BAB III KONDISI DUGONG DAN LAMUN DI INDONESIA
D. Kondisi Dugong dan Habitat Lamun di Indonesia
Wilayah perairan Indonesia bagian timur, khususnya di beberapa terusan dalam antarpulau, berfungsi sebagai pintu masuk jalur migrasi mamalia laut, seperti paus dan lumba-lumba, serta menjadi habitat bagi mamalia dugong. Di Indonesia, dugong juga dikenal dengan nama duyung. Terdapat 35 jenis mamalia laut yang dijumpai tersebar di perairan Indonesia dan telah teridentifikasi dan 9 diantaranya dilindungi oleh pemerintah termasuk dugong.131
Dugong hidup di lebih dari 40 negara dan dapat berpindah ke wilayah jelajah yang berbeda dengan menempuh jarak ratusan kilometer dalam beberapa hari. Jangkauan dugong yang luas berkaitan dengan sebaran lamun di daerah tropis dan subtropik di sepanjang wilayah perairan Samudera Hindia dan
129 DSCP, “Why is it important to save seagrasses?”
130 DSCP, “What are the main threats to seagrass?” [artikel on-line] tersedia di https://www.dugongconservation.org/about/about-dugongs-seagrass/; Internet; diakses pada 12 Desember 2020.
131 Rokhmin Dahuri, Keanekaragaman Hayati Laut: Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2003), 11.
Samudera Pasifik termasuk Indonesia, khususnya di wilayah perairan bagian timur.132
Dugong tersebar mulai dari ujung wilayah bagian barat hingga wilayah timur Indonesia dengan populasi tertinggi diperkirakan berada di perairan Ekoregion Arafura dengan jumlah kurang dari 200 ekor, kemudian Ekoregion Papua, Ekoregion Lesser Sunda, Ekoregion Paparan Sunda, dan Ekoregion Selat Makassar yang masing-masing kurang dari 100 ekor. Sedangkan untuk ekoregion lainnya terpantau dalam populasi yang lebih kecil.133
Menurut Whitten, secara alami sebagian besar pesisir Pulau Sulawesi dan pulau-pulau disekitarnya termasuk Sulawesi Tengah, dikelilingi oleh ekosistem perairan tropis yang produktif termasuk padang lamun, dimana populasi dugong tersebar luas dan relatif berlimpah.134 Namun demikian, data penyebaran dugong di Indonesia pada website KKP masih hampir sama dengan data yang dipaparkan pada seminar “The Dugong” pada tahun 1979 dan tidak mencakup keberadaan dugong di Provinsi Sulawesi Tengah.135
Kemudian, berdasarkan catatan survei udara di Kepulauan Lease pada desember 1990 ditemukan 17 ekor dugong dengan seekor anakan dan pada
132 DSCP, “What is a dugong ?”
133 KKP, “Analisis Kawasan Konservasi Perairan Berbasis Ekoregion: Upaya Mempersempit Ketimpangan”, [dokumen on-line]; tersedia di http://kkji.kp3k.kkp.go.id/index.php/dokumen/finish/69-1-7-policy-brief/672-1-analisis-kkp-berbasis-ekoregion; Internet; diunduh pada 13 Desember 2020.
134 T. Whitten, Muslimn Mustafa dan G.S. Henderson, “The Ecology of Sulawesi”, (Yogyakarta: UGM Press, 1987), 754 [buku on-line]; tersedia di https://core.ac.uk/download/pdf/85211394.pdf; Internet; diunduh pada 13 Desember 2020.
135 Anugerah Nontji, Tri Edi Kuriandewa dan Erix Harryadie, National Review of Dugong and Seagrass: Indonesia, (GEF/UNEP Project on The Dugong and Seagrass Conservation, 2012),
8 [dokumen on-line]; tersedia di
http://oseanografi.lipi.go.id/datakolom/National%20Review%20of%20dugong%20and%20%20se grass%20Indonesia.pdf; Internet; diunduh pada 13 Desember 2020.
Agustus 1992 dijumpai 10 ekor tanpa anakan. Anakan dugong biasanya mudah dikenali karena selalu didampingi dan dikawal oleh induknya hingga menjelang dewasa. Berdasarkan survei tersebut diperkirakan populasi dugong di perairan Kepulauan Lease berkisar 22-37 ekor.136
Di Indonesia, isu-isu pembangunan wilayah pesisir dan lautan seperti penurunan kualitas lingkungan dan kerusakan fisik pada ekosistem pesisir umumnya terjadi pada ekosistem mangrove, terumbu karang dan padang lamun.137 Wilayah pesisir merupakan tempat ditemukannya berbagai sumber daya alam penting, sehingga wajar apabila di wilayah pesisir terjadi masalah-masalah yang paling mendesak. Hilangnya terumbu karang, bakau, dan padang lamun membuat masyarakat pesisir rentan terhadap erosi, kerusakan akibat badai, dan kekurangan makanan.138
Keberadaan dugong dan padang lamun bagi lingkungan dan manusia sangatlah penting, namun tidak diimbangi dengan pemeliharaan habitat mereka.
Akibatnya, berbagai faktor yang menjadi penyebab ancaman habitat dugong dan lamun terus terjadi. Ancaman dugong di Indonesia mencakup seluruh ancaman yang teridentifikasi dalam skala global yaitu penangkapan, kecelakaan, hingga kerusakan habitat lamun.139
136 Anugerah Nontji, Tri Edi Kuriandewa dan Erix Harryadie, National Review, 13.
137 Ridwan Lasabuda, “Tinjauan Teoritis Pembangunan Wilayah Pesisir Dan Lautan Dalam Perspektif Negara Kepulauan Republik Indonesia”, Jurnal Ilmiah Platax Vol.I, No.2, TB: Januari
2013, L:93-101, [Jurnal on-line] tersedia di
https://www.researchgate.net/publication/334300272_PEMBANGUNAN_WILAYAH_PESISIR_
DAN_LAUTAN_DALAM_PERSPEKTIF_NEGARA_KEPULAUAN_REPUBLIK_INDONESI A; Internet; diunduh pada 15 Desember 2020.
