• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komunisme dan "1965" di Semarang dan Indonesia

Dalam dokumen Lanskap Memori Peristiwa 1965 di Semarang (Halaman 150-155)

Semarang adalah kota pelabuhan di pantai utara pulau Jawa. Ia merupakan ibu kota dan kota terbesar dari provinsi Jawa Tengah. Pada akhir masa kolonial, kota ini – yang waktu itu bagian dari Hindia Belanda – dikenal sebagai sebuah tempat yang modern. Semarang adalah tuan rumah dari komunitas multi-etnis – sebagai contoh, sejumlah besar warga minoritas Tionghoa yang tinggal di kota ini – pun memiliki kehidupan budaya, agama dan politik yang penuh warna.39 Yang terkenal terkait hal ini adalah pertemuan pada 1920 di mana Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV/Indies Social Democratic Association) mengubah namanya menjadi Perserikatan Kommunist di India (PKI); semua anggota dewan dari

partai komunis yang baru ini adalah penduduk Semarang.40 Karena peristiwa ini, Semarang sejak itu dijuluki kota merah.

ISDV, dan setelah itu PKI, berhasil menjadi organisasi yang mengakar kuat dalam masyarakat. Menurut Robert Cribb, partai ini menjadi pioner dalam mengakui bahwa cara terbaik untuk merekrut kaum tani ke agenda komunisme adalah melalui organisasi-organisasi nasionalis. Sebagai contoh, sejak 1916, anggota ISDV telah berhasil menyusup ke organisasi massa nasionalis pertama di Indonesia, Sarekat Islam (SI).41 Organisasi ini, didirikan di Surakarta pada 1911 sebagai serikat dagang berbasis agama Islam yang terdiri dari banyak cabang lokal, dan segera menjadi kekuatan keagamaan dan politik yang harus diperhitungkan.42 Sudah sejak lama disadari bahwa mustahil untuk menarik perbedaan yang tajam antara kaum nasionalis, Muslim dan komunis/Marxis di dalam masyarakat Indonesia. Orang-orang seringkali secara bersamaan menjadi anggota dari berbagai organisasi dan partai yang berbeda.43 Namun, setelah pengenalan disiplin partai yang mengikuti aturan dasar PKI pada 1920, demarkasi politik menjadi lebih pasti.44 Meskipun begitu, anggota Sarekat Islam masih diizinkan untuk menjadi anggota partai politik lainnya. Berbagai kelompok dalam Sarekat Islam dinamai sebagai Sarekat Islam putih (‘putih’ sebagai bagian gerakan Islam) dan Sarekat Islam merah (‘merah’ sebagai bagian gerakan Komunis).45 Pada 1921, di Semarang, sebuah sekolah Sarekat Islam didirikan di ruang pertemuan gedung Sarekat Islam yang dibangun pada 1919.46 Sekolah ini – dan cabang-cabang lainnya di Salatiga dan Bandung – mengembangkan suatu kurikulum Islam yang menggabungkan gagasan anti-kolonialisme dengan anti-kapitalisme. Dengan begitu, Sarekat Islam ini adalah contoh terbaik (par excellence) dari tertanamnya gagasan komunisme ke dalam kehidupan sosial dan intelektual selama era ini.

Pada awal 1920-an, di lingkaran golongan kolonial, ada ketakutan yang besar terhadap demonstrasi atau pemogokan kaum komunis.47 Sebagai akibat kebijakan kolonial yang restriktif dan diarahkan terhadap komunisme, sekolah-sekolah Sarekat Islam seperti itu di Semarang segera ditutup.48 Pada akhir tahun 1926 dan awal 1927, terjadi pemberontakan di Jawa dan Sumatra Barat. Namun, di Semarang tidak ada pemberontakan, karena pihak berwenang

setempat telah diberitahu rencana tersebut sejak awal.49 Otoritas kolonial Belanda mengadopsi tindakan represif yang keras. Tiga belas ribu orang ditangkap; beberapa dieksekusi karena keikutsertaan mereka dalam pembunuhan dan 5.000 lainnya ditempatkan di bawah penahanan preventif. Akhirnya, 4.500 orang-orang dinyatakan bersalah dan dipenjara, sementara 1.300 diasingkan ke Papua Nugini.50 Sejak saat itu dan seterusnya, banyak kaum nasionalis Indonesia yang terus memperjuangkan gerakan anti-kolonialisme, hanya saja mereka kurang menghubungkannya dengan gerakan Islam atau komunisme skala internasional.51 Pada 1930-an, gerakan nasionalis tetap saja ditekan oleh negara kolonial.52

