BAB II KAJIAN TEORI
A. Inovasi Pembelajaran
4. Komponen Pembelajaran
Sebagai suatu sistem tentu saja kegiatan pembelajaran memiliki beberapa komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Menurut Pupuh Fathurahman, komponen tersebut meliputi:21
a. Tujuan
Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan yang diprogramkan tanpa
19 Abdul Majid, Strategi Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2017), Cet. Ke-VII, h. 5.
20 Ibid., h. 6.
21 Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar: Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami, (Bandung: PT Refika Aditama, 2011), Cet. Ke-V, h. 13.
tujuan, karena hal itu adalah suatu hal yang tidak memiliki kepastian dalam menentukan ke arah mana kegiatan itu akan dibawa.22
Tujuan dalam pendidikan dan pengajaran adalah suatu cita-cita yang bernilai normatif. Adanya sejumlah nilai yang harus ditanamkan kepada anak didik. Nilai-nilai itu nantinya akan mewarnai cara anak didik bersikap dan berbuat dalam lingkungan sosial, baik di dalam maupun di luar sekolah.23
Menurut Syaiful Bahri Djamarah dalam bukunya, tujuan adalah komponen yang dapat mempengaruhi komponen pengajaran lainnya seperti bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, pemilihan metode, alat, sumber, dan alat evaluasi. Semua komponen itu harus bersesuaian dan didayagunakan untuk mencapai tujuan seefektif dan seefesien mungkin. Bila salah satu komponen tidak sesuai dengan tujuan, maka pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tidak akan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.24
b. Bahan pelajaran
Bahan/materi merupakan medium untuk mencapai tujuan pengajaran yang dikonsumsi oleh peserta didik. Bahan pelajaran merupakan materi yang terus berkembang secara dinamis seiring dengan kemajuan dan tuntutan di masyarakat.25
Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran. tanpa bahan pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Bahan pelajaran ini terbagi menjadi dua kelompok, yaitu sebagai berikut:26
22 Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar: Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami, (Bandung: PT Refika Aditama, 2011), Cet. Ke-V, h. 13.
23 Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), Cet. Ke-V, h. 42.
24 Ibid.
25 Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar: Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami, (Bandung: PT Refika Aditama, 2011), Cet. Ke-V, h. 14.
1) Bahan pelajaran pokok: bahan pelajaran atau bidang studi yang dipegang oleh guru sesuai dengan profesinya.
2) Bahan pelajaran penunjang: bahan pelajaran yang dapat membuka wawasan seorang guru agar dalam mengajar dapat menunjang penyampaian bahan pelajaran pokok.27
Bahan pelajaran menurut Suharismi Arikunto yang dikutip oleh Syaiful Bahri Djamarah dalam bukunya, merupakan unsur inti yang ada di dalam kegiatan belajar mengajar, karena memang bahan pelajaran itulah yang diupayakan untuk dikuasai oleh anak didik. Karena itu guru khususnya atau pengembang kurikulum, tidak boleh lupa harus memikirkan sejauh mana bahan-bahan yang topiknya tertera dalam silabi berkaitan dengan kebutuhan peserta didik.28
Dengan demikian, bahan pelajaran merupakan komponen yang sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar dan tidak bisa diabaikan begitu saja, sebab bahan pelajaran merupakan inti dari proses belajar mengajar.29
c. Kegiatan Belajar Mengajar
Dalam kegiatan belajar-mengajar, guru dan peserta didik terlibat dalam sebuah interaksi dengan bahan pelajaran sebagai mediumnya. Dalam interaksi itu peserta didiklah yang lebih aktif, bukan guru. Interaksi dikatakan maksimal bila terjadi antara guru dengan semua peserta didik, antara peserta didik dengan guru, antara peserta didik dengan peserta didik yang lain, peserta didik dengan bahan dan media pembelajaran, bahkan peserta didik dengan dirinya sendiri, namun tetap untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.30
27 Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), Cet. Ke-V, h. 43.