138 WWF Annual Report Juni2018-Juli2019, Memajukan Konservasi Inklusif, 51.
139Marsh, Dugong Status, 172.
Berdasarkan data dari tahun 1987 hingga 2012, dugong merupakan salah satu dari 15 jenis mamalia laut yang sering terdampar di Indonesia. Dugong yang terdampar sering berakhir dengan kematian dugong karena kurangnya penanganan terhadap kejadian terdampar, sehingga mengakibatkan penurunan populasi dugong.140
Gambar III.D.1 : Sebaran Biota Dugong di Indonesia Pada Tahun 2016
Sumber : kkp.go.id (2016)
Tumbuhan lamun merupakan makanan utama dugong yang sekaligus menjadi habitatnya, yaitu padang lamun. Indonesia diketahui memiliki 12 jenis
140 KKP, Panduan Penanganan Mamalia Laut Terdampar, [buku on-line] (Jakarta:
Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan, Ditjen KP3K Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2012), 2 http://kkji.kp3k.kkp.go.id/index.php/dokumen/publikasi/pedum/finish/4-pedum/399-panduan-marmal-stranding; Internet; diunduh pada 15 Desember 2020
lamun dari 60 jenis spesies lamun yang tersebar di dunia.141 Kemudian, berdasarkan data Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI), terdapat sekitar 25.752 ha padang lamun yang telah tervalidasi dari 29 lokasi yang tersebar di Indonesia. Dan secara keseluruhan, luas padang lamun di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 31 ribu km2.142
Kemudian, terkait kategori kondisi padang lamun di Indonesia dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup (Kepmen LH) nomor 200 tahun 2004, kondisi padang lamun dibagi menjadi 3 kategori, yaitu sehat, kurang sehat dan miskin. Padang lamun dikategorikan sehat apabila penutupan lamun di suatu daerah berada >60%, kemudian kategori kurang sehat jika tutupan lamun mencapai 30-59,9% dan tidak sehat jika penutupan lamun antara 0-29,9%.143
Penghitungan kondisi lamun dilakukan dengan menggunakan beberapa sumber data. Sumber data pertama berasal dari data monitoring kondisi lamun yang dilakukan oleh P2O-LIPI melalui proyek COREMAP-CTI. Sumber data kedua berasal dari hasil-hasil penelitian oleh berbagai institusi, universitas, LSM dan sebagainya. Secara umum, persentase tutupan lamun di Indonesia yang dihitung dari 166 stasiun pengamatan mencapai 41,79%. Apabila nilai tersebut digolongkan mengikuti Kepmen LH 200 tahun 2004 di atas, maka status padang lamun di Indonesia termasuk dalam kondisi ‘kurang sehat’. Adapun kondisi
141 Hernawan, Pentingnya Lamun, 9 November 2017.
142 31.000 km2 = 310.000.000 ha
143 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 200 Tahun 2004, [dokumen on-line] tersedia di https://newberkeley.files.wordpress.com/2013/12/kepmen-200-2004-kriteria-baku-kerusakan-padang-lamun.pdf; Internet; diunduh pada 16 Desember 2020.
padang lamun di Indonesia hingga tahun 2017 ditunjukkan sebagaimana pada Gambar III.D.2 di bawah ini.144
Gambar III.D.2 Status Padang Lamun Indonesia Tahun 2017
Sumber : LIPI.go.id (2017)
Penurunan kualitas dan area padang lamun di Indonesia dapat disebabkan oleh faktor alamiah maupun hasil aktivitas manusia, terutama yang terjadi di lingkungan pesisir. Faktor alami tersebut antara lain yaitu, gelombang dan arus laut yang kuat, terjadinya badai, gempa bumi atau tsunami. Adapun aktivitas manusia yang mengakibatkan penurunan area dan kerusakan padang lamun diantaranya yaitu, reklamasi pantai, pengerukan dan penambangan pasir, serta
144 Udhi Eko Hernawan, dkk., Status Padang Lamun Indonesia 2017, [buku on-line]
(Jakarta : Jakarta : Puslit Oseanografi – LIPI, 2017), 17 tersedia di http://www.oseanografi.lipi.go.id/haspen/booklet%20status%20lamun%202017.pdf; Internet;
diunduh pada 17 Desember 2020.
pencemaran. Sebagai contoh, tutupan lamun di pulau Pari, Kepulauan Seribu, telah berkurang sebesar 25 % dari tahun 1999 hingga tahun 2004 yang diduga akibat maraknya pembangunan di pulau tersebut.145
Adapun berdasarkan data penelitian yang dilakukan LIPI, dari total 1.507 km2 luas padang lamun di Indonesia, hanya 5% padang lamun yang tergolong sehat, sedangkan sisanya yaitu 80% tergolong kurang sehat dan 15% dalam kondisi tidak sehat sebagaimana pada Gambar III.D.3.146
Gambar III.D.3 Info Grafis Padang Lamun di Indonesia
Sumber : dscp.co.id (2016)
145 Hernawan, Status Padang, 17
146 Hernawan, Pentingnya Lamun, 9 November 2017.
E. Upaya Pemerintah Indonesia dalam mengatasi masalah Dugong dan