Setelah proses dekolonisasi Indonesia – Sukarno memproklamasikan kemerdekaan pada 1945 dan Belanda, pascaperang kolonial, secara resmi mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1949 – partai komunis memperoleh posisi baru nan kuat di tengah masyarakat. Selama Revolusi Indonesia, posisi ini diperumit oleh ketakutan para pemimpin nasionalis bahwa revolusi mungkin saja jatuh ke tangan PKI; demikian pula, kaum komunis percaya bahwa kaum nasionalis tidak akan pernah berbagi kekuasaan dengan mereka kecuali mereka diancam atau dipaksa.53 Setelah pasukan PKI mengambil alih kota Madiun (yang terletak di Jawa) pada 1948, ketegangan meningkat hingga menjadi sebuah konflik kekerasan.54

Bagi Sukarno dan pemerintah republik, pemberontakan Madiun ini adalah sebuah “tikaman dari belakang” saat mereka berperang melawan Belanda. Setelah tiga belas hari, pasukan republik berhasil merebut kota; pemimpin PKI terkemuka ditangkap dan beberapa dieksekusi.55 Bagi Amerika Serikat, apa yang kerap disebut “Madiun

affair” – pemberontakan komunis dan represi yang dilakukan oleh

pasukan republik sebagai respons – adalah bukti bahwa Sukarno adalah sekutu yang dapat diandalkan melawan ancaman komunis.56

Meski demikian, PKI tidak secara resmi dilarang dan setelah Belanda memulai “Agresi Militer” kedua mereka pada tahun 1948, anggota-anggota PKI diundang untuk kembali bergabung dalam pertempuran dan sebagai konskuensi posisinya direhabilitasi.57 Pada 1950-an, di bawah kepemimpinan Dipa Nusantara Aidit, PKI mulai berhasil membangun basis massa di tengah masyarakat Indonesia. Hal ini kemudian mendorong terciptanya front nasional yang bertujuan untuk

membebaskan Indonesia dari “kolonialisme ekonomi” internasional dan pengaruh elit-elit feodal Indonesia.58

Di bekas jantung pemerintahan kolonial di Semarang, monumen Tugu Muda diresmikan tahun 1953 oleh Sukarno, dalam rangka memperingati revolusi Indonesia dan beberapa peristiwa yang terjadi di Semarang pada tahun 1945. Dalam semangat nasionalisme, monumen ini dibangun secara khusus untuk memperingati pertempuran lima hari, dari 14-19 Oktober 1945, di Semarang antara “kaum muda Indonesia” (pemuda pembela kemerdekaan Indonesia) dan batalion Jepang, yang dipimpin oleh Mayor Kido.59 Monumen ini menekankan persatuan Indonesia dan tidak menyebutkan peran spesifik serta posisi golongan komunis.60 Dengan begitu, sangat sesuai dengan ideologi Pancasila versi pertama, yang dikembangkan oleh Sukarno pada tahun 1945. Ia memperkenalkan konsep ini selama pidatonya, yang selanjutnya dikenal sebagai Lahirnya

Pancasila (kelahiran Pancasila). Indonesia merdeka bukanlah negara

Islam atau negara sekuler, melainkan negara berdasar Pancasila. Menurut Sukarno, Pancasila – yang secara harfiah berarti lima pilar – terdiri dari lima prinsip-prinsip utama: nasionalisme Indonesia, internasionalisme/kemanusiaan, demokrasi, kesejahteraan sosial dan monoteisme.61 Namun, Robert Cribb dan Colin Brown menyatakan bahwa Pancasila diciptakan sebagai “non-ideologi,” yakni sebuah perangkat yang bertujuan “untuk menunda konflik antara pelbagai ideologi yang begitu antagonistik.”62

Meskipun demikian, konflik-konflik ideologis terus ada di masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, sejak tahun 1957 – selama era demokrasi terpimpin – Presiden Sukarno mengembangkan ideologi

Nasakom, akronim untuk nasionalisme, agama, dan komunisme.63 Hal ini bertujuan untuk menyeimbangkan – atau menentramkan – tiga faksi utama dalam politik Indonesia: tentara (yang nasionalis), kelompok-kelompok Islam, dan golongan komunis. Ini tidak hanya mencerminkan cita-cita yang telah dikembangkan Sukarno pada 1920-an d1920-an awal 1930-1920-an, tetapi juga memb1920-antu mengur1920-angi kekuat1920-an tentara Indonesia.64 Di tengah konteks politik ini PKI berkembang menjadi partai komunis (yang tidak berkuasa dalam pemerintahan) terbesar di dunia, dengan 3,5 juta anggota. Lebih dari lima belas juta orang terafiliasi sebagai anggota organisasi, seperti BTI (Barisan Tani

Indonesia), SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat dan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia).65

