• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komponen biaya pada lahan kritis pada PT Berau Coal

Umur Volume

C. Metode Penelitian 1. Lokasi penelitian

3. Komponen biaya pada lahan kritis pada PT Berau Coal

Pada kondisi lahan kritis, kegiatan penanaman lebih ditujukan untuk merehabilitasi kembali lingkungan yang telah rusak baik itu akibat

Ringkasan Hasil Penelitian 2014

136

penambangan atau kegiatan yang lainnya. Rehabilitasi ini dilakukan dengan cara penanaman kembali atau penghijauan suatu kawasan yang rusak akibat kegiatan penambangan tersebut. Pelaksanaan reklamasi dilakukan sebelum kegiatan revegetasi dan dapat dilakukan pula secara bersamaan sejauh dengan kemajuan aktivitas penambangan.

Komponen-komponen biaya yang terjadi pada kegiatan

mengembalikan kondisi lahan bekas tambang siap ditanami dengan tanaman jenis Dipterokarpa juga turut diperhitungkan. Dalam kegiatan tersebut ditanam juga jenis-jenis cepat tumbuh (fast growing) non Dipterokarpa, tetapi pemisahan biayanya juga dihitung dalam skala 1 hektar.

1. Biaya revegetasi

Biaya revegetasi terdiri dari (a) biaya analisa kualitas tanah; (b) biaya pengadaan bibit; (c) biaya penanaman; (d) biaya perawatan, pemupukan dan pemeliharaan tanaman. Selain bibit jenis tanaman Dipterokarpa juga terdapat bibit cover crops dan bibit tanaman pioner. Bibit-bibit dari jenis pioneer yang dipilih untuk kegiatan revegetasi adalah sengon, kaliandra, johar, trembesi, ketapang, angsana. Sementara tanaman pokok yang dipilih adalah jenis-jenis Dipterokarpa, mahoni, gaharu, sungkai, ulin dan kayu hitam.

2. Biaya penatagunaan dan penyiapan lahan

Biaya penatagunaan dan penyiapan lahan terdiri dari (a) biaya penataan permukaan tanah; (b) biaya penebaran top soil dan (c) biaya pekerjaan pengendalian erosi dan pengelolaan air.

Tabel 2. Komponen-komponen biaya kegiatan revegetasi dan penanaman jenis Dipterokarpa pada PT Berau Coal

No. Pengeluaran (Belanja) Satuan Biaya (Rp/ha)

A Biaya operasional I Biaya Langsung

1 Analisa kualitas tanah ha 156.500

2. Pengadaan Bibit (persemaian) ha

Bibit pioner ha 1.600.000

Bibit CC 5.806.875

Bibit jenis Dipterokarpa dll 5.000.000

3 Penatagunaan dan penyiapan lahan ha 152.749.021

4 Penanaman ha 28.596.568

5 Pemeliharaan tanaman ha 5.600.000

6 Perawatan dan pemupukan ha 2.037.133

Jumlah biaya langsung ha 301.546.097

Ringkasan Hasil Penelitian 2014

137 Semua nilai komponen-komponen biaya pada kegiatan revegetasi pada lahan kritis jauh lebih tinggi dan mahal dari semua kegiatan penanaman pada berbagai kondisi hutan yang telah diteliti sebelumnya. Diperlukan data biaya dari hasil produksi jenis tanaman pioner dan fast growing untuk mendukung penilaian kelayakannya secara finansial.

E. Kesimpulan dan Rekomendasi

1. Hasil analisis finansial pengembangan usaha tanaman jenis Dipterokarpa di lahan terdegradasi PT SJM masih mampu memberikan harapan keuntungan atau layak diusahakan pada tingkat suku bunga riil 6,78%. Hal ini ditunjukkan dengan hasil NPV ≥ 0, BCR ≥ 1 dan IRR ≥ suku bunga bank yang digunakan. Sementara pada lahan kristis (bekas tambang) analisa yang dilakukan pada PT Bearu Coal hanya dibatasi pada analisa biaya pelaksanaan reklamasi untuk tujuan rehabilitasi dan revegetasi.

2. Analisa sensitivitas yang dilakukan menunjukkan bahwa kegiatan pengembangan usaha tanaman jenis Dipterokarpa hanya pada PT. SJM saja yang masih dapat memberikan keuntungan menghadapi perubahan dalam hal penurunan hasil pendapatan sebesar 30% dan kenaikan suku bunga hingga 8% sebab memenuhi ketiga kriteria yang dipakai, yaitu NPV ≥ 0, BCR ≥ 1 dan IRR ≥ suku bunga bank yang digunakan.

3. Asumsi-asumsi yang digunakan untuk mendukung perhitungan biaya kegiatan pengembangan jenis Dipterokarpa merupakan hal yang penting dan asumsi-asumsi itu diharapkan mendekati nilai sesungguhnya dari sebuah nilai yang diharapkan. Hal ini untuk membantu meminimalisasi resiko atas perubahan ekonomi seperti inflasi, perubahan nilai tukar mata uang, perubahan nilai tingkat suku bunga, penurunan produksi dan sebagainya.

4. Pengembangan usaha jenis tanaman Dipterokarpa pada lahan hutan terdegradasi, dari aspek finansial memberikan harapan keuntungan jika dikelola dengan benar. Perusahaan harus benar-benar mampu melakukan efisiensi dalam setiap tahapan kegiatannya sehingga dapat menekan biaya-biaya langsung, biaya-biaya tidak langsung dan investasi. Namun tetap diperlukan dukungan dari pihak pemerintah dalam upaya-upaya untuk meningkatkan daya tarik investor dengan memberikan insentif biaya, deregulasi kebijakan dalam hal rasionalisasi pungutan, kebebasan memilih jenis dan daur serta jaminan usaha dalam bentuk kepastian hukum dan keamanan kawasan berusaha.

