• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Tipe Ekosistem

5.1.1 Komposisi dan struktur vegetasi

Komposisi vegetasi pada wilayah jelajah monyet ekor panjang di Pulau Tinjil dapat dilihat dari jenis-jenis yang ditemukan berdasarkan analisis vegetasi yang telah dilakukan. Jenis-jenis vegetasi yang ditemukan dapat dilihat pada Tabel 1.

Analisis vegetasi dilakukan pada tiga jalur yang berbeda, masing-masing jalur tersebut termasuk dalam wilayah jelajah masing-masing kelompok dari ketiga kelompok monyet ekor panjang di Pulau Tinjil yang diamati. Berdasarkan hasil analisis vegetasi yang dilakukan, ditemukan 42 jenis tumbuhan yang terdiri dari 21 jenis semai, 23 jenis pancang, 17 jenis tiang dan 25 jenis pohon. Jenis-jenis yang mendominasi berbeda pada setiap tingkatan pertumbuhan vegetasi dan setiap jalurnya.

Tabel 1 Jenis vegetasi yang terdapat di Pulau Tinjil

No. Nama Lokal Nama Ilmiah Suku

1. Albasia Paraserianthes falcataria Fabaceae

2. Ampelas Ficus ampelas Moraceae

3. Bayur Pterospermum javanicum Sterculiaceae

4. Binar Ochrocarpus ovalivolius Guttiferae

5. Bintaro Cerbera manghas Apocynaceae

6. Butun Baringtonia asiatica Lecythidaceae

7. Cerlang Pterospermum diversifolium Sterculiaceae

8. Gadog Bischofia javanica Euphorbiaceae

9. Huni Antidesma bunius Euphorbiaceae

10. Jambu klampok Syzygium cymosa Myrtaceae

11. Kalapari Pongamia pinnata Leguminosae

12. Kampis Hernandia peltata Hernandiaceae

13. Kapas Gossypium acuminatum Malvaceae

14. Ketapang Terminalia catappa Combretaceae

15. Kepuh Sterculia foetida Malvaceae

16. Ki ara Ficus glomerata Moraceae

17. Ki cau Dolichandrone spathacea Bignoniaceae

18. Ki ciat Ficus septica Moraceae

19. Ki huru Litsea chinensis Euphorbiaceae

20. Ki hoe Parinarium glabericum Rosaceae

21. Ki langir Dysoxylum amoroides Meliaceae

22. Ki lalayu Arytera littoralis Sapindaceae

23. Ki tako

24. Kondang Ficus variegata Moraceae

25. Laban Vitex goffasa Verbenaceae

26. Lame Alstonia scholaris Apocynaceae

27. Lampeni Ardisia humilis Myrsinaceae

28. Loa Ficus sp. Moraceae

29. Mara Macaranga tanarius Euphorbiaceae

30. Melinjo Gnetum gnemon Gnetaceae

31. Merbau Intsia bijuga Fabaceae

32. Nyamplung Calophyllum inophyllum Clusiaceae

33. Pancal Aglaia sp. Meliaceae

34. Pangku Dysoxylum excelsum Meliaceae

35. Paranje Glycosmis cochinchinensis Rutaceae

36. Peuris Antidesma montanum Euphorbiaceae

37. Renghas Gluta renghas Anacardiaceae

38. Salam hutan Syzygium lineata Myrtaceae

39. Sawo kecik Manilkara kauki Sapotaceae

40. Songgom Melanoorhoea wallichii Anacardiaceae

41. Tanjung Mimusops elengii Sapotaceae

42. Waru Hibiscus tiliaceus Malvaceae

Pada jalur satu, yaitu jalur yang termasuk dalam wilayah jelajah kelompok kandang 3 diketahui jenis yang mendominasi pada vegetasi tingkat semai adalah paranje (Glycosmis cochinchinensis) dengan nilai INP sebesar 62,44%. Pada tingkat pancang didominasi oleh paranje (G. cochinchinensis) dengan nilai INP sebesar 48,43%. Pada tingkat tiang didominasi oleh melinjo (Gnetum gnemon) dengan nilai INP sebesar 69,05%. Pada tingkat pohon didominasi oleh ki ara (Ficus glomerata) dengan nilai INP sebesar 62,60%.

