HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Faktor Eksternal
B.2. Komponen Habitat Satwaliar
Sebagaimana satwa lainnya, macan tutul jawa juga memerlukan komponen struktural habitat (biotik, abiotik, dan proses-proses kimiawi) maupun komponen fungsional habitat (air, pakan dan cover) untuk mendukung kelangsungan hidupnya. Dalam hubungannya dengan pola sebaran spasial macan tutul jawa, peran masing-masing komponen dan interaksi yang terjadi dengan macan tutul jawa dapat dijelaskan sebagai berikut:
B.2.a. Pakan
TNAP merupakan salah satu taman nasional yang memiliki keanekarahgaman hayati yang tinggi. Hal ini sangat menguntungkan bagi macan tutul jawa karena akan semakin banyak jenis dan jumlah satwa mangsa yang dapat ditemukan. Selain beberapa satwa yang terdaftar pada tabel 20, macan tutul juga mau memangsa serangga, kelelawar, dan telur penyu yang dapat ditemukan di sepanjang pantai Marengan. Pantai ini merupakan salah satu tempat yang dijadikan sebagai area peneluran oleh penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu hijau (Chelonia mydas).
36
Tabel 20. Keanekaragaman satwa mangsa macan tutul jawa di TNAP
No. Nama lokal Nama ilmiah
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Lutung budeng Monyet ekor panjang Kijang Kancil Rusa Babi hutan Banteng Trenggiling Landak Ayam hutan
Trachypithecus auratus auratus Macaca fascicularis
Muntiacus muntjac Tragulus javanicus Cervus timorensis russa Sus scrofa
Bos javanicus Manis javanica Histrix javanica Gallus gallus
Penyebaran dari satwa mangsa tersebut cukup merata di seluruh bagian Taman Nasional Alas Purwo. Keadaan ini mempermudah macan tutul jawa untuk mendapatkan makanan. Namun demikian, sebagai predator macan tutul jawa memiliki semacam prioritas dalam memilih satwa mangsanya. Hal ini dimungkinkan karena sumber pakan di TNAP cukup melimpah dan menyediakan banyak pilihan. Dari pengamatan yang dilakukan, diketahui bahwa jejak macan tutul jawa seringkali ditemukan di wilayah hutan yang juga digunakan oleh lutung dan monyet ekor panjang. Hal ini didukung dengan adanya rambut lutung dan monyet ekor panjang di dalam kotoran macan tutul jawa yang ditemukan. Selain itu, macan tutul jawa juga akan memilih makanan yang dapat mencukupi kebutuhannya sehingga tidak perlu beberapa kali berburu. Karena tujuan ini macan tutul jawa juga memilih rusa, kijang, dan anakan banteng sebagai mangsanya.
Gambar 12. Penyu di pantai Marengan: a. Track penyu ketika mendarat dan kembali ke laut, b. Proses keluarnya telur dan peletakannya di sarang, c. Pengambilan telur penyu untuk dibawa ke penangkaran.
B.2.b. Air
Salah satu hal yang sangat vital bagi semua mahluk hidup adalah keberadaan air. Macan tutul jawa akan memilih tempat-tempat yang menyediakan air, sehingga tidak perlu banyak mengeluarkan tenaga untuk mencari sumber air ke tempat yang jauh.
Ketika penelitian dilakukan, Taman Nasional Alas Purwo sedang mengalami musim pancaroba dari musim hujan, beralih ke musim kemarau. Pengaruh keberadaan air
c b
37
terhadap pola sebaran spasial macan tutul jawa akan sangat terlihat apabila keadaan sudah benar-benar berada di puncak musim kemarau. Pada saat itu kebanyakan satwa, termasuk macan tutul jawa akan mudah ditemukan di sekitar sumber air. Macan tutul jawa menggunakan air untuk keperluan minum dan membersihkan diri.
Gambar 13. Beberapa sumber air di TNAP
a. Sendangbiru, b. parangireng, c. sumbergedang, d. pancuran buatan di sadengan, e. sungai yang membelah sadengan, f. muara sunglonombo, g. sungai segara anakan.