Ringkasan Hasil Penelitian 2014

Program : Litbang Hutan Tanaman

Judul RPI : Pengelolaan Dipterokarpa

Koordinator RPI : Dr. Tien Wahyuni, S. Hut, MP.

Judul Kegiatan : Ekologi dan Konservasi Jenis Dipterokarpa di

Kalimantan dan Sumatera

Pelaksana Kegiatan : Agus Wahyudi, S. Hut., MSc.

ABSTRAK

Deforestasi dan degradasi hutan telah menyebabkan menurunnya wilayah sebaran dan keanekaragaman jenis Dipterocarpaceae di alam. Data sebaran dan keanekaragaman jenis Dipterocarpaceae yang terbaru hingga saat ini masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daerah keanekaragaman jenis, ekologi, sebaran dan status konservasi jenis-jenis Dipterocarpaceae di Hutan Lindung Weheadan Taman Nasional Way Kambas. Pengumpulan data keanekaragaman jenis dan sebaran Dipterocarpaceae dilakukan melalui kegiatan eksplorasi dan studi pustaka. Pembuatan peta sebaran Dipterocarpaceae berdasarkan spesifikasi habitat. Penilaian status konservasi Dipterocarpaceae dilakukan dengan menggunakan Extent of Occurence (EOO) dan Area of Occupancy (AOO). Dari hasil eksplorasi di Hutan Lindung Wehea, teridentifikasi 29 jenis Dipterocarpaceae, yang terdiri dari 6 marga, yaitu Anisoptera (2 spesies), Dipterocarpus (2 spesies), Dryobalanops (2 spesies), Hopea (2 spesies), Parashorea (1 spesies) dan Shorea (20 jenis). Tempat tumbuh Dipterocarpaceae berada pada area dengan ketinggian 250 – 400 m dari permukaan laut, topografi datar sampai dengan lereng, curah hujan > 2000 mm/tahun, suhu antara 25 – 30o C dan kelembaban udara 60 - 75%. Jenis yang memiliki sebaran luas adalah S. leprosula, S. parvifolia, S. parvistipulata dan S. pinanga. Berdasarkan hasil eksplorasi di TNWK, dapat teridentifikasi 8 jenis Dipterocarpaceae, yang terdiri dari 5 marga, yaitu Anisoptera (1 spesies), Dipterocarpus (1 spesies), Hopea (1 spesies), Shorea (4 spesies) dan Vatica (1 spesies). Tempat tumbuh Dipterocarpaceae merupakan hutan sekunder yang berada pada ketinggian 30 – 60 m dari permukaan laut, dengan topografi datar, curah hujan > 2000 mm/tahun, suhu udara antara 28 – 33o celcius dan kelembaban udara 60 – 75%. Jenis Dipterocarpaceae yang dominan di TNWK adalah Dipterocarpus gracilis, Shorea leprosula, Shorea ovalis dan Shorea parvifolia. Status konservasi 5 jenis Dipterocarpaceae yang memiliki sebarannya cukup luas yaitu: S. leprosula, S. parvifolia, S. parvistipulata, S. ovalis dan S. pinanga. Hasil penilaian status konservasi dengan GeoCat menunjukkan bahwa secara EOO jenis tersebut berstatus resiko rendah, tetapi secara AOO jenis tersebut berstatus terancam.

Ringkasan Hasil Penelitian 2014

140

RINGKASAN A. Latar Belakang

Data dan informasi mengenai sebaran, spesifikasi habitat dan keanekaragaman jenis Dipterocarpaceae untuk berbagai lokasi hingga saat ini masih bersifat sangat umum. Referensi mengenai daerah sebaran hanya disebutkan wilayah secara global, misalnya Borneo, Kalimantan atau Kalimantan bagian selatan, dan sangat jarang menyebut daerah sebaran secara detail. Pada tingkat global, status konservasi jenis Dipterocarpaceae saat ini masih mengacu pada Red List IUCN. Dan berdasarkan IUCN, data-data tersebut masih perlu diperbarui karena adanya perubahan kondisi hutan yang terus menerus terjadi. Pada level nasional sendiri, status konservasi jenis-jenis Dipterocarpaceae terdapat pada PP No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Dengan rentang waktu yang sudah cukup lama sejak ditetapkannya peraturan pemerintah tersebut, tentu saja banyak jenis yang harus dievaluasi status konservasinya. Penelitian ekologi dan konservasi jenis Dipterocarpaceae diharapkan dapat memberikan informasi terbaru tentang karakteristik, spesifikasi habitat, sebaran dan status konservasi jenis Dipterocarpaceae.

B. Tujuan dan Sasaran a) Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis, ekologi, sebaran dan status konservasi Dipterocarpaceae di Hutan Lindung Wehea dan Taman Nasional Way Kambas.

b) Sasaran

1) Tersedianya database keanekaragaman jenis, ekologi dan sebaran Dipterocarpaceae dari di Hutan Lindung Wehea dan Taman Nasional Way Kambas.

2) Tersedia informasi status konservasi jenis Dipterocarpaceae di Hutan Lindung Wehea dan Taman Nasional Way Kambas.

C. Metode Penelitian