28 Ibid., h. 43-44.
29 Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar: Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami, (Bandung: PT Refika Aditama, 2011), Cet. Ke-V, h. 14.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal, sebaiknya guru memperhatikan perbedaan individu peserta didik, baik dari aspek biologis, intelektual, maupun psikologis. Ketiga aspek tersebut diharapkan memberikan informasi pada guru, bahkan setiap peserta didik dapat mencapai prestasi belajar yang optimal, sekalipun dalam tempo yang berbeda. 31
d. Metode
Metode merupakan suatu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode sangat diperlukan oleh guru, dengan penggunaan yang bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.32
Metode berasal dari dua kata, yaitu meta dan hodos yang artinya jalan atau cara, jadi metode adalah suatu jalan yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan.33
Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan dapat tercapai secara optimal. Metode dalam sistem pembelajaran juga memiliki peran yang sangat penting, oleh karena itu keberhasilan pembelajaran sangat tergantung pada bagaimana cara guru menggunakan metode pembelajaran karena strategi pembelajaran hanya dapat diimplementasikan melalui penggunaan metode.34
Dalam proses pendidikan, metode mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya pencapaian tujuan, karena ia menjadi sarana dalam menyampaikan materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum. Metode yang tidak efektif akan menjadi penghambat
31 Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar: Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami, (Bandung: PT Refika Aditama, 2011), Cet. Ke-V, h. 15.
32 Ibid.
33 Akmal Hawi, Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), Cet. Ke-II, h. 27.
34 Abdul Majid, Strategi Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2017), Cet. Ke-VII, h. 193.
kelancaran proses belajar mengajar, oleh karena itu metode yang diterapkan oleh guru akan berdaya guna dan berhasil apabila dapat dipergunakan dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.35
e. Alat
Alat merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pengajaran. Dalam proses pengajaran alat mempunyai fungsi sebagai pelengkap untuk mencapai suatu tujuan. Alat memiliki fungsi sebagai pelengkap untuk mencapai tujuan.36
Alat terbagi menjadi dua macam, yaitu alat verbal dan alat bantu non verbal. Alat verbal disini dapat berupa suruhan, perintah, larangan. Sedangkan alat bantu non verbal dapat berupa globe, papan tulis, spidol, gambar, diagram, slide, video, dan sebagainya.37
f. Sumber Pelajaran
Sumber pelajaran adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran bisa didapatkan. Sumber pelajaran dapat berasal dari masyarakat dan kebudayaannya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan anak didik.38
Menurut Roestiyah yang dikutip oleh Pupuh Fathurrohman dalam bukunya, bahwa sumber-sumber belajar itu meliputi:
1) Manusia (Keluarga, sekolah, dan masyarakat) 2) Buku/Perpustakaan
3) Media Massa (Majalah, surat kabar, radio, tv) 4) Lingkungan alam dan sosial
5) Alat pelajaran (Buku pelajaran, peta, gambar, kaset)
35 H. M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2006), Cet. Ke-II, h. 144.
36 Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar: Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami, (Bandung: PT Refika Aditama, 2011), Cet. Ke-V, h. 15.
37 Ibid. 38 Ibid., h. 16.
6) Museum (Tempat penyimpanan benda-benda kuno).39
g. Evaluasi
Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu evaluation. Evaluasi adalah suatu proses untuk menentukan nilai dari suatu tindakan.40
Menurut Elis Ratnawulan dalam bukunya, evaluasi secara umum dapat diartikan sebagai proses sistematis untuk menentukan nilai sesuatu (tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk kerja, proses, orang, ataupun objek) berdasarkan kriteria tertentu. Evaluasi mencakup sejumlah teknik yang tidak bisa diabaikan oleh seorang guru ataupun dosen.41
Evaluasi dalam pembelajaran dapat diartikan sebagai penentuan kesesuain antara tampilan siswa dengan tujuan pembelajaran. Yang di evaluasi adalah karakteristik siswa dengan menggunakan tolok ukur tertentu. Karakteristik tersebut dapat mencakup tampilan siswa dalam bidang kognitif, afektif, dan psikomotor.42
Evaluasi pembelajaran adalah evaluasi terhadap proses belajar mengajar. Evaluasi pembelajaran ini diarahkan pada komponen-komponen sistem pembelajaran, yang mencakup komponen-komponen input, yakni perilaku awal siswa, komponen input intrumental yakni kemampuan profesional guru/tenaga kependidikan, komponen kurikulum (program studi, media, metode), komponen administratif (alat, waktu, dana), komponen proses yakni prosedur pelaksanaan
39 Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar: Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami, (Bandung: PT Refika Aditama, 2011), Cet. Ke-V, h. 16.
40 Ibid., h. 17.
41 Elis Ratnawulan dan Rusdiana, Evaluasi Pembelajaran, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2015), h. 19-20.
pembelajaran, dan yang terakhir komponen output yakni hasil pembelajaran yang menandai ketercapain tujuan pembelajaran.43
Jadi dapat disimpulkan bahwa evaluasi pembelajaran adalah proses untuk menentukan nilai pembelajaran yang dilaksanakan melalui kegiatan pengukuran dan penilaian.44