• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi atau bisa juga merupakan interaksi antara dua individu atau lebih. Komunikasi dapat dikatakan juga sebagai jembatan penghubung antar individu sehingga dapat menciptakan efisiensi dan efektivitas kerja Surbakti (2008). Komunikasi yang terbuka dan jelas di antara dua orang dalam suatu hubungan tergantung pada beberapa kualitas. Pola dasar dari mendengarkan dan ekspresi mempengaruhi keterbukaan, kepercayaan, kemampuan untuk percaya, empati dan kemampuan mendengarkan (Laswell dan Laswell 1987). Komunikasi antar manusia dapat didefinisikan satu orang pengirim pesan dan yang lain menerima pesan (Rice 1983). Komunikasi diperlukan dalam lingkungan masyarakat tertentu untuk dapat bertahan hidup karena adanya perubahan dan stabilitas. Komunikasi mengacu

pada pengirim dan penerima pesan baik melalui kata-kata dan perilaku non verbal yang terjadi dalam konteks sosial (Smart dan Smart 1980). Komunikasi diperlukan dalam suatu keluarga. Proses pengambilan keputusan dan interaksi dalam suatu keluarga sangat memerlukan komunikasi yang baik (Muladsih 2011). Guhardja et al. (1989) menyatakan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian pesan, dari sipemberi pesan kepada sipenerima pesan dengan cara mempengaruhi individu untuk saling mengerti satu dengan yang lain.

Komunikasi dalam Keluarga

Menata komunikasi dalam kehidupan keluarga dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang berbeda-beda. Pendekatakan komunikasi dibedakan menjadi empat komponen yang saling berhubungan dan menunjang keharmonisan suatu keluarga, yaitu: (1) Komunikasi pribadi dengan Tuhan. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang beriman dan bertaqwa, menjalin komunikasi yang baik dengan Tuhan merupakan suatu kebutuhan yang harus dilaksanakan setiap waktu dan dimanapun dalam menjalani kehidupan keluarga. Komunikasi dengan Tuhan merupakan dasar utama dan penting dalam membentuk dan menata keluarga yang sakinah; (2) Komunikasi antar anggota keluarga inti. Keluarga terdiri dari anggota keluarga (ayah, ibu, anak, dan kerabat), fasilitas (rumah, makanan, minuman, kendaraan, uang, dll) serta ajaran agama yang telah dianut secara turun-temurun dari keluarga sebelumnya; (3) Komunikasi antar keluarga besar. Salah satu dari bentuk komunikasi keluarga yang harus terus dipertahankan yaitu menjalin komunikasi dan silaturahmi dengan anggota keluarga besar. Hal itu perlu dilakukan agar hubungan keluarga inti dengan keluarga besar semakin erat dan harmonis; dan (4) Komunikasi dengan masyarakat luas. Hubungan komunikasi tidak hanya terbatas kepada hubungan komunikasi antar anggota keluarga saja tetapi adapula hubungan komunikasi dengan masyarakat yang ada di sekitar keluarga. Hubungan komunikasi ini sangat kompleks karena melibatkan banyak orang yang dimana memiliki karakteristik yang sangat beragam. Hubungan komunikasi dengan masyarakat dapat terjalin harmonis apabila suatu keluarga dapat memahami karakteristik serta memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Keharmonisan yang terjadi dalam masyarakat bergantung pada keharmonisan yang terjadi dalam keluarga (Sauri 2008).

Guhardja et al. (1989) menyatakan bahwa keluarga memiliki sistem jaringan interaksi yang bersifat hubungan interpersonal sebab masing-masing

anggota keluarga memiliki intensitas hubungan satu sama lain dan saling tergantung. Komunikasi yang efektif memberikan kontribusi besar dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari dan pemecahan masalah serta dalam mengambil keputusan.