B.2.c. Cover
Macan tutul jawa memerlukan cover untuk keperluan tidur, beristirahat ataupun berburu. Pada penelitian ini macan tutul jawa lebih sering ditemukan di hutan pantai, hutan dataran rendah, dan hutan tanaman dibandingkan di daerah mangrove dan padang penggembalaan. Penyebabnya adalah karena vegetasi yang ada di hutan pantai, hutan dataran rendah dan hutan tanaman mampu menyediakan perlindungan yang lebih menguntungkan apabila dibandingkan dengan vegetasi di padang penggembalaan ataupun di mangrove. Meskipun di padang penggembalaan Sadengan satwa seperti rusa dan banteng lebih mudah dijumpai dan sering terlihat berkumpul dalam kelompok yang cukup besar, selama waktu penelititan macan tutul jawa tidak dijumpai melakukan perburuan di wilayah ini. Kenyataan tersebut terutama berhubungan dengan kepentingan untuk memperoleh rasa aman, strategi yang digunakan macan tutul jawa untuk mendapatkan buruan, dan perlindungan dari sinar matahari.
Macan tutul jawa akan merasa lebih aman berada di habitat yang memiliki penutupan lahan cukup rapat karena kondisi yang demikian akan memudahkan macan tutul jawa untuk bersembunyi dan melakukan kamuflase apabila ada keadaan yang dianggap berbahaya. Lanskap padang penggembalaan yang luas dan terbuka akan
g e
a
d f
38
mempermudah satwa mangsa untuk melihat macan tutul jawa sehingga mereka akan lebih waspada, lebih cepat dan lebih leluasa untuk melarikan diri ataupun mengambil tindakan penyelamatan yang lain. Kejadian ini akan memaksa macan tutul jawa supaya mengeluarkan energi lebih banyak untuk mendapatkan mangsa yang sama apabila dibandingkan dengan sistem perburuan menunggu, mengintai dan menyergap yang dapat diterapkan di tempat yang memiliki cover vegetasi cukup rapat seperti hutan tanaman, hutan dataran rendah, ataupun hutan pantai.
Keadaan tajuk yang akan menentukan intensitas sinar matahari yang dapat sampai pada lantai hutan akan menjadi salah satu penentu penggunaan ruang oleh macan tutul jawa. Sinar matahari yang terasa lebih terik di padang penggembalaan juga akan menuntut penggantian asupan energi yang lebih besar karena proses pembakaran yang lebih cepat di dalam tubuh macan tutul jawa. Macan tutul jawa akan mengalami kerugian karena akan mengalami pemborosan sumber tenaga. Hal ini juga akan menimbulkan ketimpangan antara waktu dan usaha yang diperlukan untuk berburu dengan pencapaian hasil berupa periode masa kenyang serta suplai energi untuk mendukung kelangsungan hidup dan aktivitas di dalamnya.
Gambar14. Penampilan vegetasi pada beberapa ekosistem.
a. Hutan Pantai, b. Bambu, c. Hutan dataran rendah, d. Hutan tanaman, e. Padang penggembalaan, f. Mangrove di Bedul, g. Mangrove di Buyukan.
Selain vegetasi, macan tutul jawa disinyalir juga menggunakan gua-gua sebagai tempat berlindung. TNAP merupakan salah satu kawasan konservasi yang memiliki bentang alam karst yang cukup luas. Kondisi ini akan berpengaruh pada pembentukan dan penyediaan gua yang dapat digunakan oleh macan tutul jawa. Gua-gua kecil yang ada
g f e d c b a
39
sangat berpotensi menjadi tempat tidur ataupun sekedar beristirahat sejenak bagi macan tutul jawa.
Gambar 15. Gua kecil dan formasi batuan di TNAP. a. gua kecil di atas gua istana, b,c,d. gua kecil di brobos, e,f. Rongga pada batu di pantai pancur.