Sebelum 1965, partai komunis hadir di ruang publik Semarang melalui pelbagai cara. Misalnya, ada sebuah bangunan bernama Gedung Rakyat Indonesia Semarang (GRIS),66 tempat kegiatan budaya golongan komunis diadakan, sementara organisasi-organisasi komunis berbasis di gedung Sarekat Islam. Pada tahun 1965, Semarang, seperti kota-kota lain di Jawa Tengah, menjadi saksi berbagai peristiwa kekerasan yang berkaitan dengan kudeta di Jakarta. Sehari setelah 30 September, Kolonel Suherman, kepala intelijen tentara di Semarang, menyatakan dirinya sebagai komandan pasukan pemberontak di Semarang. Dengan bantuan para pemberontak, ia menduduki stasiun radio kota.67 Namun, Semarang menjadi kota pertama yang jatuh. Ketika pasukan Suherman diberitahu tentang kegagalan kudeta di Jakarta, otoritas para pemimpin mereka menyusut dengan cepat. Pada pagi 2 Oktober, Semarang diduduki kembali oleh pasukan loyalis tanpa adanya kekerasan.68 Namun, dua minggu kemudian, pada 17 Oktober, RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) mendarat di Semarang, menangkap 1.000 orang kiri malam itu juga, kemudian mulai memindahkan pasukannya dari sana ke bagian lain pulau Jawa, dan memicu kekerasan. Tiga hari kemudian di Semarang, massa mulai menyerang properti dan toko milik orang Cina serta kantor PKI.69 Selama bulan-bulan berikutnya, PKI “ditumpas” –untuk menggunakan bahasa resmi Orde Baru pasca-1965 – dan pada 1966 partai itu resmi dilarang. Di Semarang dan sekitarnya, pusat penahanan (sementara) didirikan dan digunakan di sebelah penjara yang telah ada sebelumnya. Situs-situs penahanan terkenal termasuk kamp Gaok (yang sebelumnya adalah sekolah Karang Turi), kamp Karimata, kamp Plantungan, penjara Ambarawa, penjara Mlaten juga penjara Bulu.70 Rumah pribadi di Jalan dr. Tjipto dulu juga digunakan sebagai pusat interogasi.71

Banyak orang yang ditangkap – ketika mereka selamat dari pembunuhan – tetap dipenjara hingga pertengahan sampai akhir 1970-an. Sepanjang tahun-tahun itu, ideologi Pancasila yang pluralis, yang pada awalnya dikembangkan untuk menyatukan berbagai kelompok dalam masyarakat Indonesia, mulai memainkan peran yang berbeda. Pada 1974, Suharto membentuk komite untuk mendefinisikan ulang

Pancasila, yang menjadi satu-satunya, dan menjadi prinsip panduan yang hampir sakral untuk semua kegiatan sosial dan politik di Indonesia; akibat sifatnya yang represif, secara ironis justru menjadi alat untuk re-edukasi ideologis para tahanan komunis.72 Begitu pula, bahkan setelah para tahanan dibebaskan, para mantan tahanan politik terus dikenakan berbagai batasan, seperti pencabutan hak untuk terlibat dalam pemilu ataupun mengisi jabatan-jabatan politik; mereka juga seringkali mendapat kewajiban untuk melapor kepada pihak berwenang setempat.73

Di departemen sejarah museum kota Semarang – Museum Ronggowarsito – terdapat kumpulan diorama yang berasal dari era Orde Baru yang kemudian berkaitan dengan sejarah abad ke-20 kota Semarang dan Jawa Tengah. Hebatnya, hanya ada satu diorama yang melukiskan Semarang pada tahun 1965. Para pengunjung dapat melihat suatu demonstrasi anti-komunis di alun-alun Pasar Johar di pusat kota Semarang, di sebelah Masjid Kauman, masjid di kota lama. Diorama tersebut menunjukkan massa berdemonstrasi menuntut Sukarno membalas dendam pada PKI atas dasar upaya kudeta yang mereka lakukan. Seorang pengunjuk rasa terlihat tengah membawa spanduk teks bertuliskan “selamatkan pantjasila. UUD’45”, yang secara eksplisit merujuk pada ideologi Pancasila tahun 1945. Lebih jauh lagi, kita dapat melihat dua tentara mengenakan baret merah, yang kehadiran sosok dan sikapnya mengindikasikan bahwa RPKAD memang mengendalikan massa dan mencegah demonstrasi meningkat menjadi kekerasan. Hal ini ialah contoh yang gamblang dari fenomena yang diuraikan oleh John Roosa, di mana penggambaran resmi tentang peristiwa 1965 mengesampingkan peran militer dan gagal menunjukkan kekerasan yang diarahkan terhadap para (terduga) komunis.

Tiga Titik Simpul dalam Lanskap Memori Peristiwa 1965

Dalam dokumen Lanskap Memori Peristiwa 1965 di Semarang (Halaman 150-155)