HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Kondisi Budidaya Ikan pada KJA
4.1.1 Bentuk, Ukuran dan Volume KJA
Dari hasil pengamatan dan wawancara dengan pelaku budidaya ikan KJA di lokasi penelitian, diketahui bahwa KJA yang digunakan di lokasi penelitian adalah KJA yang berbentuk bujur sangkar, dengan ukuran panjang x lebar bervariasi mulai dari 4 m x 4 m hingga 6 m x 6 m, dan kedalaman KJA berkisar 3 - 4 meter. Pada stasiun I (Sibaganding) terdapat KJA sebanyak 380 unit dengan luas total lebih kurang 9.500 m2, pada stasiun II (Desa Tambun Raya) terdapat 103 unit KJA dengan luas total lebih kurang 2.188 m2, pada stasiun III (Desa Sipolha) terdapat 64 unit KJA dengan luas total lebih kurang 1.498 m2, sedangkan pada stasiun IV tidak terdapat kegiatan KJA (Tabel 4.1). Secara umum KJA di tempatkan di sekitar garis pantai pada kedalaman air lebih dari 5 meter.
4.1.2 Benih Ikan dan Kepadatan Tebar
Pada umumnya budidaya ikan yang dilakukan pada semua lokasi penelitian adalah sistim monokultur, yaitu dengan membudidayakan satu jenis ikan saja pada satu unit KJA. Ikan yang dibudidayakan adalah dari jenis ikan mas (Cyprinus carpio) atau ikan nila (Oreochromis niloticus), dengan kepadatan tebar benih adalah bervariasi antara petani KJA.
Dari hasil pengamatan dan wawancara dengan pelaku KJA di stasiun I diketahui bahwa pada awal pemeliharaan, rata-rata kepadatan tebar benih ikan berkisar 200 ekor /m2 KJA, sehingga total jumlah benih ikan yang ditebar pada stasiun I berkisar 1.900.000 ekor/satu kali masa panen. Pada stasiun II, rata-rata kepadatan tebar benih berkisar 235,5073 ekor /m2 KJA, sehingga total jumlah ikan
yang ditebar pada stasiun II berkisar 525.962,71 ekor/ satu kali masa panen, sedangkan pada stasiun III, rata-rata kepadatan tebar benih berkisar 241,8033 ekor/m2 KJA, sehingga total jumlah ikan yang ditebar pada stasiun III berkisar 376.523,42 ekor/satu kali masa panen (Tabel 4.1). Ukuran benih yang ditebar pada masing-masing KJA juga bervariasi satu sama lain tergantung pada ketersediaan benih dan ukuran mata jaring yang digunakan. Namun, secara umum benih ikan yang ditebar petani KJA pada semua lokasi penelitian adalah berukuran sekitar 4-8 cm /ekor ikan.
4.1.3 Pemberian Pakan
Kegiatan budidaya ikan KJA di daerah penelitian tergolong budidaya intensif yaitu dengan kepadatan tebar benih ikan cukup tinggi, sehingga untuk dapat mencapai pertumbuhan secara optimal, tidak dapat hanya dengan menggantungkan kebutuhan makanan yang tersedia secara alami dari lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu selama masa pemeliharaan ikan diberikan pakan berupa pakan buatan (pellet). Dari pengamatan di lokasi penelitian diketahui bahwa pellet yang digunakan petani KJA bervariasi, yang antara lain dengan merek dagang Global Feed, Bio Carp (Cargill), Charoen Phokpand, Comfeed, dan ada juga yang menggunakan pellet buatan sendiri. Setiap jenis pelet mempunyai komposisi yang berbeda satu sama lain, namun secara umum komposisi pelet yang dipergunakan terdiri dari protein 15 - 32 %, lemak minimum 4 %, serat kasar maksimum 7 %, abu maksimum 13 %, air maksimum 12 %, dan selebihnya terdiri dari macam-macam vitamin.
Dalam penentuan bobot pakan (pellet) yang diberikan, petani KJA terkesan tidak mengikuti suatu aturan tertentu, melainkan hanya berdasarkan kebiasaan dan kekenyangan ikan, yang ditandai dari respon ikan terhadap pakan yang diberikan. Frekwensi pemberian pakan yang dilakukan petani KJA berbeda-beda satu sama lain. Namun secara umum pemberian pakan dilakukan sebanyak 2-3 kali /hari, yaitu pada waktu pagi, siang dan sore hari. Selain pemberian pakan buatan (pelet), untuk meningkatkan bobot ikan pada saat dipanen, maka selama satu bulan sebelum tiba waktu panen ikan juga diberikan jagung sebagai pakan tambahan.
Pada umumnya ikan akan dipanen setelah mencapai biomassa rata-rata 600-800 gram/ekor, dimana untuk mencapai ukuran panen tersebut, biasanya memerlukan waktu pemeliharaan sekitar 6 bulan, tergantung ukuran benih yang ditebar, pemeliharaan, permintaan konsumen, kecukupan modal dan harga pasar.
Melalui pengamatan dan wawancara dengan pelaku KJA di masing-masing stasiun penelitian, diketahui bahwa rata-rata bobot pakan (pelet) yang masuk ke perairan setiap hari adalah bervariasi antar stasiun penelitian tergantung kepada volume KJA yang beroperasi dan kepadatan tebar benih ikan budidaya. Dari hasil penelitian yang diperoleh diketahui bahwa rata-rata bobot pakan (pelet) yang masuk ke perairan stasiun I adalah lebih kurang 5.066,67 kg/hari, ke perairan stasiun II lebih kurang 1.292,06 kg/hari, ke perairan stasiun III lebih kurang 946,79 kg/hari, dan ke perairan stasiun IV tidak ada masukan pelet karena pada perairan tersebut tidak terdapat kegiatan KJA (Tabel 4.1).
