DAFTAR PUSTAKA
Jumlah 30.458.981 100,00 82.638.115 100,00 Sumber : Analisis Data Primer Lampiran 18
4. Pengendalian hama penyakit
2.3 Kondisi Eksisting Agribisnis Jahe Di Indonesia
Pengembangan bisnis tanaman obat secara umum dihadapkan pada berbagai masalah, antara lain : (1) belum tersedianya informasi tentang sifat-sifat bio-ekologi spesies tanaman obat yang merupakan dasar dari teknologi budidaya, (2) masih banyaknya spesies-spesies tanaman obat yang belum diketahui cara pembudidayaannya, (3) masih lemahnya sistem pemasaran tanaman obat, (4) belum terampilnya sumberdaya manusia yang akan melakukan kegiatan budidaya, (5) kurangnya dana untuk pengembangan tanaman obat, dan (6) kurangnya sarana dan prasarana yang diperlukan (Dirjen Bina Produksi Hortikultura, 2002).
Jahe merupakan salah satu tanaman rempah yang saat ini memiliki prospek ekonomi yang cukup baik, karena banyak digunakan sebagai bahan baku obat- obatan, makanan, dan minuman. Namun pada kenyataannya, prospek tersebut belum didukung oleh kondisi yang ada saat ini. Kurangnya koordinasi yang baik antara para pelaku usaha menjadikan kontinuitas pengadaan bahan baku untuk proses produksi yang berupa jahe segar menjadi tidak lancar. Akibatnya bisnis jahe yang prospektif untuk dikembangkan karena memberikan manfaat dan keuntungan menjadi kurang diminati oleh para pelaku usaha.
2.3.1 Usahatani (On farm agribusiness)
Pembudidayaan jahe masih terbatas pada perseorangan yang berminat dan karena terikat kontrak pada beberapa pemasok obat yang sudah lama beroperasi. Di sektor hulu, petani jahe pada umumnya tidak memiliki pengetahuan tentang teknik budidaya jahe yang efektif dan efisien, yang pada akhirnya mengakibatkan petani mengalami kerugian. Kurangnya informasi pasar mengakibatkan petani tidak mengetahui jalur pemasaran yang paling menguntungkan untuk produknya. Akibatnya mereka cenderung menjualnya ke tengkulak dan pasar tradisional dengan harga yang rendah.
Sampai saat ini petani belum mendapat nilai tambah yang maksimal dalam usahatani atau dengan kata lain keuntungan usahatani jahe masih banyak dirasakan oleh pedagang pengumpul dan eksportir. Hal ini disebabkan karena para petani belum menguasai teknologi budidaya yang mutkhir dan masalah mutu hasil produksi. Dengan demikian, banyak masalah kegagalan dalam usaha tani yang disebabkan oleh masalah hama/penyakit, terutama penyakit busuk bakteri, harga yang tidak sesuai dan hasil produksi yang rendah (Setyawan, 2015).
Petugas penyuluh pertanian yang notabene perwakilan dari Dinas Pertanian yang dimiliki oleh tiap daerah kurang aktif dalam melakukan penyuluhan terutama yang berkaitan dengan teknik budidaya yang baik jika jahe tidak termasuk dalam salah satu komoditi unggulan dari daerah tersebut. Hal ini secara tidak langsung tentu berdampak negatif dalam aktivitas on farm yang merupakan hulu dari aliran agribisnis jahe di Indonesia.
2.3.2 Agribisnis subsistem hilir ( down stream-off farm agribusiness)
Petani juga belum menyadari betapa pentingnya kualitas dari hasil produksi, sehingga mutu dari tiap produksi seringkali tidak sama. Terkadang ditemui rimpang jahe yang terlalu besar kandungan serat dan memiliki kandungan air yang terlalu berlebihan sehingga dapat berpengaruh pada proses pengolahannya. Hal tersebut juga disebabkan karena aktivitas sortasi dan grading yang cenderung tidak dilakukan secara optimal pada saat pasca panen. Konsumen jahe yaitu IOT, IKOT, maupun usaha jamu racikan lebih memilih untuk membeli jahe segar tidak langsung ke petani melainkan ke pedagang pengumpul.
