4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Komposisi Hasil Tangkapan
Hasil tangkapan selama periode pengamatan menunjukkan kekayaan jenis ikan karang sebesar 16 famili dengan 789 spesies. Jumlah tertinggi ditemukan pada famili Lethrinidae sebesar 29%, Nemipteridae sebesar 17% dan Apogonidae sebesar 14%. Nilai terendah didapat pada famili Belonidae sebesar 1% (Gambar 4). Menurut penelitian yang dilakukan Terangi (2011), perairan dangkal Karang Congkak merupakan salah satu kawasan yang masih memiliki kelimpahan ikan karang yang tinggi. Ikan karang merupakan organisme mobile, keberadaannya pada suatu habitat dipengaruhi oleh tingkah laku ikan-ikan tersebut dengan kondisi lingkungan. Ikan akan berdatangan pada lingkungan yang sesuai dengan kehidupannya, sebaliknya jika lingkungan berubah dan tidak lagi mendukung maka ikan akan mencari tempat yang lebih sesuai. Penelitian Napitupulu et al. (2003) juga menegaskan bahwa kondisi perairan yang tidak mendukung menyebabkan kelimpahan ikan karang di Kepulauan Seribu bagian selatan (dekat dengan Teluk Jakarta) cenderung rendah, terutama ikan konsumsi. Famili Lethrinidae memiliki nilai tangkapan tertinggi diduga karena kondisi lingkungan pada wilayah perairan dangkal Karang Congkak masih mendukung bagi kehidupan biota ini.
Komposisi ikan tangkapan Famili Lethrinidae pada setiap periode pengamatan masing-masing sebesar 51%, 8%, 13%, 26%, 70%, dan 54% (Lampiran 4). Famili Lethrinidae merupakan salah satu kelompok ikan yang ditangkap dan dimanfaatkan oleh nelayan di Kepulauan Seribu salah satunya di daerah perairan dangkal Karang Congkak. Famili Lethrinidae kelompok ikan target tangkapan nelayan yang akan dimanfaatkan sebagai ikan konsumsi (Adrim 1993). Daging yang halus dan padat menjadikan ikan ini sebagai salah satu ikan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat, dalam bentuk segar ataupun asin. Beberapa jenis dari ikan famili Lethrinidae ini yang bisa mencapai ukuran besar dan merupakan sumber bahan makanan penting (Kuiter 1992).
Gambar 4. Komposisi hasil tangkapan berdasarkan famili
Penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan di Kepulauan Seribu terutama di perairan dangkal Karang Congkak umumnya menggunakan tiga alat tangkap yaitu pancing, bubu, dan jaring insang. Ketiga alat tangkap ini biasa digunakan untuk menangkap famili Lethrinidae.
Komposisi hasil tangkapan berdasarkan alat tangkap, terlihat bahwa pancing adalah alat yang memiliki efektifitas tinggi dalam penangkapan famili Lethrinidae (Gambar 5). Hasil tangkapan pancing terbanyak pada pengamatan keempat sebesar 52 ekor (47%) sedangkan tangkapan terendah pada pengamatan pertama, yaitu 1 ekor (1%). Hasil tangkapan terbanyak bubu dan jaring insang terdapat pada pengamatan keempat masing-masing sebesar 19 (28%) ekor dan 25 ekor (46%). Hasil tangkapan terendah bubu dan jaring insang pada pengamatan kedua masing-masing sebesar 3 ekor (4%) dan 3 ekor (7%). Pada pengamtan ketiga, hasil tangkapan famili Lethrinidae hanya diperoleh dari pancing. Berdasarkan penelitian Setyono (1996), ikan famili Lethrinidae banyak diperoleh dengan menggunakan alat tangkap pancing. Berdasarkan uji Chi-square terhadap
Lethrinidae 29% Nemipteridae 17% Apogonidae 14% Scaridae 8% Labridae 6% Pomacentridae 5% Serranidae 5% Siganidae 4% Portunidae 4% Holocentridae 2% Gerreidae 1%
Monacanthidae 1% Caesionidae, 1% Chaetodontidae
1% Lutjanidae 1%
Mullidae 1% Belonidae 1%
efektivitas alat tangkap ikan lencam pada waktu pengamatan menunjukan hasil yang berbeda nyata antara pancing dengan bubu dan jaring insang di setiap pengamatan (X2hit < X2tab (df-1)) pada taraf 95% (Lampiran 5). Setelah dilakukan uji maka lebih jelas terlihat bahwa pancing adalah alat tangkap yang paling selektif menangkap Famili Lethrinidae dibandingkan dengan bubu dan jaring insang.