Interaksi Suami dan Istri

Komunikasi yang terjalin dengan baik antara suami dan istri adalah elemen penting dari kualitas perkawinan. Terdapat tiga jenis komunikasi yang sangat penting dalam hubungan suami-istri yaitu: (1) Open and Honest Communication, dimana pasangan mengekspresikan perasaan secara tepat serta tidak mencampuradukkan pesan. Komunikasi dengan tipe ini berkontribusi terhadap hubungan kualitas perkawinan, (2) Supportiveness, yaitu memperlakukan orang yang sedang berbicara dengan memberikan perhatian penuh dan respect. Komunikasi dapat berjalan dengan baik tergantung pada jenis dukungan dan konfirmasi (merespon secara positif), dan studi menunjukkan ketika pasangan yang sudah menikah memperhatikan kualitas komunikasi mereka, kepuasan serta kualitas pernikahan mereka lebih besar (Montgomery 1981 dalam Kammeyer 1987); (3) Self- Disclosure, self-disclosure sama dengan open and honesty, namun terdapat beberapa elemen perasaan serta emosi yang lebih kuat. Berbicara mengenai ketakutan, harapan, serta keinganan kepada orang lain merupakan inti dari self-disclosure (Kammeyer 1987). Penelitian Hendrick (1981) dalam Kammeyer (1987) menyatakan bahwa secara umum adanya hubungan positif antara self-disclosure dengan kepuasan perkawinan. Terdapat suatu kesepakatan, yang didukung oleh banyak bukti penelitian, bahwa komunikasi yang baik antara suami dan istri merupakan sebuah elemen penting dalam menentukan kualitas sebuah pernikahan. Sejumlah peneliti telah menunjukan bahwa komunikasi yang efektif mengarah pada kualitas pernikahan yang lebih baik (Lewis and Spanier 1979 dalam Laswell dan Laswell 1987). Pasangan yang memiliki kecakapan berkomunikasi yang baik dapat memerbaiki hubungan mereka. Seiring hubungan yang membaik, pasangan tersebut akan lebih termotivasi untuk memerbaiki komunikasi mereka (Montgomery 1981 dalam Kammeyer 1987).

Kualitas Perkawinan

Menurut Tati (2004), perkawinan adalah perwujudan formal antara pasangan laki-laki dan perempuan yang akan membina suatu rumah tangga dan

merupakan kodrat yang alami antara dua insan manusia yang berlawanan jenis, serta adanya ketertarikan satu sama lain untuk tujuan. Selain itu perkawinan juga merupakan suatu komitmen terhadap tugas kewajiban dan hak yang harus dilaksanakan oleh suami atau istri. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 1, perkawinan adalah suatu ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan wanita sebagai pasangan suami istri dengan tujuan membentuk dan membina keluarga (rumah tangga) yang bahagia serta kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Perkawinan merupakan proses institusional dimana secara seremonial laki-laki dan perempuan saling memberi, dan umumnya mempertahankan, hubungan timbal balik yang cocok untuk tujuan mendirikan dan mempertahankan keluarga (Hoult 1969 dalam Laswell dan Laswell 1987). Perkawinan menyiratkan upacara, suatu persatuan dengan sanksi sosial, pengakuan kewajiban kepada masyarakat diasumsikan oleh mereka memasuki hubungan (Burgess dan Locke 1960). Schwartz dan Scott (1994) dalam Tati (2004) mengemukakan bahwa perkawinan sebagai kontrak hukum yang dimana perkawinan diartikan dari dua sudut pandang yang berbeda yaitu dalam konteks hukum dan konteks sosial. Secara hukum, perkawinan adalah perjanjian yang diikat secara hukum atau suatu hubungan kontrak antara dua orang yang telah diakui serta disahkan oleh hukum agama dan hukum Negara. Sedangkan secara sosial, perkawinan adalah hubungan pasangan yang berperilaku untuk hidup bersama tanpa menikah dan sepakat atau setuju menikah yang dimana esensinya sama dengan perkawinan secara hukum.

Kualitas Perkawinan. Elder et al. (1991), menilai kualitas perkawinan dalam batas-batas kepuasan dan kebahagiaan serta ketidakstabilan perkawinan dalam batasan pemikiran, perceraian atau aksi. Kualitas perkawinan dibagi ke dalam tiga bagian, yakni kebahagiaan yang diukur dari besarnya rasa cinta, pengertian, serta hubungan seksual. Kedua, interaksi diukur berdasarkan banyaknya interaksi yang dilakukan bersama pasangan, misalnya makan malam bersama, berekreasi, mengunjungi teman, dan berbelanja. Ketiga, diukur dari konflik yang ada, berkenaan dengan pertengkaran yang terjadi serta disebabkan frekuensi ketidaksepakatan, jumlah aktivitas fisik yang dilakukan pasangan ketika marah (tamparan, dorongan, pukulan), serta tidak adanya pembagian kerja dalam rumahtangga. Maka dari itu, dimensi kualitas perkawinan dibedakan berdasarkan proses dan tujuan.