Hal ini dilakukan dengan alasan karena jahe segar dipedagang pengumpul biasanya sudah disortir dan digrading sesuai dengan kualitasnya masing-masing. Alasan lainnya, pedagang pengumpul bisa menyediakan kebutuhan konsumen tersebut dalam kapasitas yang besar karena tidak berasal hanya dari satu petani saja. Permasalahan lain yang dihadapi industri pengolah adalah kurangnya pemanfaatan teknologi yang handal dalam proses pengolahan sehingga produk yang dihasilkan kualitasnya belum maksimal dan hasil produk olahannya masih terbatas.
Jahe merupakan salah satu komoditas ekspor yang permintaannya cukup tinggi dengan harga cukup tinggi dibandingkan dengan biaya produksi. Kendala yang ditemui oleh para eksportir adalah pasokan jahe dari sentra-sentra produksi tidak mencukupi dibandingkan dengan pesanan yang diterima (Setyawan, 2015).
2.3.3 Analisis Keterkaitan (Linkage Analysis)
Apabila subsistem usahatani dimodernisasi/dikembangkan, maka akan membentuk sebuah sistem agribisnis. Dimana subsistem usahatani akan mempunyai keterkaitan erat ke belakang (backward linkage) yang berupa peningkatan kegiatan pengadaan dan penyaluran sarana produksi, dan kaitan ke depan (forward linkage) yang berupa peningkatan kegiatan pasca panen (terdiri dari pengolahan dan pemasaran produk pertanian dan olahannya).
Jika subsistem usahatani digambarkan sebagai proses menghasilkan produk-produk pertanian di tingkat primer (biji, buah, daun, telur, susu, produk-produk perikanan, dan lain-lain), maka kaitannya dengan industri berlangsung ke belakang (backward linkage) dan ke depan (forward linkage). Kaitan ke belakang berlangsung karena usahatani memerlukan input seperti bibit dan benih berkualitas, pupuk, pestisida, pakan ternak, alat dan mesin pertanian, modal, teknologi, serta manajemen. Sedangkan keterkaitan erat ke depan dapat diartikan bahwa suatu industri muncul karena mempergunakan hasil produksi budidaya/usahatani sebagai bahan bakunya, atau bisa juga suatu produk agroindustri digunakan untuk bahan baku industri lainnya.
Kaitan ke depan berlangsung karena produk pertanian mempunyai berbagai karakteristik yang berbeda dengan produk industri, antara lain misalnya: musiman, tergantung pada cuaca, membutuhkan ruangan yang besar untuk menyimpannya (bulky/ voluminous), tidak tahan lama/mudah rusak (perishable), harga fluktuatif, serta adanya kebutuhan dan tuntutan konsumen yang tidak hanya membeli produknya saja, tapi makin menuntut persyaratan kualitas (atribut
produk) bila pendapatan meningkat. Selanjutnya kaitan ke belakang ini disebut juga agroindustri Hulu (Up stream) dan kaitan ke depan disebut agroindustri hilir (Down stream).
Keterkaitan berikutnya adalah kaitan ke luar (outside linkage), ini terjadi karena adanya harapan agar sistem agribisnis dapat berjalan/berlangsung secara terpadu (integrated) antar subsistem. Kaitan ke luar ini berupa lembaga penunjang kelancaran antar subsistem. Organisasi pendukung agribisnis merupakan organisasi sebagai pendukung atau penunjang jalannya kegiatan agribisnis yakni dalam hal untuk mendukung dan melayani serta mengembangkan kegiatan sub-sistem hulu, subsub-sistem usaha tani, dan subsub-sistem hilir. Organisasi pendukung agribisnis ini biasa disebut juga dengan organisasi jasa pendukung agribisnis. Seluruh kegiatan yang menyediakan jasa bagi agribisnis, seperti lembaga keuangan, lembaga penelitian dan pengembangan, lembaga transportasi, lembaga pendidikan, dan lembaga pemerintah (kebijakan fiskal dan moneter, perdagangan internasional, kebijakan tata-ruang, serta kebijakan lainnya).
Kaitan-kaitan ini mengundang para pelaku agribisnis untuk melakukan kegiatannya dengan berpedoman pada “4-Tepat” (yaitu: tepat waktu, tempat, kualitas, dan kuantitas), atau dengan istilah lain yaitu “3 Tas” (yaitu: kualitas, kuantitas, dan kontinuitas). Kehadiran dan peranan lembaga-lembaga penunjang sangat dibutuhkan dalam hal ini, misalnya kelancaran transportasi, ketersediaan permodalan dan peraturan-peraturan pemerintah. (Downey, 1992).