IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 Komponen Hasil Panen
Komponen hasil panen merupakan gambaran akhir dari produksi tanaman. Pada panjang malai semua sistem budidaya tidak berbeda nyata. Sistem budidaya konvensional memiliki panjang malai yang lebih besar dibandingkan dengan sistem budidaya lainnya (Tabel 4).
Tabel 4. Pengaruh Sistem Budidaya terhadap Panjang Malai, Jumlah Gabah per Malai, Persentase Gabah Hampa dan Bobot 1000 Butir
Sistem budidaya Panjang malai (cm) Jumlah gabah per malai (butir) Gabah hampa (%) Bobot 1000 butir* (g) Konvensional 21.52a 103.87a 37.19a 25.79b S.R.I. Anorganik 21.04a 110.42a 47.82a 21.74a S.R.I. Organik 20.52a 97.62a 51.35a 22.99a S.R.I. Semi-organik 20.62a 99.82a 48.54a 22.66a
Ket : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam satu kolom tidak menunjukan perbedaan yang nyata menurut DMRT 5%
* : pada kadar air 14%
Dari Tabel 4 dapat terlihat, bahwa sistem budidaya yang dilakukan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah gabah per malai maupun gabah hampa. Kekeringan membuat jumlah gabah per malai menjadi rendah dan persentase gabah hampa menjadi tinggi. Menurut De Datta (1975) kekurangan air pada fase vegetatif akhir dan fase reproduktif dapat menurunkan jumlah gabah per malai. Kekurangan air terutama akan menghambat pada saat inisiasi malai.
Sistem budidaya konvensional memiliki persentase gabah hampa terendah dibandingkan sistem budidaya lainnya. Hal ini dikarenakan pada sistem budidaya konvensional mengalami cekaman air dalam jangka waktu yang lebih pendek dibandingkan sistem budidaya S.R.I. baik anorganik, organik maupun semi-organik karena perbedaan usia tanaman pada saat awal tanam dan pengelolaan air untuk tanaman. Hal ini sejalan dengan pernyataan Siregar (1981) yaitu pada saat tanaman beralih dari fase vegetatif ke fase generatif, kebutuhan tanaman akan air akan tinggi sekali, yang mana disebabkan daun-daun tanaman telah mencapai lebar yang maksimal. Dengan meningkatnya lebar daun-daun maka penguapan atau respirasi akan meningkat pula dan untuk menghindarkan bulir-bulir yang semuanya atau sebagian besar hampa atau steril, maka tanaman memerlukan air
22
yang banyak sampai bulir-bulir memperlihatkan tanda-tanda menguning, suatu pertanda bahwa tanaman mulai masak.
Pada bobot 1000 butir, sistem budidaya konvensional nyata lebih tinggi dibandingkan sistem budidaya lainnya. Sistem budidaya S.R.I. anorganik, memiliki panjang malai, jumlah gabah per malai tertinggi dan terendah untuk persentase gabah hampa dibandingkan dengan sistem budidaya S.R.I. organik dan S.R.I. semi-organik. Akan tetapi untuk bobot 1000 butir sistem budidaya S.R.I. anorganik paling rendah dibandingkan sistem budidaya lainnya. Hal ini berbanding terbalik dengan sistem budidaya S.R.I. organik, yang memiliki panjang malai, jumlah gabah per malai yang lebih rendah dan persentase gabah hampa lebih banyak, memiliki bobot 1000 butir lebih tinggi dibandingkan dengan S.R.I. anorganik dan S.R.I. semi-organik. Hal ini dikarenakan pengisian gabah bernas lebih efektif pada perlakuan S.R.I. organik.
Produksi padi ditentukan oleh jumlah batang produktif, jumlah gabah per malai, persentase gabah hampa dan bobot 1000 butir gabah isi. Semua faktor yang mempengaruhi komponen produksi akan menentukan produksi padi. Kekeringan yang dialami oleh tanaman padi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi komponen produksi yang menyebabkan turunnya produksi padi.