Pada jalur dua, yaitu jalur yang termasuk dalam wilayah jelajah kelompok kandang 5 diketahui jenis yang mendominasi pada vegetasi tingkat semai adalah paranje (Glycosmis cochinchinensis) dengan nilai INP sebesar 66,91%. Pada tingkat pancang didominasi oleh peuris (Antidesma montanum) dengan nilai INP sebesar 39,94%. Pada tingkat tiang didominasi oleh ki cau (Dolichandrone

sepathaceae) dengan nilai INP sebesar 53,90%. Pada tingkat pohon didominasi

oleh merbau (Intsia bijuga) dengan nilai INP sebesar 61,27%.

Jalur terakhir atau jalur tiga merupakan jalur yang termasuk dalam wilayah jelajah kelompok kandang 8 diketahui jenis yang mendominasi pada vegetasi tingkat semai adalah jambu klampok (Syzygium cymosa) dengan nilai INP sebesar 43,03%. Pada tingkat pancang didominasi oleh binar (Ochrocarpus ovalivolius) dengan nilai INP sebesar 34,99%. Pada tingkat tiang didominasi oleh tanjung (Mimusops elengii) dengan nilai INP sebesar 62,26%. Pada tingkat pohon didominasi oleh ki langir (Dysoxylum amoroides) dengan nilai INP sebesar 58,54%.

Struktur vegetasi menunjukkan strata pada masing-masing tingkat pertumbuhan. Strata tersebut merupakan lapisan atau tingkat ketinggian dari pohon-pohon yang terdapat dalam wilayah jelajah monyet ekor panjang. Stratifikasi tajuk yang nampak pada wilayah jelajah monyet ekor panjang, terbagi ke dalam tiga strata, yaitu strata A, B dan C. Strata A merupakan lapisan teratas, terdiri dari pohon-pohon yang tinggi totalnya 30m ke atas. Strata B merupakan lapisan di bawah lapisan teratas, yang terdiri dari pohon-pohon yang tingginya 20-30m, sedangkan strata C terdiri dari pohon-pohon yang tingginya 4-20m (Soerianegara & Indrawan 2005).

Kondisi tajuk pada jalur satu dan jalur dua didominasi oleh strata C, dengan nilai persentase masing-masing sebesar 72,97% dan 75.93% (Gambar 4). Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi tajuk pada kedua jalur tersebut didominasi oleh tajuk yang memiliki tinggi antara 4-20m. Kondisi tajuk pada jalur tiga didominasi oleh strata A dengan nilai persentase sebesar 59,42%. Hal ini menunjukkan bahwa pada jalur tersebut didominasi oleh tajuk yang memiliki tinggi lebih dari 30m.

Gambar 4 Persentase strata pohon pada masing-masing jalur.

Berdasarkan hasil pengamatan, strata C lebih banyak digunakan oleh monyet ekor panjang untuk melakukan berbagai aktivitas, seperti aktivitas makan, bermain, beristirahat, kawin dan grooming. Penggunaan strata A dan B selain untuk melakukan berbagai aktivitas seperti yang dilakukan pada strata C, juga digunakan sebagai tempat tidur. Kedua strata tersebut erat kaitannya dengan peranan vegetasi sebagai pelindung, yaitu memiliki ketinggian batang yang cukup tinggi, sehingga dapat menghindari serangan predator, seperti ular dan biawak. Selain itu kedua strata tersebut juga memiliki tajuk yang lebar yang berfungsi sebagai pelindung dari keadaan cuaca (panas dan hujan).

5.1.2 Kerapatan vegetasi

Nilai kerapatan pada setiap jalur analisis vegetasi pada masing-masing tingkat pertumbuhan dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.

