dan pasca tindakan operasi dilakukan tindakan yang sesuai dengan asuhan keperawatan dan SOP yang ada. Rendahnya perawat meminta arahan atau intervensi pada perawat penanggung jawab mungkin disebabkan perawat penanggung jawab yang masih muda, dan juga masih setara dalam hal pengalaman dan usia dengan perawat lainnya, dikarenakan perawat tersebut hampir semua memiliki masa kerja yang sama.
Secara keseluruhan perawat ruang operasi yang memiliki kompetensi teknis baik sebesar 54,5 %, dengan perawat yang berkategori baik berdasarkan kompetensi
teknis dasar sebanyak 72,7% dan sebanyak 63,6% perawat berkategori baik berdasarkan kompetensi teknis khusus diruangan. Asumsi peneliti ini disebabkan mayoritas perawat berada pada rentang usia dibawah 36 tahun (9 orang), memiliki masa kerja dibawah atau sama dengan 2 tahun (8 orang), dimana mayoritas dari perawat merupakan perawat pemula yang baru tamat dan minim pengalaman, atau disebut juga perawat pemula lanjutan yang memiliki pengalaman minimal 1 tahun di dalam ruang lingkup pekerjaan yang sama.
Hasil penelitian yang diperoleh masih berada di bawah standar yang diberikan oleh kementrian kesehatan, hasil ini dipengaruhi oleh masa kerja perawat yang masih pendek, disebabkan rumah sakit yang baru beroperasi sehingga perawat tersebut baru bekerja di ruang operasi selama rumah sakit dijalankan.Dalam masa kerja tersebut, perawat yang ditempatkan pada umumnya bukan berasal memang khusus dari ruang operasi, sehingga pengalaman kerja yang dimiliki baru dimulai sesuai dengan penempatan masing-masing perawat.Keberadaan perawat di ruang operasi bertugas membantu dokter dalam menangani pasien, sehingga perawat harus memiliki pengetahuan dalam kasus-kasus yang ditangani oleh dokter, mampu mengoperasikan alat-alat yang digunakan selama prosedur pengerjaan pasien dalam ruangan operasi.
Tindakan yang dilakukan perawat terhadap pasien harus disesuaikan dengan kemampuan perawat dengan mengikuti pedoman standar keperawatan, jika perawat tidak mampu menangani sautu kasus, sebaiknya perawat merujuk pasien pada perawat penanggung jawab, sehingga pelayanan terhadap pasien dapat maksimal diberikan, tidak dengan menangani pasien yang berada diluar kemampuan perawat.
Perawat juga harus membekali diri dengan kemampuan menjelaskan kondisi pasien terhadap keluarga pasien, prosedur tindakan yang akan dilakukan di dalam ruang operasi, sehingga mampu menyampaikannya kepada keluarga pasien.
Menurut Asosiasi Perawat Amerika di dalam Bartlett (2010) bahwa untuk meningkatkan kompetensi perawat secara keseluruhan mencakup dari lima poin ini yaitu : 1) Melaksanakan pelayanan yang fokus pada pasien; 2) Kemudian mampu bekerja sama didalam tim, baik dengan pendidikan yang berbeda; 3) Bekerja berdasarkan ilmu dan pendidikan / kompetensi terbaru yang sesuai dan dibutuhkan pasien; 4) Selalu meningkatkan kualitas kerja, baik untuk mengidentifikasi kesalahan dan resiko yang akan datang; 5) Mampu memberikan informasi yang cakap, baik dalam berkomunikasi, mengedukasi, dan menyampaikan keputusan yang penting. 5.2. Kinerja Perawat Rumah Sakit Batubara
Kinerja perawat di ruang UGD, ICU dan ruang Operasi yang berkategori baik sebesar 61,5 %, dimana pengkajian sebesar 69,2 % perawat memiliki kategori baik, dan diagnosa keperawatan sebesar 79,5% perawat berkategori baik, perencanaan keperawatan sebesar 74,4% perawat berkategori baik, implementasi sebesar 71,8% perawat berkategori baik, evaluasi sebesar 79,5% berkategori baik. Hal ini terlihat bahwa pengkajian merupakan variabel asuhan keperawatan yang sedikit berkategori baik dibanding dengan 4 asuhan keperatan lainnya, ini dimungkinkan karena banyaknya perawat yang masih muda, minim pengalaman dan mayoritas pegawai berstatus honorer atau non PNS.
Berdasarkan penelitian ini sebanyak 69,2% perawat telah melakukan pengkajian. Kinerja dalam pengkajian ini belum mencapai standar yang telah ditetapkan oleh Kemenkes.Pengkajian merupakan hal yang penting dan dasar untuk melakukan asuhan keperawatan karena didalamnya rangkaian pengumpulan data dan akan mempengaruhi pekerjaan selanjutnya yaitu diagnosa sampai evaluasi. Akan tetapi, diagnosa keperawatan telah mencapai standar Kemenkes yaitu 79,5% perawat telah melakukannya.
Diagnosa keperawatan tidak akan berfungsi jika pengkajian data kurang atau tidak lengkap. Diagnosa keperawatan merupakan kesimpulan yang ditarik dari data yang dikumpulkan tentang pasien Hal ini menunjukkan jika pengkajian tidak dilakukan maka diagnosa keperawatan tidak akan berarti bahkan mengancam klien karena tindakan yang dilakukan tidak sesuai dengan kondisi pasien yang sebenarnya oleh sebab itu perawat harus melakukan pengkajian secara lengkap dan akurat (Triwibowo, 2013). Penelitian ini menunjukkan perencanaan dan implementasi juga belum mencapai standar yang di tetapkan Kemenkes RI.Implementasi merupakan tindakan atau aplikasi dari rencana asuhan keperawatan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Berdasarkan hasil penelitian ini evaluasi keperawatan telah mencapai 79,5% perawat melakukan tindakan evaluasi sudah sesuai dengan standar. Evaluasi keperawatan merupakan tahapan untuk mengetahui apakah hasil yang diharapkan telah dicapai (Triwibowo, 2013). Hasil akan dicapai jika semua kegiatan proses asuhan keperawatan dari pengkajian sampai evaluasi dilakukan dengan benar dan
tepat. Semua proses asuhan keperawatan keperawatan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya, dengan ini semua tahapan asuhan keperawatan harus sesuai dengan standar agar hasil dapat dicapai.