Gabah kering panen adalah hasil gabah pada saat panen atau pemungutan hasil. Gabah kering giling adalah gabah yang sudah dijemur dan siap untuk diproses menjadi beras. Perbandingan antara gabah kering panen dan gabah kering giling sekitar 5 berbanding 4. Perbandingan ini berlaku untuk pertanaman yang tidak mengalami kekurangan air selama pertumbuhannya dan pemungutan hasil dilakukan tepat pada waktunya (Siregar, 1981). Tabel 5 menunjukkan gabah kering panen dan gabah kering giling dari setiap sistem budidaya.
Tabel 5. Pengaruh Sistem Budidaya terhadap Gabah Kering Panen dan Gabah Kering Giling
Sistem Budidaya Gabah Kering Panen (ton/ha)
Gabah Kering Giling * (ton/ha)
Konvensional 3.48b 2.98b SRI Anorganik 2.76ab 2.26ab SRI Organik 1.83a 1.37a SRI Semi-organik 2.41a 1.96a
Ket : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam satu kolom tidak menunjukan perbedaan yang nyata menurut DMRT 5% * : pada kadar air 14%
23
Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa sistem budidaya konvensional nyata lebih tinggi untuk produksi gabah kering panen maupun gabah kering giling dibandingkan dengan sistem budidaya S.R.I. organik dan S.R.I. semi-organik, sedangkan dengan sistem budidaya S.R.I. anorganik tidak berbeda nyata. Sistem budidaya konvensional memiliki produksi yang lebih tinggi karena tanaman mengalami cekaman air pada saat tanaman sudah melewati tahap pembentukan malai sedangkan untuk semua sistem budidaya S.R.I. pada saat tahap pembentukan malai sudah mengalami cekaman air, sehingga waktu cekaman air yang dialami sistem budidaya konvensional lebih pendek daripada sistem budidaya lainnya. Hal tersebut sejalan dengan percobaan mengenai cekaman air yang dilakukan di Filipina bahwa cekaman air yang berat pada setiap masa pertumbuhan dapat sangat menurunkan hasil panen dan tahap yang paling kritis dalam kerentanan terhadap cekaman air berlangsung sejak awal pembentukan malai sampai pembungaan (De Datta et al., 1973).
Untuk sistem budidaya S.R.I. organik memiliki hasil yang paling rendah karena kebutuhan nutrisinya hanya dipenuhi oleh pupuk kompos yang tidak dapat langsung tersedia untuk tanaman dan memiliki kandungan nutrisi yang lebih kecil dibandingkan pupuk kimia. Umumnya budidaya S.R.I. organik dalam masyarakat menggunakan mikroorganisme lokal (MOL) akan tetapi pada penelitian ini MOL tidak digunakan karena ingin melihat perbedaan antara sistem budidaya S.R.I. organik dan S.R.I. semi-organik yang menggunakan pupuk organik hayati.
Selain faktor kekeringan, jumlah produksi yang menurun baik pada sistem budidaya konvensional maupun sistem budidaya S.R.I. juga diakibatkan oleh serangan hama. Kejadian yang sama juga dialami oleh penelitian yang dilakukan di Kabupaten Sukabumi dan Kecamatan Tanjung Sari, Bogor. Salah satu penyebab serangan hama adalah tidak serempaknya waktu penanaman padi dengan petani sekitar tempat penelitian (Kusumawardhany dan Agusmiati, tidak dipublikasikan).
Panen untuk sistem budidaya konvensional dilakukan pada saat umur tanaman 114 hari setelah semai, sedangkan untuk semua sistem budidaya S.R.I. dipanen pada usia 106 hari setelah semai. Hal ini menunjukan bahwa waktu tanam dengan metode S.R.I. terbukti lebih cepat dibandingkan dengan konvensional,
24
dengan penghematan waktu sebanyak 8 hari. Selain itu kondisi lahan yang kering juga ikut mempengaruhi waktu panen yang lebih cepat.