Pengamatan pertama, kedua, dan ketiga hasil tangkapan ikan lebih rendah dibandingkan pengamatan keempat, kelima, dan keenam. Musim peralihan barat ke timur merupakan musim angin bertiup tidak teratur. Perubahan angin yang tidak teratur membuat nelayan tidak melaut atau membatasi wilayah serta waktu operasi penangkapan. Pengamatan ketiga, angin bertiup dari arah barat sehingga nelayan mempersempit wilayah tangkapan serta kegiatan menangkap ikan dilakukan hanya setengah hari baik siang atau malam hari. Pengamatan keempat, angin yang bertiup dari arah timur dengan cuaca cerah serta mendukung nelayan untuk melaut siang dan malam. Upaya tangkap yang dilakukan nelayan lebih besar dibandingkan pengamatan sebelumnya.
Gambar 5. Komposisi hasil tangkapan berdasarkan alat tangkap
Menurut Sudirman & Mallawa (2004), teknik penangkapan yang digunakan oleh nelayan banyak memanfaatkan tingkah laku ikan (behavior). Nelayan biasa
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 1 2 3 4 5 6 F rek u en si Periode sampling Pancing Jaring Bubu
memancing di pinggiran goba. Pancing diberi umpan berupa potongan cumi-cumi atau potongan ikan. Famili Lethrinidae adalah kelompok ikan karnivor pemakan cumi-cumi, gurita, crustacean, atau ikan (FAO 2001). Penentuan lokasi memancing dilakukan berdasarkan arus dan angin. Memancing pada malam hari dilakukan saat air akan mulai pasang dan kondisi suhu perairan yang hangat. Aktivitas makan ikan dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya adalah suhu perairan
(Effendie 2002).
Penggunaan bubu sebagai alat tangkap yang bersifat pasif memanfaatkan kebiasaan ikan dalam mencari perlindungan untuk menghindari predator. Bubu biasa diletakkan selama 3-5 hari di dasar perairan pada daerah karang, lamun atau di sekitar goba. Jangka waktu tersebut merupakan waktu menunggu ikan-ikan terperangkap. Penentuan titik lokasi bubu didasarkan pada tempat dimana diperkirakan banyak terdapat ikan. Jaring insang memiliki beberapa kelemahan yaitu tidak dapat dipakai dalam berbagai kondisi cuaca yang ekstrim dan sifatnya mudah rusak. Jaring dipasang disekitar goba sebelum air mulai pasang untuk menghadang ikan yang naik ke perairan dangkal.
Lethrinus lentjan merupakan famili dari Letrinidae dengan jumlah tangkapan tertinggi yaitu 173 ekor (75%), sedangkan jumlah tangkapan terendah Lethrinus microdon sebesar 2 ekor (1%) (Gambar 6). Lethrinus lentjan merupakan ikan yang tertangkap pada setiap periode pengamatan. Menurut Ezzat et al. (1996), ikan lencam (Lethrinus lentjan) merupakan salah satu ikan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi sebagai ikan konsumsi. Laporan dari nelayan menyebutkan bahwa ukuran hasil tangkapan ikan lencam cenderung semakin kecil. Aktivitas yang tidak memperhatikan ukuran tangkap memungkinkan terjadinya penurunan populasi karena tidak adanya kesempatan berkembang biak bagi ikan.
Perairan dangkal Karang Congkak merupakan habitat bagi ikan lencam (Letrinus lentjan). Wilayah ini dijadikan sebagai basis penangkapan ikan oleh nelayan di Kepulauan Seribu karena kelimpahan sumberdaya ikan yang masih tinggi. Kondisi lingkungan yang masih baik dan mendukung bagi biota air memungkinkan kelimpahan sumberdaya ikan tetap terjaga. Hasil pengamatan diperkuat oleh Terangi (2011) yang mengatakan bahwa perairan Karang Congkak adalah salah satu wilayah zona pemukiman dimana perairannnya masih dalam kondisi yang baik pada wilayah Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu.
Gambar 6. Komposisi hasil tangkapan total famili Lethrinidae