Tabel 2 Kerapatan tingkat pertumbuhan pada masing-masing jalur

No. Jalur Kerapatan Jenis (Individu/ha)

Semai Pancang Tiang Pohon

1. Jalur 1 202 220 35 185

2. Jalur 2 155 270 55 132

3. Jalur 3 97 107 42 172

Pada tabel di atas dapat diketahui pada tingkat semai dan pohon, yang memiliki nilai kerapatan tertinggi adalah jalur 1, sedangkan pada tingkat pancang dan tiang, yang memiliki nilai kerapatan tertinggi adalah jalur 2. Berdasarkan tabel tersebut juga dapat diketahui bahwa tidak ada komposisi tingkatan pertumbuhan yang seimbang, dimana tingkat pertumbuhan tiang memiliki nilai kerapatan yang lebih rendah dibandingkan dengan nilai kerapatan pohon. Hal ini

1.35 0.00 59.42 25.68 24.07 31.88 72.97 75.93 8.70 0 10 20 30 40 50 60 70 80

Jalur 1 Jalur 2 Jalur 3

P e r se n tas e (% )

Jalur Analisis Vegetasi

Strata A Strata B Strata C

dapat mempengaruhi kelestarian monyet ekor panjang di Pulau Tinjil, dikarenakan vegetasi tersebut selain sebagai tempat melakukan aktivitas hariannya, beberapa diantaranya juga sebagai vegetasi pakan.

5.1.3 Cover

Monyet ekor panjang merupakan jenis satwa arboreal. Hal tersebut sangat berkaitan erat dengan pemanfaatan cover dalam aktivitas hariannya. Berdasarkan pengamatan di lapangan, beberapa perilaku monyet ekor panjang yang berkaitan dengan cover yaitu dimanfaatkannya pohon sebagai tempat beristirahat dan tidur, tempat berlindung dari sinar matahari, tempat grooming, tempat kawin dan sebagai media berpindah. Salah satunya dapat dilihat pada Gambar 5 berikut ini.

Gambar 5 Aktivitas monyet yang sedang memanfaatkan cover.

Kondisi cover yang digunakan monyet ekor panjang untuk melakukan aktivitas harian dalam wilayah jelajahnya memiliki penutupan tajuk yang berbeda. Pada wilayah jelajah kelompok kandang 3 (Lampiran 12 ) dan kelompok kandang 8 (Lampiran 14) memiliki penutupan tajuk yang rapat, dimana intensitas cahaya yang masuk sampai ke lantai hutan cukup rendah. Wilayah jelajah kelompok kandang 5 (Lampiran 13) memiliki penutupan tajuk yang tidak rapat, dimana intensitas cahaya yang masuk sampai ke lantai hutan cukup besar. Namun demikian, dari ketiga wilayah jelajah kelompok monyet ekor panjang tersebut, wilayah jelajah kelompok kandang 8 merupakan wilayah jelajah yang memiliki

tingkat penutupan tajuk yang sangat rapat dan wilayah jelajah kelompok kandang 5 merupakan wilayah jelajah yang memiliki penutupan tajuk yang tidak rapat.

5.1.4 Ketersediaan tumbuhan pakan

Tumbuhan yang dijadikan sebagai pakan oleh monyet ekor panjang di Pulau Tinjil bervariasi, baik menurut jenisnya maupun bagian-bagian yang dimakannya. Berdasarkan hasil analisis vegetasi yang dilakukan, jenis-jenis tumbuhan beserta bagiannya yang dimakan monyet ekor panjang di Pulau Tinjil dapat dilihat pada Tabel 3. Jenis-jenis tersebut umumnya memiliki nilai dominasi (indeks nilai penting) yang berbeda pada tiap jalurnya.

Tabel 3 Jenis tumbuhan pakan monyet ekor panjang di Pulau Tinjil

No. Nama Lokal Nama Ilmiah Bagian yang Dimakan

Bunga Daun Buah

1. Ampelas Ficus ampelas

2. Bayur Pterospermum javanicum

3. Binar Ochrocarpus ovalivolius

4. Bintaro Cerbera manghas

5. Butun Baringtonia asiatica

6. Huni Antidesma bunius

7. Jambu klampok Syzygium cymosa

8. Kalapari Pongamia pinnata

9. Kampis Hernandia peltata

10. Ketapang Terminalia catappa

11. Ki ara Ficus glomerata

12. Ki cau Dolichandrone spathacea

13. Ki ciat Ficus septica

14. Ki huru Litsea chinensis

15. Ki langir Dysoxylum amoroides

16. Kondang Ficus variegata

17. Lampeni Ardisia humilis

18. Loa Ficus sp.

19. Melinjo Gnetum gnemon

20. Merbau Intsia bijuga

21. Peuris Antidesma montanum

22. Renghas Gluta renghas

23. Sawo kecik Manilkara kauki

24. Songgom Melanoorhoea wallichii

25. Waru Hibiscus tiliaceus

Berdasarkan analisis vegetasi, 68% jenis tumbuhan yang terdapat pada jalur 1 merupakan jenis tumbuhan pakan monyet ekor panjang, yaitu 17 jenis tumbuhan pakan dari 25 jenis tumbuhan yang dijumpai. Pada jalur tersebut diketahui jenis tumbuhan pakan yang mendominasi pada tingkat semai adalah renghas (Gluta

