• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBAHASAN TEMUAN PENELITIAN

5.2 Komponen-komponen Tradisi Batagak Pangulu

Komponen-komponen yang terdapat dalam upacara batagak pangulu di Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat sebagai berikut.

5.2.1 Pelaku

Pelaku tradisi batagak pangulu di Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat sebagai berikut.

5.2.1.1 Penyampai Pidato Adat

Penyampaian pidato adat adalah dalam rangka mengukuhkan/meresmikan gelar penghulu. Pidato adat ini disampaikan oleh F Dt. Patiah Baringek salah seorang penghulu yang dituakan dan menguasai pidato adat dan sembah kata serta adat-istiadat Minangkabau.

5.2.1.2 Penyampai Pidato Persembahan

Penyampaian pidato persembahan juga dalam rangka mengukuhkan atau meresmikan gelar penghulu. Penghulu yang sudah dikukuhkan sudah bisa dibawa sehilir semudik dan dilibatkan dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi anak dan kemenakan serta masyarakat nagari. Penyampai pidato persembahan selain melibatkan F Dt. Patiah Baringek juga melibatkan Dt. Kiraiang/Dt. Sirah, Dt. Tan Marajo, dan Dt. Sidi Panduko. Penyampai pidato persembahan ini adalah penghulu-penghulu yang menguasai pidato persembahan dan adat-istiadat Minangkabau.

5.2.1.3 Penghulu yang Dikukuhkan

Penghulu yang dikukuhkan dalam batagak pangulu di Jorong Gando, Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota Provinsi Sumatera Barat sebanyak 16 orang (lihat subbab 5.1.1). Keenambelas penghulu tersebut berasal dari suku yang berbeda di Jorong Gando, Nagari Piobang.

5.2.1.4 Penghulu Pucuk

Penghulu pucuk adalah penghulu tua selaku pucuk adat nagari. Penghulu pucuk Nagari Piobang adalah A. Dt. Rajo Baguno. Penghulu pucuk inilah yang melakukan pemasangan destar dan memberi amanat kepada ke-16 penghulu yang baru dikukuhkan atau diresmikan.

5.2.2 Peserta

Peserta dalam batagak pangulu di Jorong Gando, Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat selain diikuti oleh orang empat jenis (penghulu, mantri, malim, dan hulubalang) juga dihadiri oleh Gubernur Sumatera Barat yang diwakili oleh Prof. Dr. Rahman Sani, M. Sc. sebagai staf ahli, Bupati Kabupaten 50 Kota sekaligus Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kabupaten, Muspida Kabupaten Lima Puluh Kota, Ketua DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota, anggota DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota, Walikota Payakumbuh atau yang mewakili, Camat Kecamatan Payakumbuh yang juga ketua LKAAM Kecamatan, Wali Nagari Piobang, Ketua KAN Nagari Piobang, bundo kanduang, generasi muda

Nagari Piobang, Prof. Dr. Dorojatun Kuncaraningrat sebagai tamu, dan anak Nagari Piobang.

5.2.3 Situasi dan Organisasi Pertunjukan

Situasi dan organisasi pertunjukan merupakan pertunjukan yang berlangsung di berbagai jenis situasi baik yang terorganisir dan direncanakan maupun tidak terorganisir dan tidak direncanakan (dadakan). Batagak panglu di Jorong Gando, Nagari Piobang merupakan acara yang sudah direncanakan dan diorganisir dengan baik. Acara batagak pangulu di Jorong Gando, Nagari Piobang dirancang sejak Oktober 2013 dan baru terlaksana Februari 2014. Situasi upacara batagak pangulu dilaksanakan hari kerja yaitu pada hari Senin 10 Februari 2014. Tujuan dilaksanakan pada hari kerja adalah agar para undangan terutama aparat perintah daerah dapat menghadirinya.

5.2.4 Organisasi Internal

Setiap nagari di Minangkabau mempunyai suatu lembaga yang bernama Kerapatan Adat Nagari (KAN). Sebagai pengurus dan anggotanya adalah para ninik mamak (penghulu) yang berasal dari kenagarian tersebut. Karena masa lalu nagari juga merupakan kesatuan masyarakat hukum adat yang telah ada sesuai dengan sejarah perkembangan masyarakat Minangkabau, Dewan Perwakilan Rakyat Sumatera Barat melalui Perda Nomor 13 Tahun 1983 tentang Nagari Sebagai Kesatuan Masyarakat Hukum Adat menetapkan bahwa nagari (baik di kabupaten maupun kota) diurus oleh suatu lembaga yang disebut Kerapatan Adat Nagari (KAN) yang berfungsi:

1. mengurus dan mengelola hal-hal yang berkaitan dengan adat sehubungan dengan sako dan pusako (pusaka);

2. menyelesaikan perkara-perkara perdata adat dan istiadat;

3. mengusahakan perdamaian dan memberikan kekuatan hukum terhadap anggota-anggota masyarakat yang bersengketa; dan

4. memberikan kekuatan hukum terhadap sesuatu hal dan pembuktian lainnya menurut sepanjang adat.

Keterlibatan KAN dalam acara batagak pangulu di Jorong Gando, Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat adalah ketika memberikan persetujuan dilaksanakan acara batagak pangulu tersebut. Kalau tidak ada persetuan dari KAN, acara batagak pangulu tidak bisa dilaksanakan.

5.2.5 Media Pertunjukan

Media pertunjukan merupakan media yang digunakan dalam komunikasi verbal dalam tradisi lisan dan sastra lisan. Sampai saat ini paling menarik dalam tradisi lisan dan seni lisan telah difokuskan pada komunikasi verbal dengan sorotan utama pada speaker. Padahal media komunikasi pertunjukan secara keseluruhan meliputi media akustik, visual dan material, kinesik dan proksemik, dan indra.

Media komunikasi yang digunakan dalam tradisi batagak pangulu di Jorong Gando, Nagari Piobang masih dominan menggunakan media verbal (kata- kata) lalu disambungkan dengan speaker agar kedengaran oleh hadirin. Penyampaian pidato adat, persembahan, amanat, dan kata sambutan semuanya

menggunakan speaker. Media komunikasi lain yang bisa dilihat adalah benda- benda material yang dipakai dalam acara batagak pangulu seperti destar, pakaian, tongkat, keris, carano, gong, dan umbul-umbul. Benda-benda material ini mempunyai makna yang ingin disampaikan kepada khalayak.

5.2.6 Keterampilan Pertunjukan dan Konvensi

Keterampilan pertunjukan dan konvensi terlihat ketika penyampai pidato adat dan pasambahan meyampaikan pidato dan pasambahan pengukuhan penghulu. Penyampai pidato adat dan pasambahan dipilih dari penghulu yang luas pengetahuan adatnya dan terampil dalam berkata-kata serta pintar merangkai formula-formula yang merupakan kekayaan ingatan penyampai pidato adat dan pasambahan. Di samping itu, dalam hal penyampaian pidato adat dan pasambahan tidak lagi lama seperti yang dilakukan pada masa lalu yang sangat panjang dan dibutuhkan waktu yang cukup lama. Pada saat sekarang penyampaian pidato adat dan pasambahan sudah banyak yang diringkas dan diperpendek sesuai dengan kondisi masyarakat sekarang.