Tabel 4.1 Keadaan Budidaya Ikan KJA di Setiap Stasiun Penelitian Asupan Pakan Stasiun Jlh Unit KJA ( Unit ) Total Luas KJA ( m2 ) Kepadatan benih ( ekor/m2 ) Jlh.Benih
( ekor ) (kg /priode) (kg /hari)
I 380 9.500 200 1.900.000 760.000 5.066,67
II 103 2.188 235,51 525.962,71 193.808,70 1.292,06
III 64 1.498 241,80 376.523,42 142.019,09 946,79
IV 00 00 00 00 00 00
Sumber : Analisis dari data primer (Lampiran 8)
Keterangan
Stasiun I : Perairan Desa Panahatan Stasiun II : Perairan Desa Tambun Raya Stasiun III : Perairan Desa Sipolha Stasiun IV (kontrol) : Pasir Matabu
4.1.4 Estimasi Beban Limbah KJA
Menurut Mc.Donald et al.(1996); Boyd (1999) bahwa dari sejumlah pakan buatan (pelet) yang diberikan kepada ikan budidaya pada keramba jaring apung, hanya 70 % yang berhasil dikonsumsi oleh ikan budidaya pada keramba,
sedangkan 30 % lagi akan tertinggal dan terbuang sebagai sisa pakan yang tidak terkonsumsi oleh ikan budidaya. Selanjutnya, dari sejumlah pakan yang berhasil dikonsumsi oleh ikan budidaya, setelah dikonversikankan didalam tubuh ikan, sebanyak 25 – 30 % akan diekskresikan kembali ke badan air sebagai sisa metabolisme yaitu dalam bentuk urine dan faeses.
Dari data hasil pengamatan pada masing-masing stasiun penelitian, bila diasumsikan bahwa 30 % dari pakan yang diberikan tidak terkonsumsi oleh ikan budidaya dan 25 – 30 % dari pakan yang dikonsumsi oleh ikan, akan diekskresikan kembali ke badan air sebagai sisa metabolisme seperti yang dinyatakan Mc.Donald et al. (1996); Boyd (1999), maka total sisa pakan sebagai limbah yang terbuang ke perairan pada masing-masing stasiun penelitian jumlahnya cukup besar, seperti yang disajikan pada tabel 4.2 berikut :
Tabel 4.2 Estimasi Limbah KJA yang Terbuang ke Perairan Danau Toba pada masing-masing Stasiun Penelitian
Stasiun Penelitian
I II III IV
Input pakan (kg/hari) 5.066,67 1.292,06 946,79 0
Di konsumsi ikan (kg/hari) 3.546,67 904,44 662,75 0
Tdk dikonsumsi (kg/hari) 1.520,00 387,62 284,04 0
Sisa metabolisme (kg/hari) 886,67 226,11 165,69 0
Total limbah KJA (kg/hari) 2.406,67 613,73 449,73 0
Sumber : Analisis data primer dengan mengacu Mc.Donald, et al.(1996); Boyd (1999)
Keterangan :
Stasiun I : Perairan Panahatan (terdapat 380 unit KJA) Stasiun II : Perairan Tambun Raya (terdapat 103 unit KJA)
Stasiun III : Perairan Sipolha (terdapat 64 unit KJA)
Stasiun IV : Perairan Pasir Matabu (tidak ada KJA/ kontrol)
Tabel 4.2 menjelaskan bahwa perairan Danau Toba menerima masukan limbah yang bersumber dari kegiatan budidaya ikan KJA dalam jumlah yang bervariasi pada masing-masing stasiun penelitian. Masukan limbah per hari yang
paling tinggi terdapat pada stasiun I dengan rata-rata berkisar 2.406,67 kg/hari dan masukan limbah yang paling rendah terdapat stasiun IV, dimana pada stasiun ini tidak terdapat aktifitas KJA, sehingga diasumsikan tidak ada masukan limbah yang bersumber dari KJA. Tingginya beban limbah yang terbuang ke perairan Danau Toba dari kegiatn KJA, dapat digambarkan dari hasil penelitian Rismawati (2010) yang menyatakan bahwa rasio konversi pakan (Feed Convertion Ratio)pada KJA PT.Aquafarm Nusantara di Danau Toba adalah berkisar 2 : 1. Hal ini berarti bahwa setiap produksi 1 ton ikan pada KJA membutuhkan pakan sebanyak 2 ton, atau dengan kata lain dapat diartikan bahwa dari 2 ton pakan yang diberikan kepada ikan budidaya, hanya sebanyak 1 ton yang akan di konversi menjadi tubuh ikan, sedangkan sebanyak 1 ton lagi lagi akan terbuang ke perairan sebagai limbah.
Limbah KJA yang terbuang ke badan air, selanjutnya akan dapat dimanfaatkan oleh bermacam-macam fauna liar perairan sebagai sumber makananya, terutama oleh ikan-ikan liar yang hidup di sekitar keramba tersebut. Jika limbah KJA yang terbuang ke perairan tidak dimakan oleh fauna-fauna perairan, maka pada tahap selanjutnya limbah akan mengalami degradasi atau proses dekomposisi oleh mikroba di badan air maupun di dasar perairan, sehingga akan menghasilkan persenyawaan-persenyawaan lain seperti senyawa nitrogen dan senyawa fosfor ke perairan (Garno, 2004).