Konsep dari dimensi kualitas perkawinan itu sendiri yaitu perbedaan-perbedaan yang ada pada masing-masing individu yang perlu disesuaikan, yang dimana penyesuaian dilakukan untuk mencapai keharmonisan. Apabila keharmonisan telah tercapai maka asumsi kebahagiaan tercapai. Dengan kata lain, penyesuaian dan keharmonisan merupakan proses dalam mencapai satu tujuan perkawinan yaitu kebahagiaan dalam kehidupan perkawinan. Faktor-faktor yang berhubungan dengan keberhasilan perkawinan yaitu latar belakang masa kanak-kanak, usia saat menikah, persiapan yang kosong, kematangan emosional, munculnya kepentingan dan nilai, pertunangan yang panjang, dan pendidikan seks yang memadai. Selain faktor-faktor tersebut, yang mempengaruhi keberhasilan perkawinan juga yaitu faktor yang homogen dan beragam (ras, kelompok etnis, kelas sosial, dominasi, penyerahan, dll) semua berhubungan dengan keberhasilan perkawinan (Saxton 1990).

Kebahagiaan Perkawinan. Kebahagiaan merupakan keadaan subyektif pikiran, perasaan, kondisi serta pengalaman personal. Kebahagiaan perkawinan akan tumbuh terhadap pasangan suami istri apabila dilandasi dengan adanya perasaan cinta dari kedua pasangan, saling menghargai dan menghormati, kasih sayang, adanya kebersamaan, serta adanya pengorbanan untuk pasangan dan keluarga (Ritongga 2007). Olson (2002) mengatakan bahwa kebahagiaan terdiri dari dua faktor yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik meliputi kecocokan, komunikasi, kepribadian, seksualitas dan penyelesaian masalah atau konflik. Sedangkan faktor ekstrinsik meliputi sikap religius, waktu luang, anak, teman, keuangan dan kecenderungan stress.

Susmayanti (1995) menyatakan bahwa skor kebahagiaan perkawinan akan meningkat seiring dengan meningkatnya alokasi pribadi serta waktu luang di dalam keluarga sehingga terdapat perbedaan kebahagiaan perkawinan antara istri yang tidak bekerja dengan istri yang bekerja. Istri yang bekerja sebagai buruh relatif kurang bahagia dibandingkan dengan istri yang tidak bekerja. Namun, istri yang bekerja di bidang jasa relatif lebih bahagia dibandingkan dengan istri yang tidak bekerja.

Kepuasan Perkawinan. Menurut Duvall dan Miller (1985), karakteristik kepuasan perkawinan meliputi: (1) Ekspresif afeksi yang terbuka satu sama lain, (2) Komunikasi yang bebas dan terbuka antara pasangan, (3) Terjalinnya rasa saling percaya, (4) Tidak ada dominasi antara satu terhadap yang lain, keputusan dibuat bersama (bermusyawarah), (5) Tempat tinggal relatif stabil, (6)

Hubungan intim yang saling terbuka antara pasangan, (7) Melakukan kegiatan bersama dalam hal aktivitas di luar rumah, dan (8) Penghasilan yang memadai. Rifai mengatakan bahwa adanya pandangan lain yang menyatakan keluarga yang bahagia merupakan keluarga yang memiliki iklim hidup psikologis yang telah memberikan nilai-nilai kepuasan yang sangat mendalam kepada para anggota keluarga, sehingga dirasakan bahwa kepuasan itu diperolehnya dalam situasi yang penuh kehangatan, kegembiraan, nyaman serta penuh rasa aman dan merasa terlindung. Dari penjelasan tersebut dapat dikatakan bahwa jika kepuasan terpenuhi maka kebahagiaan pun dapat tercapai (Tati 2004). Tingkat pendapatan dapat mempengaruhi kepuasan perkawinan karena semakin tinggi pendapatan akan membuat semakin tinggi pula kepuasan perkawinan. Lebih lanjut, semakin tinggi konflik yang terjadi dalam suatu keluarga maka akan semakin menurunkan tingkat kepuasan yang dicapai keluarga (Fitasari 2004).