renghas) dengan nilai INP sebesar 26,49%. Pada tingkat pancang didominasi oleh

tiang didominasi oleh melinjo (Gnetum gnemon) dengan nilai INP sebesar 69,05%. Pada tingkat pohon didominasi oleh ki ara (Ficus glomerata) dengan nilai INP sebesar 62,60%.

Pada jalur 2 diketahui jenis tumbuhan pakan yang mendominasi pada tingkat semai adalah ki langir (Dysoxylum amoroides) dan renghas (Gluta

renghas) dengan nilai INP sebesar 29,81%. Pada tingkat pancang didominasi oleh

peuris (Antidesma montanum) dengan nilai INP sebesar 39,94%. Pada tingkat tiang didominasi oleh ki cau (Dolichandrone sepathaceae) dengan nilai INP sebesar 53,90%. Pada tingkat pohon didominasi oleh merbau (Intsia bijuga) dengan nilai INP sebesar 61,27%.

Pada jalur 3 diketahui jenis tumbuhan pakan yang mendominasi pada tingkat semai adalah jambu klampok (Syzygium cymosa) dengan nilai INP sebesar 43,03%. Pada tingkat pancang didominasi oleh binar (Ochrocarpus ovalivolius) dengan nilai INP sebesar 34,99%. Pada tingkat tiang didominasi oleh ki cau (D.

sepathaceae) dengan nilai INP sebesar 50,19%. Pada tingkat pohon didominasi

oleh ki langir (D. amoroides) dengan nilai INP sebesar 58,54%.

Berdasarkan hasil analisis vegetasi ditemukan 25 jenis tumbuhan pakan dari 42 jenis tumbuhan yang terdapat dari ketiga wilayah jelajah kelompok monyet ekor panjang yang terdapat di Pulau Tinjil. Hal ini dapat diartikan bahwa 59,52% tumbuhan yang terdapat di Pulau Tinjil merupakan tumbuhan pakan monyet ekor panjang. Selain itu berdasarkan perhitungan nilai dominasi dan frekuensi relatif, dapat diketahui bahwa tumbuhan pakan memperoleh nilai yang cukup tinggi dibandingkan dengan jenis-jenis lain yang tidak termasuk jenis pakan monyet ekor panjang. Kedua hal tersebut sangat menguntungkan bagi monyet ekor panjang yang hidup di dalamnya, karena dengan keanekaragaman jenis vegetasi pakan yang tersedia akan memberi kemungkinan yang besar terhadap monyet untuk mendapatkan setiap zat makanan yang dibutuhkannya dan dengan cukup tingginya nilai dominasi dan frekuensi relatif dari pakan monyet ekor panjang menunjukkan bahwa sumber pakan monyet ekor panjang di Pulau Tinjil tersedia cukup banyak, dengan demikian dapat dikatakan bahwa potensi makanan monyet di Pulau Tinjil dapat mencukupi kebutuhan monyet yang hidup di dalamnya.

(a) (b) (c)

(d) (e) (f)

Gambar 6 Buah-buahan sebagai pakan monyet ekor panjang. Ket: (a) bintaro; (b) butun; (c) kampis; (d) kondang; (e) merbau dan (f) sawo kecik.

5.1.5 Palatabilitas pakan

Pengamatan jenis tumbuhan pakan monyet ekor panjang di Pulau Tinjil juga berdasarkan atas tingkat kesukaan (palatabilitas) jenis tumbuhan apa yang sering dimakan oleh monyet tersebut. Palatabilitas adalah hasil keseluruhan faktor-faktor yang menentukan sampai tingkat mana suatu makanan menarik bagi satwa (Ivins 1952, diacu dalam Mulyana 2004).

Nilai palatabilitas tertinggi (P = 1) dijumpai pada jenis butun (Baringtonia

asiatica), huni (Antidesma bunius), kondang (Ficus variegata), lampeni (Ardisia humilis), loa (Ficus sp.), sawo kecik (Manilkara kauki) dan waru (Hibiscus tiliaceus) (Tabel 4). Nilai kisaran palatabilitas adalah 0-1 (Trippensee 1948, diacu

dalam Mulyana 2004). Mulyana juga menambahkan bahwa nilai 1 berarti memiliki tingkat kesukaan sangat tinggi, sedangkan nilai 0 memiliki tingkat kesukaan sangat rendah. Ketujuh jenis yang diketahui memiliki nilai palatabilitas tertinggi merupakan jenis-jenis yang sangat disukai oleh monyet ekor panjang. Menurut hasil penelitian Santoso (1993) jenis-jenis tumbuhan pakan yang sangat disukai oleh monyet ekor panjang di Pulau Tinjil meliputi jenis ampelas (Ficus

ampelas), butun (B. asiatica), jambu klampok (Syzygium cymosa), ketapang

(Terminalia catappa), ki ara (Ficus glomerata), kondang (F. variegata), peuris (Antidesma montanum), songgom (Melanoorhoea wallichii) dan waru (H.

Tabel 4 Nilai palatabilitas tumbuhan pakan monyet ekor panjang di Pulau Tinjil

No. Nama Lokal Nama Ilmiah Nilai P

1. Ampelas Ficus ampelas 0,14

2. Bayur Pterospermum javanicum 0,20

3. Binar Ochrocarpus ovalivolius 0,33

4. Bintaro Cerbera manghas 0,50

5. Butun Baringtonia asiatica 1,00

6. Huni Antidesma bunius 1,00

7. Jambu klampok Syzygium cymosa 0,40

8. Kalapari Pongamia pinnata 0,67

9. Kampis Hernandia peltata 0,17

10. Ketapang Terminalia catappa 0,33

11. Ki ara Ficus glomerata 0,67

12. Ki cau Dolichandrone spathacea 0,10

13. Ki ciat Ficus septica 0,50

14. Ki huru Litsea chinensis 0,56

15. Ki langir Dysoxylum amoroides 0,29

16. Kondang Ficus variegata 1,00

17. Lampeni Ardisia humilis 1,00

18. Loa Ficus sp. 1,00

19. Melinjo Gnetum gnemon 0,55

20. Merbau Intsia bijuga 0,19

21. Peuris Antidesma montanum 0,08

22. Renghas Gluta renghas 0,20

23. Sawo kecik Manilkara kauki 1,00

24. Songgom Melanoorhoea wallichii 0,50

25. Waru Hibiscus tiliaceus 1,00

Jika dibandingkan dengan hasil penelitian Santoso (1993) terdapat beberapa jenis pakan berbeda yang sangat disukai oleh monyet ekor panjang, diantaranya ampelas (Ficus ampelas), jambu klampok (Syzygium cymosa), ketapang (Terminalia catappa), ki ara (Ficus glomerata) dan songgom (Melanoorhoea

wallichii). Hal ini dipengaruhi oleh ketersediaan buah masing-masing jenis

tersebut. Menurut Santoso (1993) dan Fadilah (2003) sebagian besar bagian tumbuhan yang dimakan oleh monyet ekor panjang di Pulau Tinjil adalah buah. Oleh sebab itu ketersediaan pakan berupa buah tergantung pada musim atau waktu buah dihasilkan. Pada saat pengamatan dilakukan bertepatan dengan sedang berlangsungnya awal musim kemarau, sehingga buah yang dihasilkan masing-masing jenis tumbuhan pakan yang terdapat di Pulau Tinjil sedikit dijumpai. Sebagian besar aktivitas makan monyet dijumpai sedang memakan daun. Walaupun juga dijumpai sedang memakan beberapa jenis buah, yaitu buah butun (Baringtonia asiatica), jambu klampok (S. cymosa), kondang (Ficus variegata), loa (Ficus sp.) dan sawo kecik (Manilkara kauki).

Dokumen terkait